tirto.id - Di tengah laju arus modernisasi Semarang, saat gedung-gedung ditinggikan dan kafe kian merebak, terdapat sebuah bangunan di sudut kota yang sunyi, menyimpan memori, menunggu untuk diselami.
Jika Anda sedang menyusuri sudut kota, khususnya Kecamatan Semarang Timur, Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Anda dapat menemukan sebuah bangunan bersejarah Gedung Sarekat Islam atau sering disebut sebagai GSI.
Dari luar memang tampak seperti balai rakyat tua belaka, dengan debu dan jaring laba-laba yang bersarang di setiap sudutnya. Namun, lebih dari seabad lalu, bangunan ini mencetak ide-ide perjuangan kemerdekaan melawan kolonialisme.
Selain itu, bangunan ini juga merupakan tempat belajar untuk masyarakat bumiputra kala itu untuk mempersiapkan diri sebelum masuk ke dunia kerja di tengah kuasa kolonial.
Cerita berawal pada tahun 1918, di mana semangat anti-kolonialisme mewabah di seluruh Jawa. Semaoen, yang saat itu sering disebut sebagai "Putra terbaik bangsa", mengumpulkan dana dan donasi dari kontribusi anggota Sarekat Islam untuk pembangunan gedung pertemuan di Semarang.
Dalam laporan koran Sinar Djawa pada 7 Maret 1921, tercatat biaya pembangunan gedung mencapai f. 10.061,92 dengan sumbangsih yang terkumpul sebanyak f. 8.641,47, dan sampai pada akhir tahun 1920 masih terdapat kekurangan dana sekitar f. 1.447,44.
Meski masih terdapat kekurangan, gedung ini sudah mulai digunakan untuk rapat pada tahun 1920. Di dalamnya tertanam ubin berwarna kontras yang membentuk tulisan "S.I.", yang menjadi identitas dan simbol kebanggaan pejuang pergerakan pada masa itu.
Sesuai dengan fungsinya, gedung ini tidak pernah habis akan kegiatan pada masanya. Saat siang hari, Gedung Sarekat Islam beralih fungsinya menjadi SI School, yakni sekolah untuk kaum bumiputra yang berafiliasi dengan Sarekat Islam dan diprakarsai oleh Tan Malaka pada tahun 1921.
Tan Malaka yang juga menjadi pengajar di sekolah tersebut berusaha meningkatkan kualitas anak-anak bumiputra yang orang tuanya tidak mampu membayar uang sekolah negeri. Ada suatu masa ketika sekolah ini kekurangan dana, Tan Malaka memimpin murid-muridnya untuk menjelajahi kampung-kampung dengan mengenakan selendang merah dengan tulisan "Rasa Merdika" sambil melantunkan lagu "Internationale" untuk meningkatkan semangat anti-kolonialisme.
Pada malam hari, gedung ini beralih menjadi ruang pertemuan umum yang penuh akan perdebatan revolusi. Gedung ini menjadi tempat perserikatan buruh dalam merencanakan strategi negosiasi dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Pada saat pecah Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun 1945, gedung ini beralih fungsi menjadi Pos Palang Merah yang berguna bagi pejuang kemerdekaan pada masa transisi kekuasaan Jepang ke Belanda. Namun, setelah peristiwa G30S 1965, gedung ini hampir dibakar dan diratakan akibat masyarakat yang salah sangka dan mengira Gedung Sarekat Islam adalah milik PKI, padahal gedung ini merupakan gedung serbaguna yang sering digunakan oleh banyak organisasi dan bukan PKI saja.
Pada akhirnya, gedung ini selamat namun sempat ditinggalkan oleh masyarakat dan dibiarkan terbengkalai pada masa Orde Baru. Masyarakat sekitar juga banyak yang tidak mengetahui sejarah bangunan yang pernah menjadi tonggak pergerakan nasional itu.
Kondisi Kiwari
Komunitas lokal Semarang dan Komunitas Penggiat Sejarah (KPS) menolak tunduk pada ketertinggalan. Melalui perjuangan yang panjang sejak tahun 2008 dalam mengusahakan bangunan terbengkalai itu untuk naik ke permukaan, Pemerintah Kota Semarang akhirnya melirik isu tersebut.
Saat ini, Gedung Sarekat Islam tidak hanya menjadi museum dan cagar budaya, tapi juga digunakan sebagai bangunan serbaguna seperti fungsi pada awal masa berdirinya. Bangunan ini sering digunakan sebagai pentas teater, seni, diskusi sejarah, hingga tempat ibadah tanpa dipungut biaya, dengan syarat merawat dan menghormati bangunan tersebut.
Dengan mengunjungi Gedung Sarekat Islam pada masa ini, berarti kita turut merayakan semangat juang bangsa kita dalam meraih kemerdekaan. Dari ruang rapat, kantor lembaga, sekolah rakyat, pos medis, rumah ibadah, hingga galeri seni, peralihan fungsi gedung ini menjadi bukti bahwa bangunan ini akan terus bermanfaat, sama seperti tujuan awal pembangunannya.
Gedung Sarekat Islam menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang saat ini kita rasakan, salah satunya berasal dari gedung yang dibangun oleh usaha rakyat kecil yang menuntut kemerdekaan dari sudut Kota Semarang.
Penulis: Mustafa Kemal Fasha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































