tirto.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) membidik transaksi sebesar 17,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp313,16 triliun (kurs Rp17.895 per dolar AS) dalam penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan target tersebut dirancang dengan mempertimbangkan tingginya antusiasme pembeli internasional yang telah terdaftar dalam acara ini, serta berbagai program promosi yang telah dilakukan jauh-jauh hari.
Pada gelaran tahun ini, TEI akan menghadirkan 1.500 perusahaan eksibitor hasil kurasi ketat dengan target pengunjung mencapai 30.000 orang.
"Hingga akhir September ini, sudah terdaftar sebanyak 6.597 buyer yang berasal dari 113 negara. Mayoritas pembeli luar negeri ini berasal dari India, Tiongkok, Nigeria, dan Malaysia. Jumlah ini meningkat signifikan. Kami berharap pada saat penyelenggaraan bulan Oktober nanti, total kunjungan dan transaksi bisa terus melampaui ekspektasi," ungkapnya dalam Konferensi Pers Technical Meeting Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD, pada Rabu (30/9/2026).
Fajarini menuturkan, Kemendag juga turut melakukan sejumlah terobosan guna memastikan target transaksi tercapai, salah satunya berupa Pre-Business Matching (Pre-BM). Melalui sistem ini, profil eksibitor disosialisasikan ke seluruh dunia sebelum acara berlangsung sehingga proses negosiasi dan kesepakatan jual-beli bisa didapatkan lebih awal. Harapannya dapat meningkatkan hasil transaksi pada gelaran tahun ini.
"Sehingga harapannya tentu nanti pada saat trade expo, banyak yang sudah melakukan gold deal ya. Ini juga kita harapkan bisa meningkatkan hasil, apa namanya get-out transaksinya," sambungnya.
Selain itu, Fajarini menegaskan TEI 2026 terus berevolusi mengikuti tren permintaan pasar global. Ia menjelaskan caranya dengan menghadirkan produk non-konvensional, seperti jasa talenta pengembangan kecerdasan buatan (AI).
"Nah, begini di TEI ini juga akan kita siapkan juga khusus untuk jasa AI, karena kemarin kita juga, bulan September kemarin kita juga ikut pameran di Cina. Itu kita jual tenaga pengembangan AI. Lumayan itu transaksinya besar sekali," kata Fajarini.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Zelda Wulan Kartika, menegaskan komitmen penuh jajaran lembaganya dalam mendatangkan pembeli potensial dari pasar negara tradisional dan non-tradisional perdagangan Indonesia.
"Tapi kita sudah banyak memiliki perjanjian, termasuk dengan bahkan Mozambik di Afrika, mungkin baru tahu mungkin ya, mungkin bahwa ternyata kita ada dengan Pakistan, dengan Uni Emirat Arab. Jadi ini adalah pasar-pasar yang non-tradisional, bukan pasar alternatif. Kalau dengan Australia, Jepang, Korea Selatan, (5:45) mungkin ya dikatakan pasar tradisional," ujar Zelda.
Zelda turut menyoroti pentingnya TEI 2026 untuk mendongkrak ekspor bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, meski UMKM menyumbang 61 persen PDB nasional, baru sekitar 15,7 persen berhasil berekspansi ke pasar ekspor global. Oleh karena itu, Kemlu melalui beragam perwakilannya di luar negeri melakukan strategi jemput bola dengan melakukan sejumlah forum bisnis hingga ke kawasan Amerika Latin.
"Untuk INA-LAC Indonesia-Latin America yang business forum pada tahun ini diselenggarakannya tidak di Indonesia, melainkan di Chile, di Santiago. Karena istilahnya kita jemput bola gitu. Karena apalagi untuk kawasan Amerika Latin itu kan jauh sekali dari indonesia. Akhirnya, yaudah, kita yang jemput bola. Kita yang datangi mereka ke sana," pungkasnya.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































