tirto.id - Kala mentari baru menyingsing di Jingtai, Provinsi Gansu, Cina, pada 22 Mei 2021, cuaca masih akrab bersahabat. Begitu pula di padang gurun Yellow River Stone Forest, lokasi perhelatan lomba trail running “Gansu Ultramarathon”, diselimuti udara hangat. Sebanyak 172 peserta telah memadati trek, saling berkompetisi guna memperebutkan kursi podium.
Dor! tanda balapan dimulai. Seluruh peserta melaju, memacu langkah kaki dengan tujuan tempuh sejauh 100 kilometer.
Namun selang beberapa jam, ketika para pelari menanjak hingga ketinggian 6.500 kaki (sekitar 1.980 mdpl), langit mendadak muram.
Dalam kondisi seperti itu, pihak panitia penyelenggara masih membisu. Tak ada imbauan dan antisipasi matang saat cuaca berubah ekstrem. Sekalipun informasi cuaca sampai kepada para peserta, tak ada jaminan keselamatan penuh. Itu karena mereka tengah berlari di padang gurun tandus, berangin kencang, dan minim vegetasi.
“Dalam waktu singkat, hujan es dan hujan beku turun di wilayah tersebut, disertai angin kencang,” kata Zhang Xuchen, Wali Kota Baiyin, Gansu, yang turut menembakkan pistol start.
Sementara itu, para pelari kebanyakan cuma mengenakan kaos tipis serta celana pendek. Kondisi tersebut jelas menjadi sasaran empuk hipotermia.
Benar saja, pada pukul 12.17 waktu setempat, seorang peserta mengirimkan pesan video di grup WeChat untuk meminta bantuan. Pihak penyelenggara, bekerja sama dengan tim penyelamat daerah setempat, akhirnya berangkat mengevakuasi para korban. Perlombaan pun resmi berhenti pada pukul 14.00.
Masalah merunyam lantaran area di ketinggian tersebut merupakan titik buta sinyal seluler. Nahasnya, tim penyelamat baru sampai pukul tujuh malam. Beberapa peserta ditemukan sudah bergelimpangan tanpa nyawa. Yang lainnya luka-luka. Total kematian mencapai 21 orang, dengan delapan orang dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Dua korban di antaranya bahkan merupakan pelari elite Cina: Liang Jong, pemimpin klasemen poin Asia di International Trail Running Association (ITRA) dan Huang Guanjun, pelari paralimpik terbaik Cina.
Beberapa pihak internal menyebut hari itu sebagai “hari tergelap dalam sejarah trail running di Cina.” Di kemudian hari, tragedi tersebut santer dikenal sebagai “Gansu Ultramarathon Disaster”.
Berbahaya, Tetapi Mengundang Selera
Bagi pelari elite macam Liang, Huang, maupun korban yang kehilangan nyawa, kondisi saat itu tentu benar-benar mengerikan. Namun di antara mereka yang mengenal dunia trail running di Cina, tragedi seperti itu dianggap tidak terlalu mengejutkan.
Lebih-lebih, pertumbuhan olahraga lari di Cina pada tahun itu begitu pesat. Selama dekade terakhir, puluhan juta orang telah memilih dengan sadar olahraga trail running dan siap dengan segala konsekuensi ekstrem yang menimpanya.
Bahkan sekalipun “Gansu Ultramarathon Disaster” menuai banyak kritik lantaran penyelenggara dan pemerintah setempat dinilai abai serta lalai, pertumbuhan olahraga itu terus melonjak signifikan. Bentuknya beraneka ragam, mulai dari yang asal-asalan “fun trail”, berpelat merah pemerintah, hingga kompetisi bermerek macam “Ultra Trail du Mont Blanc” alias UTMB.

Indonesia pun tak ketinggalan. Ajang beken, seperti “Bromo Tengger Semeru Ultra”, "Ijen Trail Run", dan “Rinjani 100”, menjadi magnet kuat bagi pelari internasional. Faktor yang membuat Indonesia cukup dipertimbangkan sebagai tuan rumah trail running adalah medan pegunungan tropis yang variatif dan menantang. Hal itu sekaligus menempatkan lanskap Nusantara sebagai panggung trail running yang tak kalah bergengsi dibanding Eropa maupun Amerika.
Jumlah “putaran uang” di dalam perlombaan tersebut juga sangat fantastis. Jika berbicara nominal hadiah podium, gelaran terbesar macam UTMB menawarkan imbalan sejumlah 2.220 euro. Nominal itu sungguh sangat kecil jika dibandingkan dengan road running seperti “Boston Marathon”, yang hadiahnya mencapai 150 ribu euro bagi pemenangya.
Namun, besaran hadiah bukanlah jadi daya tarik utama lomba lari. Di situs webnya, UTMB menegaskan keputusannya mulai menawarkan hadiah uang setelah mendapatkan manfaat “virtuous circle”, yang dapat dipahami sebagai jaringan eksposur antara atlet dan para sponsor olahraga.
Bahkan, jika boleh berbicara soal “etika politik”, gelaran trail running bergengsi juga kerap dimanfaatkan sebagai ajang kampanye partai tertentu. Will Ford lewat artikel berjudul “Why the Ultra-Race Tragedy in China Wasn’t Surprising” menulis, maraton dan lomba lari ultra menjadi salah satu favorit banyak pejabat.
“Pada balapan Gansu, wali kota setempat yang menjadi tuan rumah acara itu meluncurkan pistol start. Mereka membawa liputan pariwisata dan media, dan para kader dapat mencantumkan keberhasilan penyelenggaraannya dalam rekam jejak karier mereka,” tulisnya.
Tak ayal bilamana beberapa perlombaan mencantumkan embel-embel pelat merah. Strategi itu dimaksudkan agar antaroposisi saling berlomba mengungguli satu sama lain, dengan dalih “mendongkrak pariwisata dan ekonomi”. Dari sana, kalangan wirausahawan mendekat, berbondong-bondong berebut tanda tangan kontrak agar bisa menjadi sponsor utama balapan.
Namun, tragedi “Gansu Ultramarathon Disaster” seolah menjadi tamparan keras bagi para politisi yang hanya mementingkan elektabilitas suara. Lima panitia penyelenggara ditangkap dan dikenai penyelidikan kriminal. Sementara itu, 26 pejabat lokal dihukum lantaran tindakan indisipliner, dengan dua di antaranya ditahan atas dugaan kejahatan.
“Lomba maraton benar-benar politis,” kata Ning Leng, ahli tata kelola China dari Universitas Georgetown, kepada VICE World News.
Elektabilitas yang dimaksud berkenaan dengan ambisi Xi Jinping menjadikan Cina sebagai basis kuat olahraga. "Pertama, sangat terlihat, jadi punya reputasi yang lebih baik. Kedua, hal ini memang melibatkan manfaat ekonomi. Sebenarnya juga sangat baik dalam mempromosikan pariwisata,” sambungnya.
Kurva Lonjakan Trail Running
Secara global, ITRA mencatat lebih dari 7 juta pelari resmi terdaftar pada 2025, naik sekitar 5,2 juta sejak 2020.
Di AS, secara khusus, selama 2019–2024, partisipasi trail running meningkat rata-rata 8 persen per tahun, dengan jumlah pelari mencapai 16,1 juta pada 2024.
Lonjakan itu turut diikuti menjamurnya jumlah perlombaan trail running di AS. Misalnya, lomba yang tercatat di UltraSignup membengkak dari sekitar 2.800 acara balapan pada 2019 menjadi lebih dari 4.500 pada 2024. Itu hanyalah data yang terkonfirmasi sebagai lari kategori kelas "ultra" (berjarak lebih dari 100 km).
Di kelas lainnya (keseluruhan), RunSignup RaceTrends 2024 melaporkan lebih dari 85.000 acara, dengan 10,8 juta pendaftaran telah dibuat. Jumlah itu diperkirakan mencapai 45 hingga 50 persen dari subolahraga daya tahan.
Studi berjudul “State of Trail Running 2022” oleh RunRepeat kiranya dapat menjawab akar meledaknya olahraga trail running. Sampelnya dirangkum sejak 1984 hingga 2022, mencakup 15,6 juta hasil balapan di 127 negara.
Kurva trail running telah bertumbuh 231 persen dalam kurun 10 tahun terakhir sejak studi tersebut dipublikasikan.
Uniknya, survei terhadap 3.961 pelari yang dilakukan oleh RunRepeat mengonfirmasi bahwa 28,76 persen di antaranya baru "mulai berlari" ketika pandemi.
“Ketika gimnasium ditutup [akibat Covid-19], orang makin banyak beralih ke alam terbuka untuk berolahraga dan menjaga kesehatan mental,” ujar David Callahan, co-CEO UltraSignUp.
Lain itu, fenomena tersebut diiringi oleh munculnya berbagai macam variasi kategori kelas jarak tertentu.
Berbeda dari road running, yang berpusat pada kategori klasik 5 kilometer, 10 kilometer, setengah maraton (21 kilometer), dan maraton (42 maraton), rute trail running justru makin memanjang.
Dulu, kategori 5 kilometer mencakup 75 persen dari seluruh lomba, tetapi kini hanya 45 persen. Akan tetapi anehnya, di abad ke-21, rata-rata panjang jarak tempuh trail running cukup tinggi, sekitar 24,63 kilometer, dan itu lebih panjang 140 persen dibandingkan road running.

Kategori yang fleksibel memungkinkan partisipan trail running kian beragam. Partisipasi pun perempuan meningkat, yang semula hanya 13 persen (dari total peserta) pada 1997 menjadi 46 persen pada 2022.
Pemimpin redaksi iRunFar, Meghan Hicks menjelaskan alasan kuat kelompok perempuan mengalami pertumbuhan sangat cepat karena alasan sosial. Dikutip dari Half Marathon Guide, ia mengatakan:
Perbedaan Mendasar Trail Running dan Road Running
Salah satu alasan umum para pelari berpindah ke cabang trail running adalah: minim beban kemampuan atau minat untuk mencatatkan rekor waktu pribadi. Itu berbeda dari road running yang konsisten membawa nuansa tuntutan untuk menjadi lebih cepat.
Brian Metzler, pekerja di industri lari selama lebih dari 30 tahun dan editor eksekutif di RUN by Outside Magazine, menyebut, “Jika Anda mengatakan kepada seseorang bahwa Anda pelari maraton, mereka akan meminta waktu [personal best] Anda. Tapi dalam trail running, bukan soal waktu finis. Ini tentang berada di alam liar dan Anda mampu menyelesaikannya.”
Trail running menawarkan sesuatu yang tak dimiliki road running: medan variatif elevasi ekstrem, mandatoris aksesori dan manajemen perlengkapan, serta pengalaman survival. Hal itu terlihat dari kesiapan para pelari trail running dalam menganalisis medan di alam bebas dan kemampuan memanajemen logistik. Itu berbeda dari road running yang memaksa para pelari berlari di lintasan yang sudah ditentukan, dengan medan yang itu-itu saja.
Seia sekata dengan penuturan Brian Metzler, konten kreator trail running Indonesia, Cindy Gulla, saat sesi latihan persiapan jelang UTMB 2026, juga mengatakan hal serupa.
“Trail run itu bukan berarti harus lari terus, kecuali kalian kejar podium, ya," katanya dengan nada ceria, sembari menunjukkan lanskap pemandangan menawan pegunungan Mont Blanc.
Pesona keindahan alam juga menjadi daya tawar tambahan trail running. Memang bukan berarti road running sama sekali tak menawarkan daya tarik alam maupun pegunungan, tapi mayoritas lanskap dan rutenya hanya berkutat di jalan raya dan hiruk pikuk kota.
Trail running, di sisi lain, memaksa peserta berlari di jalur terjal berbatu, acap kali berdebu, dan bahkan menyusuri sungai-sungai dan lumpur yang membalut sekujur badan.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id
































