Kisah Pemuda Penyandang Disabilitas Berlari Membelah Kanada

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah, tirto.id - 1 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Dibantu satu kaki palsu, Terry Fox berlari selama 143 hari sejauh 5.373 km, sebelum akhirnya kesehatannya memburuk.
tirto.id - Beberapa pekan lalu Indonesia berhasil menjadi juara umum ASEAN Para Games 2022. Medali emas Indonesia menjadi pencapaian terbesar sepanjang keikutsertaannya sejak tahun 2001.

Tim Garuda berhasil menyabet 175 medali emas, 144 medali perak, dan 107 medali perunggu. Para atlet dengan segala keterbatasannya tampil penuh semangat dalam mengharumkan nama bangsa.

Semangat seperti ini, juga pernah ditorehkan Terry Fox saat menjalani kegiatan Marathon of Hope di Kanada.

“Saya berusia 21 tahun. Satu kaki saya sudah diamputasi. Tolong izinkan saya berlari mengelilingi negeri untuk menyebarkan harapan dan semangat kepada penderita kanker bahwa keajaiban pasti akan datang.”

Demikian tulis Terry Fox dalam surat terbuka yang disampaikan kepada Canadian Cancer Society pada 15 Oktober 1979. Surat ini berhasil menghidupkan semangat para penyandang disabilitas dan penderita kanker: mereka yang sudah putus asa menjalani hidup.

Cedera dan Kanker Tulang

Tragedi pada November 1976 mengubah jalan hidup Terrance Stanley Fox. Saat itu, ia yang berusia 18 tahun mengalami kecelakaan saat sedang berkendara menuju rumahnya. Mobil yang yang dibawanya menabrak bagian belakang truk.

Ia mengalami cedera di lutut kanan dan kesakitan. Namun, saat itu tidak ada penanganan medis. Terry tidak mau berobat ke dokter lantaran jadwalnya bentrok dengan pertandingan basket nasional. Ia memang atlet basket yang sudah menekuni olah raga itu sejak usia 10 tahun.

Pria kelahiran 28 Juli 1958 itu hidup dari satu klub ke klub basket lainnya. Antusiasnya terhadap basket membuatnya lupa bahwa kesehatan fisik adalah yang utama. Usai kecelakaan, ia yakin bahwa cedera ini tidak berbahaya karena rasa sakit lambat laun menghilang.

Sebagaimana dicatat Frank Cosention dalam Great Moments in Canadian Sports History (1990), setelahnya Terry semakin rutin berlatih dan ikut kompetisi. Namun, sekali waktu di bulan Maret 1977, ia mengeluhkan rasa tidak nyaman pada lutut kanannya.

Rasa itu muncul di tempat cedera empat bulan lalu, dan jauh lebih menyiksa. Ia akhirnya memutuskan menemui dokter bedah tulang.

Oleh dokter ia divonis menderita sarkoma osteogenik, kanker yang membuat tulangnya menjadi lunak. Dokter mengamputasi kakinya empat hari kemudian. Ia juga harus melakukan kemoterapi. Karier Terry hancur. Tangis keluarga pecah.

“Saya tidak siap untuk meninggalkan dunia ini,” ujarnya.


Marathon of Hope

Tiga minggu setelah kakinya diamputasi, hidup Terry Fox tak lagi sama. Kondisi ini jelas membuatnya putus asa. Namun, ia teringat dengan majalah yang diberikan pelatih basketnya, Terri Flemming, beberapa jam sebelum operasi.

Majalah itu menceritakan kisah penyandang disabilitas Dick Traum yang mengikuti lari maraton dengan satu kaki. Kisah itu memantik Terry dan ingin melakukan yang sama. Ia pun dipasangkan kaki palsu. Dari sinilah Terry beradaptasi dengan kehidupan baru.

Jiwa atlet dalam dirinya tetap membara. Meski hanya satu kaki, ia aktif melakukan olahraga: golf, lari, dan tentunya basket. Sampai akhirnya ia menemukan satu olahraga yang cocok, yaitu lari.

Ia berniat mengikuti maraton pada tahun 1979. Ini jelas mustahil karena dapat mengganggu kesehatannya yang baru pulih. Namun, niatnya tak dapat dicegah. Pada Agustus 1979 di Winnipeg, Kanda, Terry mengikuti maraton pertamanya. Ia berhasil mencapai garis finis meskipun berada di posisi terakhir.

Keberhasilan ini membuat Terry memiliki ide yang dipandang oleh banyak orang cukup gila: berlari dari kediamannya di Pantai Barat sampai ke Pantai Timur. Tujuannya untuk menarik perhatian banyak orang terhadap penyandang disabilitas.

Melalui ini pula ia ingin mengumpulkan dana untuk mengungkap misteri kanker. Setiap orang hanya perlu mengumpulkan $1. Jika Terry berhasil melintasi seluruh kota, maka total yang dikumpulkan bisa jutaan dolar AS.

Semua pihak yang mendengar ide ini tidak ada yang menyetujui. Sampai akhirnya, ide ini menjadi perhatian banyak orang ketika ia menulis surat terbuka pada 15 Oktober 1979. Terry kemudian kebanjiran dukungan: finansial dan moral.

Sejumlah jenama ternama ikut mendukungnya. Adidas, misalnya, turut menyumbangkan sepatu. Lalu Ford, memberikan mobil operasional.

Rencananya Terry memulai maraton di Newfoundland pada 12 April 1980 dan berakhir di Vancouver pada 10 September tahun yang sama. Ia menamai kegiatan ini Marathon of Hope.


Infografik Mozaik Terry Fox
Infografik Mozaik Terry Fox. tirto.id/Ecun


Menjadi Warisan Global

Terry memulai perjalanan seorang diri. Hanya dua orang temannya yang mengikuti, itupun naik mobil tidak ikut berlari. Ia tidak peduli kondisi cuaca yang ada di hadapannya. Panas, hujan, dan salju diterabas untuk menyuarakan pentingnya penelitian kanker.

Ia yang berlari tertatih-tatih membuat orang bersimpati padanya. Donasi pun mengalir deras. Laman Terry Fox Fondation mencatat, ia berhasil berlari 42 km per hari dan melintasi 400 kota.

Namun, gerak langkahnya terhenti pada 1 September 1980. Setelah 143 hari dan berlari sejauh 5.373 km, kesehatannya memburuk. Terry tumbang dan terpaksa menyudahi maratonnya di Ontario.

Selama beberapa minggu diobservasi, dokter menyatakan kanker telah menyebar. Peluang hidupnya hanya 10 persen. Meski terkulai lemas di rumah sakit, Terry meminta donasi ini diteruskan. Dan hasilnya terkumpul dana hingga $1,7 juta.

Berita ini menarik perhatian banyak orang. Mulai dari pejabat sampai artis berlomba-lomba mengumpulkan dana. Beragam penghargaan dari organisasi dan institusi negara, dalam dan luar negeri, diberikan kepada Terry atas “Marathon of Hope”-nya. Memasuki tahun 1981, donasi melonjak drastis dan mencapai $24,17 juta.

Kanker akhirnya mengalahkan hidup Terry Fox. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada 28 Juni 1981. Meski telah tiada, orang-orang tetap mengenang cita-citanya dalam mewujudkan dunia tanpa kanker melalui Terry Fox Fondation.

Hingga kini lebih dari 300 ribu orang telah berpartisipasi dan berhasil mengumpulkan ratusan juta dolar untuk penelitian kanker.

Baca juga artikel terkait LARI MARATON atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Olahraga)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight