tirto.id - Asap kayu bakar membumbung tipis di antara tenda terpal sederhana. Di bawah naungan darurat itu, jemari para ibu sibuk menanak nasi dan mencuci piring, sementara para pria sibuk mencari kayu kering.
Tak ada mobil logistik atau terpal berlogo lembaga pemerintah yang datang ke Desa Golo Lanak, Manggarai, sejak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026).
Bagi puluhan keluarga penduduk desa itu—seperti Imelda Jelita dan tetangga-tetangganya, bertahan hidup bukan lagi soal menunggu uluran tangan negara, melainkan tentang seberapa erat mereka saling menggenggam tangan dalam wadah dapur bersama.
Imelda bercerita tepat pukul 12.00 WITA, beberapa jam setelah gempa mengguncang, warga bahu-membahu mendirikan tenda darurat atas inisiatif sendiri. Tempat bernaung yang kini sudah berdiri stabil itu menjadi rumah sementara bagi 23 kepala keluarga (KK), dengan total sekitar 100 jiwa yang menempatinya.
Di posko ini, pembagian peran berjalan secara alami demi kepentingan bersama. Kaum pria bertugas mencari kayu bakar dan memperkokoh struktur tenda, sementara kaum ibu memegang kendali di dapur umum yang dibangun juga atas inisiatif warga. Tanpa adanya bantuan pemerintah, warga memutar otak bertahan hidup lewat cara patungan.
Setiap hari, sekitar 20 kilogram beras diolah untuk kebutuhan makan tiga kali sehari. Menunya sangat bersahaja: hanya nasi, sayur nangka, dan singkong seadanya.
Meski diterpa kendala minimnya air bersih dan stok kayu bakar, ada kehangatan sosial yang tumbuh di tengah krisis. Warga yang biasanya hanya saling sapa sekadar formalitas, kini merasa seperti keluarga kandung. Di bawah atap tenda yang sama, mereka saling bertukar cerita dan bercanda demi mengusir trauma gempa.
Barangkali, memang inilah hikmah bencana ini—menguatkan tali persaudaraan dan nilai gotong royong mereka.

"Saat seperti ini, kami masak seperti satu keluarga kandung karena di tenda yang sama. Cerita-cerita sebelum kejadian gempa untuk menghilangkan trauma, biasanya kami bercanda-bercanda," kata Imelda saat berbincang dengan Tirto, Selasa (18/8/2026).
Menghadapi kemungkinan ketidakpastian bantuan dalam sepekan ke depan, warga pun bersiap menghemat logistik. Jika situasi membaik, mereka berencana kembali berkebun mencari singkong atau menjemur padi.
Namun, daya tahan ini ada batasnya. Warga sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa beras, lauk, air bersih, obat-obatan anak yang mulai terserang penyakit, selimut, serta tenda yang lebih layak untuk mengantisipasi cuaca buruk. Mereka berharap pemerintah bisa segera menyalurkan bantuan secara merata hingga ke daerah pelosok yang sering terabaikan.
"Kebutuhan mendesak bahan pokok beras, lauk, obat buat anak-anak, terutama air bersih. Misal ada bantuan tenda lebih layak (karena) kami tidak tahu cuaca, mungkin besok, lusa hujan, sementara gempa juga tidak bisa diprediksi," tutur Imelda penuh harap.
***
Di pengungsian, Irenius Jakung menyaksikan bagaimana warga bahu-membahu bertahan hidup di atas kaki sendiri. Tenda tempat mereka bernaung dirikan secara mandiri dari terpal dan alas pribadi tak lama setelah gempa mereda, tanpa ada satu pun fasilitas dari pemerintah.
"Kami sendiri buat tenda. Saat gempa reda, kami langsung buat tenda mandiri. Terpal, bantal, tikar apa adanya milik pribadi bukan dari pemerintah," kata Irenius.
Ketidakpastian kapan gempa susulan berakhir memaksa warga memangkas jatah makan. Dalam sehari, mereka hanya makan pada pagi dan malam hari demi menghemat sisa stok beras yang kian menipis. Air keruh pun terpaksa diirit sedemikian rupa.
"Kalau untuk satu hari, pagi saja makan penuh, siang tidak. Pagi dan malam saja makan penuh, kami pikir kondisi ke depan kami belum tahu kapan hentinya ini gempa," ucap Irenius.
Kini, ancaman tak cuma datang dari perut yang lapar, tetapi juga dari terpaan angin malam kencang yang mulai menggerogoti kesehatan bayi dan lansia. Irenius hanya bisa berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan mendesak berupa sembako, terpal yang layak, dan obat-obatan sebelum pertahanan terakhir mereka benar-benar habis.

"Kami hanya minta pemerintah kirim sembako, terpal untuk berlindung. Obat karena semalam kondisi angin kencang, tidak nyaman untuk tidur. Untuk orang dewasa angin tidak takut, cuma untuk bayi dan lansia," tutur Irenius.
Kondisi serupa dialami Remildis Varida bersama warga sekitar berinisiatif membangun tenda dan dapur swadaya sejak gempa mengguncang pada 15 Agustus 2026.
Di tengah alam terbuka dan terik matahari, sekitar 10 warga yang bertahan di posko ini terpaksa mengonsumsi air seadanya yang kurang higienis akibat jauhnya sumber air bersih. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, warga bergotong royong patungan beras hingga 10 kilogram setiap kali memasak.
"Tiap masak diperkirakan kurang lebih 10 kilo. Untuk tenda ini, kurang lebih 10 orang," kata Varida.
Hingga kini, bantuan dari pemerintah belum kunjung menyentuh lokasi mereka. Warga sangat membutuhkan uluran tangan mendesak berupa beras, air minum layak konsumsi, obat-obatan, serta popok bayi.
"Kebutuhan yang kami butuhkan pempers untuk bayi, beras, dan air minum," harap Varida.
Sementara itu, Inviola Yersima Indri Ningsih melangkah bersama ibu-ibu tetangganya menuju dapur umum mandiri di tengah situasi darurat. Mengolah sekitar tujuh kilogram beras dan menyajikan menu seadanya—nasi dan sayur, menjadi rutinitas mereka demi mengganjal perut bersama.
Akses air yang sulit tak menghentikan langkah mereka untuk bertahan. Bagi Inviola, ketabahan adalah kunci, selagi bantuan belum tersalurkan, warga bertekad terus mengumpulkan beras sendiri.
"Kami masak bareng, ibu-ibu tetangga. Kami masak seadanya, nasi, sayur. Ada kendala seperti kesulitan air," ujar Inviola.
Harapan terbesar mereka saat ini adalah uluran tangan berupa obat-obatan yang amat mendesak bagi warga di pengungsian.
"Kebutuhan mendesak obat-obat. Kalau bantuan belum datang, kami tetap kumpul beras sendiri saja," tukas Inviola.
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id































