tirto.id - Gempa susulan terus mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi utama berkekuatan magnitudo (M) 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Bahkan sampai Selasa (18/8/2028) siang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui siaran pers mencatat adanya 2.119 gempa susulan.
Dari ribuan gempa tersebut, 24 gempa susulan bermagnitudo lebih dari M>5, sementara 70 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Aktivitas ini membuat warga di wilayah terdampak jadi waspada. Mengapa terjadi banyak gempa susulan? Kapan gempa susulan berakhir?
Gempa Besar Memicu Gempa Susulan
Gempa bumi utama di Flores terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB atau pukul 05.58 WITA. BMKG menyebut gempa ini tergolong dangkal, dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Gempa besar pada umumnya memang diikuti gempa-gempa susulan. Sebagaimana dijelaskan Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Irwan Meilano, gempa susulan biasanya bermagnitudo lebih kecil dan cenderung menurun seiring waktu.
"Biasanya suatu gempa besar terjadi akan diikuti gempa-gempa susulan yang magnitudonya semakin lama akan semakin kecil," ujar Irwan Meilano, dikutip dari laman resmi ITB.
Maka, munculnya banyak gempa susulan setelah gempa M7,7 bukan fenomena yang berdiri sendiri. Rangkaian tersebut merupakan bagian dari proses kegempaan setelah gempa utama. Aktivitas gempa berlangsung beberapa waktu sebelum akhirnya mengalami peluruhan dan jadi lebih stabil.
Kapan Gempa Susulan Berakhir?
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasar histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar butuh waktu sebelum aktivitas seismik kembali normal.
"BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu," ujar Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman resmi BMKG.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi. Warga juga diminta menghindari bangunan retak dan rusak, serta waspada dengan gempa susulan.
Riwayat Gempa di Sesar Flores
Aktivitas gempa di Flores dan wilayah sekitarnya bukan fenomena baru. Kawasan tersebut dilalui Sesar Naik Flores atau Flores Back Arc Thrust, sesar aktif di bagian utara Bali, Lombok, Sumbawa, sampai Flores.
Irwan Meilano menjelaskan bahwa Sesar Flores berada di belakang busur kepulauan tersebut atau back arc.
"Sesar Flores itu ada di belakang atau bujur busur belakang (Back Arc). Kenapa kami sebut di belakang? Karena bagian depannya ada di selatan, yakni di zona subduksi. Kenapa disebut thrust? Karena mekanisme sesarnya naik," ujar Irwan Meilano.
Sesar Flores memiliki catatan gempa besar, pernah memicu gempa pada 12 Desember 1992. Gempa tersebut diikuti tsunami dan menewaskan sekitar 2.100 orang.
Riwayat tersebut relevan dengan gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Irwan Meilano mengatakan gempa M7,7 kali ini memiliki kemiripan lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores 1992. Kedua lokasi gempa berjarak kurang dari 40 kilometer, sementara gempa 1992 memiliki magnitudo M7,9 dan diikuti tsunami besar.
"Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi," kata Irwan Meilano.
Selain gempa 1992, kawasan Flores Back-Arc juga pernah mengalami gempa besar lainnya. Irwan Meilano menyebut gempa M6,6 pada 2009 dan rangkaian gempa di Lombok pada 2018 sebagai bagian dari riwayat kegempaan di kawasan tersebut.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id






































