tirto.id - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) berencana melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) II atau rights issue sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham baru.
Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, saham baru yang diterbitkan merupakan saham Seri B dengan nilai nominal Rp500 per saham. Saham tersebut akan diterbitkan dari portepel perseroan dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Emiten bersandi BRIS tersebut menjelaskan bahwa saham baru akan memiliki hak yang sama dan sederajat dalam segala hal, termasuk hak atas dividen, dengan saham Seri B yang telah ditempatkan dan disetor.
Namun, jumlah final saham yang diterbitkan belum ditetapkan. Perseroan dapat menerbitkan sebagian atau seluruh jumlah maksimum saham yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Begitu pula dengan harga pelaksanaan. BRIS menyatakan ketentuan mengenai harga pelaksanaan dan jumlah final saham baru akan diungkapkan dalam prospektus PMHMETD II.
"Ketentuan-ketentuan PMHMETD II, termasuk harga pelaksanaan dan jumlah final atas Saham Baru yang akan diterbitkan, akan diungkapkan dalam prospektus yang akan diterbitkan dalam rangka PMHMETD II dan disediakan kepada pemegang saham yang berhak pada waktunya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," demikian bunyi petikan surat keterbukaan informasi tersebut, dikutip Rabu (30/9/2026).
Rencana rights issue tersebut masih harus mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB serta menunggu pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinyatakan efektif.
RUPSLB BRIS direncanakan digelar pada 6 November 2026. Setelah persetujuan tersebut diperoleh, perseroan akan menyampaikan pernyataan pendaftaran PMHMETD II kepada OJK. BRIS menargetkan pelaksanaan dan penyelesaian rights issue tersebut pada kuartal I 2027.
Penggunaan Dana
BRIS menyatakan seluruh dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya dan pengeluaran emisi saham baru, akan digunakan untuk penyaluran pembiayaan guna mendukung pertumbuhan usaha perseroan. Adapun rincian penggunaan dana akan disampaikan dalam prospektus PMHMETD II.
Dari sisi permodalan, BRIS memproyeksikan kebutuhan modal untuk mendukung bisnis meningkat dari Rp51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada 2027.
Perseroan juga memproyeksikan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) meningkat dari 20,38 persen menjadi 23,31 persen setelah penguatan permodalan.
BRIS menyebut tambahan modal tersebut diharapkan dapat mendukung ekspansi bisnis dan pertumbuhan pembiayaan secara berkelanjutan, termasuk upaya meningkatkan kelompok bank berdasarkan modal inti sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, perseroan mengakui peningkatan modal dapat memengaruhi rasio profitabilitas dalam jangka pendek. Namun, rasio tersebut diharapkan pulih secara bertahap seiring penyaluran dana ke aset produktif.
"Pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD miliknya akan mengalami dilusi kepemilikan sebanyak-banyaknya sebesar 12,85 persen," lanjut surat tersebut.
BRIS juga menegaskan bahwa seluruh proyeksi tersebut masih bersifat indikatif dan dapat berubah bergantung pada struktur final serta hasil pelaksanaan PMHMETD II. "Para pemegang saham yang hendak memperoleh informasi tambahan sehubungan dengan rencana PMHMETD II dapat menghubungi perseroan pada hari dan jam kerja kantor pusat perseroan," terang surat tersebut.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































