tirto.id - Bayangkan sebuah masa ketika harga komoditas global ditentukan bukan di New York atau London, melainkan di sebuah koridor sibuk di kawasan Kota Lama Semarang. Tepatnya di Jalan Kepodang (Heerenstraat), deru mesin tik dan telegraf tak pernah berhenti berbunyi dari sebuah kantor megah milik perusahaan Kian Gwan. Dari sanalah, seorang pria mengendalikan gurita bisnis pangan yang memasok kebutuhan dunia hingga dijuluki sebagai "Raja Gula Asia".
Pria itu adalah Oei Tiong Ham. Pada awal abad ke-20, namanya adalah jaminan kemewahan dan kekuasaan finansial yang tak tertandingi di seluruh Asia Tenggara. Namun, bagaimana seorang anak imigran yang berkiprah di Tanah Jawa bisa mengguncang pasar internasional?
Kejayaan ini tidak tumbuh dalam semalam. Akar dinasti ini ditanam oleh ayahnya, Oei Tjie Sien, seorang imigran asal Fujian, Tiongkok, yang kabur ke Jawa akibat Pemberontakan Taiping. Oei Tjie Sien memulai hidup baru di Semarang sebagai pedagang kecil-kecilan sebelum akhirnya mendirikan perusahaan dagang Kian Gwan pada tahun 1863. Perusahaan ini awalnya menjual karet, kopi, dan gambir.
Oei Tiong Ham lahir di Semarang pada tahun 1866 dalam keluarga yang mulai mapan. Saat ia mengambil alih kemudi Kian Gwan pada tahun 1893, ia mewarisi modal yang cukup, namun visi besarnya yang mengubah bisnis keluarga ini menjadi konglomerasi modern pertama di Asia Tenggara. Berkat pengaruh dan kontribusinya, pemerintah kolonial Belanda bahkan menganugerahinya gelar Majoor de Chinezen (Mayor Tionghoa), sebuah posisi birokratis tertinggi bagi warga Tionghoa saat itu.
Inti dari kekaisaran bisnis Oei Tiong Ham terletak pada kepiawaiannya melihat potensi komoditas gula. Pada akhir abad ke-19, industri gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur masih dikelola dengan cara-cara tradisional yang kurang efisien. Oei Tiong Ham melakukan dobrakan besar: ia melakukan modernisasi total.
Antara tahun 1893 hingga 1910, ia membeli lima pabrik gula bangkrut di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk Pakis, Rejoagung, dan Ponen. Alih-alih menggunakan teknologi lama, ia merombak pabrik-pabrik tersebut dengan mengimpor mesin-mesin uap mutakhir dari Eropa. Langkah modernisasi ini tercatat sebagai salah satu lompatan mekanisasi terbesar di Hindia Belanda pada masanya.
Tidak hanya urusan mesin, manajemen perusahaannya pun direvolusi. Oei Tiong Ham adalah pengusaha Tionghoa pertama yang mempekerjakan tenaga ahli dan manajer profesional berkebangsaan Eropa untuk mengelola operasional pabriknya.
Sebagai orang terkaya di Asia Tenggara dengan taksiran kekayaan mencapai 200 juta gulden, gaya hidup Oei Tiong Ham di Semarang menjadi buah bibir lintas generasi. Manifestasi paling nyata dari kekayaannya adalah Istana Gergaji (Oei Tiong Ham Complex) yang dibangun di kawasan Gergaji (sekarang mencakup area sekitar Jalan Pahlawan hingga Polda Jawa Tengah).
Istana ini berdiri di atas lahan seluas 81 hektare. Kompleks tempat tinggal ini mengombinasikan gaya arsitektur kolonial neoklasik dengan paviliun-paviliun mewah, taman-taman luas, hingga sebuah kebun binatang pribadi yang mengoleksi berbagai satwa langka. Berjalan di dalam istana ini serupa dengan memasuki dunia tersendiri yang terpisah dari realitas luar.
Selain huniannya, kantor pusat Kian Gwan di Jalan Kepodang mencerminkan profesionalitasnya. Gedung tersebut dirancang modern dengan fasilitas telegraf mandiri agar ia bisa memantau fluktuasi harga komoditas di bursa London secara real-time.
Meski menyandang status Mayor Tionghoa, Oei Tiong Ham memilih tampil sebagai manusia modern yang melintasi batas budaya. Ia menjadi salah satu orang Tionghoa pertama di Semarang yang berani memotong kuncir rambut tradisional (tauchang), menanggalkan pakaian adat, dan beralih menggunakan setelan jas gaya Eropa sehari-hari. Baginya, modernitas bukan sekadar gaya, melainkan cara memosisikan diri agar sejajar dengan para pebisnis barat.
Akhir Kejayaan
Setiap kejayaan memiliki batasnya. Guna menghindari kejaran pajak warisan yang sangat tinggi dari pemerintah kolonial Belanda, Oei Tiong Ham memutuskan pindah ke Singapura pada tahun 1920. Di sana pula ia mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1924 akibat serangan jantung.
Sepeninggalnya, kendali bisnis beralih ke tangan putra-putranya, terutama Oei Tjong Swan dan Oei Tjong Hauw. Namun, badai politik pasca-kemerdekaan Indonesia mengubah segalanya.
Meskipun fisiknya telah tiada dan perusahaannya telah bubar, jejak Sang Raja Gula tetap abadi di sudut-sudut Kota Semarang. Ketika kita memandang kemegahan bangunan tua di Jalan Kepodang atau menyusuri sisa-sisa kawasan Gergaji, kita sedang merawat ingatan bahwa dari kota pelabuhan di pesisir Jawa ini, seorang konglomerat Semarang pernah mendikte pasar perdagangan dunia.
Penulis: Imaduddin Al Juhani
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































