Di Balik Manisnya Gula, Ada Sejarah Pahit Kolonialisme & Perbudakan

Oleh: Mochammad Naufal - 26 Juli 2021
Dibaca Normal 5 menit
Bagaimana gula sampai ke lidah kita? Ah, kolonialisme dan perbudakan.
tirto.id - Rombongan ekspedisi militer Aleksander Agung heran ketika menemukan jenis gelagah yang memunculkan cita rasa manis di sepanjang daratan sekitar Sungai Indus pada 327 SM. Gelagah itu mereka namai “penghasil madu tanpa lebah.” Sekarang kita mengenalnya dengan sebutan gula tebu (Saccharum officinarum L). Meski tanaman aslinya berasal dari Asia Tenggara, tebu baru benar-benar dibudidayakan dan diproses secara kimiawi pada periode 800 SM di India. Penemuan gula di India oleh pasukan Aleksander Agung digadang-gadang merupakan kontak pertama gula dengan dunia Barat, namun sebenarnya gula baru sampai ke Benua Biru berabad-abad berikutnya. Gula terlebih dahulu menyebar ke berbagai wilayah seperti Cina, Persia dan terutama wilayah kekuasaan Islam di Timur Tengah. Peradaban Islam mengembangkan sistem agrikultur tebu untuk produksi gula secara massal hingga akhirnya gula dapat menyebar ke kawasan Laut Mediterania: Sisilia, Malta, Maroko dan Spanyol. Orang Eropa baru betul-betul berinteraksi dengan gula tebu saat Perang Salib Pertama (1096-99). Mereka mempelajari perkebunan gula tebu dari wilayah yang ditaklukkan selama perang. Saat tiba di Eropa, gula dijuluki “emas putih” sebab statusnya yang langka, mewah dan hanya dimiliki para bangsawan.

Status gula yang langka luntur perlahan saat orang-orang Eropa membawa perkebunan tebu ke wilayah jajahan pada abad ke-15. Portugis memulai eksperimen perkebunan tebu di Pulau Madeira pada 1425. Spanyol melakukan hal serupa di Kepulauan Canaria. Baru pada 1492, Christopher Columbus membawa perkebunan tebu dari kedua wilayah itu ke Amerika dan Karibia. Periode ini menandakan pergeseran produksi gula dari peradaban Islam di Mediterania menuju peradaban kolonial di kawasan sekitar Samudera Atlantik.


Sejak abad ke-15, dimulailah ekspansi perkebunan tebu yang turut memotivasi para penjajah Eropa berlomba-lomba mencari koloni, membantai masyarakat asli, berdagang budak, dan membabat hutan. Gula tebu yang aslinya digunakan untuk pakan babi oleh orang-orang Polinesia dan Austronesia di Asia Tenggara, berubah menjadi pendorong genosida, perbudakan dan perusakan alam di tangan para penjajah Eropa. Gula yang sekarang begitu akrab kita temukan dalam sebungkus permen, sebotol minuman soda atau secangkir teh dulunya merupakan salah satu mesin penggerak kolonialisme Eropa.


Gula Membunuhmu

Antropolog Sidney Mintz dalam bukunya Sweetness and Power (1985) melacak sejarah pahit gula sekurang-kurangnya sejak 500 tahun terakhir. Tokoh pionir antropologi pangan itu menelusuri sejarah produksi, distribusi dan konsumsi gula serta pergolakan sosial yang disebabkannya. Gula dinilai sebagai salah satu faktor terbesar yang memengaruhi demografi dunia.

“Gula telah menjadi salah satu kekuatan besar yang mengubah demografi dalam sejarah dunia,” tulis Mintz. “Akibat gula, jutaan orang Afrika diperbudak ke wilayah koloni di “Dunia Baru”, yang juga diikuti oleh migrasi orang-orang India Timur, Cina, Portugis, dan banyak lagi.”

Tetapi, perubahan demografi itu tidak hanya menyangkut migrasi. Mintz juga menyebut kisah pahit tentang depopulasi yang diakibatkan oleh produksi gula. Jika saat ini konsumsi gula membunuh 184.000 orang per tahun lewat penyakit-penyakit yang disebabkannya, seperti diabetes atau sakit jantung.

Berabad-abad sebelumnya produksi gula telah merenggut kehidupan jutaan orang yang terjerat rantai besi para penjajah. Akibat produksi gula, jutaan orang terombang-ambing dalam sesak kapal di Samudera Atlantik untuk diperdagangkan. Populasi ini adalah korban dari gilasan roda yang menjalankan kolonialisme: perbudakan. Mereka umumnya adalah orang-orang dari Afrika yang diperbudak untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah, bahkan gratis, di perkebunan-perkebunan tebu Karibia dan Amerika milik Eropa, di samping untuk keperluan perkebunan lain seperti kopi, tembakau dan kapas.

Sebagaimana dikatakan Mintz, secara demografis skalanya amat besar. Salah satu versi kalkulasi dari Joseph E. Inikori dan Stanley L. Engerman dalam buku David Northrup The Atlantic Slave Trade (1994) mencatat jumlah populasi orang Afrika yang diperbudak selama periode kolonialisme mencapai 15,4 juta. Meskipun ada hasil kalkulasi lain, namun kira-kira jumlahnya tidak kurang dari 12 juta dan tidak lebih dari 20 juta. Jutaan orang itu ditaklukkan dan diculik oleh para pedagang budak, kemudian dijual kepada orang-orang Eropa untuk dipekerjakan di perkebunan gula tebu.

Sejak ditangkap, para budak telah mendapat perlakuan memprihatinkan, seperti dibelenggu rantai, kelaparan, atau terkena penyakit. Namun, kondisi yang lebih horor terjadi sewaktu mereka mulai memasuki pelayaran transatlantik. Selama satu sampai enam bulan pelayaran, para budak berdesak-desakan di bawah geladak kapal dengan gerak terbatas akibat rantai dan sesak ruangan. Dari mulai penangkapan sampai dipekerjakan di perkebunan, jutaan orang Afrika direnggut nyawanya. Masih mengutip David Northup, diperkirakan dari 100 orang yang ditangkap, hanya 75 yang sampai ke pasar budak; hanya 64 yang sampai ke pelabuhan; hanya 57 yang sampai ke kapal; hanya 51 yang selamat selama pelayaran; hanya 49 yang sampai ke tangan para pemilik perkebunan; dan selama 3-4 tahun masa penanaman di perkebunan hanya 28 sampai 30 yang bertahan.


Tidak hanya merenggut jutaan nyawa orang Afrika, perkebunan gula kolonial juga merampas kehidupan masyarakat asli Amerika. Sejarawan dari Brown University Linford D. Fisher menyebut antara 1492 sampai 1880, setidaknya ada 2 juta sampai 5,5 juta orang asli Benua Amerika yang diperbudak. Di antara jutaan orang itu, ada ratusan ribu bahkan jutaan lain yang meninggal selama proses perbudakannya, termasuk yang dibantai saat para penjajah berusaha menaklukkan dan merampas tanah mereka. Menurut Fisher, meskipun perbudakan di Amerika mulai pudar pada abad ke-18 dan resmi dilarang pada Desember 1865, warisannya masih terus berlanjut.

Merangkum penderitaan dan kesengsaraan dari mereka yang terjajah akibat produksi gula selama periode kolonialisme, Sidney Mintz mengutip tulisan J.H Bernardin de Saint Pierre pada 1773.

Saya tidak tahu apakah kopi dan gula menjadi bagian penting untuk kebahagiaan orang Eropa,” ujar penulis Perancis itu. “Tetapi saya tahu betul bahwa produk ini menyumbang kesengsaraan untuk dua wilayah besar di dunia: Amerika mengalami depopulasi akibat tanahnya digunakan untuk menanam produk tersebut; Afrika mengalami hal serupa karena orang-orangnya diperbudak untuk menanam produk tersebut.”

Lahirnya Kapitalisme, Rusaknya Alam

Kisah lima abad perjalanan gula dalam arus sejarah modern tidak berhenti pada episode tentang penjajahan dan perbudakan. Ada satu bagian penting lain yang disampaikan Mintz, yaitu terkait perkembangan kapitalisme dalam produksi gula. Dalam bukunya, Mintz bercerita tentang kapitalisme yang telah menunjukkan kekuatannya bahkan dalam urusan kudapan sekali pun.

Sejarawan James W. Moore dan Raj Patel dalam bukunya A History of The World in Seven Cheap Things (2017) bahkan berargumen bahwa memang proyek perkebunan gula kolonial yang dimulai pada abad ke-15 adalah bentuk paling awal dari kapitalisme itu sendiri. Berbeda dengan pandangan umum yang mengenal industrialisasi pada abad ke-18 sebagai tonggak kelahiran kapitalisme, Moore dan Patel berpendapat benih-benih kapitalisme telah disemai lebih jauh, berbarengan dengan ditanamnya tebu di wilayah-wilayah koloni. Itu ditandai dengan adanya perubahan sosial, ekonomi dan lingkungan yang masif terjadi setelah dibukanya perkebunan-perkebunan kolonial.

Untuk membuktikannya, Moore menilik satu pulau kecil di Samudera Atlantik yang dikolonisasi Portugis, yakni Pulau Madeira. Selepas Portugis membabat hutan dan menggantinya dengan perkebunan tebu pada akhir abad ke-15, Madeira digadang-gadang oleh Moore sebagai laboratorium pertama yang menciptakan bentuk kapitalisme purba.

Infografik Sejara Gula
Infografik Sejara Gula. tirto.id/Quita


Berbeda dengan sistem ekonomi feodal yang sepenuhnya bergantung kepada pusat koloni, perkebunan tebu di Madeira dapat berjalan lewat dana dari para pemodal dari luar Portugis. Investasi modal dari orang-orang Genoa dan Flanders memungkinkan perkebunan beroperasi, tentu saja juga disokong tenaga kerja budak yang dihisap.

Dalam tulisan lain berjudul “Madeira, Sugar, and the Conquest of Nature in the “First” Sixteenth Century: From “Island of Timber” to Sugar Revolution, 1420–1506” (Review, Vol. 32, No. 4, 2009) Moore mencatat pada 1472, hasil suntikan modal dan penghisapan tenaga budak di pulau itu berujung kepada ekspor 280 ton gula, dengan puncaknya 2,500 ton pada 1506. Terbesar pada masanya. Menurut Moore, aktivitas ekonomi itu telah menunjukkan ciri-ciri yang berbeda dengan ekonomi feodal. Bukti lainnya adalah perkebunan itu menciptakan transformasi alam yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Setelah perkebunan tiba, hutan-hutan Madeira dibabat habis untuk membuka lahan. Kayu dari pohonnya digunakan untuk pembakaran dalam proses produksi, juga untuk pembuatan kapal dalam distribusi. Akibatnya, menurut Moore, pada 1530 seluruh hutan yang ada di pulau itu telah terbabat seluruhnya. Tidak hanya deforestasi, perkebunan tebu kolonial juga mengotak-atik keseluruhan lanskap yang ada di Madeira untuk keperluan akumulasi laba. Aliran sungai, misalnya. Dalam catatan Moore dikatakan bahwa para budak dipekerjakan dalam proyek raksasa rekayasa aliran sungai bernama levadas. Tujuannya supaya air bisa mengarah pada sistem irigasi perkebunan tebu di bagian pulau yang kering. Proyek levadas yang menelan banyak jiwa para budak ini membentang sepanjang 2.100 kilometer dan benar-benar mengubah bentang alam Madeira.

“Pohon-pohon, air, tanah, fauna, dan flora di Madeira dan laut di sekitar pulau diperlakukan sebagai “hadiah gratis”,untuk diubah menjadi menjadi serangkaian nilai pemasukan dalam proses produksi,” tulis Moore.

Menariknya, Moore berpendapat bahkan setelah perkebunan gula bangkrut, relasi kapitalistik yang merusak alam masih bertahan. Misalnya, sewaktu produksi gula di Madeira anjlok karena kehabisan kayu bakar pada 1530, bisnis beralih keanggur. Masalahnya, produk anggur membutuhkan tong kayu, sementara pohon di Madeira sudah mendekati habis. Kayu-kayu dalam jumlah besar kemudian diimpor dengan cara membabat hutan di seberang samudera: Amerika dan Karibia. Konsekuensinya, perusakan alam terus berlanjut. Dalam konteks yang lebih luas, proses serupa tidak berhenti di Madeira, lima abad lamanya hutan-hutan di Karibia dan Amerika, termasuk Amazon, telah menjadi korban perluasan perkebunan gula tebu dan perkebunan lain dengan model ekonomi yang muncul di Madeira. Untuk alasan itu, Moore menganggap Madeira dan perkebunan gulanya telah menelurkan bentuk masyarakat kapitalistik yang terus menaklukkan alam untuk keperluan laba, bahkan hingga saat ini.

“Akumulasi laba tanpa akhir berarti juga perusakan alam yang tak berujung,” imbuh Moore.

Baca juga artikel terkait KOLONIALISME atau tulisan menarik lainnya Mochammad Naufal
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Mochammad Naufal
Editor: Windu Jusuf
DarkLight