Menuju konten utama

Demonstrasi Besar di Prancis: PNS Minta Naik Gaji, Siswa Bentrok

Prancis diguncang dengan aksi demonstrasi yang cukup besar. Para PNS dan siswa menyuarakan aspirasi mereka dengan tuntutan yang berbeda. Apa pemicunya?

Demonstrasi Besar di Prancis: PNS Minta Naik Gaji, Siswa Bentrok
Para pekerja sektor publik termasuk pegawai kereta api, guru, tenaga kesehatan, dan petugas pemadam kebakaran—berunjuk rasa di berbagai wilayah Prancis untuk menuntut upah serta kondisi kerja yang lebih baik, beberapa hari sebelum pengumuman anggaran negara berikutnya. pada 29 September 2026. reuters/ Telmo Pinto/NurPhoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Prancis dilaporkan tengah dilanda unjuk rasa berskala besar pada Selasa (29/9/2026). Puluhan ribu pegawai negeri sipil (PNS) dari berbagai profesi melakukan aksi mogok untuk memprotes tingkat kesejahteraan mereka, sementara para siswa SMA melakukan unjuk rasa terpisah untuk menuntut perbaikan sekolah mereka.

Seturut Al Jazeera, aksi protes yang dilakukan para PNS itu berlangsung secara nasional. Serikat pekerja menyebut sekitar 300.000 orang ikut aksi mogok satu hari pada Selasa, sementara sekitar 30.000 PNS dari mereka menggelar demonstrasi massa di Paris.

Unjuk rasa itu dilakukan untuk memprotes tingkat kesejahteraan mereka. Para PNS menuntut kondisi kerja yang lebih baik dan menyatakan kemarahan atas rencana pemotongan anggaran pemerintah.

Di waktu yang sama, namun di tempat berbeda, unjuk rasa terjadi di lebih dari 400 sekolah menengah Prancis. Aksi tersebut diinisiasi para siswa untuk menuntut perbaikan kondisi pembelajaran. Para siswa memprotes jadwal pelajaran, ukuran ruang kelas, kekurangan guru, dan pembelajaran yang tak kondusif akibat gelombang panas.

Unjuk rasa siswa SMA ini dimulai di Paris, namun kemudian menyebar ke kota-kota lain. Banyak dari unjuk rasa ini berlangsung bentrok. Sebanyak 40 sekolah diblokade siswanya, sementara 44 sekolah lainnya menghadapi upaya blokade serupa.

Sepuluh orang, baik siswa maupun staf, dilaporkan terluka akibat bentrok. Sementara itu, pejabat Prancis menyebut setidaknya 440 orang ditangkap dalam unjuk rasa.

PNS Menolak Pemotongan Anggaran

Unjuk rasa yang dilakukan para PNS di Prancis pada Selasa merupakan respons atas rencana pemerintahan Presiden Emmanuel Macron untuk memotong anggaran. Serikat pekerja menyebut pemotongan ini akan berdampak pada pembekuan gaji pokok pegawai negeri untuk tahun 2027.

Jika betulan terjadi, pemotongan anggaran ini merupakan yang keempat kali terjadi secara berturut-turut dalam empat tahun terakhir. Ini juga akan jadi pemotongan kedelapan selama masa jabatan Macron.

Rencana pemotongan anggaran dikaitkan dengan upaya Pemerintah Prancis untuk mengatasi lonjakan harga energi yang dipicu Perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Lewat jalan ini, pemerintah dapat menghemat belanja 2 miliar euro.

“Kemarahan ini tidak akan hilang. Pemerintah harus meninjau kembali anggarannya,” kata Sekretaris Jenderal Konfederasi Umum Buruh Sophie Binet, sembari memberi waktu 48 jam kepada pemerintah untuk membatalkan rencana tersebut.

Selain menolak pemangkasan anggaran, para PNS juga menuntut kenaikan gaji sebesar 6 persen. Menurut serikat pekerja, kenaikan tersebut diperlukan karena kebijakan anggaran pemerintah sejauh ini telah mengurangi daya beli pekerja hingga dua digit.

Unjuk rasa para PNS ini diperkirakan telah diikuti oleh kurang dari 1 dari 10 pegawai pemerintah Prancis. Jumlah ini lebih sedikit lagi di rumah sakit. Namun, aksi mogok dilaporkan telah memicu regulator penerbangan sipil Prancis memperingatkan potensi gangguan penerbangan di beberapa bandara.

Unjuk Rasa Para Siswa Ricuh

Sementara para pegawai negeri memprotes kesejahteraan mereka, para siswa SMA di Prancis berupaya untuk memblokade sekolah mereka sendiri. Menurut para demonstran, aksi ini dilakukan untuk memprotes pembelajaran yang tak kondusif.

“Kami di sini untuk membuat penyataan,” kata seorang demonstran perempuan berusia 16 tahun, dikutip dari BBC. “Kami di sini untuk mengatakan bahwa sistem pembelajaran sudah sepenuhnya rusak. Ada 34 siswa untuk tiap kelas dan itu tidak kondusif. Para guru bekerja dengan beban kerja berlebih.”

Di banyak sekolah, para siswa membakar tempat sampah. Mereka juga melempari gedung sekolah dengan berbagai benda. Sementara itu, kericuhan bertambah setelah petugas keamanan setempat merespons para demonstran dengan pentungan dan gas air mata.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Senin (28/9) telah mengutuk aksi protes di sekolah. Ia menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab, namun mengakui bahwa “kesulitan yang dihadapi sekolah menengah harus didengar dan ditangani”.

Baca juga artikel terkait DEMONSTRASI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar