Menuju konten utama

108 Pengungsi Gempa NTT Meninggal, Mendagri Bakal Cek Pemda

Menyikapi data BNPB soal 108 penyintas gempa NTT yang meninggal di pengungsian, Tito Karnavian minta pemda maksimalkan anggaran belanja tidak terduga.

108 Pengungsi Gempa NTT Meninggal, Mendagri Bakal Cek Pemda
Petugas Medis dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memeriksa korban gempa di Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (22/8/2026). Tim Respon MDMC membawa kebutuhan logistik medis dan non-medis untuk memberikan layanan kesehatan bagi para korban bencana gempa bumi di NTT. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian bakal mengecek ulang terkait jumlah pengungsi yang meninggal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Terkini, total ada 108 penyintas bencana gempa bumi yang meninggal di Flores, NTT.

"Kalau memang ada informasi ini [korban meninggal di pengungsian], saya akan cross check dulu kepada pemerintah daerah, di mana saja, dan penyebabnya apa," ucapnya di kantor Kementerian Sosial (Kemensos), Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Menurut dia, penanganan korban imbas bencana sejatinya merupakan kewenangan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan kementerian/lembaga terkait lain.

Sebagai Mendagri, Tito mengaku telah melakukan tugasnya dalam penanganan bencana. Salah satunya, yakni menyalurkan anggaran belanja tidak terduga (BTT) sebesar Rp20 miliar per kabupaten/kota atau Rp40 miliar per provinsi.

"Sementara ini dikoordinir oleh BNPB dengan PMK, Menko PMK ya, Pak Pratik. Termasuk juga dari Kementerian Kesehatan dilibatkan. Kalau konteks saya ditanya, Kemendagri, ya saya pasti arahnya kepada kepala daerah. Kepala daerah selama ini kan sudah diberikan bantuan tambahan BTT masing-masing Rp20 miliar untuk kabupaten/kota, Rp40 miliar [untuk provinsi]," urai dia.

Evaluasi Kelayakan Fasilitas di Tenda Pengungsian

Tito menyatakan, saat ada penyintas korban bencana yang meninggal, pemerintah bakal terlebih dahulu mengecek penyebab meninggalnya mereka. Jika ada kekurangan dalam penanganan korban bencana, pemerintah disebut akan melakukan evaluasi.

"Penyebabnya karena memang penanganan di pengungsian, kedinginan, sakit, ataukah karena memang apa, usia memang ya? Kita harus tahu. Kalau ada hal karena kurang treatment yang kurang layak, ya jadi bagian evaluasi. Saya pasti akan menyampaikan kepada pemdanya, manfaatkan anggaran yang ada," tutur eks Kapolri tersebut.

Sebagai informasi, berdasarkan data BNPB per 28 September 2026 pukul 10.00 WIB, gempa NTT telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang cukup besar.

BNPB mencatat 156 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal dunia akibat dampak langsung gempa, sedangkan 108 orang lainnya meninggal secara tidak langsung di lokasi pengungsian.

Kategori meninggal tidak langsung tersebut merujuk pada korban yang meninggal karena faktor komorbid atau penyakit penyerta, usia, serta penurunan kondisi kesehatan setelah bencana.

Data BNPB juga mencatat terdapat 1.620 orang yang mengalami luka atau sakit akibat rangkaian dampak bencana tersebut.

Selain korban meninggal dan luka, BNPB mencatat 24.027 orang masih mengungsi.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sebagian warga belum dapat kembali ke rumah atau masih membutuhkan tempat perlindungan akibat kondisi lingkungan dan kerusakan tempat tinggal setelah gempa.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah