Menuju konten utama

BNPB: 94 Meninggal di Pengungsian NTT Didominasi Lansia

Informasi mengenai jumlah korban meninggal dunia di pengungsian sempat menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

BNPB: 94 Meninggal di Pengungsian NTT Didominasi Lansia
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026). RSUD Aeramo mengoperasikan rumah sakit lapangan setelah bangunan utama mengalami kerusakan berat di sejumlah titik akibat gempa pada 15 Agustus 2026 serta sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan. ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan sebanyak 94 orang yang meninggal dunia di pengungsian pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT) didominasi dari kelompok rentan, terutama lanjut usia (lansia). Mereka pun terindikasi memiliki penyakit kronis.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, mengatakan kesimpulan itu diperoleh berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dan Kementerian Kesehatan.

“Kami meluruskan bahwa 94 warga tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, sebagian besar korban meninggal dunia di pengungsian merupakan kelompok lansia dengan komplikasi penyakit kronis yang telah diderita sebelumnya, seperti stroke dan diabetes melitus.

Berton memastikan pemerintah telah memberikan penanganan medis secara maksimal melalui berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu sejak gempa terjadi pada 15 Agustus lalu.

"Sejak hari pertama pascagempa, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Bantuan medis, obat-obatan," jelasnya.

Berbagai peralatan yang dibutuhkan juga terus disalurkan kepada para pengungsi, baik yang berada di lokasi pengungsian terpusat maupun pengungsian mandiri.

Pemerintah juga terus memastikan fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu tetap disiagakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para penyintas, meski jumlah pengungsi kini telah menurun.

Berdasarkan data BNPB per 15 September 2026, jumlah pengungsi akibat gempa NTT mencapai 46.461 jiwa, turun signifikan dari sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 150.000 jiwa.

“Kami juga ingin memastikan pelayanan dasar dan kesehatan bagi para penyintas tetap terlaksana optimal,” jelas Berton.

Menurutnya, informasi mengenai jumlah korban meninggal dunia di pengungsian sempat menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

“Kami mohon maaf apabila dinamika informasi sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran dan spekulasi tertentu di masyarakat. Mari kita bersama memperkuat dukungan dan doa demi percepatan pemulihan saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur,” katanya.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi