tirto.id - Lebih dari 3 ribu warga Pulau Palue, Kabupaten Sikka, masih bertahan di pengungsian hingga 32 hari setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur.
Warga yang terdampak gempa saat ini menempati dua pola pengungsian, yakni posko pengungsian terpusat dan tenda keluarga yang didirikan di sekitar rumah masing-masing.
Camat Palue, Rudolfus Riba, mengatakan pengungsian terpusat masih terdapat di sejumlah titik di Desa Rokirole dan Desa Nitunglea.
"Di Rokirole itu ada dua titik, yaitu di lapangan dan di Dusun Koa. Terus, yang di Nitunglea itu juga ada dua titik, di lapangan voli dan di samping Kapela Cua. Itu yang masih terpusat," kata Rudolfus saat diwawancarai kontributor Tirto, pada Rabu (16/9/2026) pagi di Palue.
Sementara itu, warga lain memilih tinggal di tenda keluarga yang didirikan tidak jauh dari rumah mereka. Tenda tersebut digunakan untuk menampung anggota keluarga masing-masing.
Menurut Rudolfus, sejak minggu pertama masa tanggap darurat, pemerintah telah mendistribusikan sekitar 200 tenda keluarga ke delapan desa di Pulau Palue.
"Sehingga, ada pengungsi terpusat, ada pengungsi yang menempati tenda keluarga. Itu sifatnya tersebar ke delapan desa," ujarnya.
Kondisi pengungsian berbeda-beda di setiap wilayah. Di Desa Kesokoja, khususnya wilayah Natakuni, masih terdapat tenda yang dapat menampung lebih banyak warga. Tenda tersebut juga menjadi tempat anak-anak berkumpul dan tidur.
Sementara di Desa Lidi, sebagian besar warga bertahan menggunakan tenda keluarga berukuran kecil.
"Desa Lidi itu hingga hari ini hanya mereka menempati tenda-tenda keluarga yang ukurannya kecil, hanya untuk menampung keluarga-keluarga yang ada di tenda itu," kata Rudolfus.

Empat Desa di Kawasan Gunung Paling Terdampak
Dari 8 desa di Pulau Palue, 4 desa yang berada di kawasan gunung—yakni Desa Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka—menjadi wilayah yang paling terdampak gempa.
"Yang saat ini paling terdampak itu empat desa di gunung," kata Rudolfus.
Dia menjelaskan kondisi geografis Palue yang berada di timur laut pusat gempa Kabupaten Nagekeo, membuat guncangan gempa terasa kuat.
"Kalau kita lihat posisi Palue ini kan di sebelah timur laut, berarti di belakang empat desa itu. Sehingga, dampak goncangan (magnitudo) 7,7 kemarin itu terasa sekali di atas," ujarnya.
Di tengah masih berlangsungnya pengungsian, pemerintah juga melakukan verifikasi dan validasi terhadap kerusakan rumah warga. Rudolfus menyebut data awal yang dihimpun pemerintah kecamatan mencatat 505 rumah rusak berat, 57 rumah rusak sedang, dan 500 rumah rusak ringan.
Namun, setelah dilakukan verifikasi faktual oleh tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman berdasarkan kriteria yang ditetapkan BNPB, jumlah rumah yang masuk kategori rusak berat pada tahap pertama menjadi 123 rumah dan kategori rusak sedang sebanyak 156 rumah.
Sementara itu, data rumah berkategori rusak ringan masih dalam proses penghitungan.

"Rusak sedang itu 156 KK dan sisanya itu saya belum hitung, itu rusak ringan," kata Rudolfus.
Perubahan klasifikasi tersebut masih dapat disanggah oleh masyarakat melalui mekanisme uji publik yang berlangsung pada 16-18 September 2026.
Warga yang keberatan terhadap hasil verifikasi dapat menyampaikan sanggahan yang kemudian dituangkan dalam berita acara.
"Kalau dia keberatan, dituangkan dalam berita acara, bahwa dia tidak terima rumahnya dikatakan rusak sedang," ujarnya.
Menurut Camat Rudolfus, pemerintah kini menyiapkan pilihan hunian sementara atau bantuan melalui Dana Siap Pakai (DSP) bagi warga yang rumahnya masuk kategori rusak berat. Rudolfus mengatakan dirinya telah berkoordinasi dengan tenaga teknis BNPB terkait rencana pembangunan huntara di Palue.
96 KK di Desa Rokirole Masih Bertahan di Tenda Pengungsi
Sebanyak 96 KK atau sekitar 285 jiwa warga Desa Rokirole masih bertahan di posko pengungsian Lapangan Guntor, Dusun Cawalo, hingga Rabu (16/9/2026).
Koordinator Posko Utama Desa Rokirole, Nikodemus W. Lowo, mengatakan jumlah warga Desa Rokirole yang masih mengungsi secara keseluruhan mencapai 979 jiwa. Namun, khusus warga yang menempati posko pengungsian di Lapangan Guntor, terdapat 285 jiwa yang berasal dari 96 KK.
“Kalau untuk Desa Rokirole itu, total jiwa yang mengungsi itu 979. Hanya khusus yang di lapangan ini ada 285,” kata Nikodemus.
Menurut dia, sebagian besar warga memilih bertahan di tenda pengungsian karena kondisi rumah mereka mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa. Bahkan, sekitar 9 hingga 10 KK masih bertahan di depan teras rumah masing-masing karena keterbatasan tenda pengungsian.
“Sebagian besar masih bertahan. Hanya sekitar 9 sampai 10 KK itu mereka bukan masuk rumah, tetapi masih di depan teras. Belum bisa masuk rumah karena tenda kurang,” ujarnya.
Nikodemus menjelaskan warga belum berani kembali dan tidur di dalam rumah karena banyak bangunan mengalami retak besar, bahkan sebagian di antaranya roboh.
“Posisi rumah itu tidak bisa. Retak besar dan sebagian besar roboh, sebagian besar retak besar, sehingga kami tidak berani untuk masuk, apalagi tidur di dalam,” katanya.
Kerusakan akibat gempa tidak hanya terjadi pada bangunan rumah. Sejumlah bak penampungan air milik warga juga mengalami kerusakan. Nikodemus mengatakan hampir setiap rumah memiliki bak air yang retak atau rusak akibat gempa. Kondisi tersebut membuat warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Bak air itu rata-rata setiap rumah rusak. Kalau mau bilang tidak retak juga, airnya hilang,” ujarnya.
Menurut dia, sebelum gempa, persediaan air di dalam bak warga masih cukup. Namun setelah gempa, banyak bak mengalami keretakan sehingga air tidak lagi tertampung.
Nikodemus memastikan kerusakan rumah maupun bak penampungan air tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah daerah. Tim survei juga telah turun langsung untuk melihat kondisi rumah warga dan fasilitas penampungan air yang terdampak gempa.
“Sudah lapor, sudah survei. Sudah ada tim survei yang turun untuk lihat rumah, terus lihat bak-bak. Bak-bak juga pecah,” ujarnya.

Mama Dominika Wea (64), salah satu warga Kampung Cawalo, bercerita rumahnya mengalami kerusakan berat akibat gempa. Pantauan kontributor Tirto, Rabu (16/9/2026) siang, sejumlah tiang struktur rumah patah dan bagian tembok roboh.
Rumah tersebut selama ini ditempati Mama Dominika bersama dua cucunya, Wea (siswi kelas IV) dan Regi (siswa kelas II). Keduanya bersekolah di SDK Cawalo.
Saat gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, anak bungsu Mama Dominika, Alfredo Riki, yang merupakan mahasiswa semester III Jurusan Pertanian Universitas Nusa Nipa (Unipa), juga berada di dalam rumah.
Alfredo mengalami luka di bagian kepala setelah tertimpa tembok yang roboh. Salah satu cucu Mama Dominika juga mengalami luka di kepala.
Alfredo kemudian mendapat perawatan di Puskesmas Tuanggeo. Dia harus mendapatkan 17 jahitan akibat luka yang dialaminya.
Sejak rumahnya rusak, Mama Dominika bersama keluarga terpaksa meninggalkan rumah dan tinggal di tenda pengungsian. Lebih dari sepekan, mereka sempat tinggal bersama para pengungsi lain di tenda besar yang berada di Posko Pengungsian Lapangan Guntur.
Pada hari pertama setelah gempa, keluarga Mama Dominika menggunakan tenda darurat yang dibuat dari terpal milik mereka sendiri.
"Tanggal 15 Agustus kami pakai tenda darurat dari terpal yang kami punya. Tenda BNPB masuk minggu kedua," tutur Mama Dominika.
Kini, tenda menjadi tempat tinggal sementara bagi Mama Dominika dan keluarganya setelah rumah yang mereka tempati mengalami kerusakan berat akibat gempa.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































