tirto.id - Ribuan tahun Candi Gedong Songo menjulang gagah, bersemayam di kaki Gunung Ungaran. Batu-batunya berselimut lumut dan beraroma dupa. Tampak sakral, berdiri di hamparan tanah luas yang dikelilingi hutan pinus. Tenang dan sunyi.
Namun suasana itu tak akan bertahan lama. Ia terancam terusik oleh rencana proyek yang hendak menembus perut bumi. Sudah banyak yang menyorot Candi Gedong Songo dan memosisikannya laksana korban ambisi manusia.
Sejak santer berseliweran Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, kondisi Candi Gedong Songo tak lagi sama. Wilayah di sekitar bantaran lembah Gunung Ungaran—termasuk kawasan Candi Gedong Songo—ditargetkan sebagai sumber energi panas bumi. Klaimnya kapasitasnya bukan main: sekitar 55 MW. Itu berarti, wilayah tersebut bakal diekstraksi, dibor hingga dua kilometer memacak tanah, demi listrik yang disebut “energi terbarukan”.
Pada 19 Agustus 2026, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, dalam ajang Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026, menyatakan telah mengantongi SK dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. SK itu memberikan restu kepada PLN sebagai penanggung jawab, dengan izin kepada PT Telaga Ranu Geothermal sebagai komprador lapangan.
Gedong Songo Menolak Digali
Kendati sampai detik ini prosesnya masih di tahap riset dan kajian berdasarkan teknis, keselamatan, perlindungan lingkungan, serta pelestarian kawasan cagar budaya, kekhawatiran sudah mencuat sporadis.
Per 16 September 2026, lebih dari 10.518 orang telah menandatangani petisi untuk menolak proyek pemanfaatan panas bumi di Gunung Ungaran. Petisi tersebut diinisiasi Heru P. pada 27 Agustus lalu, yang mengaku sebagai warga peduli lingkungan, sumber air, dan masa depan Gunung Ungaran.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Beberapa tahun terakhir, warga di sekitar Gunung Ungaran telah terjangkit krisis air hebat, terutama sejak menginjak musim kemarau. “Kami tidak ingin menunggu sampai mata air berkurang, sumber air masyarakat terganggu, pertanian terdampak, atau kerusakan lingkungan terjadi, baru kemudian kita bertindak,” tulis Heru dalam petisinya.
Akan tetapi, itu bukan satu-satunya petisi penolakan di web change.org. Setidak-tidaknya, sudah ada tujuh petisi lain yang diprakarsai beragam kalangan.
Bahkan, petisi dengan tajuk “Hentikan proyek panas bumi di Gunung Ungaran”, yang dibuka oleh Bayu Utomo, telah ditandatangani lebih dari 12.412 responden. Kalau Heru P. menekankan aspek krisis air dan lingkungan di masa mendatang, Bayu Utomo menggarisbawahi soal “ancaman terhadap candi warisan budaya.”
Pariwisata Gedong Songo adalah nadi ekonomi lokal. Banyak orang menggantungkan hidup dari wisatawan yang datang menyusuri jalan setapak, menunggang kuda, atau sekadar menikmati panorama. Jika candi rusak, bukan hanya sejarah yang hilang, melainkan juga penghidupan. Petisi penolakan yang ditandatangani ribuan warga bisa dibilang sebagai perwakilan kolektif dari batu-batu dan altar.

Candi Gedong Songo, Nasibmu Kelak
Barang tentu proyek geotermal Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sangat menentukan nasib Candi Gedong Songo.
Ada ketakutan bahwa getaran seismik akibat pengeboran dapat mengancam struktur bangunan atau lokalisasi di sekitar cagar budaya peninggalan Kerajaan Mataram Kuno tersebut.
Lain itu, Nur Cholis, Deputi Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Provinsi Jawa Tengah, menyebut proyek geotermal di Gunung Ungaran tak memiliki urgensi. Pasokan listrik untuk Provinsi Jawa Tengah dan DIY sudah lebih dari cukup, dengan surplus (sisa daya) mencapai 2.200 MW (44,94 persen).
Risikonya juga bisa merebak sampai masalah kelestarian mata air. “Kita bisa menjadikan Dataran Tinggi Dieng sebagai ruang belajar. Di Dusun Pawuhan, warga kesulitan mengakses air bersih karena sumber airnya diduga kuat terdampak dan berubah menjadi asin akibat aktivitas di sekitar PLTPB,” ujarnya, dikutip dari Republika.
Proyek geotermal di Dieng dan Patuhae sempat dikabarkan terancam mangkrak akibat sengketa hukum. Bahkan yang terbaru, BPK menemukan potensi kerugian sebesar Rp25,69 miliar proyek geotermal yang didalangi PT Geo Dipa Energi (Persero) tersebut.
Soal krisis air, inspeksi lapangan Ekspedisi Indonesia Baru di Dataran Tinggi Dieng menunjukkan rupa miris geotermal. Warga Dieng mengeluhkan rasa air tanahnya berubah lebih asin, lebih-lebih sejak alat berat PT Geo Dipa Energi merangsek kampung halaman mereka.
Kejernihan air memang masih tampak sama, tetapi rasa tak bisa berbohong. Rasa air di wilayah sekitar pembangkit geotermal seperti oralit.
Tanaman kentang juga menampakkan bukti dampaknya, terutama yang berlokasi searah dengan tiupan angin dari pembangkit geotermal. Daun-daunnya berubah kering. Unsur hara tanah tergerus. Akibatnya, tanah menjadi tandus sehingga tanaman kekurangan nutrisi.
Peneliti limbah berbahaya dan beracun, Yuyun Ismawati, mengungkapkan bahwa selain soal lingkungan, dampaknya bisa langsung memicu risiko kesehatan bagi manusia. Contoh nyatanya adalah buntut bocornya pipa gas PLTP PT Sorik Marapi Geothermal Plant (SMGP) di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, pada 2021 lalu. Lima orang meninggal dan 24 lainnya pingsan akibat keracunan gas sulfur.
Hal itu terjadi karena proyek geotermal menghasilkan gas H2S atau hidrogen sulfida. Gas tersebut berbahaya apabila dihirup langsung tanpa filter udara atau tahap pemurnian. Anak di bawah umur dikategorikan sebagai golongan paling rentan lantaran barier organ pernapasan yang belum sekompleks orang dewasa.
Selain itu, geotermal dapat mengundang risiko penyakit tak menular seperti gatal-gatal. Pada 2008, penyakit kulit massal sempat menyerang warga Mataloko, Flores, usai limbah (lumpur) uap panas geotermal menginfeksi kali. Warga mengalami gatal-gatal, ditandai munculnya bintik-bintik di badan. Meski belum diketahui penyebab pastinya hingga kini, kuat dugaan masalahnya adalah konsumsi kandungan arsenik berlebih yang merangsang kulit hingga meradang.
Penelitian yang dilakukan Julian J. Bommer dkk., pada 2006 menyebut, salah satu efek negatif pengeboran geotermal yang sering terabaikan adalah bencana seismisitas induksi. Sampelnya adalah ladang geotermal di El Salvador Timur, Amerika Tengah. Getaran seismik terus-menerus, yang tak lagi mampu tertahan oleh reservoir tanah, memicu gempa bumi dengan magnitudo sedang.
Itulah yang dikhawatirkan bakal terjadi di wilayah Gunung Ungaran, yang utamanya mengancam eksistensi Candi Gedong Songo. Retakan tanah yang tak diikuti dengan manajemen pengendalian bahaya dapat mengorbankan struktur bangunan di sekeliling wilayah geotermal.
Struktur candi yang rapuh bisa retak, bahkan bergeser. Ini seturut dengan analisis kolaborasi WALHI dan CELIOS lewat publikasiGeothermal di Indonesia; Dilema Potensi dan Eksploitasi Atas Nama Transisi Energi (2024).

Dalam proses penambangan panas bumi, hasrat meningkatkan kapasitas sistem panas bumi demi mendongkrak produksi selalu menjadi tantangan. Salah satu metode yang populer adalah Hydraulic Fracturing (Fracking). Teknik tersebut menekankan rekahan pada reservoir, dengan tujuan meningkatkan permeabilitas tanah dalam meloloskan air melalui ruang pori.
Bahaya yang menjadi momok adalah penurunan daya ikat (kohesivitas) tanah. Hal itulah yang rentan memicu gempa minor, bisa langsung dirasakan pemukiman di sekitar aktivitas PLTP.
Bayangkan pelesakan permukaan tanah dilakukan di atas struktur Candi Gedong Songo. Itu akan membuat kepadatan tanah menjadi berkurang. Meski hanya berupa lubang kecil, abrasi tak terelakkan. Sebab, secara gradual, pori-pori tanah telah terisi lumpur serta gas panas.
Lambat laun, bangunan candi bisa roboh. Lahan-lahan di sekitarnya rusak, tak dapat ditanami, mati total. Belum lagi soal pencemaran air jika pipa-pipa bocor, dan senyawa arsenik, antimon, serta boron mengontaminasi sumur permukaan.
Peneliti-Arkeolog Angkat Bicara
Ahmad Zarkasyi, Yuanno Rezky, dan Mochamad Nurhadi, pernah memublikasikan potensi keuntungan geotermal Gunung Ungaran. Publikasi itu dilayangkan di Buletin Sumber Daya Geologi Volume 6 Nomor 3 pada 2011.
Di situ tertulis bahwa survei potensi geotermal di Gunung Ungaran telah berlangsung sejak periode 1983-1998. Promotor dan sponsor utamanya adalah Pertamina.
Menurut hasil survei geosain tim Pertamnina, terdapat tiga kelompok daerah panas bumi di sekitar Ungaran. Masing-masing terletak di Gedongsongo, Nglimut, dan Kendalisodo. Dengan bekal survei itu, Zarkasyi dkk., menghitung dan menyimpulkan luas prospek geotermal di Gunung Ungaran mencapai 10 km2 dengan perkiraan potensi terduga 110 MWe.
Alih-alih hanya melihat prospek keuntungan lewat angka matematis, Mohammad Basyir Zubair, arkeolog dan pemerhati purbakala dari EMBAS, justru punya penilaian lain. Dia lebih menekankan keterikatan dampak geologis geotermal terhadap keberlangsungan situs Candi Gedong Songo.
“Pernyataan tersebut [publikasi Ahmad Zarkasyi dkk.] belum disertai rujukan pada dokumen konkret: Nomor kajian AMDAL, peta zona eksplorasi versus batas cagar budaya Gedong Songo, atau pernyataan resmi dari otoritas cagar budaya seperti Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Tengah,” katanya, dilansir oleh Ruang.id.
Basyir menganggap proses ekstrasi fluida panas bumi berskala besar memicu risiko perubahan tekanan, suhu, serta debit manifestasi permukaan. Tanpa transparansi dokumen AMDAL dan studi hidrogeologi independen, risiko lingkungan acap kali diabaikan dari perhitungan keuntungan matematis.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































