tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada hari Minggu, 6 September 2026 untuk mengatasi abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Operasi ini dilakukan melalui Bandara Pondok Cabe.
"Hari ini kita melaksanakan OMC. Jadi, pesawatnya sudah siap di Pondok Cabe, akan dilaksanakan OMC sampai malam," ucap Suharyanto, seperti dikutip Antaranews, Minggu, 6 September 2026.
"Untuk mendatangkan hujan. Kalau hujannya nanti turun dengan cukup deras, tentu saja abu vulkanik yang mulai dari kemarin sampai hari ini mengganggu kehidupan kita ini bisa segera luruh," sambungnya.
Apa Itu Modifikasi Cuaca?
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebelumnya dikenal dengan nama hujan buatan. Teknologi ini sudah diterapkan di Indonesia sejak 1977.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional, hadirnya modifikasi cuaca di Indonesia berawal dari kunjungan Presiden Soeharto ke Thailand, yang saat itu terkenal dengan kemajuan di sektor pertanian.
TMC disebut sebagai salah satu faktor pendorong majunya sektor pertanian di Thailand. Mereka menggunakan hujan buatan untuk mengatasi kebutuhan air.
Berkaca dari kesuksesan itu, Soeharto menugasi B. J. Habibie guna mempelajari teknologi tersebut. Tak lama berselang, uji coba hujan buatan mulai diterapkan di Indonesia dan berfokus pada sektor pertanian.
"Jadi memang awalnya dulu TMC ini dipelajari di Thailand dan diaplikasikan di Indonesia fokusnya untuk mendukung sektor pertanian dengan cara mengisi waduk-waduk strategis baik untuk kebutuhan PLTA atau irigasi," tutur Budi Harsoyo, Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Seiring perjalanan waktu, Teknologi Modifikasi Cuaca digunakan untuk mengatasi hal lain, misalnya, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, penurunan curah hujan ekstrem, serta pengamanan infrastruktur dan acara kenegaraan.
Teknologi Modifikasi Cuaca turut dilibatkan dalam mendukung pelaksanaan SEA Games XXVI Palembang 2011, gelaran Moto GP Mandalika 2022, dan KTT G20 2022.
Cara Kerja Modifikasi Cuaca
Saat Gunung Anak Krakatau erupsi, teknologi ini kembali digunakan untuk penanganan abu vulkanik. BNPB memakai dua teknik dalam Operasi Modifikasi Cuaca.
Pertama, jika kondisi berawan, OMC dilakukan dengan menstimulus terjadinya hujan. Kedua, jika tidak terdapat awan, OMC dilakukan dengan menggunakan skema water mist.
"Untuk DKI Jakarta, Banten dan Lampung, apabila tidak ada pertumbuhan awan hujan, kami dengan BMKG sepakat untuk menggunakan metode water mist, yaitu untuk mengurai partikel abu yang berbahaya," tutur Suharyanto.
Modifikasi cuaca bekerja dengan menebarkan garam ke dalam awan hujan demi memicu potensi awan hujan di atmosfer. Selanjutnya, awan tersebut jatuh menjadi hujan di lokasi target.
"Yang patut dicatat dan dipahami TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) ini meski orang mengenal dengan hujan buatan, tapi kami tidak bisa membuat hujan. Kalau kami diminta melakukan operasi TMC untuk mengisi waduk pada saat musim kemarau yang dalam kondisi kering dan tidak ada potensi awan, kami tidak bisa melakukan apa-apa, ini yang kita sampaikan terutama kepada stakeholder," papar Budi Harsoyo, Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN.
Dalam pelaksanaan operasi ini, BRIN menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).
BMKG bertugas sebagai penyedia data dan informasi terkait kondisi cuaca, awan, serta arah angin. Sementara TNI AU sebagai penyediaan armada pesawat khusus untuk operasi OMC.
Penjelasan lain terkait modifikasi cuaca datang dari Yonny Koesmaryono, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University. Menurutnya, modifikasi cuaca bekerja dengan mengintervensi proses fisika yang berlangsung di atmosfer melalui siklus hidrologi.
Air yang berasal dari laut, sungai, danau, atau daratan menguap ke atmosfer. Lantas mengalami pendinginan hingga membentuk awan. Namun, tidak semua awan bisa menghasilkan hujan.
"Modifikasi cuaca adalah membuat perubahan dari sesuatu yang sudah ada. Jadi bukan membuat hujan atau membuat air, tetapi memodifikasi proses yang terjadi di atmosfer," kata Yonny Koesmaryono.

Teknologi modifikasi cuaca dilakukan dengan mengintervensi awan yang dapat berkembang menjadi hujan. Contohnya seperti awan cumulus. Lalu ditambahkan bahan higroskopis atau aerosol. Fungsinya sebagai inti kondensasi. Proses pertumbuhan awan pun dapat dipercepat.
"Yang kita lakukan adalah mengintervensi proses fisika di awan agar pertumbuhannya bisa terkendali. Jadi bukan membuat hujan dari nol," tegasnya.
Mengutip Planned Weather Modification through Cloud Seeding yang diterbitkan American Meteorological Society, aerosol yang diformulasikan secara khusus disebarkan di lokasi-lokasi tertentu di dalam awan.
Proses itu berguna untuk meningkatkan curah hujan, mengurangi kerusakan akibat hujan es, menghilangkan kabut, dan menghasilkan efek-efek lain sesuai tujuan.
Meskipun demikian, bahan yang dipakai untuk penyemaian awan bisa saja tidak selalu berhasil mencapai sasaran, hingga berpotensi menimbulkan efek di wilayah berbeda dari lokasi yang ditargetkan.
Penerapan Modifikasi Cuaca & Bagaimana Hasilnya?
Modifikasi cuaca ini sudah diterapkan di berbagai sektor. Selain menangani abu vulkanik gunung Anak Krakatau, metode ini juga dipakai dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.
Operasi ini digelar pada 22 Agustus-4 September 2026 dari Posko OMC di Pangkalan Udara Supadio, Kubu Raya.
"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," ungkap Budi Harsoyo, Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, dikutip laman resmi BMKG.
Hasil dari modifikasi cuaca tersebut dilaporkan langsung memicu hujan di berbagai titik. Termasuk kawasan Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga mencapai Kota Pontianak, selama hari Jumat (4/10).
Setidaknya, hasil modifikasi cuaca diklaim mampu meningkatkan kelembapan tanah gambut dan mendinginkan area terdampak, mengurangi kabut asap dan menekan kemunculan titik api baru.
Modifikasi cuaca juga dilaporkan berlangsung di Kalimantan Tengah, mulai 26 Agustus hingga 5 September 2026, dengan melibatkan 10 sorti penerbangan dan total 8.000 kg NaCl.
Kegiatan tersebut mendorong terjadinya hujan intensitas ringan hingga sedang di Kabupaten Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, serta Barito Selatan.

OMC juga pernah digunakan oleh BMKG di Jawa Barat pada 2025 untuk mengurangi potensi bencana seperti banjir. Misalnya, jika Cirebon diprediksi bakal terjadi hujan lebat, BMKG akan menyemai awan-awan yang terbentuk di laut. Sehingga, saat mencapai daratan, intensitas hujan akan berkurang menjadi sedang.
“Jadi yang kita lakukan untuk operasi ini adalah mengurangi curah hujan yang turun di wilayah daratan, khususnya yang berpotensi banjir, sehingga menjadi air yang bermanfaat buat kehidupan,” ujar Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto.
Pada 2024, untuk mengantisipasi kekeringan, BMKG menggandeng PUPR, BRIN, dan TNI untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca guna mengisi 35 waduk di Pulau Jawa. Proses ini bisa dilakukan lantaran masih ada peluang pertumbuhan awan-awan hujan di sekitar wilayah Indonesia.
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id
































