Menuju konten utama

Kisah Dr. Lee dan Legasi Dirjen WHO yang Wafat Saat Menjabat

Awalnya, Dr. Lee menjadi konsultan kusta di WHO Fiji. Momen ini menjadi titik awal Lee berkiprah di WHO hingga menduduki jabatan sebagai Dirjen WHO.

Kisah Dr. Lee dan Legasi Dirjen WHO yang Wafat Saat Menjabat
dr Lee Jong wook. wikimedia/Agência Brasil
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Posisi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mulai ramai dibicarakan seiring nama Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, yang masuk dalam bursa calon Dirjen WHO.

"Itu kan amanah dari Bapak Presiden. Jadi pastilah saya akan kerja buat Bapak Presiden, apa pun tugas dari beliau akan kita jalankan dengan sebaik-baiknya," ucap Budi.

Sepanjang sejarah WHO, Dr. Lee Jong-wook atau akrap disapa Dr. Lee menjadi orang pertama Korea Selatan (Korsel) yang menjabat Direktur Jenderal (Dirjen) World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia. Namun, ia meninggal ketika menduduki posisi itu.

Lama sebelum menjabat Dirjen, Dr. Lee berpengalaman di WHO selama hampir dua dekade dengan beragam posisi dan wilayah penugasan. Dr. Lee Jong-wook memiliki formulasi yang jitu untuk menekan angka polio.

Tak salah jika ia mendapat julukan "Vaccine Czar" atau Tokoh Utama Vaksin. Selama menjabat, Dr. Lee turut menaruh perhatian khusus kesehatan di negara-negara berkembang.

Menurutnya, risiko penyakit memiliki kaitan yang erat dengan tingkat kemiskinan suatu negara. Melihat kegigihan dan prestasi di dunia kesehatan, ia pun layak diganjar sederet penghargaan penting.

Ilustrasi WHO

Ilustrasi WHO. foto/IStockphoto

Profil & Rekam Jejak Dr. Lee Jong-wook

Dr. Lee memiliki nama lengkap Lee Jong-wook. Lee lahir pada tanggal 12 April 1945 di Seoul, Korea Selatan. Ayahnya merupakan pegawai negeri yang kerap dipindahtugaskan, termasuk saat tragedi Perang Korea (1950–1953).

Di tengah suasana konflik dan masa masa sulit itu, Lee bersama ibu dan kedua saudara laki-laki berjalan kaki dari Seoul menuju Taegu untuk mencari sang ayah, yang telah dipindahkan ke sebuah pos tugas di daerah terpencil. Mereka berjalan menyusuri jalanan hingga mencapai 400 mil atau sekitar 640 kilometer. Waktunya hampir tiga bulan.

Setelah gencatan senjata tahun 1953, ayah dan saudara-saudara laki-laki Lee terjun ke dunia politik. Sementara, Lee atas dorongan ibunya, memilih untuk menjadi dokter. Mengutip laman BioEthics Insight, ia meraih gelar kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Nasional Seoul.

Setelah lulus, ibunya kembali mendorong Lee untuk menjadi dokter bedah plastik, karena dianggap sebagai jalur karier medis yang lebih menjanjikan secara finansial. Akan tetapi, Lee justru sangat tertarik pada penyakit kusta karena melihat dampak sosial dan emosional yang mendalam akibat penyakit tersebut.

Peta Korea Selatan

Peta Korea Selatan. foto/Istockphoto

Lee kemudian memulai karier medis dengan melayani di sebuah permukiman khusus penderita kusta di Korea Selatan. Di pemukiman itulah Lee bertemu istrinya, Reiko. Perempuan Jepang ini bekerja sama dengan sebuah organisasi Katolik yang merawat para penderita kusta.

Di awal karier, Lee beralih fokus, dari praktik medis swasta ke bidang kesehatan masyarakat. Ia merasa dapat membantu lebih banyak orang melalui jalur tersebut.

Setelah itu, Lee dan keluarga kecil hijrah ke Amerika Serikat guna melanjutkan studi. Pada tahun 1981, Lee meraih gelar master di bidang epidemiologi dan kesehatan masyarakat dari School of Public Health Universitas Hawaii, spesialisasi penyakit tropis.

Dua tahun setelah menyelesaikan pendidikan master, Lee memulai kerja sama jangka panjang dengan WHO. Tahun 1983, Lee menerima posisi sebagai konsultan kusta di kantor regional WHO di Fiji. Momen ini menjadi titik awal Lee mulai berkiprah di WHO hingga menduduki jabatan sebagai Dirjen WHO.

Bendera Organisasi Kesehatan Dunia

Bendera Organisasi Kesehatan Dunia. FOTO/iStockphoto

Karier di WHO: Vaccine Czar hingga Direktur Jenderal

Setelah ditugaskan di Fiji, cerita berlanjut usai Dr. Lee ditunjuk oleh WHO sebagai ketua tim pengendalian kusta untuk wilayah Pasifik Selatan. Pada tahun 1986, Lee pindah tugas ke Kantor Regional WHO untuk Pasifik Barat yang berlokasi di Manila, Filipina.

Di Filipina, Dr. Lee awalnya terlibat dalam Program Regional Pengendalian Kusta. Kemudian, ia menjabat sebagai Penasihat Regional untuk Penyakit Kronis. Melihat penilaian kinerja yang rekam jejak yang positif, Dr. Lee terpilih sebagai kepala Program Global WHO untuk Vaksin dan Imunisasi (GVP) dan berpindah ke Jenewa, Swiss, kantor pusat WHO.

Di saat yang sama, sebagaimana diberitakan dalam National Center for Biotechnology Information, Dr. Lee juga menjabat sebagai sekretaris eksekutif Children's Vaccine Initiative (Inisiatif Vaksin Anak). Program ini merupakan kampanye global yang dirancang untuk mendorong pengembangan vaksin baru yang lebih efektif.

Program yang sama dinilai dapat meningkatkan akses vaksinasi bagi semua anak, sehingga dapat membebaskan dunia dari poliomielitis dan penyakit masa kanak-kanak lainnya yang dapat dicegah melalui vaksin.

Guna menyukseskan program inisiasi vaksin anak, Dr. Lee memprakarsai diskusi dengan berbagai perusahaan untuk membikin formula vaksin, khusus menangani penyakit di negara-negara berkembang.

Vaksinasi HPV di Jakarta Barat

Ilustrasi vaksin. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz

Selama menjabat sebagai kepala GVP, Dr. Lee menerapkan strategi-strategi khusus. Di antaranya peninjauan kembali misi jangka pendek dan jangka panjang GVP, serta peningkatan pendanaan dari 15 juta dolar AS menjadi hampir 70 juta dolar AS antara tahun 1994-1998.

Di sisi manajerial, Dr. Lee memperkenalkan reformasi manajemen yang bertujuan menjamin kompetensi teknis staf pada tingkat tertinggi sekaligus meningkatkan jumlah perempuan yang menduduki posisi profesional.

Masa kepemimpinan Dr. Lee dinilai memberikan dampak signifikan terhadap penurunan polio di kawasan Pasifik Barat. Tercatat, kasus polio dilaporkan menurun dari 5.963 pada tahun 1990 menjadi 700 pada tahun 1994. Memasuki tahun 2004, tidak ada lagi kasus polio di Pasifik Barat.

Berkat keberhasilan itu, Dr. Lee mendapat julukan dari majalah Scientific American sebagai "Vaccine Czar" atau Tokoh Utama Vaksin pada tahun 1997.

Saat WHO berada di bawah kepemipinan dokter asal Norwegia, Gro Brundtland (1998), Dr. Lee ditunjuk sebagai penasihat kebijakan senior sekaligus perwakilan khususnya hingga tahun 2000.

Dr. Lee memimpin program Stop Tuberkulosis WHO. Dalam menyukseskan program itu, ia mengembangkan kemitraan global bernaama Global Drug Facility (GDF). Tujuannya meningkatkan akses terhadap obat-obatan tuberkulosis.

Kemitraan terdiri dari 250 anggota internasional, termasuk negara-negara anggota WHO, donor, organisasi non-pemerintah, perwakilan industri farmasi, dan yayasan.

Pada 28 Januari 2003, Lee dinominasikan oleh dewan eksekutif WHO, menggantikan Bruntland. Pada 21 Mei, komite eksekutif Perserikatan Bangsa-Bangsa memilih Dr. Lee untuk jabatan Direktur Jenderal masa jabatan lima tahun. Dirinya menjadi Dirjen WHO keenam dan orang Korea Selatan pertama yang memimpin badan PBB. Ia memulai masa jabatan pada 21 Juli 2003.

Saat menjabat Dirjen WHO, Dr. Lee ingin meningkatkan pemantauan internasional terhadap penyakit menular untuk membantu mengendalikan wabah penyakit seperti sindrom pernapasan akut parah (SARS). Caranya dengan meningkatkan pendanaan dari beberapa negara untuk meningkatkan pemantauan penyakit melalui peningkatan staf dan pelatihan.

 dr Lee Jong wook

dr Lee Jong wook. wikimedia/Agência Brasil

Melansir laman WHO, Dr. Lee juga mengembangkan penanganan HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis di negara-negara kurang mampu yang dibebani sistem perawatan kesehatan yang buruk. Ia fokus menangani masalah perawatan kesehatan di negara-negara miskin, karena risiko penyakit erat kaitannya dengan tingkat kemiskinan suatu negara.

Selama menjabat sebagai Dirjen WHO, Dr. Lee juga mengambil langkah berani, yakni WHO akan bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mencapai target "3 by 5". Target "3 by 5" dirancang untuk memastikan tiga juta orang pengidap HIV/AIDS mendapatkan akses terhadap obat-obatan yang mereka butuhkan pada akhir tahun 2005.

Inisiatif "3 by 5" mengubah cara pandang para pemimpin dunia mengenai obat-obatan AIDS bagi masyarakat di negara-negara miskin. Meskipun target ini belum sepenuhnya tercapai, momentum dari "3 by 5" mengaskan bahwa bahwa akses universal terhadap obat-obatan adalah hal yang mungkin dicapai dan menjadi keharusan moral.

Dr. Lee juga berupaya melakukan pengurangan ketergantungan nikotin di dunia dan meningkatkan jumlah area bebas asap rokok di dunia. Salah satu caranya dengan mengadvokasi perjanjian anti-tembakau, yang akan meningkatkan pajak atas produk tembakau. Pada pada gilirannya, hal ini diklaim bakal mendorong lebih banyak orang untuk berhenti merokok.

Seiring berkembangnya masalah kesehatan internasional, program WHO di bawah kepemimpinan Dr. Lee juga menyasar wabah flu burung hingga dampak bencana alam. Selama menjabat Dirjen WHO, Dr. Lee mendorong kepada semua kepala negara agar menyusun rencana kesiapsiagaan pandemi influenza nasional pada manusia.

Selama hampir tiga tahun masa jabatan sebagai Direktur Jenderal, Dr. Lee mengunjungi lebih dari 60 negara untuk meninjau program-program kesehatan. Saat berkeliling dunia, ia tidak hanya berbicara dengan para pengambil keputusan tingkat tinggi, tetapi juga menemui masyarakat umum untuk mendengarkan kisah hidup mereka. Dr. Lee juga dikenal kerap menjalin interaksi dan mengenal lebih dekat sosok petani, pedagang pasar, perawat, maupun anak sekolah.

Dr. Lee Wafat Ketika Menjabat Dirjen WHO

Ilustrasi Duka Cita

Ilustrasi Duka Cita. foto/isotckphoto

Di tengah masa jabatan sebagai Dirjen WHO, Dr. Lee meninggal dunia pada tanggal 22 Mei 2006 di Jenewa, tepatnya di kantor pusat PBB untuk wilayah Eropa. Ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 61 tahun dan meninggalkan seorang istri dan seorang putra. Kematiannya terjadi pada hari pertama World Health Assembly, sebuah konferensi tahunan bagi para anggota WHO.

Dalam pengumuman kematian yang diterbitkan WHO, sebelum meninggal, Dr. Lee telah dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi darurat pengangkatan gumpalan darah di otak atau hematoma subdural. Dr. Lee berada dalam perawatan intensif hingga pukul 07.43 pagi ini, saat dinyatakan meninggal dunia.

Dua tahun setelah meninggal, Dr. Lee mendapat penghargaan dari WHO berupa The Dr LEE Jong-wook Memorial Prize for Public Health. Penghargaan didedikasikan untuk Dr. LEE Jong-wook, Dirjen WHO keenam, yang mengabdikan hidupnya bagi kaum kurang mampu, sebagaimana dilaporkan di laman WHO.

Penghargaan ini diberikan kepada individu, institusi, dan/atau organisasi pemerintah maupun non-pemerintah yang kontribusinya terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Adapun plakat dan uang US$ 100.000 diserahkan dalam upacara khusus saat sidang pleno Majelis Kesehatan Dunia.

Ilustrasi Hari Kesehatan

Ilustrasi Kesehatan. foto/istockphoto

Untuk menghormati dedikasi Dr. Lee, maka dibentuk Korea Foundation for International Healthcare (KOFIH), yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan pada tahun 2006. Menukil laman resmi, KOFIH didirikan untuk melanjutkan misi Dr. Lee dalam meningkatkan kesehatan global.

KOFIH berkomitmen memperkuat sistem kesehatan di negara-negara berkembang melalui pengembangan kapasitas, alih teknologi, dan kemitraan yang berkelanjutan.

Salah satu program KOFIH adalah Fellowship Dr. Lee Jong-wook, program pelatihan yang mengundang tenaga kesehatan dari negara-negara mitra untuk meningkatkan kompetensi mereka.

Hingga tahun 2024, Fellowship Dr. Lee Jong-wook telah menerima 1.672 praktisi kesehatan dari 30 negara sejak diluncurkan pada tahun 2007. Program ini memungkinkan para praktisi untuk mempelajari teknologi dan sistem kesehatan Korea sembari berkontribusi pada peningkatan layanan kesehatan global dan pengembangan sistem kesehatan.

Baca juga artikel terkait PROFIL atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo