tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Jakarta menjadi daerah paling rentan dalam hotspot defisit air nasional. Meskipun demikian, hasil pemantauan terkini pemerintah menunjukkan statusnya masih dalam kategori awas.
Head Drinking Water and Sanitation Research Group, Research Centre for Limnology and Water Resources BRIN, Ignasius Sutapa, menerangkan kekeringan hidrologis di Jakarta adalah fenomena penurunan debit sungai, muka air tanah, dan volume waduk di bawah normal selama periode panjang, setelah didahului oleh hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Daerah Jakarta bagian utara disebut sudah lebih dahulu mengalami kekeringan dibandingkan daerah selatan.
"Jakarta Utara sudah masuk kemarau sejak Mei, lebih awal dari selatan yang baru Juni-Juli. Jika El Nino berlanjut, bisa jadi terparah dalam 10 tahun terakhir," kata dia kepada Tirto, Senin (21/9/2026).
Ignasius menerangkan, terdapat tiga daerah di Jakarta yang paling rawan kekeringan hidrolgis, yakni Jakarta Selatan Atas (Cilandak, Jagakarsa, Pasar Minggu) yang umumnya mengandalkan sumur dangkal (kurang dari 40 meter). Kondisi ini, kata dia, sangat riskan karena muka air tanah turun duluan dan sudah terbukti terjadi.
Kemudian, Jakarta Barat dan Timur Pinggiran (Meruya, Cakung, Kalisari) yang belum terlayani PAM Jaya 100 persen dan memiliki topografi tinggi serta tekanan air rendah. Sementara itu, Jakarta Utara Pesisir (Penjaringan, Marunda) terindikasi berisiko intrusi dan air PAM tidak naik karena tekanan rendah saat debit waduk turun.
"Untuk Dasarian II September 2026, masih aman menurut PAM Jaya setelah meninjau sumber air baku. Namun, cadangan ini bersifat aman bersyarat. Dengan curah hujan kurang dari 20 mm/dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen, kriteria status Awas, ketahanan hanya 60-90 hari tanpa hujan signifikan," tutur dia.
Lebih lanjut, Ignasius merekomendasikan adanya semacam perpres tentang ketahanan air megapolitan yang menyagkut aturan untuk tidak membiarkan Jakarta bergantung pada satu waduk. Selain itu, lembaga terkait, termasuk BRIN, harus mendampingi Pemprov DKI Jakarta untuk piloting teknologi atmospheric water generator (AWG) dan desalinasi payau untuk Jakarta Utara.
"Lakukan branding dengan mengubah imbauan hemat air menjadi gerakan Setiap Tetes Hitungannya dengan audit. Selain itu, integrasikan data BMKG (HTH dan CH), PJT II (TMA Jatiluhur), dan PAM Jaya (tekanan pipa) dalam satu dashboard publik," tutur Ignasius.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































