Menuju konten utama

Respons BPBD soal Kekeringan yang Melanda DKI Jakarta

BPBD DKI klaim Ibu Kota belum berstatus kekeringan meski belasan laporan warga mulai masuk lewat Jakarta Siaga 112.

Respons BPBD soal Kekeringan yang Melanda DKI Jakarta
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat. Foto/BPBD DKI Jakarta
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta menegaskan bahwa hingga saat ini wilayah Ibu Kota belum berstatus atau mengalami kekeringan. Meski demikian, belasan laporan krisis air mulai masuk dari warga di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengungkapkan pihaknya telah menerima 13 laporan permintaan dukungan air bersih dari masyarakat.

“Laporan tersebut berasal dari 9 kelurahan, yaitu Kapuk, Sukabumi Selatan, Wijaya Kusuma, Lebak Bulus, Pondok Labu, Tebet Timur, Baru, Kelapa Gading Barat, dan Sunter Agung,” ujar Maruli ketika dihubungi Tirto, Kamis (17/9/2026).

Setiap laporan yang masuk via Jakarta Siaga 112 tersebut, terang Maruli, akan dikonfirmasi dan diverifikasi terlebih dahulu oleh petugas di lapangan.

Setelah itu, BPBD segera berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk menangani masalah distribusi air bersih.

Pemprov DKI Gandeng PAM JAYA Siapkan Reservoir

Dalam menghadapi ancaman iklim, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan langkah proaktif agar krisis air tidak meluas.

“Jakarta terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi kemungkinan kemarau panjang. Kita tidak hanya menunggu sampai terjadi kekurangan air, tetapi melakukan langkah antisipasi dari sekarang,” tegas Maruli.

Salah satu langkah antisipasi utama yang dilakukan BPBD adalah berkolaborasi dengan PAM JAYA guna memastikan ketersediaan pasokan air bersih.

“Kami juga berkoordinasi dengan PAM JAYA untuk memastikan ketersediaan air, termasuk dalam upaya pengisian reservoir, sehingga cadangan air dapat dipersiapkan menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan,” terang Maruli.

Selain masalah air, kesiapsiagaan juga diperluas untuk menghadapi ancaman kualitas udara dan kondisi cuaca di musim kemarau.

“Selain itu, BPBD bersama BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup terus memantau kondisi cuaca dan kualitas udara. Jadi kesiapsiagaan tidak hanya terkait ketersediaan air, tetapi juga mengantisipasi dampak lain yang dapat muncul selama musim kemarau,” tambahnya.

Waspada Kebakaran, Imbau Warga Tidak Bakar Sampah

Di tengah kondisi lingkungan yang mulai mengering, BPBD meminta masyarakat untuk ikut serta mengambil tindakan pencegahan.

Warga diimbau mulai menghemat penggunaan air bersih, menggunakannya secara bijak, dan menyiapkan cadangan air mandiri untuk kebutuhan esensial.

Lebih lanjut, Maruli memberikan peringatan terkait ancaman bahaya lain akibat cuaca kering, yakni kebakaran. Ia meminta masyarakat tidak memperburuk keadaan dengan tidak membakar sampah maupun lahan.

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan menghindari pembakaran sampah maupun lahan,” tegasnya.

BPBD memastikan seluruh personelnya terus memantau dampak kekeringan di lapangan dan bersiaga penuh merespons setiap laporan warga.

“Kami siap melakukan respons apabila terjadi dampak di masyarakat. Namun, kesiapsiagaan ini membutuhkan kerja bersama,” pungkas Maruli.

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Siti Fatimah