Menuju konten utama

Fenomena Sungai Barito Mengering, Ini Penjelasan dan Penyebabnya

Benarkah Sungai Barito menyusut akibat kemarau panjang? Simak penjelasan BMKG dan KemenPU serta kondisi alur utama yang masih berair.

Fenomena Sungai Barito Mengering, Ini Penjelasan dan Penyebabnya
Warga melintasi sungai Barito yang diselimuti kabut asap menggunakan perahu bermesin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (5/10/2018). ANTARA FOTO/Ibay/wpa/foc/18.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fenomena menyusutnya debit Sungai Barito di sekitar Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah hingga tampak seperti padang pasir atau gurun viral di media sosial. BMKG dan KemenPU menjelaskan fenomena tersebut.

Kondisi Sungai Barito yang kering saat ini disebut sebagai gambaran nyata kuatnya tekanan musim kemarau yang tengah berlangsung. Dalam beberapa pekan terakhir, minimnya curah hujan membuat muka dan debit air sungai turun hingga memunculkan hamparan pasir di sejumlah bagian sungai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Barito Selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang, sedangkan puncak musim kemarau di Kalimantan Tengah diperkirakan berlangsung pada Agustus–September 2026.

Kondisi tersebut membuat pasokan air ke sungai semakin terbatas dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.

Meski demikian, gambaran Sungai Barito yang seolah-olah mengering sepenuhnya perlu diluruskan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan alur utama Sungai Barito di sekitar Kalahien masih memiliki aliran air dan tetap dapat dilalui kapal maupun perahu.

Penjelasan BMKG dan KemenPU soal Sungai Barito yang Menyusut

Kondisi Sungai Barito di Kalimantan Tengah saat ini dilaporkan mengalami penyusutan seiring minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah wilayah di Barito Selatan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori panjang hingga sangat panjang, yakni sekitar 21-30 hari hingga 31-60 hari.

Kondisi tanpa hujan dalam periode tersebut menyebabkan pasokan air permukaan berkurang sehingga debit sungai ikut menyusut. BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami sifat hujan bawah normal, dengan curah hujan sekitar 0-20 milimeter dan persentase terhadap kondisi normal berada di kisaran 0–50 persen.

Sungai Barito Mengering

Sungai Barito di kawasan Jembatan Kalahien di Desa Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai memperlihatkan dampak serius akibat kemarau panjan. (Sumber: Instagram/@theonewhd)

Puncak musim kemarau di Kalteng diprediksi berlangsung pada Agustus-September 2026, sehingga tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi semakin besar jika periode kering terus berlanjut.

Penyusutan debit tersebut terlihat di Sungai Barito, termasuk di sekitar Jembatan Kalahien, yang kemudian menjadi perhatian setelah beredar dokumentasi di media sosial yang memperlihatkan hamparan pasir cukup luas di tengah sungai.

BPBD Barito Selatan membenarkan bahwa kondisi sungai di kawasan tersebut mengalami penyusutan yang signifikan. Namun, kondisi tersebut perlu dibaca secara lebih proporsional karena tidak berarti seluruh Sungai Barito telah mengalami kekeringan atau kehilangan aliran air.

Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III melakukan pemantauan langsung dan memastikan bahwa alur utama Sungai Barito di sekitar Kalahien masih memiliki aliran air.

Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan bahwa hamparan pasir yang terlihat dari atas jembatan merupakan bagian sungai yang tidak lagi teraliri air akibat turunnya muka air, sedangkan alur utama masih memiliki lebar sekitar 100 meter dan tetap dapat dilalui kapal maupun perahu.

“Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai,” kata Sandi dikutip Antara (22/8/2026).

Secara hidrologis, munculnya gosong pasir dan menyempitnya aliran merupakan konsekuensi dari berkurangnya masukan air ke badan sungai. Ketika hujan semakin jarang, air yang meresap ke tanah dan mengalir menuju sungai juga menurun, sedangkan proses penguapan tetap berlangsung akibat kondisi cuaca yang lebih kering.

Apabila periode tanpa hujan berlangsung semakin panjang, debit sungai dapat terus berkurang dan bagian-bagian sungai yang memiliki elevasi lebih tinggi atau aliran lebih dangkal akan lebih dahulu memperlihatkan permukaan pasir.

Karena itu, kondisi di Kalahien dapat menjadi salah satu indikator tekanan musim kemarau terhadap sumber daya air di wilayah Barito Selatan, meskipun alur utama sungai masih berfungsi.

Penurunan debit juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat yang bergantung pada sungai, termasuk aktivitas transportasi, kebutuhan air, perikanan, dan kegiatan ekonomi di sepanjang bantaran sungai.

Kondisi tersebut juga memiliki kaitan dengan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Periode tanpa hujan yang panjang membuat vegetasi dan lapisan permukaan tanah semakin kering sehingga lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api.

Pemerintah melalui BMKG dan BWS Kalimantan III terus memantau perkembangan kondisi cuaca, muka air, serta alur sungai untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar.

Masyarakat juga perlu menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun karhutla, terutama selama periode puncak kemarau Agustus-September.

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra