Menuju konten utama

Kekeringan Subang Kian Parah, Petani Pasrah Padi Mati Layu

Kekeringan ekstrem melanda tujuh kecamatan di Subang hingga ratusan hektare sawah gagal panen. Petani hanya bisa pasrah hadapi kerugian jutaan rupiah.

Kekeringan Subang Kian Parah, Petani Pasrah Padi Mati Layu
Kekeringan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. FOTO/Subang Info_
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Krisis air akibat musim kemarau panjang kian meluas dan memukul sektor pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Terhitung, sudah dua terakhir hujan tak turun yang mengakibatkan irigasi kering.

Dinas Pertanian setempat melaporkan sedikitnya tujuh kecamatan kini dilanda kekeringan ekstrem yang menyebabkan ratusan hektare tanaman padi berumur muda mati layu dan dipastikan gagal panen.

Jeritan Petani Subang

‎Salah seorang petani di Legonkulon, Sasmin, mengatakan kekeringan tahun ini menyebabkan tanaman padinya rusak dan berpotensi menimbulkan kerugian besar.

‎"Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kami bisa gagal panen. Tanaman yang sudah mengering terpaksa dicabut dan dijadikan pakan ternak. Kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp7 juta per hektare," ujar Sasmin pada Subang Info, Kamis (16/7/2026).

Menurut Sasmin, sejak 2 bulan terakhir, hujan sudah tidak turun, air di saluran irigasi sudah mulai mengering sehingga lahan sawah tak bisa teraliri air.

"Kita sudah coba menyedot air dengan. Mesin pompa di saluran irigasi yang masih ada airnya. Namun, tetap tak bisa sampai ke lahan sawah, hingga saat sawah sudah kondisi retak-retak dan padi mulai layu dan menguning," katanya.

Petani Merugi Puluhan Juta Rupiah

Kondisi Tanah Sawah Retak Alami Kekeringan

Ratusan hektar lahan tanaman padi di Desa Rancadaka, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, dipastikan mengalami gagal panen. (Sumber: Subang Info_)

Senada, petani Desa Rancadaka Pusakanagara, Doglong, pun mengatakan ratusan hektar lahan sawahnya di desanya sudah tak teraliri air.

"Air irigasi sudah kering, tanaman padi yang berumur 1,5 bulan sudah layu bahkan tanah sawah pun sudah mengering dan retak-retak,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Doglong menilai tanaman padi di Desa Rancadaka sudah tak bisa diselamatkan lagi.

"Ya kita hanya pasrah, pada yang sudah ditanam mati akibat tak ada air dan kerugian mencapai Rp7-10 juta per hektare,"ucapnya.

Kritik Petani Terhadap Kinerja Pemerintah

Doglong berharap pemerintah punya solusi nyata untuk mengatasi kekeringan yang setiap tahun selalu terjadi namun tak ada upaya yang berarti hingga saat ini.

"Kekeringan di desa kami setiap tahun selalu terjadi dan sangat merugikan petani, tapi tak ada upaya berarti dari pihak terkait dalam hal ini dinas pertanian," tandasnya.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Sumber Daya (PSD) Dinas Pertanian Subang, Cecep Setiawan, mengungkap sebagian saluran irigasi saat ini kondisinya sudah kering akibat curah hujan yang sangat rendah dalam dua bulan terakhir.

"Hasil pendataan sementara saat ini baru tujuh kecamatan yang dilanda kekeringan, mayoritas berada di wilayah Pantura Subang," ujar Cecep Kabid PSD Dinas Pertanian Subang, Kamis(16/7/2026).

Ada pun jumlah area lahan pertanian dari tujuh kecamatan yang dilanda kekeringan tersebut luasnya mencapai 748 Hektare. Lokasinya menyebar di Kecamatan Cipunagara 78 hektare, Cibogo 95 hektare, Pagaden Barat 136 hektare, Patokbeusi 40 hektare, Sukasari 101 hektare, Subang 60 hektare, Ciasem 241 hektare.

"Data tersebut baru sementara, hingga saat ini masih dilakukan pendataan ke 30 kecamatan yang ada di Kabupaten Subang," sebutnya.

Kementan Salurkan Bantuan Pompa dan Sumur Submersible

Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Bandung, Hamid Sangadji, mengatakan penanganan kekeringan dilakukan menyeluruh melalui pemetaan wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak. Tujuannya agar intervensi pemerintah dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

Selain pembangunan sumur submersible di Kecamatan Cipunagara, Kementan juga menyiapkan 16 unit pompa irigasi untuk disalurkan ke enam kecamatan di Kabupaten Subang.

"Bantuan tersebut mencakup pompa irigasi air tanah dalam di Kecamatan Pusakanagara, Patokbeusi, dan Blanakan, dengan seluruh usulan telah melalui proses verifikasi administrasi agar tepat sasaran sesuai ketentuan," ucapnya.

Melalui langkah antisipatif tersebut, Kementan memastikan negara hadir memberikan solusi cepat bagi petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

"Penguatan infrastruktur air dan percepatan penanganan di lapangan diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian serta mengamankan panen petani. Upaya ini juga mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan," katanya.

============

Subang Info adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait KEKERINGAN EKSTREM atau tulisan lainnya dari Subang Info

tirto.id - Flash News
Kontributor: Subang Info
Penulis: Subang Info
Editor: Siti Fatimah