tirto.id - Ratusan warga Indonesia tercatat menggunakan nama yang identik dengan tokoh anime hingga selebritas dunia. Data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menunjukkan terdapat 190 penduduk bernama Uzumaki, 181 bernama Nobita, 158 bernama Sasuke, serta sejumlah nama lain seperti Naruto, Justin Bieber, dan Olivia Rodrigo.
Fenomena yang diungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional Dukcapil dan Rilis Data Kependudukan Semester I 2026 itu memperlihatkan bahwa budaya populer tak lagi sekadar menjadi konsumsi hiburan. Referensi dari anime, film, hingga figur publik dunia kini juga masuk ke ranah yang sangat personal: keputusan orang tua dalam memberi nama anak. Apa yang sebenarnya berubah dalam cara masyarakat Indonesia memaknai nama dan identitas?
Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri, Teguh Setyabudi, mengungkapkan bahwa data kependudukan Indonesia menyimpan beragam fakta menarik, termasuk banyaknya penduduk yang menggunakan nama tokoh anime maupun figur publik dunia.
Temuan itu disampaikan Teguh saat Rapat Koordinasi Nasional Dukcapil dan Rilis Data Kependudukan Semester I 2026. Dalam pemaparannya, ia menyebut sejumlah nama karakter anime yang tercatat digunakan oleh warga Indonesia.
“Ada yang namanya Nobita, ada Uzumaki, Sasuke, Naruto,” kata Teguh, dikutip dari kanal YouTube Dukcapil Kemendagri, Senin (3/8/2026).
Berdasarkan data Dukcapil yang dipaparkan Teguh, Uzumaki menjadi nama tokoh anime yang paling banyak digunakan di Indonesia dengan total 190 penduduk. Posisi berikutnya ditempati Nobita, disusul Sasuke, serta Naruto yang dipakai oleh 157 penduduk.

Tak hanya karakter anime, Teguh juga menyebut terdapat penduduk Indonesia yang menggunakan nama selebritas internasional, seperti Justin Bieber dan Olivia Rodrigo.
Selain fenomena nama tokoh populer, data kependudukan semester I 2026 juga memuat sejumlah fakta unik lainnya. Teguh mengungkapkan jumlah penduduk Indonesia kini mencapai 290.125.073 jiwa. Dari data tersebut, terdapat 129.439 penduduk yang lahir pada 29 Februari atau hari kabisat.
Dukcapil juga mencatat masih ada penduduk yang memiliki nama sepanjang 79 karakter. Menurut Teguh, nama tersebut sudah ada sebelum terbitnya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022 yang membatasi jumlah karakter nama maksimal 60 karakter, termasuk spasi.
Sementara untuk nama yang paling banyak digunakan, Nurhayati masih menjadi nama perempuan terpopuler di Indonesia. Sementara itu, Putri tercatat sebagai nama belakang yang paling banyak digunakan, sedangkan Sulastri menjadi nama yang paling populer di Pulau Jawa.
Ketika Budaya Pop Menjadi Referensi Nama Anak
Meski belakangan ramai diperbincangkan seiring munculnya data Dukcapil, fenomena penggunaan nama tokoh budaya populer sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Menurut Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Ikwan Setiawan, perubahan orientasi dalam pemberian nama anak telah berlangsung sejak budaya media mulai mengakar di masyarakat pada era televisi swasta.
Ikwan menjelaskan, pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an, televisi menjadi salah satu sumber utama referensi orang tua dalam memilih nama anak. Nama penyanyi, pemain sinetron, hingga pesepak bola yang tengah naik daun kerap diadopsi sebagai nama depan maupun nama tengah.
“Ketika televisi swasta mulai populer di era 90-an hingga 2000-an, banyak orang tua mulai menyematkan nama-nama populer yang mereka tonton di televisi, baik dari acara sinetron maupun olahraga. Nama penyanyi, pemain sinetron, dan pemain bola menjadi idola baru untuk memberi nama anak-anak. Fenomena itu terjadi sampai kawasan dusun,” ujar Ikwan kepada Tirto, Selasa (4/8/2026).
Pada masa itu, nama-nama populer tersebut umumnya tidak berdiri sendiri. Menurut Ikwan, banyak orang tua tetap menggabungkannya dengan nama yang bernuansa religius.
“Menariknya pada era itu, nama-nama populer dari televisi dicampur dengan nama bernuansa agamis. Misalnya, Maulana Ronaldo Ramadani. Nah, kesukaan terhadap nama bernuansa etnis mulai bergeser. Dakwah agama yang makin massif dan aneka hiburan berbasis televisi menjadikan banyak orang tua mulai menengok nama-nama populer, tetapi masih berusaha mengidealisasi nama-nama berbasis agama,” jelasnya.
Seiring berkembangnya internet dan semakin beragamnya media hiburan, referensi orang tua pun ikut berubah. Jika sebelumnya banyak terinspirasi dari pesepak bola atau bintang sinetron, kini nama-nama karakter anime, figur media sosial, hingga selebritas internasional semakin akrab dijumpai sebagai nama anak.
“Tidak heran kalau sekarang semakin biasa kita jumpai nama-nama beken dari kalangan artis, tokoh animasi, pemain sepak bola, dan nama-nama lain yang sangat populer dalam jagat media yang semakin beragam,” kata Ikwan.
Nama Sebagai Identitas yang Kian Lentur
Bagi Ikwan, perubahan referensi nama anak tidak sekadar menunjukkan bergesernya selera orang tua, tetapi juga mencerminkan perubahan cara masyarakat memaknai identitas. Jika dahulu identitas etnis menjadi pijakan utama dalam pemberian nama, kini masyarakat makin terbuka mengambil inspirasi dari beragam ekspresi budaya yang mereka konsumsi melalui media.
“Mereka yang mengonsumsi budaya populer dengan bermacam makna dan gayanya berusaha menyematkan nama-nama populer di media sebagai pembeda selera kultural. Muncul kelenturan yang luar biasa dalam memaknai identitas. Kalau dulu identitas etnis itu menjadi pijakan dalam berpikir dan bertindak, termasuk pemberian nama, selama beberapa dekade terakhir, identitas mulai mendapatkan nilai dan makna baru dari beragam wacana dan ekspresi budaya media” ujar Ikwan.
Menurut dia, perubahan itu bahkan dapat dijumpai di kawasan yang selama ini dikenal memiliki identitas budaya yang kuat. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya media telah memperluas referensi masyarakat dalam memilih nama anak.
“Etnisitas sebagai basis identitas mulai mengalami pelenturan dalam pemahaman masyarakat sebagai dampak dari semakin biasanya mereka mengkonsumsi budaya media. Bahkan, di wilayah yang diidentifikasi sebagai kawasan masyarakat adat, seperti Tengger (Bromo) nama-nama seperti Aleando, Alex, Marcel, menjadi nama anak yang sangat populer,” katanya.
Meski demikian, Ikwan mengingatkan bahwa fenomena tersebut tidak dapat dimaknai sebagai tanda masyarakat Indonesia meninggalkan identitas lokal sepenuhnya. Menurutnya, masyarakat justru tengah menegosiasikan identitas lama dengan berbagai pengaruh budaya global yang terus berdatangan.

“Apakah ini berarti masyarakat meninggalkan identitas lokal dan lebih memilih identitas berorientasi global? Tidak juga bisa kita generalisasi seperti itu. Sebagai masyarakat pascakolonial yang sejak dulu sudah terbiasa dengan wacana dan praktik budaya Barat, kita memang memiliki sikap keberantaraan yang siap menerima pesanan ekspresi budaya global, termasuk nama-nama tersebut,” jelas Ikwan.
Namun, di saat bersamaan, tambahnya, masyarakat Indonesia juga belum mau melupakan sepenuhnya ajaran dan praktik budaya warisan leluhur. Karena itu, menurut Ikwan, masyarakat Indonesia menerima perubahan tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas lokal.
Oleh karena itu, menurut Ikwan, nama menjadi penanda menarik atas cara masyarakat Indonesia memadukan pengaruh global dengan identitas yang telah lama mereka miliki. Di satu sisi, nama-nama populer mencerminkan keterbukaan terhadap perubahan. Di sisi lain, orang tua tetap berupaya mempertahankan unsur lokal maupun religius dalam identitas anak.
“Orang tua juga masih ingin menyematkan kelokalan atau kereligiusan dalam perubahan tersebut. Bisa melalui mencampurkan nama lokal dengan nama populer. Atau, nama boleh populer, tetapi orang tua tetap berusaha menginternalisasi nilai lokal dan agama yang menjadi penciri identitas dinamis mereka yang berbeda dari yang global,” jelas Ikwan.
Mengapa Orang Tua Memilih Nama Nobita-Justin Bieber?
Lantas, mengapa orang tua memilih nama tokoh anime atau selebritas dunia untuk anak mereka?. Menurut Ikwan, praktik mengonsumsi budaya populer tidak hanya melahirkan kekaguman terhadap figur-figur tersebut, tetapi juga menghadirkan harapan dan nilai yang ingin diwariskan kepada anak melalui sebuah nama.
Bagi sebagian orang tua, nama dari tokoh budaya populer menjadi cara untuk membedakan diri sekaligus menunjukkan keterbukaan terhadap perubahan zaman.
“Praktik konsumsi budaya populer memang memungkinkan munculnya kekaguman dan harapan yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh tersebut. Mereka membutuhkan alternatif yang menjadi pembeda sekaligus sebagai bentuk dialog dengan zaman. Ketika mereka membutuhkan cara pandang baru yang keluar kebiasaan lokal, nama-nama populer mampu mewakili orientasi mereka terhadap perubahan,” ujar Ikwan.
Ikwan menilai, figur-figur yang lahir dari budaya populer tidak dipilih secara acak. Orang tua kerap mengaitkan tokoh-tokoh tersebut dengan nilai, pengalaman, atau karakter yang mereka anggap positif. Karena itu, nama tidak lagi sekadar berfungsi sebagai penanda identitas, tetapi juga menjadi medium untuk menyematkan harapan kepada anak.
“Toh dari figur populer seperti Justin Bieber mereka bisa belajar bagaimana anak remaja memperjuangkan hidup dari laku kreatif, misalnya. Dari tokoh-tokoh kartun atau animasi ada nilai-nilai unik yang bisa menjadi alternatif dalam memahami kehidupan yang semakin kompleks,” jelasnya.
Dengan demikian, fenomena ratusan warga Indonesia yang menyandang nama Uzumaki, Nobita, Sasuke, maupun Justin Bieber bukan sekadar mencerminkan tren mengikuti budaya populer. Di balik pilihan nama tersebut, terdapat cara baru orang tua memaknai identitas, harapan, dan perubahan zaman, sembari tetap meramu pengaruh global dengan nilai-nilai lokal yang mereka yakini.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































