tirto.id - Museum Megalodon di Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, hadir dari kekhawatiran warga terhadap temuan fosil satwa laut purba yang terancam penggalian liar. Atas dorongan itu, warga mengumpulkan dan menyimpan fosil yang ditemukan di desanya agar dapat dikenali dan dipelajari oleh generasi berikutnya.
Saat pertama kali datang di museum, kita akan disambut dengan plang bertuliskan Museum Megalodon dengan ikon ikan besar. Di bagian luar, terpampang berbagai informasi dan peta geologi kawasan Pajampangan—sebutan lokal untuk wilayah Sukabumi bagian selatan. Sementara itu, bagian dalam museum difokuskan untuk memamerkan koleksi fosil beserta informasinya.
Museum Megalodon dibangun pada 2021. Bangunan museum sebelumnya merupakan bekas rumah dinas Kepala Desa Gunungsungging.
Salah satu pengelola, Mansyur, mengatakan bahwa Desa Gunungsungging sebelumnya dikenal dengan sebutan Huntu Gelap atau Gigi Petir. Sebutan itu berkaitan dengan fosil gigi ikan raksasa yang semula dipercaya masyarakat sebagai gigi petir atau hantu gelap. Kepercayaan dan larangan adat membuat fosil-fosil tersebut tidak banyak diganggu dan belum dianggap memiliki nilai ekonomis.
Situasi berubah ketika penggalian liar mulai marak pada 2020 saat pandemi COVID-19 merajalela. Sebagian temuan fosil bahkan dijual secara ilegal. Untungnya, Pemerintah Desa Gunungsungging tak tinggal diam.
Perangkat desa kemudian melaporkan temuan-temuan fosil tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Museum Geologi. Peneliti lalu datang untuk meneliti temuan yang sebelumnya dikenal sebagai Huntu Gelap itu. Setelah proses identifikasi ilmiah, terungkaplah bahwa fosil itu adalah gigi hiu purba megalodon.
“Generasi-generasi kami ke depannya biar tahu, oh ternyata megalodon itu bukan katanya dan bukan di Peru saja,” kata Mansyur kepada kontributor Tirto, Senin (28/9/2026).
Temuan fosil yang berhasil dikumpulkan kemudian menjadi koleksi museum. Saat ini, Museum Megalodon menyimpan sekitar 600 hingga 700 fosil. Selain gigi megalodon, museum juga menyimpan fosil tulang belakang paus, sirip penyu, moluska, dan teritip. Sebagian koleksi fosil tersebut telah diidentifikasi oleh peneliti Indonesia dan disurvei pula oleh peneliti internasional.

Namun, tidak semua koleksi dapat dipajang karena bangunan museum belum memiliki sistem keamanan yang memadai.
Museum buka setiap hari kecuali Jumat dan banyak dikunjungi pelajar dari sekolah-sekolah di Sukabumi. Pengelola tidak menarik tiket bagi pelajar dan menerima donasi sukarela untuk kebutuhan penjaga dan kebersihan.
Mansyur mengatakan pengelolaan museum masih terkendala keterbatasan bangunan. Dia mengatakan pengelola telah menyiapkan lahan seluas 2 hektare yang siap dihibahkan apabila ada pihak yang berbaik hati membantu pembangunan museum atau mengembangkan wisata Megalodon di kawasan tersebut.
“Kami punya 2 hektare tanah langsung dan kami siap untuk menghibahkan,” jelas Mansyur.
Jejak Laut Purba dan Megalodon di Pajampangan
Pengelola lainnya, Nuril Anwar, mengatakan kawasan Pajampangan menyimpan jejak sejarah geologi yang panjang. Wilayah yang kini berupa daratan tersebut diperkirakan pernah menjadi dasar lautan sekitar 23 juta hingga 3,7 juta tahun lalu, pada masa yang disebut Era Miosen Awal hingga Pliosen.
Anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gunungsungging ini menjelaskan, perubahan dasar laut menjadi daratan terjadi melalui proses geologi berupa tumbukan lempeng atau subduksi antara Lempeng Asia dan Lempeng Australia. Proses tersebut mengangkat wilayah Jawa bagian selatan hingga sekitar 800 meter di atas permukaan laut dan turut membuat kawasan tersebut kerap mengalami gempa.
Nuril yang sering mengikuti pelatihan bersama para peneliti ini menyebut perairan Pajampangan purba adalah habitat Otodus megalodon. Hiu purba ini diperkirakan hidup di perairan hangat dengan kedalaman sekitar 200 hingga 300 meter dan tersebar di berbagai benua, kecuali Antartika.
Megalodon berukuran jauh lebih besar dibandingkan hiu putih modern. Panjangnya diperkirakan minimal 16–18 meter dan dapat mencapai lebih dari 20 meter, dengan berat sekitar 60–70 ton. Ukurannya yang masif juga terlihat dari gigi dan rahangnya. Rekonstruksi rahang megolodon di museum itu memiliki lebar sekitar 3 meter dan tinggi 2,8 meter.
Megalodon diperkirakan memiliki 276 gigi yang tersusun dalam lima barisan pada rahang atas dan bawah. Hiu purba tersebut diperkirakan punah sekitar 4 hingga 3,7 juta tahun lalu. Salah satu teori mengaitkan kepunahannya dengan glasiasi yang mengubah kondisi lingkungan dan mengurangi sumber makanan.
Upaya konservasi fosil megalodon di Gunungsungging awalnya mendapat penolakan karena masyarakat masih melakukan jual-beli fosil yang dianggap lebih menguntungkan. Namun, dukungan perlahan tumbuh setelah warga dilibatkan dalam berbagai kegiatan kepariwisataan, seperti pelatihan manajemen homestay dan kerajinan tangan serta perbaikan infrastruktur desa.
“Kami berinisiatif konservasi untuk menyelamatkan fosilnya ini dan sejarahnya itu untuk generasi kita, anak-cucu kita,” ujar Nuril.

Bermula dari Penemuan Fosil oleh Petani
Kepala Desa Gunungsungging, Nanang, menuturkan penemuan fosil ini bermula pada 2020, ketika seorang petani sedang membuat petak sawah di Kampung Cibitung.
Nanang menjelaskan foto temuan tersebut kemudian diunggah ke media sosial. Setelah itu, fosil temuan petani itu sempat ditawar Rp300 ribu. Sejak itu, aktivitas penggalian fosil liar mulai marak. Pemerintah desa kemudian menemukan fosil-fosil lain di 5 titik, antara lain di Cibitung, Cilutung, dan Curug Lubang.
Nanang lalu melaporkan temuan tersebut kepada Bupati Sukabumi. Pada 2021, bupati berkunjung dan mengirim surat kepada Badan Geologi Bandung untuk melakukan penelitian. Hasil penelitian menyatakan terdapat fosil gigi hiu megalodon di Gunungsungging. Menurut Nanang, wilayah tersebut kemudian ditetapkan sebagai kawasan konservasi fosil megalodon.
“Kehadiran situs megalodon ini merupakan suatu kebanggaan bagi desa kami,” jelas Nanang.
Nanang menyebut status bangunan Museum Megalodon saat ini masih pinjam pakai. Dia berharap museum dapat memiliki bangunan sendiri sehingga situs penemuan fosil megalodon dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata sekaligus tempat edukasi geologi.
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































