Menuju konten utama
Horizon

Di Tokiwaso Manga Museum, Mengintip Masa Bokek Para Legenda

Bermula dari indekos sederhana di suburban Tokyo, Tokiwaso di kemudian hari dikalungi predikat "Makkahnya Manga".

Di Tokiwaso Manga Museum, Mengintip Masa Bokek Para Legenda
Tampak depan Tokiwaso Manga Museum. tirto.id/Fadrik Aziz.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari itu adalah hari terakhir saya melancong di Jepang. Saya bersiap untuk destinasi pemungkas yang paling saya dambakan. Namun, gerimis sejak pagi buta di Tokyo sempat bikin rencana tertunda.

Gerimis yang tak kunjung reda hingga sekitar pukul 9.00 waktu setempat bikin saya gelisah. Ini musim gugur dan temperatur rata-rata harian di Tokyo mendingin, antara 8-10 derajat celcius. Bagi saya yang warga negara beriklim tropis, kombinasi suhu dingin dan gerimis adalah hal paling tak tertahankan.

Namun, diam menunggu sembari memandangi pemandangan di luar dari jendela hotel malah bikin makin gelisah.

Apakah nekat jalan saja? Karena benar-benar tak mau pulang membawa penyesalan, saya mantapkan diri untuk menerjang gerimis dan suhu dingin Tokyo yang bikin keder.

Bergegas saya pinjam payung dari resepsionis hotel dan jalan cepat-cepat menuju halte trem Mukohara. Dari Ikebukuro—tempat saya menginap, saya tinggal naik trem Toden-Arakawa Line, turun di Halte Kishibojimmae, jalan kaki menyusuri gang, naik bus kota nomor 61 dari Halte Kishimojin, dan turun di Halte Minami-Nagasaki 2 Chome.

Cuma dua kali berpindah moda—terbilang simpel untuk Tokyo yang jaringan transportasinya super ekstensif.

Turun dari bus kota di Distrik Minami-Nagasaki gerimis sudah agak reda. Syukurlah. Saya mengecek Google Maps untuk memastikan ke mana lagi mesti melangkah. Oh, ternyata tinggal jalan kaki menyusuri jalan besar dan masuk gang sekitar 300-an meter.

Minami-Nagasaki adalah daerah residensial di barat laut Tokyo sehingga suasana lingkungannya cukup lengang. Meski itu sangat biasa di Jepang, kelengangan lingkungan itu bikin saya bertanya-tanya juga. Benarkah ini jalan ke destinasi yang saya tuju? Bukankah ini terlalu lengang untuk destinasi yang disebut-sebut sebagai "Tanah Suci" bagi subkultur manga dan anime.

Akhirnya, penasaran itu terjawab tepat di ujung gang. Sebuah tugu hitam yang fotonya sering saya lihat di internet berdiri di sudut Minami-Nagasaki Hanasaki Public Park. Di taman itulah, destinasi yang saya tuju, Tanah Suci itu, berada. Itulah Tokiwaso Manga Museum.

Tokiwaso Manga Museum

Tengara Tokiwaso Manga Museum di sudut taman. tirto.id/Fadrik Aziz

Tempat Indekos Para Mangaka Muda

Sebermula adalah apartemen berlantai dua nan sangat biasa yang dibangun pada 1952. Saat itu, Perang Pasifik baru saja berakhir dan Jepang yang babak belur tengah bertumbuh kembali. Tokyo perlahan mulai didatangi para perantau pencari kerja dari perdesaan dan kota-kota kecil di prefektur sekitarnya.

Kota Toshima, khususnya Distrik Shiinamachi—nama lama Minami-Nagasaki saat itu, adalah salah satu jujugan para perantau itu.

Jurnalis Amano Hisakidalam artikelnya yang tayang di Nippon.com (30/9/2020) menyebut bahwa Shiinamachi jadi tujuan para perantau karena posisinya yang strategis. Ia dekat dengan kawasan perbelanjaan dan hiburan. Akses bus dan kereta untuk menuju ke pusat Kota Tokyo juga terbilang baik.

"Shiinamachi berkembang pesat selama era pertumbuhan Pascaperang Dunia II. Rumah-rumah kos untuk para pendatang muda dari perdesaan tumbuh dengan cepat. Di tengah-tengahnya, terdapat kawasan perbelanjaan yang ramai sepanjang setengah kilometer, tempat sekitar 200-an toko berdiri," tulis Amano.

Bagi para pengadu nasib berkantong cekak dari kota kecil, Shiinamachi jelas adalah pilihan yang tepat. Dan di kawasan itulah, indekos bernama Tokiwaso berada.

Tokiwaso sebenarnya tak ada bedanya dengan ratusan kos-kosan yang menjamur di Shiinamachi pada 1950-an. Ia akan tetap begitu dan hilang dari sejarah andai sekumpulan "pemuda spesial" tak menghuni kamar-kamarnya yang hanya seluas 4,5 tatami.

Pemuda spesial pertama adalah Tezuka Osamu—kreator komik legendaris Astro Boy. Setahun setelah Apartemen Tokiwaso berdiri, Tezuka pindah ke Tokyo dari kota kelahirannya di Prefektur Hyogo. Adalah editornya di majalah Manga Shonen yang merekomendasikan apartemen sederhana itu kepada Tezuka.

Tezuka yang kala itu berumur 25 tahun lantas jadi penghuni kamar 14 di lantai 2 Tokiwaso. Enam bulan kemudian datang Terada Hiroo.

Tezuka hanya sempat tinggal setahun di Tokiwaso. Pada 1954, sebelum pindah, Tezuka menawari duet mangaka muda Fujiko F. Fujio (pencipta Doraemon) dan Fujiko Fujio A (pencipta Ninja Hattori) untuk tinggal di Tokiwaso.

Berturut-turut kemudian, datanglah mangaka muda lain silih berganti. Paling banyak, pernah ada tujuh mangaka menghuni Tokiwaso dalam satu waktu. Kebanyakan dari mereka datang ke Tokiwaso karena terinspirasi oleh Tezuka dan coba-coba memberanikan diri menekuni manga.

Sebutlah di antaranya Ishinomori Shotaro, Akatsuka Fujio, Suzuki Shin’ichi, Moriyasu Naoya, Yokota Tokuo, Mizuno Hideko, Yamauchi Johji, Nagata Takemaru, Nagatani Kunio, Tsunoda Jiro, Yokoyama Takao, dan Sonoyama Shunji.

Dari semula asing, mereka kemudian menumbuhkan persahabatan yang kental. Ada kalanya, mereka saling membantu dan menyemangati satu sama lain dalam mengejar tenggat penerbitan. Hari-hari nan nostalgik itu, misalnya, terekam dalam sebuah wawancara Fujiko Fujio A yang terbit di majalah Jump Square medio awal 2008.

Tokiwaso Manga Museum

Tokiwaso Manga Museum di seberang Minami-Nagasaki Hanasaki Public Park. tirto.id/Fadrik Aziz

Baginya, Tokiwaso adalah suaka untuk pemuda-pemuda bokek penekun manga seperti dirinya. Berbeda dari hari ini saat subkultur manga dan anime beroleh ketenaran dan pengakuan global, menjadi mangaka di dekade 1950-an bisa dibilang pilihan sinting. Selain manga masih dipandang rendah dan bahkan dikecam sana-sini, industrinya pun belum terbentuk. Di tengah gurun kesukaran macam itulah, Tokiwaso menjadi semacam oasis.

"Tezuka-san adalah bintang terang bagi kami. Saat itu, enggak ada yang tahu bakal seperti apa masa depan industri manga. Aku disemangati oleh teman-teman satu indekos yang sama-sama sedang berjuang," ungkapFujiko Fujio A kepada reporter Jump Square dan dikutip ComiPress (19/1/2008).

Fujiko Fujio A berkisah bahwa saat terbangun karena kebelet kencing pada dini hari, sering dia mendapati Ishinomori Shotaro atau Akatsuka Fujio masih terjaga mengerjakan manga-nya. Pemandangan itu diakuinya menerbitkan perasaan iri dan lecutan semangat sekaligus.

Dia juga sadar betul bahwa persahabatan di antara mereka juga dilambari rivalitas yang kental.

"Sebenarnya, mereka semua adalah saingan saya. Jika karya salah satu dari kami berhasil tembus di sebuah majalah, itu juga berarti ada juga seseorang yang serialisasinya diputus. Sebabnya jumlah majalah dan ruang di dalamnya memang terbatas," kenang Fujiko Fujio A.

Dari mulanya sekadar kumpul-kumpul, mereka kemudian bikin wadah informal bernama Shin Manga-tō (Geng Manga Baru). Di sini, Terada Hiroo berperan laiknya abang-abangan bagi mangaka-mangaka bau kencur yang umumnya baru menginjak umur awal 20-an.

Ada beberapa sumber menyebut Shin Manga-tō menjadi wadah mereka mengonseptualisasi manga yang ideal. Pertemuan mereka digelar sekali atau dua kali sebulan. Namun, tujuan mereka bikin sirkel ini sebenarnya lebih bersahaja dari itu.

Menurut Fujiko Fujio A, Terada memang sering mengajak mereka kumpul-kumpul. Sambil minum-minum, mereka ngobrol soal film, novel, hingga soal cewek.

"Kami enggak ngobrol soal manga. Tapi, teman-teman sirkel kami makin bertambah seiring waktu," katanya.

Suzuki Shin’ichi—yang kemudian dikenal sebagai pendiri Studio Zero bersama Ishinomori dan Akatsuka—juga bilang begitu. Sirkel Shin Manga-tō pada dasarnya adalah wadah senang-senang belaka. Ketika berkumpul, mereka bisa ngobrol ngalor-ngidul tentang apa pun, kecuali soal komik.

"Namun, semua percakapan, canda tawa, dan pengalaman itu berubah menjadi sumber untuk karya-karya kami. Setiap kali ada kawan mangaka yang datang, kami semua akan menyemangatinya. Setiap kali ada yang butuh bantuan, kami akan membantu," kata Suzuki, seperti dikutip Amano dalam artikelnya.

Apa pun tujuan sirkel Shin Manga-tō sebenarnya, orang-orang yang melingkar di situ pada dasarnya punya satu ambisi yang sama: manga dan segala yang berelasi dengannya. Semua itu menggelinding di bawah atap indekos Tokiwaso dan inilah signifikansinya bagi sejarah industri manga.

Karena itulah, tak berlebihan pula bila indekos sederhana itu kemudian diklaim sebagai "Makkahnya Manga".

Sejak 1961, Tokiwaso mulai sepi. Beberapa pentolan awalnya—duet Fujiko Fujio dan Ishinomori—satu per satu pindah karena menikah atau mulai membutuhkan studio yang lebih besar. Satu per satu dari mereka pun mulai memantapkan kariernya dan meraih kemapanan di industri manga yang mulai mekar.

Masa Muda Mangaka yang Bokek

Beberapa mangaka penghuni Tokiwaso berhasil meraih kesuksesan karier di kemudian hari. Tak hanya jadi terkenal dan kaya, mereka bahkan jadi legenda. Sebutlah duet Fijiko Fujio, Akatsuka Fujio (pembuat Tensai Bakabon, dijuluki raja manga humor), Ishinomori Shotaro (pembuat Skull Man yang kemudian diadaptasi menjadi waralaba legendaris Kamen Rider).

Bagi saya pribadi, sebagian dari mereka adalah pahlawan masa kecil yang karya-karyanya saya nikmati di televisi maupun komik terjemahan.

Bahwa mereka adalah pelopor dan inspirasi di industri manga, itu jelas. Namun, Tokiwaso Manga Museum dibangun bukan untuk merayakan kesuksesan itu. Justru sebaliknya, ia hadir sebagai mesin waktu untuk merekam masa-masa ketika mereka masih ingusan dan bokek—sebagai pengingat bahwa kejayaan itu dibangun melalui kerja keras dan renjana yang keras kepala.

Tokiwaso Manga Museum mengabadikan kegairahan para mangaka muda dan pahit-getir hari-hari yang mereka geluti pada dekade 1950-an sampai awal 1960-an. Benar bahwa bangunannya adalah konstruksi baru, tapi detail-detail dan objek materialnya bakal membawa pengunjung kembali ke tahun-tahun itu. Benar-benar serupa mesin waktu!

Kesan retro itu terasa sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di lantai kayu Tokiwaso. Usai membeli tiket masuk, petugas museum yang murah senyum mengarahkan saya menuju lantai dua melalui tangga kayu. Beberapa kali melangkah naik, tangga itu berderit-derit. Lalu, petugas museum buru-buru bilang bahwa itu aman.

"Tenang saja, tangganya memang didesain seperti itu," kata petugas dalam campuran bahasa Jepang dan Inggris yang patah-patah.

Saya berusaha memahaminya beberapa saat sebelum mengangguk dan mengucapkan, "Aah... Arigatou gozaimasu!"

Baiklah, terkesan sepele, tapi menurut saya itu cukup sukses memberi impresi bahwa museum inilah lorong waktu yang membawa kita ke dekade 1950-an.

"Oh ya, kamu bisa memindai kode QR yang tersebar di gedung ini kalau ingin baca informasi dan petunjuk dalam bahasa Inggris," kata petugas itu lagi.

Pengunjung diarahkan langsung menuju lantai 2 karena di situlah seluruh pameran Tokiwaso berada. Merunut ke masa lalu, para mangaka muda itu memang mengokupasi hampir seluruh kamar di lantai 2 bangunan yang asli.

Tepat di ujung tangga, ruangan pertama yang tersaji adalah rekonstruksi ulang toilet bersama yang dipakai para penghuni Tokiwaso dulu. Lalu, ada rekreasi dapur komunal di sebelahnya. Cerita tentang dua ruangan ini saya simpan dulu untuk diceritakan kemudian.

Tokiwaso Manga Museum.

Replika dapur bersama indekos Tokiwaso yang diupayakan sedemikian rupa untuk menghadirkan atmosfer era 1950-an. tirto.id/Fadrik Aziz

Kita lanjut saja dulu ke Kamar 15 untuk mencicip seperti apa kehidupan para mangaka di masa mudanya yang bokek. Di ruangan yang dulunya merupakan kamar Fujiko F. Fujio selama 1956-1961 ini, pengunjung disuguhi infografik tentang harga-harga kebutuhan harian di era 1950-an, pengeluaran rata-rata bulanan para mangaka muda, hingga peta tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi di Shiinamachi untuk mencari hiburan dan bersosialisasi.

Yang menarik bagi saya adalah bagaimana manajemen museum mengajak pengunjung mengintip isi dompet Fujiko Fujio A. Di dekade 1950-an, dia bukanlah siapa-siapa. Bersama Fujiko F. Fujio, dia masih merintis nama di blantika manga Jepang.

Pada Juli 1955, misalnya, Fujiko Fujio A dapat honor 13.780 yen dari komiknya. Sementara itu, pengeluaran bulanannya saat itu mencapai 19.907 yen. Sungguh sebuah neraca yang sangat jomplang!

Mafhumilah bahwa memang begitulah dunianya para seniman muda. Penuh renjana, tapi bokek. Pun, mereka menjalani hidupnya dengan cara yang amat berbeda ketimbang orang-orang Jepang kebanyakan di masa itu.

Itu juga terlihat jelas dari perbandingan antara pos-pos pengeluaran bulanan mereka dan orang awam lain. Misalnya, ketika orang-orang mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk makan (45,3 persen) dan kebutuhan rumah tangga (25,4 persen), para mangaka muda itu justru memilih menggunakan sebagian besar duitnya untuk cari hiburan dan bersosialisasi (31 persen) juga beli buku dan nonton film (16 persen).

Jadi, sekering-keringnya kantong mereka, menjaga nyala api inspirasi buat komik adalah prioritas. Ingatlah bahwa pemuda-pemuda lajang itu hanya hidup untuk menggambar komik. Untunglah, ada si Abang Terada Hiroo yang selalu siap jadi donatur utang.

Saya bisa bilang bahwa ruang-ruang pameran permanen itu sangat informatif juga menarik diikuti. Sungguh, sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Namun, pengunjung internasional macam saya mesti siap keluar usaha lebih untuk menyerap informasinya. Pasalnya, semua yang disajikan di situ dihadirkan dalam aksara Jepang. Untunglah, di zaman digital ini, ada yang namanya Google Lens dengan fitur penerjemahannya.

Ruang-ruang selanjutnya adalah "bintang utama" dari Tokiwaso Manga Museum. Ruang-ruang itu mereplikasi kamar beberapa mangaka yang pernah menjadi penghuni indekos Tokiwaso. Di antaranya adalah Yamauchi Johji, Mizuno Hideko, dan Yokota Tokuo.

Tokiwaso Manga Museum

Ilustrasi kamar indekos Tokiwaso saat ditempati mangaka Suzuki Shinichi. tirto.id/Fadrik Aziz

Kamar 18 adalah bilik yang pernah ditinggali ilustrator cum mangaka Yamauchi Johji. Dia adalah asisten Ishinomori Shotaro dan Akatsuka Fujio. Yamauchi datang dari Prefektur Miyagi dan tinggal di Tokiwaso dari September 1960 hingga Maret 1962.

Menghadap jendela, ada dua meja lipat di kamar itu. Satu milik Yamauchi, sementara satu lainnya adalah meja asisten Ishinomori yang lain. Di dekat pintu masuk kamar, terdapat rak buku yang dipenuhi buku dan rol film anime. Itu adalah milik Ishinomori yang sengaja ditaruh di situ karena kamarnya sendiri sudah tak muat.

Di seberangnya, adalah Kamar 19 yang pernah dihuni mangaka pionir genre shojo, Mizuno Hideko. Dia adalah satu-satunya perempuan di antara banyak mangaka muda yang pernah mukim di Tokiwaso.

Mizuno datang ke Tokyo untuk berkolaborasi dengan Ishinomori dan Akatsuka. Menurut cerita, mereka bertiga biasa mengerjakan manga bersama di Kamar 17 milik Ishinomori. Namun, masa tinggal Mizuno di Tokiwaso amat singkat.

Ruang di sebelah kamar Mizuno adalah Kamar 20 yang pernah ditinggali Yokota Tokuo. Sebelum merantau ke Tokyo, Yokota sudah kenal dengan Akatsuka. Bahkan, urusan makannya pun sempat diurus pula oleh ibunya Akatsuka.

Yokota tinggal di Tokiwaso pada kurun 1958 hingga 1961. Kamarnya adalah yang paling penuh di antara replika kamar mangaka yang lain. Pun atmosfer retronya adalah yang paling menyedot perhatian.

Kita bisa lihat dia punya dua meja—satu meja kerja yang menghadap jendela dan satu lagi ditempatkan di tengah ruangan dengan manuskrip-manuskrip manga buah tangannya. Di pojok ruangan dekat meja gambarnya, ada televisi produksi 1950-an yang memutar acara dan pariwara.

Semua itu menghidupkan adegan-adegan dalam pikiran saya dan terproyeksi langsung di depan mata.

Yokota boleh jadi sedang mengejar tenggat sembari menonton acara musik jazz. Cuaca agak dingin, maka terpikirlah Yokota untuk membuat teh hangat sebagai teman duduk. Beranjaklah dia ke dapur bersama untuk mengambil seteko air dan sejumput teh sekalian.

Balik ke kamar, dinyalakannya tungku di samping kiri meja gambar dan diletakkannya teko di situ. Lalu, dilanjutkannya panel manga yang sempat tertunda. Sesekali, disesapnya teh hijau yang diseduhnya di gelas keramik pribadinya.

Dari ruangan paling pojok, sayup-sayup terdengar pembicaraan Ishinomori dan Yamauchi. Sepertinya mereka tengah ngobrol tentang proyek serialisasi sambil makan ramen dari Matsuba—warung langganan para penghuni indekos ini. Aah... rupanya ingin juga Yokota ikut nimbrung.

Maka beranjaklah Yokota ke kamar pojok yang ditempati Yamauchi. Ternyata benar, mereka baru saja menghabiskan ramennya.

"Yokota, kau masih ada rokok?" tanya Ishinomori.

Buru-buru Yokota menengok ke kamarnya. Ternyata rokoknya habis.

"Maaf, Ishinomori-san, rokokku habis," jawab Yokota.

"Aih, ya sudah. Kita ke Kafe Eden saja, yuk. Gimana Yamauchi?" ajak Ishinomori.

“Aku ngikut Abang sajalah. Traktir aku ya,” timpal Yamauchi.

Dengan wajah semringah, mereka bertiga pun beranjak. Ishinomori dan Yamauchi langsung turun, sementara Yokota kembali ke kamarnya sebentar, mematikan tungku, dan menyaut kemeja.

"Tunggu aku, Bung!" katanya ketika melewati saya yang berdiri di depan kamarnya.

Tokiwaso Manga Museum

Replika kamar mangaka Yokota Tokuo di Tokiwaso Manga Museum. tirto.id/Fadrik Aziz

Keadaan kamar-kamar itu membeku persis seperti saat mereka bertiga meninggalkannya untuk nongkrong di Kafe Eden. Puntung-puntung rokok dan asbak di samping meja kerja Yokota masih begitu. Di bawah meja gambarnya itu, berserak buku dan gelas teh keramiknya juga. Begitupun tungku pemanas air dengan tekonya sekalian. Ah, ternyata Yokota lupa mematikan televisinya.

Sementara itu, mangkuk ramen di kamar Yamauchi belum dibereskan. Demikian juga buku dan majalah yang berserakan yang dia jadikan referensi. Bahkan, jendela belum ditutupnya!

Kilasan adegan-adegan itu tentu saja hanya ada di kepala saya, tapi reproduksi kamar-kamar mangaka muda di Tokiwaso itu seakan membuatnya nyata. Inilah satu hal yang paling terpuji dari kerja-kerja para pembangun museum ini. Kita, para pengunjung, benar-benar dibawa balik ke masa ketika para mangaka muda itu menghidupi renjananya.

Seolah mereka tak sekadar mereplikasi, tapi benar menciptakan mesin waktu yang membawa pengunjung ke Tokiwaso di tahun-tahun terbaiknya.

Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya indekos Tokiwaso yang sebenarnya sudah diruntuhkan ini dihadirkan lagi? Tunggu kelanjutannya...

Baca juga artikel terkait MANGA atau tulisan lainnya dari Fadrik Aziz Firdausi

tirto.id - Horizon
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Irfan Teguh Pribadi