Menuju konten utama
Horizon

Anime dan Manga, Lahan Subur Fantasi Seksual Menyimpang

Anime dan manga biasa menggambarkan tokohnya, tua maupun muda, dengan perawakan anak-anak. Dan itu tak jarang menjurus pada selera seksual menyimpang.

Anime dan Manga, Lahan Subur Fantasi Seksual Menyimpang
Mushoku Tensei Jobless Reincarnation. foto/Dok. Dok. CBR
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rudeus Greyrat, pria dewasa pengangguran yang terjebak dalam tubuh remaja di isekai, tengah hancur karena kematian sang ayah. Ketika itulah Roxy Migurdia, guru berperawakan gadis belia dari ras yang tak bisa menua, menawarkan satu-satunya "obat" penyembuh duka.

"Aku memang seorang Master yang kecil dan penuh kekurangan. Tapi, ketegaranku sepadan dengan usiaku yang lebih lama dari Rudy [sapaan akrab Rudeus]," ucap Roxy, sebelum memadu asmara di sebuah penginapan di wilayah Kota Rapan.

Adegan tersebut memunculkan pertanyaan: sebenarnya hubungan tersebut melibatkan siapa dan siapa? Apakah itu pertemuan dua kesadaran dewasa yang terjebak dalam tubuh muda? Ataukah itu merupakan manifestasi dari fantasi pria paruh baya yang, sejak jumpa pertama, mengobjektifikasi sang guru yang berkriteria "sempurna": loli (berperawakan anak-anak polos dan dianggap imut), mata pemalu, dan antisosial?

Lelaki Terbuang dan Gambaran Tokoh Perempuan Ambigu

Mushoku Tensei karya Rifujin na Magonote bergenre isekai. Sebagaimana dicatat Curtis Lu dalam "The Darker Sides of the Isekai Genre: An Examination of the Power of Anime and Manga" (2020:21), protagonis genre tersebut adalah orang-orang yang terbuang secara sosial. Mereka digambarkan gagal di dunia nyata, lalu diberi kesempatan kedua di dunia fantasi untuk mencapai sesuatu yang belum pernah diraih sebelumnya.

Rudeus dalam kehidupan lamanya adalah pria 34 tahun berstatus NEET alias pengangguran. Ia hidup terisolasi, tanpa pekerjaan, tanpa pasangan, dan tanpa relasi sosial bermakna. Setelah tewas tertabrak truk, ia bereinkarnasi ke dunia baru dengan kepribadian kontras: bakat sihir luar biasa dan akses terhadap banyak perempuan dengan elemen moe.

Narasi isekai secara konsisten menawarkan kompensasi: kegagalan sosial ditukar dengan keberlimpahan kuasa, pengakuan, dan relasi romantis. Hubungan Rudeus dan Roxy adalah bagian dari kompensasi tersebut.Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, relasi keduanya menyimpan paradoks.

Secara kronologis, Roxy berusia 37 tahun saat pertama kali menjadi guru Rudeus, yang kala itu masih balita. Ketika hubungan romantis mereka terjadi, Roxy telah hidup sekitar 51 tahun.

Di sisi lain, Rudeus lebih kompleks. Ia membawa memori pria berusia 34 tahun (dari kehidupan sebelumnya) ke dalam tubuh anak-anak. Itulah yang membuat Rudy digambarkan punya ketertarikan berlebih (mesum) terhadap perempuan, bahkan di usianya yang kala itu masih balita. Sementara itu, ketika berhubungan seksual dengan Roxy, ia berusia antara 16-17 tahun, dengan kesadaran mental yang dipandang setara usia 50 tahun.

Namun, narasi Mushoku Tensei seolah memberi “diskon moral” pada Rudeus. Usia mental 30-an tahun, yang dibawa dari kehidupan sebelumnya, menjadi justifikasi bahwa hasrat seksual Rudeus normal-normal saja. Bahkan meski hasrat itu ditampakkan ketika ia masih di bawah lima tahun.

Masalah lain muncul ketika realitas visual tidak sejalan dengan logika usia. Roxy, meski berusia puluhan tahun, ditampilkan dalam tubuh gadis belia. Sebagai ras Migurd, tubuhnya berhenti menua di usia sekitar 14 tahun, sedangkan Rudy tumbuh dewasa sebagaimana mestinya. Alhasil, batas antara “dewasa” dan “anak-anak” menjadi kabur, baik secara moral maupun visual.

Penggambaran Sherry sebagai budak Michio Kaga dalam anime berjudul Isekai Meikyuu de Harem wo

Anime Harem. foto/Dok.otakuauthor

Roxy bukan satu-satunya. Ia hanya salah satu contoh dari pola karakter perempuan dengan usia, tubuh, dan posisi sosial, yang sengaja dibuat ambigu dalam anime, terutama bergenre isekai.

Penggambaran serupa muncul pada karakter Sherry dalam Isekai Meikyuu de Harem wo, juga tokoh Raphtalia di Tate no Yuusha, yang relasinya dengan protagonis dibingkai romantis meski menyimpan kontradiksi usia dan kuasa. Sherry adalah gadis mungil yang sukarela menjadi budak Michio Kaga. Sementara itu, Raphtalia, meski berpenampilan dewasa, secara kronologis masih anak-anak dan “ditumbuhkan” lewat mekanisme dunia fantasi.

Ambiguitas itu menciptakan ruang abu-abu yang terasa aman bagi sebagian penonton. Dengan dalih usia kronologis yang sudah dewasa atau mekanisme dunia fantasi, relasi Rudeus-Roxy atau Michio-Sherry dapat dinikmati tanpa rasa bersalah.

Ruang abu-abu tersebut tidak lahir di ruang hampa. Ia merupakan produk dari sistem industri manga Jepang.

Perisai Etika Industri

Ruang abu-abu dalam relasi antartokoh, seperti dijelaskan di atas, dibentuk dan dipelihara oleh konfigurasi hukum, ekonomi, dan praktik industri manga-anime di Jepang.

Sebagaimana dikemukakan Cooray dkk. dalam International Journal of Cultural Policy (2025:2-3), secara historis, di Jepang, ketelanjangan dan konten erotis lebih mudah diterima dibandingkan dengan budaya non-Jepang. Kerangka kultural ini memengaruhi cara negara dan industri memosisikan penggambaran seksualitas dalam media populer.

Jepang baru melarang pornografi anak sejak 2014, setelah dunia internasional mendesaknya. Namun, larangan tersebut tidak mencakup karakter fiksi. Sebab, menurut asosiasi industri manga dan anime, jika itu dilakukan, kebebasan berekspresi serta kultur kreatif Jepang akan terbelenggu.

Pengecualian itulah yang menjadi “perisai etika” para kreator. Secara visual, industri dapat menampilkan karakter dengan anatomi gadis belia. Secara naratif, karakter itu diberi usia ratusan tahun, ras non-manusia, atau status hukum khusus. Dari situlah lahir beragam karakter: loli (anak-anak pra-pubertas), legal loli (berpenampilan anak-anak tetapi berusia dewasa), hingga petite (karakter dewasa bertubuh mungil).

Faktor "perisai etika" dalam ranah fiksi ini, pada gilirannya, menciptakan standar moral yang kompromis di balik layar. Normalisasi tidak hanya tampak dalam desain karakter, tetapi juga cara industri menyikapi perilaku personal para kreatornya. Tanpa berupaya menyederhanakan hubungan fiksi dan tindakan nyata, sejumlah kasus menunjukkan bahwa industri manga-anime tidak tegas menanggapi pelanggaran etika di dunia nyata.

Contohnya adalah Nobuhiro Watsuki, kreator Rurouni Kenshin (Samurai X), yang ditangkap pada November 2017 karena memiliki ratusan materi pornografi anak. Watsuki meminta maaf karena telah menyebabkan "kekacauan dan membuat semua orang resah". Namun, setelah hiatus singkat, ia melenggang bebas dan melanjutkan proyek Rurouni Kenshin Arc Hokkaido yang sempat terjeda.

Ada juga Mitsutoshi Shimabukuro, yang terjerat kasus prostitusi anak di bawah umur pada 2002. Hanya dalam waktu singkat, ia kembali ke industri dan melahirkan karya-karya baru. Bahkan, enam tahun berselang, ia dapat melahirkan Toriko, manga buatannya yang kemudian jadi ikonik.

Sikap pragmatis itu, secara tak langsung, membuat para kreator bebas menarik referensi dari mana saja, termasuk dari subkultur yang lebih eksplisit. Magonote adalah salah satunya. Dalam wawancara dengan Phanta Porta (2017), ia secara terbuka menyebut seri Toushin Toshi dan Rance, dua judul ikonik eroge (erotic game), sebagai referensi utama dalam membangun dunia Mushoku Tensei.

Referensi itu kemudian mewujud premis cerita yang problematis. Sebagaimana pengakuannya kepada Anime News Networkpada 2021, di bagian awal cerita, Magonote sengaja menekankan perspektif Rudeus yang memandang seks sebagai kesenangan. Baginya, penggambaran tersebut logis karena Rudeus tidak memiliki pengalaman seksual di kehidupan terdahulu. Padahal, penggambaran itu sangat mungkin menjadi saluran pemuasan fantasi pria dewasa.

Dengan perisai etika macam usia fiktif, ras non-manusia, dan lore dunia fantasi, industri dapat menciptakan konten yang secara visual problematik, tetapi secara naratif terasa aman. "Ruang aman" inilah yang memungkinkan relasi Rudeus-Roxy tidak dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai bagian wajar dari perjalanan karakter.

“Perisai etika” industri tidak berdiri sendiri. Ia baru benar-benar bekerja ketika diterima, dimaknai, dan dinikmati oleh penonton. Di titik inilah pertanyaan bergeser: bukan lagi sekadar "bagaimana industri memproduksi ambiguitas?", melainkan "bagaimana audiens dapat menikmatinya tanpa keberatan moral?". Saat industri menyediakan pembenaran naratif, psikologi penonton menentukan efektivitas pembenaran itu.

Mengapa Kita Bisa Memaklumi yang Problematik?

Ketika Mushoku Tensei tayang, banyak penonton memaklumi relasi Rudeus dan Roxy. Bukan hanya di Jepang, tetapi juga di forum penggemar lintas negara. Hubungan tersebut kerap dipahami sebagai momen emosional wajar, terutama karena dibingkai dalam konteks duka dan “penyembuhan”.

Dalam diskusi penggemar di salah satu utas platform X, misalnya, usia kronologis Roxy justru sering dijadikan justifikasi. Istilah bercanda seperti "pre-order” muncul untuk menggambarkan bahwa Rudeus dan Roxy saling menunggu satu sama lain menjadi dewasa.

Ada pula pembenaran dari Richard Eisenbeis, yang menilai hubungan Rudeus–Roxy dapat dipahami karena situasi emosional sang protagonis pasca-kematian ayahnya. Padahal, fokus pada trauma dan kedukaan justru mengesampingkan fakta visual bahwa Roxy pada dasarnya ditampilkan sebagai figur loli.

Memang, ada kritik yang mempertanyakan relasi Rudeus-Roxy. Jay Gibbs, misalnya, dalam kolom Opini di Anime Corner (2023), menilai relasi Rudeus dan perempuan-perempuan di sekitarnya sarat akan nuansa grooming. Visual Roxy yang awet muda berfungsi menyamarkan kenyataan bahwa ada kesadaran pria dewasa di balik tubuh remaja Rudeus.

Sayangnya, kritik semacam itu cenderung tenggelam di tengah banyaknya pembacaan yang lebih permisif.

Mushoku Tensei Jobless Reincarnation

Mushoku Tensei Jobless Reincarnation. foto/Dok. Screenrant

Jika percakapan penonton dan kritik menunjukkan adanya pemakluman, lantas apa yang membuat sebagian penonton menormalisasi peristiwa di Rapan?

Penerimaan semacam itu dapat dijelaskan melalui konsep database animalsyang diperkenalkan Hiroki Azuma (2009). Dalam budaya otaku pascamodern, penonton tidak lagi mengonsumsi narasi besar anime secara utuh. Mereka cenderung hanya menikmati elemen-elemen tertentu dari “basis data” karakter.

Roxy tidak lagi dipahami sebagai subjek dengan posisi sosial dan relasi kuasa ambigu. Ia hanyalah kumpulan atribut moe: tubuh mungil, suara lembut, sifat pemalu.

Ketika karakter hanya diperlakukan sebagai komoditas visual, empati terhadap kemanusiawiannya pun menipis. Pertanyaan etika, termasuk soal usia dan relasi kuasa, menjadi tidak relevan bagi sebagian konsumen. Yang mereka konsumsi bukan lagi perempuan atau gadis belia, melainkan desain.

Pola konsumsi semacam itu menemukan lahan subur dalam iklim sosial dan industri yang permisif. Jepang salah satunya. Dalam The Costs of Lolicon: Japan’s Pedophilia Trade (2022:38), Sluzhevsky mencatat, dalam konteks tertentu, respons publik dan penegakan hukum di Jepang terhadap kasus pelecehan seksual anak serta konsumsi pornografi cenderung lebih longgar dibandingkan banyak negara lain.

Memang, pemakluman tidak hadir di seluruh produk budaya populer Jepang. Namun, ia dapat menemukan pantulan ketika figur anak dan remaja digambarkan secara ambigu dalam media hiburan. Itu membuat batas antara visual karakter artistik dan norma moral jadi makin kabur.

Penormalisasian itu berhubungan erat dengan strategi soft power Jepang pasca-Perang Dunia II. Jepang, yang kehilangan kekuatan militer, beralih membangun citra bangsa melalui kekuatan budaya alias soft power. Budaya kawaii, yang menonjolkan kepolosan, kemanisan, dan kerentanan, dipasarkan. Namun, seperti dicatat Sluzhevsky (2022:12–13), kerentanan ini bergeser menjadi daya tarik seksual bagi konsumen global.

Negara Jepang, yang mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik, memang bukanlah pencipta konten. Namun, sebagai otoritas, ia memilih membiarkan.

Dalam kasus ini, setidaknya ada empat faktor yang saling mengunci. Pertama, dari segi konten, ada "perisai etika" berupa label usia tua pada anatomi perempuan usia belia sehingga penonton merasa aman secara moral. Kedua, dari segi konsumen, simpati manusiawi terkalahkan oleh kepuasan hasrat terhadap elemen visual. Ketiga, dari segi industri, prioritas keuntungan komersial dan dalih kebebasan berekspresi menomorduakan tanggung jawab sosial. Keempat, dari segi otoritas, negara “membiarkan”. Sluzhevsky (2022:49), menyebutkan, ekspor budaya populer adalah salah satu prioritas Jepang yang terbukti sukses. Namun, ia mencatat, seiring dengan penyebaran budaya, ada risiko soal potensi penyebaran normalisasi pedofilia.

Lantas, ketika Rudeus dan Roxy bercinta, apakah kita sedang menikmati sebuah cerita, atau tanpa sadar turut melegitimasi penggambaran yang problematik? Jawabannya, bisa jadi, ada pada sejauh mana kita bersedia menutup mata atas sesuatu yang terpampang di layar.

Baca juga artikel terkait ANIME atau tulisan lainnya dari Fitra Firdaus

tirto.id - Horizon
Penulis: Fitra Firdaus
Editor: Fadli Nasrudin