Menuju konten utama

Piala AFF Tetap Kebanggaan ASEAN Meski "Tak Dianggap" oleh FIFA

Piala AFF bukan hanya soal "pengakuan" FIFA, melainkan panggung sakral pertaruhan martabat bangsa bagi negara-negara di Asia Tenggara.

Piala AFF Tetap Kebanggaan ASEAN Meski
Suporter mendukung Timnas Indonesia di Piala AFF. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Timnas Indonesia tampil tak sesuai harapan di Piala AFF 2026. Berangkat dengan optimisme baru bersama pelatih anyar John Herdman dan mengusung target juara, pasukan Merah Putih justru tersingkir terlalu cepat: gagal lolos dari fase grup!

Kegagalan tersebut memicu gelombang kekecewaan yang mendalam dari pecinta sepak bola tanah air. Banjir kecaman di ranah maya pun tak terelakkan. PSSI bahkan sampai meminta maaf atas capaian yang amat jauh panggang dari api.

"PSSI memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat sepak bola Indonesia karena belum bisa memberikan hasil yang memuaskan secara sempurna," ucap Sekjen PSSI, Yunus Nusi, melalui rilis, Minggu (9/8/2026).

Indonesia dikalahkan Vietnam di Piala AFF

Indonesia dikalahkan Vietnam pada pertandingan Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8/2026). Timnas Indonesia dikalahkan Vietnam dengan skor akhir 0-3. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/rwa.

Kendati kerap diremehkan dengan olok-olok “Piala Ciki” dan tidak masuk kalender resmi FIFA, faktanya Piala AFF tetap saja menjadi ajang sepak bola kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Reaksi keras publik atas kegagalan Timnas Indonesia menjadi bukti bahwa Piala AFF tetap bergengsi. PSSI pun pasang badan dan mengimbau kepada masyarakat agar tidak menjadikan skuad Garuda beserta staf pelatih sebagai sasaran tembak.

"Silakan mengkritisi PSSI atau Ketua Umum, kami menerima. Namun, yang terpenting adalah jangan menghujat pemain dan pelatih. Mereka adalah aset kita pada masa depan," pinta Yunus Nusi.

Piala AFF “Anak Haram” FIFA?

Piala AFF -atau yang kemudian disebut ASEAN Championship- tidak masuk agenda resmi FIFA, bahkan terkesan dianggap sebagai “anak haram” oleh induk sepak bola dunia itu. Bagaimana tidak? Alih-alih menjadikan Piala AFF sebagai bagian dari ajang resmi, FIFA justru menggagas turnamen “tandingan” bertajuk FIFA ASEAN Cup.

Dikenal dengan nama Piala Tiger pada era-era awalnya, ajang ini adalah turnamen yang diprakarsai oleh ASEAN Football Federation (AFF) alias Federasi Sepak Bola Asia Tenggara. AFF sendiri merupakan sub-konfederasi dari Asia Football Federation (AFC) atau Federasi Sepak Bola Asia.

Sub-konfederasi tersebut dirancang untuk membangun ekosistem sepak bola kawasan yang lebih baik, dalam konteks AFF tentunya sepak bola di negara-negara yang berada wilayah Asia Tenggara.

"Negeri bawah angin" -istilah lama untuk menyebut Asia Tenggara seperti yang termaktub dalam beberapa naskah kuno- kini menjadi tempat bernaungnya negara-bangsa peserta Piala AFF, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, FIlipina, Vietnam, Singapura, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, serta Kamboja, sebelum Timor Leste akhirnya ikut serta.

Trofi Piala AFF

Trofi Piala AFF. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras/16

Lantas, kenapa Piala AFF seakan-akan “tidak dianggap” oleh FIFA?

Piala AFF bukannya tidak diakui, melainkan tidak masuk ke dalam Kalender Resmi FIFA. Ajang ini tetap saja berada di dalam lingkaran hierarki keluarga besar FIFA meskipun tetap saja eksistensinya kurang mendapat perhatian.

Sejak 2016, FIFA mengelompokkan Piala AFF sebagai turnamen Kategori A (A Match). Artinya, setiap pertandingan menghasilkan poin yang berpengaruh langsung terhadap naik-turunnya ranking FIFA kendati dalam konteks Piala AFF tambahan poin itu termasuk kecil.

Hanya saja, ada beberapa faktor yang membuat posisi dan keberadaan Piala AFF di peta sepak bola dunia menjadi agak rumit.

Piala AFF merupakan kompetisi sub-regional yang hanya mencakup kawasan kecil yakni Asia Tenggara. Dari situ, FIFA menganggap bobot kepentingan Piala AFF kurang signifikan.

Sebagai catatan, FIFA hanya mengutamakan ajang berskala benua, seperti Piala Asia atau Piala Eropa, serta skala global yaitu Piala Dunia, untuk masuk ke kalender utama mereka.

Tak hanya Piala AFF, FIFA menerapkan aturan serupa untuk turnamen bertaraf sub-konfederasi lainnya. EFF di Asia Timur, WAFF di Asia Barat dan kawasan Teluk, serta SAF di Asia Selatan juga tidak masuk dalam agenda resmi FIFA.

Ajang Adu Gengsi “Negeri Bawah Angin”

Hadirnya turnamen sepak bola sub-konfederasi seperti Piala AFF dimaksudkan untuk pengembangan sepak bola kawasan. Negara-negara peserta seharusnya menurunkan tim nasional yang didominasi oleh pemain dari liga domestik atau pemain muda.

Namun, Piala AFF ternyata tidak begitu. Aroma persaingan antar tim nasional di kawasan Asia Tenggara sangat kental terasa, bahkan sejak pertama kali ajang dua tahunan ini digulirkan.

Alih-alih menjaring bibit potensial seperti yang dicita-citakan, Piala AFF justru menjelma ajang adu gengsi. Pemain-pemain domestik terbaik dipanggil demi kemenangan dan trofi juara. Bahkan, kini persaingan semakin sengit dengan melibatkan pemain naturalisasi dari liga sendiri sampai mendatangkan pemain diaspora.

Final Piala AFF 2016

Teerasil Dangda, salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Timnas Thailand tampil di Piala AFF 2016 saat melawan Indonesia. [Foto/affsuzukicup.com]

Esensi awal Piala AFF saat dulu digagas pun semakin bergeser. Hadirnya Piala AFF perlahan namun pasti menjadi pembenaran bahwa turnamen ini memang menjadi ajang penuh gengsi serta pertaruhan harga diri bagi negara-negara serumpun yang terlibat, terutama Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Sebenarnya itu bukan hal yang salah. Rasa-rasanya, Piala AFF memang layak dijadikan sebagai pesta sepak bola kebanggaan rakyat ASEAN lantaran terlalu kecilnya peluang untuk bisa lolos ke putaran final Piala Dunia, atau “sekadar” memenangkan Piala Asia.

“Saya rasa ajang ini belum kehilangan daya tariknya bagi para penggemar. Sejujurnya, ada 4 yang negara memiliki peluang realistis untuk memenangkan kompetisi ini dan para penggemar senang jika menang,” kata Steve Darby, dikutip dari ulasan jurnalis olahraga Deepanraj Ganesan di The Straits Times.

Steve Darby memang orang Inggris, ia lahir di Liverpool. Namun mantan kiper ini sudah kenyang pengalaman di persepakbolaan Asia Tenggara dan kini semakin dikenal sebagai pengamat sepak bola Asia.

Darby pernah menjadi asisten pelatih Timnas Thailand lalu membesut Thailand U23, pelatih Timnas Vietnam Wanita, serta menukangi beberapa klub ASEAN macam Home United (Singapura), juga JDT II, Kelantan FC, dan Perak FC (Malaysia). Darby sempat pula menempati posisi sebagai Direktur Teknik Timnas Laos.

“Para penggemar sepak bola ASEAN tidak bodoh dan mereka tahu bahwa mereka tidak akan memenangkan Piala Dunia atau bahkan Piala Asia. Memenangkan sebuah kompetisi adalah kejadian langka dan menyenangkan, dan Kejuaraan ASEAN (Piala AFF) memberikan hal itu,” imbuh Darby.

Final Piala AFF 2010

Timnas Indonesia kalah dari Malaysia di final Piala AFF 2010. AP Photo/Achmad Ibrahim

Ucapan Darby sepertinya tidak salah. Indonesia, misalnya, yang merupakan salah satu kekuatan besar di persepakbolaan ASEAN dan berpartisipasi sejak awal ajang ini diadakan, belum mampu menjadi juara Piala AFF.

Pasukan Merah Putih paling mentok hanya bisa menjadi runner-up, sampai 6 kali pula. Tak perlu munafik, bisa meraih trofi Piala AFF untuk pertama kalinya tetap bakal menjadi kebanggaan.

Untuk urusan adu gengsi, Timnas Indonesia terlibat erat dalam pusaran pertaruhan harga diri, terutama saat menghadapi Malaysia. Bahkan ada pameo umum di kalangan publik yang mengatakan: “Lebih baik gagal juara Piala AFF ketimbang kalah dari Malaysia”.

Dari Pengaturan Skor sampai Sepak Bola Gajah

Mengangkat trofi “Piala Ciki” alias Piala AFF tetap saja bikin bangga meskipun terkadang diupayakan dengan cara-cara yang tak semestinya, baik dari sisi internal maupun faktor luar yang mengusung kepentingan tertentu.

Catatan sejarah telah membuktikan, terjadi sejumlah kasus atau skandal yang pernah mewarnai sekaligus mencemari Piala AFF, bahkan sejak pertama kali ajang ini digelar pada 1996.

Di Piala AFF 1996 atau yang dulu diberi nama Piala Tiger dan dihelat di Singapura, dikutip dari laporan Jon Hernandez via Manila Standard Today (22 September 1996), skandal pengaturan skor mencuat.

Bek Filipina, Judy Saluria, mengungkapkan bahwa ia ditawari uang 50 ribu dolar AS saat menantang Singapura di laga ke-3 babak penyisihan Grup A Piala Tiger 1996. Skenarionya, The Azkals harus kebobolan 7 gol supaya tuan rumah bisa melaju ke babak selanjutnya.

Hasilnya, Singapura menang 3-0 atas Filipina, namun keduanya sama-sama tersingkir di babak grup: The Lions finis di urutan 3 Grup A dan kalah bersaing dengan Thailand serta Malaysia, sedangkan Judy Saluria dan kawan-kawan jadi juru kunci.

Infografik Timnas Indonesia selalu hampir juara Piala AFF

Infografik Timnas Indonesia selalu hampir juara Piala AFF. tirto.id/Ecun

Judy Saluria menolak percobaan suap tersebut, bahkan melaporkan itu kepada pelatih dan panitia penyelenggara. Usai Piala AFF 1996, dilakukan penyelidikan. Ada 3 orang yang ditangkap, yakni 2 warga negara Malaysia dan 1 warga negara Singapura, yang ternyata merupakan jaringan bandar judi.

Dua tahun berselang, ada lagi kejadian yang tidak pantas, bahkan bisa disebut sebagai skandal yang paling memalukan dalam sejarah Piala AFF. Di Piala Tiger 1998 yang diselenggarakan di Vietnam, terjadi aksi “sepak bola gajah”. Apesnya, Indonesia terlibat, jadi aktor utama pula.

Ceritanya, Indonesia menghadapi Thailand di laga terakhir penyisihan Grup A untuk memperebutkan juara grup. Kedua tim rasa-rasanya enggan untuk memenangkan laga karena juara grup A akan menghadapi tuan rumah Vietnam sebagai runner-up Grup B di semifinal.

Pertandingan berjalan lambat, tanpa gairah, dan terlihat tidak sportif. Nihil upaya merebut bola dari pemain kedua tim. Setiap terjadi serangan, para pemain belakang seolah mempersilahkan penyerang lawan untuk mencetak gol.

Puncak drama terjadi di akhir laga. Bek Indonesia, Mursyid Effendi, secara ajaib mencocor bola ke gawang sendiri meski tanpa tekanan dari lawan. Pertandingan serupa aib ini pun berakhir 3-2 untuk kemenangan Thailand.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Kedua tim yang main tak serius dengan harapan melapangkan jalan menuju juara justru terhenti di semifinal. Thailand digebuk Vietnam dengan skor 3-0, sementara Indonesia harus menyerah 1-2 dari Singapura.

Setelah turnamen selesai, investigasi dilakukan dan sanksi pun dijatuhkan. Federasi kedua negara kena denda masing-masing 40 ribu dolar AS. Mursyid Effendi dilarang bermain di tingkat internasional seumur hidup.

Skandal “sepak bola gajah” yang menggegerkan turut mengguncang PSSI. Ketua Umum PSSI saat itu, Azwar Anas, sangat terpukul lantas mengundurkan diri dari jabatannya, seperti yang dituliskan oleh Abrar Yusra dalam buku Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang (2011).

Azwar Anas, Ketua Umum PSSI 1991-1999

Azwar Anas. wikimedia commons/publik domain/

Piala AFF Tetap Kebanggaan Warga ASEAN

Kenyataannya, Piala AFF tetap menjadi ajang sepak bola paling bergengsi, pertaruhan harga diri, sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Asia Tenggara, apapun anggapan miring yang dialamatkan terhadap turnamen ini.

Indonesia, misalnya, tidak akan tenang jika masih belum mampu meraih gelar juara, terlebih skuad Garuda sekarang dianggap sudah naik level dengan hadirnya barisan pemain keturunan-diaspora dari Eropa.

Thailand barangkali sempat merasa sudah cukup menjadi raja ASEAN dan berhasrat meningkatkan area tempur ke Asia. Wajar, mereka adalah tim paling sukses di Piala AFF dengan 7 gelar juara. Namun, saban tampil di ajang ini, The War Elephants selalu serius dan menampilkan skuad terbaik, seolah ingin juara lagi dan lagi.

Vietnam mungkin sama seperti Thailand, ingin merambah ke level yang lebih tinggi. Kendati begitu, The Golden Star Warriors tidak pernah main-main manakala berjibaku di Piala AFF demi menambah koleksi trofi mereka. Vietnam sudah 3 kali jadi juara.

Andik Vermansyah (kanan) saat memperkuat Timnas Indonesia melawan Malaysia

Pemain Timnas Indonesia Andik Vermansyah berusaha melewati bek Malaysia Shahrul M. Saad pada 2019 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. tirto.id/Andrey Gromico

Begitu pula dengan Malaysia yang gengsinya langsung meningkat setiap kali bertemu dengan Indonesia di Piala AFF. Dua negara bersaudara ini memang gemar adu tensi. Singapura? Tak jauh beda.

Pada akhirnya, celoteh-celoteh miring yang dialamatkan terhadap Piala AFF, dari olok-olok “Piala Chiki”, tidak diakui FIFA, turnamen kelas dua, dan seterusnya, tidak pernah cukup kuat untuk mereduksi kesakralan ajang ini.

Kecintaan mendalam kepada tim nasional serta tradisi rivalitas serumpun yang telah lama dirawat dan terus dipupuk mengubah rumput hijau menjadi medan laga atas nama harga diri.

Demi Piala AFF, setiap negara mengerahkan segala daya-upaya: dari memanggil para pemain terbaik di liga domestik, menyertakan pemain naturalisasi yang bahkan tanpa darah keturunan asli, memulangkan pemain diaspora, hingga melakukan tindakan yang barangkali kurang elok demi meraih kemenangan menuju gelar juara.

Bagi sebagian besar pecinta sepak bola di kawasan Asia Tenggara, Piala AFF bukan sekadar urusan berburu poin dalam peringkat FIFA, melainkan panggung sakral pertaruhan martabat bangsa.

Baca juga artikel terkait PIALA AFF atau tulisan lainnya dari Permadi Suntama

tirto.id - Horizon
Penulis: Permadi Suntama
Editor: Iswara N Raditya