Menuju konten utama

Pemain Diaspora Berdatangan ke Liga Indonesia, Apa yang Dicari?

Mengapa banyak pemain diaspora gabung Liga Indonesia? Berikut apa kata pemain, pengamat, dan pelatih timnas soal fenomena ini.

Pemain Diaspora Berdatangan ke Liga Indonesia, Apa yang Dicari?
Pesepak bola Timnas Indonesia Ole Romeny (kiri) berselebrasi usai membobol gawang Timnas Mozambik dalam laga FIFA Matchday di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketika Sandy Walsh dan Ragnar Oratmangoen resmi gabung dengan Persib Bandung jelang musim Super League 2026/2027, gelombang pemain diaspora di Liga Indonesia kembali bertambah. Apa sebenarnya yang dicari oleh para pemain diaspora di tanah air?

Dalam rentang sekitar satu musim, sedikitnya 12 pemain berdarah Indonesia yang awalnya berkarier di luar negeri (abroad) lebih memilih lanjut karier di liga lokal. Ada Jordi Amat, Thom Haye, Eliano Reijnders, Jens Raven, Rafael Struick, Shayne Pattynama, Ivar Jenner, Mauro Zijlstra, Cyrus Margono, sampai Dion Markx.

Selama bertahun-tahun, pemain Indonesia didorong untuk merantau ke luar negeri, terutama ke Eropa, demi mengerek mental dan kualitas permainan. Sekarang justru arusnya agak berbalik. Sejumlah pemain yang tumbuh di sistem sepak bola Belanda, Belgia, sampai Australia, datang ke Indonesia saat masih berada dalam usia produktif.

Sebagian publik memandang keputusan itu sebagai tanda karier pemain menurun. Anggapan tersebut muncul karena beberapa pemain sebelumnya sudah tampil di liga-liga Eropa, atau kompetisi lain yang dinilai lebih kompetitif dibanding Liga Indonesia.

Namun, jika ditelusuri lebih jauh, alasan di balik kepindahan para pemain diaspora ke liga lokal ternyata juga beragam.

Ada yang mencari kesempatan bermain, ada yang tertarik dengan perkembangan sepak bola Indonesia, sebagian lainnya melihat kompetisi domestik sebagai tempat ideal untuk menjaga peluang tampil bersama Timnas Indonesia.

Cari Menit Bermain dan Mengembangkan Karier

Pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni menilai perpindahan pemain diaspora ke Liga Indonesia termasuk lazim terjadi dalam sepak bola profesional. Menurutnya, sebagian besar pemain yang datang memang sedang mencari kesempatan bermain dibandingkan dengan klub sebelumnya.

"Saya melihat ini proses yang alamiah ya, artinya pemain-pemain yang pindah (ke klub-klub Liga Indonesia) itu kan umumnya yang tidak mampu bersaing di negara lain, di level klub yang tinggi," kata Kusnaeni.

Dalam sepak bola profesional, menit bermain menjadi kebutuhan utama. Pemain yang terlalu lama berada di bangku cadangan berisiko kehilangan ritme pertandingan sekaligus mengalami penurunan performa.

"Karena pemain itu kalau kelamaan tidak bermain, hanya duduk di bangku cadangan itu kemampuannya menurun," ujar Kusnaeni.

Kendati demikian, motif tiap pemain tidak bisa disamaratakan. Kusnaeni membedakan pemain diaspora berdasar fase karier mereka.

Pemain muda seperti Jens Raven atau Mauro Zijlstra masih dalam tahap membangun karier profesional. Alhasil, Liga Indonesia bisa menjadi batu loncatan untuk mengais pengalaman dan jam terbang, sebelum lanjut bersaing di level lebih tinggi.

Sebaliknya, pemain yang lebih matang seperti Jordi Amat, Thom Haye, atau Shayne Pattynama butuh kompetisi yang bisa menjaga ritme permainan agar tetap kompetitif.

Dengan kata lain, keputusan pemain diaspora merumput di Liga Indonesia tidak selalu berarti meninggalkan ambisi, tapi mencari lingkungan agar karier tetap berkembang.

Liga Indonesia Kini Sudah Berkembang

Alasan lain yang ikut mendorong kedatangan pemain diaspora yaitu perubahan klub-klub di Indonesia. Beberapa musim terakhir, kompetisi domestik mulai berdaya saing di level Asia.

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mencatat Indonesia jadi negara dengan kenaikan terbesar dalam AFC Men's Club Competitions Ranking 2025/2026. Indonesia naik lima peringkat, dari posisi ke-25 menjadi peringkat ke-20 Asia.

Kenaikan itu dipengaruhi oleh keberhasilan Persib Bandung melaju sampai babak 16 besar AFC Champions League Two, dan Dewa United yang mencapai perempat final AFC Challenge League. Ujungnya, Indonesia mengamankan dua slot pada kompetisi antarklub AFC musim 2027/2028.

Meski ranking kompetisi sepak bola Indonesia masih berada di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, tren itu sudah jadi bukti klub lokal mulai lebih kompetitif dibanding beberapa musim sebelumnya.

Perubahan tersebut juga tercermin dari alasan Thom Haye saat memutuskan gabung dengan Persib Bandung. Gelandang Timnas Indonesia itu mengaku tertarik karena melihat sepak bola Indonesia sudah berkembang.

"Persib adalah klub terbesar di Indonesia dengan suporter penuh gairah ... Jika Anda melihat, beberapa tahun terakhir sepak bola Indonesia sudah berkembang .. saya juga bisa berkontribusi dengan cara ini dalam mengembangkan sepak bola Indonesia, dengan bergabung bersama salah satu tim terbesar di Indonesia," ujar Haye.

"Ini juga sinyal untuk semua orang bahwa sepak bola di sini sudah berkembang, dan saya ingin jadi bagian dari itu," imbuhnya.

Untungkan Pemain, Untungkan Timnas

Gelombang pemain diaspora hijrah ke Liga Indonesia ternyata juga membawa sisi positif dari perspektif tim nasional. Jika sebagian pihak khawatir fenomena ini bakal menurunkan kualitas pemain diaspora, juru taktik Timnas Indonesia John Herdman melihat sebaliknya.

Menurut Herdman, pemain diaspora yang berlatih dan rutin tanding di Indonesia bakal lebih cepat beradaptasi dengan karakter sepak bola nasional, terutama kondisi cuaca yang berbeda dengan Eropa.

"Tentunya itu sangat penting untuk memberi perasaan berbeda, dan memberi standar. Bagi pemain, mereka juga bisa terbiasa dengan kondisi di sini karena kondisi di sini sangat unik, panasnya dan kelembabannya," kata Herdman.

"Jadi jika para pemain Eropa berlatih di sini secara konsisten, akan sangat penting untuk toleransi dan keseimbangan mereka, dan ini memberi kedalaman yang dibutuhkan untuk skuad kami," tegasnya.

Dalam skuad Timnas Indonesia di Piala AFF 2026 yang diumumkan pada Jumat (24/7) ini, hanya ada 3 penggawa yang statusnya pemain abroad atau bermain di luar negeri. Mereka adalah Justin Hubner (Fortuna Sittard), Marselino Ferdinan (Oxford United), dan Mitchell Baker (Georgetown Hoyas).

Memang, nama seperti Emil Audero (Como), Maarten Paes (Ajax), Jay Idzes (Sassuolo), Kevin Diks (Gladbach), hingga Calvin Verdonk (Lille) tidak diangkut.

Namun, dalam skuad Piala AFF 2026 ini, ada nama yang sebelumnya berkarier di luar negeri, mulai dari Sandy Walsh, Eliano Reijnders, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen (Persib), Jordi Amat, Shayne Pattynama (Persija), Tim Geypens (Bali United), Ivar Jenner, hingga Jens Raven (Dewa United).

Layak ditunggu, apakah dengan kekuatan seperti itu, Timnas Indonesia mampu kompetitif di Piala AFF 2026 dan mendapatkan trofi yang belum pernah didapatkan sejak turnamen pertama digelar pada 1996.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus