tirto.id - Ada match fixing di Piala Dunia 2026? Hingga saat ini, belum ada bukti resminya. Namun, Piala Dunia 2026 memang sedang disorot setelah Group of Copenhagen merilis tujuh Yellow Notices atas sejumlah kejanggalan yang berpotensi mengganggu integritas kompetisi.
Di sisi lain, FIFA mengambil kesimpulan berbeda. Melalui Integrity Task Force, badan sepak bola dunia itu menyebut tidak ada aktivitas mencurigakan maupun indikasi match manipulation dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026.
Lantas, apa temuan Group of Copenhagen? Benarkah laporan tersebut mengarah pada dugaan match fixing?
Apa Temuan Group of Copenhagen?
Group of Copenhagen merupakan jaringan internasional di bawah Macolin Convention milik Dewan Eropa. Jaringan ini menghimpun platform nasional dari berbagai negara untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani manipulasi dalam kompetisi olahraga.
Selama Piala Dunia 2026, organisasi tersebut memantau seluruh laga bersama 14 platform nasional dari jaringan yang beranggotakan lebih dari 45 negara.
Tim pemantau menganalisis pasar taruhan, pergerakan odds, penghentian pasar taruhan, informasi dari sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT), sampai aktivitas di media sosial. Untuk pertama kalinya, mereka juga memantau situs taruhan seperti Polymarket dan Kalshi.
Dari operasi tersebut, Group of Copenhagen, dalam ringkasan laporan yang dirilis di situs resmi Dewan Eropa, mencatat beberapa temuan, meliputi:
- 104 laga dipantau selama turnamen.
- 15 laga masuk pengawasan lebih ketat, terutama di laga terakhir fase grup.
- 7 Yellow Notices diterbitkan.
- 12 kontroversi pertandingan dianalisis dari perspektif risiko integritas.
Status itu muncul saat sistem mendeteksi sejumlah indikator tak lazim, misalnya perubahan odds taruhan, informasi intelijen, atau rumor di media sosial. Semua indikator tersebut menjadi sinyal awal untuk pemeriksaan lebih lanjut, bukan kesimpulan bahwa sudah terjadi manipulasi pertandingan.
Group of Copenhagen membagi tingkat risiko ke dalam empat kategori, yakni hijau (normal), kuning (kewaspadaan meningkat), oranye (risiko tinggi), dan merah (risiko tertinggi).
Kasus Apa Saja yang Dicurigai Match Fixing di Piala Dunia?
Laporan lengkap Group of Copenhagen belum dipublikasikan, baru ringkasannya saja di laman Dewan Eropa tadi. Namun, The Athletic sudah merilis laporan dari sumber yang mengaku tahu isi dokumen tersebut.
Salah satu kasus yang dapat Yellow Notice yakni kartu merah gelandang Afrika Selatan, Themba Zwane, pada menit ke-84 saat menghadapi Meksiko di laga pembuka.
Sorotan lain mengarah ke platform pasar taruhan Polymarket. Platform itu menerima transaksi sekitar 4,8 juta dollar AS untuk prediksi bahwa Spanyol gagal mengalahkan Cape Verde pada fase grup. Laga tersebut lantas berakhir imbang tanpa gol.
Laporan juga menyoroti keputusan Video Assistant Referee (VAR) saat menganulir gol Ferran Torres dalam kemenangan 4-0 Spanyol atas Arab Saudi. Proses peninjauan memakan waktu sekitar tiga setengah menit.
Adapun kasus lain melibatkan penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Masih dari laporan yang sama, Polymarket disebut membuka taruhan pada 2 Juli 2026 dengan pertanyaan, "Apakah Folarin Balogun akan bermain melawan Belgia?"
Taruhan itu muncul pada hari yang sama ketika Balogun menerima kartu merah saat menghadapi Bosnia Herzegovina pada babak 32 besar. FIFA baru mengumumkan penangguhan hukuman kartu merah Balogun pada 5 Juli, sehingga ia tetap bisa tampil melawan Belgia. Polymarket tidak membuka pasar serupa untuk 14 pemain lain yang menerima kartu merah selama Piala Dunia 2026.
Berdasar temuan tersebut, Group of Copenhagen mengirim permintaan penjelasan tertulis kepada FIFA terkait kasus Balogun. Meski begitu, laporan tidak menyimpulkan bahwa seluruh peristiwa itu adalah bukti manipulasi pertandingan.
Bagaimana Respons FIFA Soal Yellow Notices di Piala Dunia 2026?
Tak lama setelah ringkasan laporan Group of Copenhagen terbit, FIFA merilis hasil pemantauan Integrity Task Force.
FIFA menyebut 104 pertandingan Piala Dunia 2026 berada di bawah pantauan secara real time, baik dari sisi aktivitas taruhan maupun jalannya pertandingan.
"Berdasar informasi yang dikumpulkan dan dianalisis sepanjang kompetisi, Satuan Tugas tidak menemukan aktivitas taruhan yang mencurigakan atau indikasi manipulasi pertandingan terkait dengan pertandingan apa pun," tulis FIFA.
Temuan ini berasal dari FIFA Integrity Task Force, forum kolaborasi berisi berbagai organisasi internasional seperti konfederasi sepak bola dunia, FBI, INTERPOL, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), Council of Europe, Group of Copenhagen, Sportradar, International Betting Integrity Association (IBIA), Genius Sports, sampai pakar independen.
Senior Integrity Manager FIFA, Liam Rich, menyebut kolaborasi ini menjadi fondasi penting untuk menjaga integritas Piala Dunia 2026. Menurut dia, FIFA masih akan melanjutkan kerja sama serupa di berbagai turnamen mendatang, termasuk Piala Dunia Wanita 2027.
Apa di Piala Dunia 2026 Terbukti Ada Match Fixing?
Jawabannya, belum. FIFA mendefinisikan match manipulation sebagai upaya memengaruhi atau mengubah jalannya pertandingan, hasil akhir, maupun aspek lain dalam kompetisi sepak bola secara melawan hukum. Motifnya bisa berupa keuntungan finansial lewat taruhan, keuntungan olahraga, atau kepentingan lain.
Sementara itu, match fixing lazim dipakai untuk menggambarkan salah satu bentuk match manipulation. Contohnya, sengaja kalah, sengaja menerima kartu kuning atau merah, sengaja membuat penalti, atau tindakan lain demi skenario tertentu.
Pakar industri judi Christian Kalb, dalam laporan The Athletic, menilai anomali di pasar taruhan tidak otomatis jadi bukti manipulasi pertandingan. Pergerakan odds, menurut dia, bisa muncul akibat berbagai faktor, termasuk strategi perusahaan taruhan dalam mengelola risiko (hedging) atau tingginya volume taruhan pada hasil tertentu.
Karena itu, tujuh Yellow Notices dari Group of Copenhagen lebih tepat dipahami sebagai indikator risiko integritas. Status tersebut mendorong adanya pemeriksaan lebih lanjut, tapi belum bisa disimpulkan bahwa terjadi praktik match fixing.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id






























