Menuju konten utama

Guru Sekolah Elit Tangsel Dipolisikan Gegara Grooming Siswi SMP

Kedok oknum guru sekolah elit ICM Tangsel terbongkar. Diduga lakukan child grooming berkedok les mengaji, korban alami trauma berat.

Guru Sekolah Elit Tangsel Dipolisikan Gegara Grooming Siswi SMP
Ilustrasi Kekerasan Seksual. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Guru berinisial NAA di salah satu sekolah internasional berbasis agama di Tangerang Selatan (Tangsel) dipolisikan atas dugaan kejahatan seksual berkedok kelas privat. NAA diduga melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur melalui pola child grooming sejak 2023 hingga 2026.

Kuasa hukum korban, Muhammad Fadhli, mengatakan bahwa pelaporan terhadap NAA ke Polres Tangsel dilakukan pada Selasa (22/9/2026). Laporan tercatat dengan nomor LP/B/3019/IX/2026/SPKT/POLRES TANGERANG SELATAN/POLDA METRO JAYA pada 22 September 2026 pukul 11.24 WIB.

"Laporan atas dugaan tindak pidana pelecehan seksual dengan korban anak di bawah umur dengan terduga pelaku merupakan mantan guru dari si korban," kata Fadhli usai membuat laporan.

Menurut Fadhli, NAA saat ini masih tercatat sebagai tenaga pengajar di sebuah sekolah internasional berbasis agama di Tangsel.

Modus Les Mengaji dan Manipulasi di Ruang Kelas

Fadhli menjelaskan, terduga pelaku membujuk korban dengan iming-iming hal yang disukai anak tersebut untuk tujuan eksploitasi seksual. Menurutnya, pola itu merupakan bentuk child grooming, yakni manipulasi bertahap untuk membangun kedekatan dan kepercayaan anak.

NAA diduga melakukan aksinya seusai jam pelajaran reguler. Siasat itu, kata Fadhli, sengaja dilakukan karena NAA membuka les privat mengaji di ruang kelas tempatnya mengajar.

Pada 2023-2024, NAA merupakan wali kelas korban. Selama periode itu ia diduga intens berkomunikasi dengan korban. Fadhli menyebut ada tiga dugaan tindakan asusila NAA terhadap korban.

Pertama, memperlihatkan video porno kepada korban secara berulang. Kedua, menyentuh bagian sensitif tubuh korban. Selain itu meminta foto tidak senonoh, yang ditolak korban.

Fadhli pun mengungkap, NAA masih menghubungi korban meski sudah tidak lagi menjadi wali kelas korban. Bahkan, NAA masih mencoba menghubungi meski korban sudah tidak duduk di jenjang SMP.

Trauma Terbongkar di Atas Matras Bela Diri

Ilustrasi Pelecehan Seksual

ilustrasi pelecehan seksual. wikimedia commons/arionasis

Korban lama memendam peristiwa itu karena trauma. Pada 2026, korban mulai berani bercerita kepada pelatih taekwondonya. Sang pelatih kemudian menyampaikan peristiwa yang menimpa korban kepada orang tua korban.

Keluarga lalu membawa korban menjalani pemeriksaan psikologis. Menurut Fadhli, hasilnya menunjukkan korban mengalami depresi atau trauma berat. Hasil itu dilampirkan dalam laporan bersama bukti percakapan antara NAA dan korban.

Berdasarkan pengakuan orang tua, kata Fadhli, korban kini sensitif bila disentuh laki-laki, termasuk ayahnya sendiri. Fadhli mengatakan pihaknya sempat berkomunikasi dengan sejumlah anak lain, tetapi mereka belum berani berbicara.

"Kami belum bisa memastikan jumlah korban lain di luar klien kami," ujarnya.

Saat dihubungi pada Kamis siang (24/9/2026), Humas Polres Tangerang Selatan, Iptu Yudi menyatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan pihak Reskrim untuk mengetahui perkembangan terbaru.

"Bu kasi kemarin sedang koordinasi dengan Satreskrim, namun update-nya belum monitor," ucapnya.

Sementara itu saat didatangi ke sekolah tempat NAA mengajar untuk meminta konfirmasi. Menurut sekuriti yang bertugas, sekolah sedang libur sehingga belum dapat menanggapi. Pernyataan NAA juga belum diperoleh.

=============

Tangsel_Update adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait CHILD GROOMING atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Reporter: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah