Menuju konten utama

Pemkot Tangsel Minta Satgas PPA Aktif Cegah Kekerasan Seksual

Satgas PPA di sekolah melibatkan guru, kepala sekolah, hingga staf sekolah untuk melakukan pengawasan dan pencegahan kekerasan seksual.

Pemkot Tangsel Minta Satgas PPA Aktif Cegah Kekerasan Seksual
Wakil Walikota Tangsel Pilar Saga Ichsan saat diwawancarai awak media di Puspemkot Tangsel. (Foto : Jupri Nugroho)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menegaskan Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus mengawal penanganan kasus dugaan pelecehan terhadap siswa di lingkungan SMK Letris. Pemkot Tangsel juga memastikan pendampingan psikologis terhadap korban tetap berjalan selama proses penyelidikan berlangsung.

Pilar mengatakan, sejak awal dirinya bersama Wali Kota telah menginstruksikan dinas terkait untuk melakukan pendampingan terhadap korban serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum.

“Kasus ini sudah ditindaklanjuti oleh Polres Tangerang Selatan dan juga Polda untuk dilakukan pendalaman. Kami terus memantau perkembangan dan melakukan pendampingan kepada anak yang bersangkutan, termasuk pendampingan psikologis,” ujar Pilar, dikutip Jumat (22/05/2026).

Menurutnya, Pemkot Tangsel menempatkan perlindungan terhadap anak dan perempuan sebagai prioritas utama. Ia menegaskan siapa pun yang terlibat dalam kasus kekerasan maupun dugaan pelecehan terhadap anak harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Siapapun itu, bukan hanya kasus ini saja, semua orang harus melindungi anak-anak, apalagi mereka masih di bawah umur,” katanya.

Pilar Soroti Moral dan Etika Guru

Dalam keterangannya, Pilar juga menyoroti pentingnya batas moral dan etika dalam dunia pendidikan. Ia berharap seluruh tenaga pendidik memahami batas profesional dalam berinteraksi dengan siswa.

“Saya yakin setiap guru punya tujuan baik kepada anak didik. Tapi tentu ada batasan moral dan etika yang harus ditaati secara profesional,” ungkapnya.

Meski SMK berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Banten, Pilar menegaskan persoalan perlindungan anak tetap menjadi perhatian serius Pemkot Tangsel.

“Walaupun ini sekolah swasta tingkat SMK yang kewenangannya di Provinsi Banten, masalah perlindungan anak dan perempuan tetap menjadi concern Pemerintah Kota Tangerang Selatan,” tegasnya.

Satgas PPA Sekolah Diminta Lebih Aktif

Menanggapi kembali munculnya dugaan kasus kekerasan maupun pelecehan di lingkungan sekolah, Pilar menyebut Pemkot Tangsel telah membentuk Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di sekolah-sekolah.

Satgas tersebut melibatkan guru, kepala sekolah, hingga staf sekolah untuk melakukan pengawasan dan pencegahan sejak dini.

“Kami berharap pihak sekolah bisa saling memantau dan saling mengawasi. Kalau ada gejala-gejala yang mengarah pada kekerasan terhadap anak atau pelecehan, harus segera dilaporkan agar bisa diantisipasi sebelum terjadi masalah yang lebih besar,” jelasnya.

Pilar juga mengapresiasi pihak-pihak yang berani melapor dan membantu mengungkap kasus tersebut. Namun, ia menegaskan hasil resmi penyelidikan nantinya akan diumumkan oleh pihak kepolisian.

“Yang paling penting bagi kami adalah pendampingan terhadap anaknya,” pungkasnya.

Fenomena Fatherless Dinilai Jadi Celah Child Grooming

Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Selatan turut menyoroti fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan figur ayah dalam pengasuhan anak.

Faktor ini dinilai menjadi salah satu celah masuknya pelaku kejahatan seksual anak melalui modus child grooming.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AP2KB Kota Tangsel, drg. Mercy Apriyanti, menjelaskan bahwa fatherless tidak selalu disebabkan oleh perceraian atau meninggalnya sosok ayah.

Menurutnya, banyak anak yang secara fisik masih memiliki ayah di rumah, namun tidak mendapatkan kedekatan emosional.

“Bapaknya ada, tapi coba aja ditanyain ukuran bajunya, ditanyain ukuran sepatunya, bahkan tanggal lahir anaknya juga enggak tahu. Fisiknya ada, tapi (perannya) tidak ada. Dan itu banyak terjadi di sekitar kita,” ujar Mercy. Rabu (20/05/2026).

Mercy menilai ketidakhadiran figur ayah secara emosional membuat anak lebih mudah mencari perhatian dan validasi dari luar rumah.

Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan pelaku child grooming, termasuk oleh pelaku kejahatan seksual di lingkungan sekolah maupun melalui media sosial.

“Dia pasti punya trik-trik tertentu untuk grooming, untuk membuat korbannya itu merasa nyaman. Anak merasa ‘Oh, saya lebih diperhatikan ini’. Jadi, dia enggak merasa itu suatu perbuatan yang tidak baik, tapi itu perhatian lebih yang memang harusnya dia dapatkan di rumah,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait KASUS KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Bayu Septianto