Menuju konten utama

Jurnalis Cilik Cilincing Meliput Kampung di Tengah Panas

Di tengah panas ekstrem, Kelas Jurnalis Cilik di Cilincing mengajarkan anak-anak merekam dan menyuarakan persoalan lingkungan di kampung mereka.

Jurnalis Cilik Cilincing Meliput Kampung di Tengah Panas
Header Decode anak Tumbuh di Bawah Cuaca Panas 2. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tak banyak yang bisa Hafiz (11) lakukan ketika cuaca panas ekstrem melanda kawasan tempat tinggalnya di Cilincing, Jakarta Utara. Saban siang, ia lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah. Bermain bersama sang adik menjadi salah satu caranya mengusir rasa bosan.

Bukan karena ia enggan bermain di luar rumah. Cuaca di kawasan pesisir yang panas membuat Hafiz harus membatasi aktivitasnya pada siang hari. Beberapa kali, tubuh Hafiz pun diserang penyakit akibat pitam panas. Alhasil, ia baru bisa bermain di luar rumah pada sore hari, ketika matahari mulai malu-malu bergeser ke arah barat.

“Saya di rumah kalau misalkan tidak ngapa-ngapain, malas aja, Kak. Bosan,” ucap Hafiz saat ditemui Tirto pada Sabtu (25/7/2026).

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Hafiz (11), anak yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, saat diwawancarai oleh Tirto pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Hafiz yang masih duduk di bangku SD itu sebenarnya tak tahan untuk berlama-lama di dalam rumah. Ia senang berinteraksi dengan teman-teman sebayanya sambil melakukan hal yang disukai seperti fotografi.

Kegemaran itu pula yang membuat Hafiz tertarik mengikuti Kelas Jurnalis Cilik, sebuah kegiatan yang mengajarkan dasar-dasar jurnalistik kepada anak-anak di Cilincing. Kegiatan yang berlangsung selama lima bulan itu memadukan pembelajaran jurnalistik dengan praktik langsung di lingkungan tempat tinggal mereka.

Hafiz mengetahui kegiatan tersebut dari seorang teman. Ia kemudian memutuskan untuk bergabung karena tertarik mempelajari hal baru sekaligus menekuni minatnya terhadap fotografi. Namun, ketertarikan Hafiz pada jurnalistik bukan semata-mata untuk mengembangkan kemampuan pribadi. Ia juga ingin menggunakan pengetahuan yang didapatnya untuk menceritakan berbagai persoalan di lingkungan tempat tinggalnya.

Lewat medium jurnalistik, Hafiz berharap masyarakat di Cilincing semakin sadar terhadap berbagai persoalan lingkungan dan sosial yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari perubahan iklim dan cuaca panas ekstrem hingga buruknya pengelolaan sampah.

“Supaya orang sadar tidak membuang sampah sembarangan lagi, [soalnya] ada yang buang [sampah] di laut, banyak yang buang di laut sampahnya,” tuturnya.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal

Suatu hari nanti, Hafiz bermimpi menjadi seorang jurnalis foto yang dapat memberikan dampak. Lewat karya-karya visualnya, ia berharap pemerintah setempat tergugah untuk melakukan perubahan melalui kebijakan yang menempatkan kepentingan masyarakat pesisir sebagai salah satu prioritas.

Mimpi itu terlihat ketika Tirto menyaksikan langsung kegiatan Kelas Jurnalis Cilik pada 25 Juli 2026. Hafiz dan puluhan anak lainnya tampak antusias mengoperasikan kamera yang dipinjamkan oleh penyelenggara kelas.

Lewat lensa kamera, mereka mendokumentasikan kondisi lingkungan tempat tinggal yang jauh dari kata ideal. Mereka memotret berbagai persoalan yang sehari-hari berada di sekitar mereka, mulai dari permukiman pesisir, sampah di pinggir laut, hingga aktivitas industri yang menjadi bagian dari kehidupan warga Cilincing.

Proses belajar mereka terpaksa berlangsung di tengah keterbatasan ruang. Kelas Jurnalis Cilik harus menggunakan area di bawah kolong jembatan sebagai ruang belajar. Para pengajar pun terkadang harus beradu suara dengan deru mesin truk yang melintas tepat di atas kepala mereka.

Keterbatasan ruang tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi anak-anak di Cilincing. Ketika cuaca panas menyengat, ruang terbuka yang tersedia semakin sulit digunakan untuk beraktivitas, terutama pada siang hari.

Soal keterbatasan ruang, kondisi ini sebenarnya tergambar dari ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) publik di Jakarta Utara. Berdasarkan data Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pada 2024, Jakarta Utara hanya memiliki 353 RTH dari total 2.545 RTH yang tersebar di lima kota administrasi.

Jumlah tersebut menjadi yang paling sedikit dibandingkan wilayah lainnya. Jakarta Selatan memiliki 866 RTH, disusul Jakarta Barat dengan 493 RTH, Jakarta Timur 461 RTH, dan Jakarta Pusat 372 RTH.

Cuaca Panas Hambat Aktivitas Anak di Luar Ruangan

Keterbatasan ruang bermain dan belajar bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik. Cuaca panas yang menyengat pada siang hari juga membuat aktivitas di luar ruangan menjadi semakin sulit dilakukan. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang memilih untuk tidak melanjutkan kelas, karena tidak kuat berada di luar ruangan saat cuaca sedang panas-panasnya.

Hazia (12), salah seorang peserta Kelas Jurnalis Cilik, merasakan hal serupa. Cuaca panas membuatnya semakin jarang keluar rumah. Kondisi itu diperburuk oleh kualitas udara di sekitar tempat tinggalnya yang membuat aktivitas di luar ruangan terasa semakin tidak nyaman.

Bagi Hazia, perubahan kondisi lingkungan juga dapat dilihat dari alam di sekitar tempat tinggalnya.

“Dampak panasnya sih [juga buat] kayak pohon-pohonan bisa jadi kering gitu,” kata Hazia kepada Tirto.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Cuaca panas ekstrem yang dihadapi anak-anak turut membuat orang tua khawatir. Teguh, salah satu orang tua dari peserta Kelas Jurnalis Cilik mengatakan, cuaca saat ini memang terasa semakin panas, terutama jika dibandingkan dengan puluhan tahun silam saat ia masih kecil.

Bahkan, menurut Teguh, pendingin ruangan (AC) saja sudah tidak mampu untuk melawan hawa panas yang dirasakan di kawasan sekitar tempat tinggalnya.

Meski begitu, ia tetap mendorong anaknya untuk aktif dalam berkegiatan di luar ruangan seperti salah satunya melalui Kelas Jurnalis Cilik, dengan harapan agar sang anak mampu lebih peka dan peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

“Karena dari awalnya itu emang yang dilihat dari [Kelas Jurnalis Cilik] ini ya [untuk] menyuarakan [isu-isu] lingkungan, isu-isu sekitar, itu pasti,” jelasnya.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal

Pengalaman anak-anak tersebut berlangsung di tengah kondisi panas yang memang terukur di kawasan pesisir Jakarta Utara. Ketika Tirto mengunjungi Cilincing pada 25 Juli 2026, suhu tertinggi di kawasan tersebut mencapai 32,1 derajat Celsius berdasarkan catatan Stasiun Pemantauan Tanjung Priok yang dihimpun Meteostat.

Angka tersebut menjadi gambaran kondisi cuaca ketika kegiatan Kelas Jurnalis Cilik berlangsung. Namun, persoalan panas di Jakarta Utara tidak hanya terjadi pada satu hari.

Data pengamatan cuaca menunjukkan adanya perubahan kondisi termal di pesisir Jakarta Utara dalam jangka panjang. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum tahunan yang tercatat di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok pada periode 1981–2025 menunjukkan tren peningkatan.

Kenaikan suhu minimum tersebut bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan kenaikan suhu maksimum. Suhu minimum meningkat sekitar 0,026 derajat Celsius per tahun, sementara suhu maksimum meningkat sekitar 0,014 derajat Celsius per tahun.

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO ID: 96741. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa peningkatan suhu minimum yang lebih dominan mengindikasikan adanya pemanasan pada malam hari atau nighttime warming. Kondisi tersebut, menurutnya, berkaitan antara lain dengan urbanisasi atau Urban Heat Island (UHI) serta perubahan iklim global di wilayah pesisir Jakarta Utara.

“Secara geografis dan meteorologis, wilayah Jakarta Utara adalah wilayah pesisir yang memiliki tingkat kelembapan lebih tinggi akibat posisinya dekat laut. Faktor topografi ketinggian lokasi Jakarta Utara yang lebih rendah dari wilayah lain juga memungkinkan terjadi akumulasi penumpukan panas dan polusi,” terang Ardhasena kepada Tirto, Rabu (5/8/2026).

Lima Tahun Setelah Mengikuti Kelas, Kharisa Masih Ingin Bercerita

Kondisi lingkungan di Cilincing yang tidak ideal tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk mengenal dan menceritakan kampung tempat mereka tumbuh. Bagi sebagian dari mereka, pengalaman mengikuti Kelas Jurnalis Cilik bahkan terus terbawa hingga bertahun-tahun kemudian.

Kharisa (15) adalah salah satunya. Remaja yang tinggal di Cilincing itu merupakan peserta angkatan kedua Kelas Jurnalis Cilik pada 2021. Saat pertama kali mengikuti kegiatan tersebut, Kharisa masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Lima tahun berlalu, ketertarikannya terhadap jurnalistik justru semakin kuat. Kini, Kharisa semakin mantap bercita-cita menjadi seorang jurnalis yang dapat mewartakan berbagai persoalan di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk isu lingkungan dan kriminalitas.

Baginya, jurnalisme dapat menjadi cara untuk membuat persoalan yang dialami masyarakat pesisir diketahui lebih luas. Ia berharap informasi yang disampaikan melalui berita dapat mendorong para pemangku kebijakan untuk memperhatikan kondisi di wilayah tempat tinggalnya.

“Yang saya harapkan, [lewat jurnalisme], nanti saya bakal ngasih informasi yang ada di lingkungan saya, agar terkenal gitu lho. Harapannya pemerintah bisa mendengar. Apalagi kan kalau misalnya di lingkungan saya kan banyak jalan-jalan yang berlubang, kasihan orang-orang [di sini],” ujar Kharisa saat ditemui Tirto.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Kharisa (15), anak yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, saat diwawancarai oleh Tirto pada Sabtu (25/7/2026).tirto.id/Naufal Majid

Pengalaman tinggal di Cilincing juga membuat Kharisa semakin memperhatikan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Salah satunya adalah cuaca yang terasa semakin panas.

Ia melihat perubahan tersebut bukan hanya dari suhu udara, tetapi juga dari kebiasaan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Menurut Kharisa, anak-anak kini semakin jarang bermain di luar rumah ketika cuaca sedang panas.

Padahal, sekitar satu dekade lalu, ia dan teman-teman seusianya masih lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Mereka bermain bersama, bersepeda, atau menghabiskan waktu di ruang terbuka yang tersedia di sekitar kampung.

“Anak-anak sekarang tuh pada [malas] keluar-keluar rumah, nggak pada keluar rumah. Jadi kayak main game online dan lain-lain,” sebutnya.

Perubahan itu membuat Kharisa melihat persoalan panas ekstrem sebagai bagian dari persoalan lingkungan yang perlu lebih banyak dibicarakan. Ia ingin pengalaman anak-anak di kawasan pesisir tidak berhenti sebagai cerita di lingkungan mereka sendiri.

Melalui jurnalistik, Kharisa berharap semakin banyak masyarakat mengetahui kondisi yang dihadapi warga Cilincing. Ia juga berharap pemerintah mendengar cerita tersebut dan menjadikannya pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Dari Cilincing, Ilyas Mengajarkan Anak-anak Bercerita tentang Kampungnya

Lahir di Cilincing 42 tahun silam, Syamsudin Ilyas melihat langsung bagaimana kerasnya kehidupan di pesisir Jakarta. Banyak anak-anak maupun remaja di sekitarnya kala itu yang melakukan berbagai kenakalan, hingga membuat mereka menjadi dewasa sebelum waktunya.

Kemiskinan juga menjadi permasalahan yang terus menghantui warga di Jakarta Utara, termasuk Cilincing. Bahkan hingga 2024 lalu, Jakarta Utara masih menjadi kota dengan persentase penduduk miskin paling besar di Provinsi DKI Jakarta.

Kelas Jurnalis Cilik

Syamsudin Ilyas (42), inisiator Kelas Jurnalis Cilik, saat bertemu Tirto pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Saat beranjak dewasa, Ilyas kemudian memilih profesi jurnalis sebagai jalan hidupnya. Bagi Ilyas, jurnalisme menjadi jalan terbaik untuk mengangkat berbagai permasalahan yang terjadi di tanah kelahirannya.

Ia pun memiliki cita-cita agar semakin banyak masyarakat di Cilincing yang memiliki pengetahuan jurnalistik dan bisa menceritakan kehidupan sehari-hari mereka kepada khalayak luas. Alasan itulah yang akhirnya membulatkan Ilyas untuk mendirikan Kelas Jurnalis Cilik pada 2018 lalu.

“Saya sendiri warga lokal ya, asli lahir di Cilincing, dan alhamdulillah dikasih sedikit ilmu tentang jurnalistik khususnya foto jurnalistik, akhirnya kita membagikan ilmu tersebut kepada khususnya anak-anak pesisir,” ujar Ilyas saat ditemui Tirto.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Ilyas menjelaskan, selama lima bulan kegiatan berlangsung, anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik akan dibekali materi tentang teknik penulisan berita, dasar-dasar reportase lapangan, sampai dengan pengenalan fotografi.

Metode pembelajaran yang digunakan dalam Kelas Jurnalis Cilik juga beragam, mulai dari pengenalan materi di dalam kelas, praktik langsung di lapangan, lalu diakhiri dengan pameran foto yang dikelola langsung oleh para anak-anak.

Selama delapan tahun Kelas Jurnalis Cilik berjalan, Ilyas mengakui sudah ada banyak perubahan yang tampak dari anak-anak di Cilincing.

Ia mencontohkan, beberapa anak yang pernah mengikuti kegiatan tersebut bahkan mengalami peningkatan dalam kemampuan berkomunikasi, serta lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

“Alhamdulillah anak-anak beberapa bisa membiayai sekolahnya dari kegiatan fotografi gitu, ada yang menjadi fotografer freelance di Kota Tua,” katanya.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Dari Kamera, Anak-anak Belajar Membaca Perubahan Iklim

Tinggal di wilayah pesisir membuat anak-anak Cilincing berhadapan langsung dengan berbagai persoalan lingkungan. Ilyas mengakui, cuaca panas ekstrem menjadi salah satu perubahan yang semakin mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut pula yang membuat kegiatan Kelas Jurnalis Cilik biasanya baru dimulai pada sore hari. Waktu kegiatan disesuaikan agar anak-anak tidak harus terlalu lama berada di bawah terik matahari.

Meski sebagian peserta belum mengenal istilah perubahan iklim atau memahami hubungan antara kenaikan suhu dan perubahan lingkungan, Ilyas berusaha mendorong mereka untuk lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar.

“Karena kita bergelut di dunia jurnalistik, isu-isu lingkungan, isu global warming ya, itu juga kita angkat di kegiatan kami gitu,” ucap Ilyas.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Bagi Ilyas, cara mengenalkan isu tersebut tidak harus selalu melalui penjelasan di dalam kelas. Anak-anak justru diajak melihat langsung lingkungan tempat mereka tinggal, kemudian menentukan persoalan apa yang menurut mereka penting untuk direkam dan diceritakan.

Hasilnya, dalam kegiatan pameran foto yang menjadi penutup rangkaian Kelas Jurnalis Cilik, anak-anak disebut mulai mampu menerjemahkan keresahan mereka terhadap dampak perubahan iklim melalui bahasa visual.

Ia berharap, di kemudian hari, anak-anak di Cilincing akan semakin mahir dalam menarasikan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial yang terjadi di sekitar mereka, terutama melalui medium jurnalisme.

“Mudah-mudahan mereka yang jadi [jurnalis] pun mereka bisa menyuarakan isu-isu lingkungan seperti yang kita lakukan di pesisir Jakarta Utara ini,” tutupnya.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Anak-anak yang Ingin Didengar

Bagi anak-anak di Cilincing, perubahan lingkungan bukan sesuatu yang hanya mereka temui dalam buku pelajaran. Panas yang membuat mereka membatasi aktivitas di luar rumah, sampah yang memenuhi pesisir, hingga polusi yang mereka lihat dan rasakan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, pengalaman tersebut tidak selalu berhenti sebagai keluhan. Melalui Kelas Jurnalis Cilik, anak-anak diberi kesempatan untuk mengubah apa yang mereka lihat menjadi cerita.

Hafiz, misalnya, ingin terus belajar fotografi hingga suatu hari dapat menjadi jurnalis foto. Ia ingin menggunakan kamera untuk merekam persoalan di lingkungan tempat tinggalnya dan membuat lebih banyak orang mengetahui kondisi masyarakat pesisir.

Kharisa juga membawa cita-cita serupa. Lima tahun setelah mengikuti Kelas Jurnalis Cilik, ia masih ingin menjadi jurnalis agar dapat menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi di Cilincing kepada publik dan pemerintah.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal

Keinginan kedua anak tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di kawasan pesisir tidak hanya membutuhkan perlindungan dari dampak perubahan iklim. Mereka juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka tentang lingkungan tempat mereka tumbuh.

UNICEF dalam laporan terkait perlindungan anak dari tekanan panas menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan anak muda, dalam menghadapi risiko perubahan iklim. Pelibatan tersebut bukan hanya soal memberikan pengetahuan, tetapi juga memastikan suara anak diperhitungkan dalam keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Dalam laporannya pada 2026, UNICEF juga menyatakan bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk lingkungan. Oleh karenanya, negara harus mampu mengeluarkan undang-undang, peraturan, kebijakan, standar, pedoman, rencana, strategi, hingga anggaran yang ditujukan untuk melindungi anak dari dampak perubahan iklim.

Negara juga dinilai harus berinvestasi pada pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pengambil keputusan dan ahli. Hal itu ditujukan agar hak-hak anak untuk didengar dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka dapat terjamin.

Di Cilincing, ruang semacam itu sedang dibangun dalam skala kecil melalui Kelas Jurnalis Cilik. Di tengah keterbatasan ruang bermain, panas yang semakin terasa, dan berbagai persoalan lingkungan di sekitar mereka, anak-anak belajar memegang kamera, mengamati kampungnya, lalu menentukan sendiri cerita apa yang ingin disampaikan.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Project Officer Laporiklim, Fajar Sani, menyebut, tanpa adanya keterlibatan pemerintah, masyarakat cenderung akan melakukan adaptasi darurat secara mandiri dalam menghadapi dampak dari cuaca panas ekstrem.

Fajar menerangkan, pemerintah harus serius untuk berinvestasi pada literasi masyarakat dalam mengenali gejala cuaca panas ekstrem. Dengan begitu, dampak kesehatan yang jauh lebih serius akibat cuaca panas ekstrem dapat dicegah.

“Selama pemerintah masih memperlakukan panas ekstrem sebagai cuaca biasa, bukan sebagai ancaman kesehatan publik, literasi warga akan terus jadi lini pertahanan pertama dan satu-satunya,” ujar Fajar kepada Tirto, Rabu (5/8/2026).

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Sampai saat ini, Laporiklim memandang pelibatan masyarakat—khususnya anak-anak—dalam perumusan adaptasi cuaca panas ekstrem masih sangat kurang. Fajar mengatakan, anak-anak nyaris tidak punya ruang bicara sama sekali dalam perencanaan adaptasi iklim kota, padahal mereka merupakan kelompok yang menanggung risiko kesehatan paling besar untuk jangka waktu paling panjang.

“Literasi kesehatan panas di sekolah dan Puskesmas juga penting, [seperti dengan] mengajarkan orang tua dan anak mengenali gejala heat stress sejak dini,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait IKLIM atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Decode
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Alfitra Akbar