tirto.id - Warga Jakarta kini merasakan dampak nyata dari krisis iklim. Mulai dari suhu udara yang semakin panas, cuaca ekstrem yang tak menentu, hingga kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah. Rangkaian dampak iklim itu tak jarang jadi sebab tempat tinggal dan infrastruktur lain rusak karena terendam air.
Cuaca ekstrem yang terjadi di Jakarta ini mengkhawatirkan. Sebab Jakarta sudah menempati peringkat kedua, kota yang menderita dampak paling parah akibat perubahan cuaca ekstrem.
Berdasarkan laporan WaterAid pada Maret 2025, Jakarta menghadapi fenomena climate whiplash, kondisi perubahan ekstrem antara banjir dan kekeringan (serta sebaliknya) yang terjadi secara beruntun.
Contoh fenomena ini terjadi pada Maret 2025, saat kondisi panas kemudian langsung berganti dengan banjir. Kajian berdasarkan data cuaca selama 42 tahun itu berkesimpulan bahwa Jakarta akan kesulitan melakukan upaya mitigasi dan adaptasi krisis iklim.
Cuaca ekstrem dan kualitas air sungai yang buruk ini mengancam kesehatan sebagian warga Jakarta. Sebagian penduduk Jakarta tinggal di daerah bantaran sungai. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada 2020, lebih dari 1/3 atau sebanyak 35,71 persen keluarga di Jakarta Timur tinggal di bantaran sungai. Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan lima kota administratif lainnya di Jakarta.
Keluarga yang tinggal di bantaran sungai terbanyak nomor dua berada di Jakarta Selatan, dengan persentase sebesar 32,82 persen. Sedangkan Jakarta Pusat menjadi wilayah yang paling sedikit memiliki keluarga yang tinggal di bantaran sungai, dengan persentase hanya sebesar 4,46 persen.
Warga yang tinggal di bantaran sungai itu menghadapi risiko berbagai penyakit. Ancaman penyakit itu timbul salah satunya karena tingginya tingkat pencemaran sungai-sungai di Jakarta.
Ancaman ini diperburuk dengan kualitas air sungai yang mengalir di Jakarta. Berdasarkan dokumen “Laporan Pemantauan Kualitas Lingkungan Air Sungai Provinsi DKI Jakarta Tahun 2024”, yang disusun oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, seluruh sungai di Jakarta pada 2024 lalu diketahui telah tercemar berat.
Dengan menggunakan metode STORET—metode penentuan status mutu air dengan perbandingan antara data parameter kualitas air hasil pengukuran dengan baku mutu air sesuai peruntukannya dengan menggunakan sistem nilai yang ditentukan—seluruh sungai di Jakarta menunjukkan kondisi cemar berat.
Tidak tanggung-tanggung, semua sungai di Jakarta memperoleh skor STORET lebih kecil dari atau sama dengan -88. Padahal standar baku mutu STORET adalah skor 0. Sementara skor cemar berat adalah -31.
Cuaca Ekstrem Pemicu Pencemaran Sungai Jakarta
Peneliti bidang ekotoksikologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wulan Koagouw menjelaskan, cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi atau banjir berpotensi membuat limbah di daratan masuk ke sungai, terutama karena adanya aliran air permukaan (run-off).
“Melalui proses leaching, baik yang terjadi di bawah permukaan tanah (underground) maupun di permukaan melalui limpasan air (run-off), terutama saat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi, berbagai polutan dari satu daerah dapat terbawa dan bercampur, lalu terkonsentrasi di sungai," ujar Wulan saat ditemui Tirto di kantornya, Senin (13/1/2026) lalu.
Cuaca ekstrem bukan hanya membuat limbah-limbah yang ada di daratan terbawa ke sungai. Sebaliknya, limbah-limbah yang ada di sungai juga bisa terbawa kembali ke daratan, terutama apabila terjadi banjir akibat luapan air sungai.
Wulan menyebut, air banjir yang berasal dari sungai berpotensi membuat polutan yang ada di dalamnya tertinggal di area permukiman warga, bahkan membuat air tanah yang biasa dipakai untuk sanitasi menjadi tercemar.
"Akibat cuaca ekstrem, dapat terjadi proses pelindian (leaching) dan run-off yang dapat membawa berbagai polutan. Di area permukiman yang menggunakan air tanah (groundwater) sebagai sumber air, kondisi ini berpotensi menyebabkan pencemaran air tanah," terang dia.
DLH DKI Jakarta juga membenarkan bahwa banjir berpotensi membuat limbah-limbah di sungai yang belum terolah bisa terbawa kembali ke daratan dan mencemari lingkungan. Sebab, banjir pada dasarnya bertindak sebagai mekanisme percepatan pencemaran (pollution amplifier).
Pejabat Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, mengatakan, selain banjir, dampak lainnya dari krisis iklim yang memperparah pencemaran di sungai adalah terjadinya kenaikan suhu air. Dengan suhu air di sungai yang meningkat, hal tersebut dapat semakin mengancam kelangsungan hidup biota-biota di dalamnya.
“Suhu air yang lebih tinggi dapat memiliki efek berbahaya pada ekosistem air. Ini dapat mempengaruhi organisme air, termasuk ikan, ganggang, dan plankton, yang memiliki ketergantungan yang sangat besar pada suhu air yang tepat,” ujar Yogi kepada Tirto, Selasa (20/1/2026).
Selain itu, krisis iklim disebutnya juga dapat membuat proses oksidasi polutan dalam air menjadi meningkat, seperti contohnya oksidasi pada logam berat dan bahan kimia berbahaya. “Selain itu, perubahan iklim juga dapat mengganggu pola hujan, yang dapat memengaruhi aliran air dan kualitas air permukaan,” katanya.

Kandungan Obat Diabetes Metformin Ditemukan di Kali Angke
Tak sedikit warga Jakarta yang menjadikan sungai sebagai bagian dari kehidupan mereka. Salah satunya adalah Aris (47), yang telah menjadikan bantaran Kali Angke sebagai tempat tinggalnya sejak awal dekade 1990-an.
Rumah Aris yang berlokasi di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya selepas menikah dengan sang istri, sampai kini ia telah memiliki cucu.
Meskipun kawasan rumahnya kerap dilanda banjir akibat luapan air dari Kali Angke, tetapi Aris mengaku tak bisa pindah dari wilayah tersebut. Sebab, ia merasa sangat nyaman dan memiliki kedekatan emosional dengan wilayah tempat tinggalnya itu.
“Kalau kita pindah, kadang-kadang juga kita beradaptasi dengan lingkungan yang terbaru juga kan. Kalau di sini karena udah nyaman, susah. Banyak orang yang punya [rumah] di Bogor juga pada betahnya di sini saja, walaupun banjir separah apapun gitu loh,” tuturnya kepada Tirto, Senin (26/1/2026).

Di balik hangatnya kehidupan di bantaran Kali Angke, nyatanya sungai yang terbentang dari Bogor sampai utara Jakarta itu masih menyimpan segudang masalah. Pada 2022 lalu, tim peneliti dari BRIN, Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, dan dua universitas di Inggris menemukan adanya kandungan metformin—obat diabetes yang paling umum diresepkan di dunia—di Kali Angke.
Kandungan metformin yang ditemukan di Kali Angke memiliki konsentrasi yang berkisar dari 27 sampai 414 nanogram (ng/L). Meskipun kadar itu masih dianggap relatif moderat secara global, tetapi temuan itu tetap menjadi langkah penting, karena untuk pertama kalinya metformin ditemukan di perairan Jakarta.
Kadar konsentrasi metformin yang ditemukan di Indonesia mirip dengan temuan di Jerman, yang bervariasi antara 35 ng/L sampai 643 ng/L. Turki mencatat konsentrasi metformin yang lebih rendah di perairan permukaan, berkisar antara 0,14 ng/L hingga 14,1 ng/L. Sebaliknya, Kanada melaporkan konsentrasi yang jauh lebih tinggi, dengan kisaran 145 ng/L hingga 10.100 ng/L.
Meskipun kadar metformin yang ditemukan di Kali Angke lebih rendah dari beberapa negara, tetapi temuan itu tidak bisa dianggap sepele. Berbagai studi telah membuktikan bahwa metformin memiliki dampak negatif bagi organisme air maupun manusia.
Riset membuktikan bahwa paparan metformin pada kerang biru (Mytilus edulis) dapat memicu gangguan reproduksi dan kerusakan jaringan tubuh. Paparan metformin pada ikan medaka juga telah menyebabkan efek negatif pada pertumbuhan, metabolisme, termasuk peningkatan produksi beberapa hormon steroid dalam tubuh ikan tersebut.
Apa Bahayanya Kandungan Metformin di Sungai Bagi Manusia?
Tanpa proses degradasi alami, metformin dapat dengan mudah masuk kembali ke rantai makanan dan berdampak pada kesehatan manusia. Penelitian Zheng dkk. (2024) menunjukkan bahwa tidak seperti obat lain, metformin tidak dimetabolisme dalam tubuh, dan hampir semua yang dikonsumsi oleh manusia dilepaskan kembali ke lingkungan perairan melalui urin dan feses.
Zheng dkk. juga telah menemukan kandungan metformin yang terdokumentasikan di berbagai lingkungan perairan seperti air limbah, air permukaan, air tanah, bahkan sampai air minum.
Di instalasi pengolahan air limbah, kontaminan Metformin ini diubah menjadi guanylurea (GUA). Metformin dan GUA kemudian terakumulasi secara biologis dalam spesies ikan, kerang, sampai tumbuhan yang dapat dimakan. Hal tersebut berpotensi mencemari rantai makanan manusia.
GUA bukanlah racun yang langsung mematikan bagi organisme air. Namun, zat ini sangat persisten dan bisa bertahan lama di sungai. Velazquez dkk. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa paparan kronis metformin dan GUA pada ikan dapat memicu anemia dan menyebabkan kerusakan hati.
Penelitian itu juga menyatakan bahwa metformin dan GUA menimbulkan bahaya signifikan bagi organisme air, karena kadar keduanya dalam sistem air dapat mengganggu kesehatan ikan. Meskipun kedua senyawa tersebut menghasilkan respons toksik yang serupa, tetapi GUA telah mengubah nilai semua parameter secara lebih signifikan daripada senyawa induknya, yakni metformin.
Jalur lain masuknya metformin ke lingkungan—atau bahkan lebih buruk lagi ke rantai makanan manusia—adalah melalui penggunaan lumpur limbah sebagai pupuk tanah dan kondisioner untuk pertumbuhan tanaman, atau irigasi lahan pertanian dengan menggunakan air limbah.
Metformin juga bisa kembali masuk ke tubuh manusia lewat jalur ingesti. Pada 2020, penelitian lain dari Zhang dkk. menjelaskan bahwa metformin banyak terdeteksi dalam konsentrasi yang lebih tinggi di air permukaan (8,4–34.000 ng/L) di seluruh dunia, yang banyak digunakan sebagai sumber air minum.
Hasilnya, tim peneliti menemukan bahwa konsentrasi metformin yang berkisar antara 5,1 hingga 1.203,5 ng/L ditemukan dalam air minum perkotaan dari berbagai negara, termasuk Cina dan Amerika Serikat (AS). Banyak negara—termasuk AS dan Cina—menggunakan air permukaan untuk menghasilkan air minum tanpa penyaringan tepi sungai atau proses saluran bawah tanah lainnya, yang sebenarnya bisa mengurangi kadar metformin dari air permukaan.
Meskipun dampak pasti dari paparan metformin kepada manusia masih diteliti lebih lanjut, risiko jangka panjang dari paparan senyawa ini bisa menimbulkan dampak kesehatan serius.
Di Denmark, penelitian yang dilakukan oleh Wensink dkk. menunjukkan hubungan antara pengobatan metformin pada ayah sebelum pembuahan dan cacat lahir genital pada anak laki-laki. Prevalensi cacat lahir mayor ditemukan hampir dua kali lebih tinggi pada ayah yang sedang menjalani pengobatan metformin dibandingkan dengan ayah yang menjalani pengobatan insulin. Prevalensi pada keturunan dari ayah yang diobati dengan metformin adalah sebesar 5,6 persen.
Metformin pada manusia juga disebut dapat mengurangi kadar testosteron yang beredar baik pada pria maupun wanita. Dalam model hewan percobaan, paparan metformin dalam kandungan menginduksi perubahan reproduksi spesifik jenis kelamin pada keturunan tikus jantan dewasa dengan penurunan kesuburan yang dimanifestasikan sebagai penurunan ukuran anak sebesar 30 persen.

Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Iqbal Mochtar, menerangkan, hingga saat ini belum ditemukan adanya laporan kasus gangguan kesehatan akibat paparan metformin pada manusia.
Namun, Iqbal menekankan bahwa paparan jangka panjang metformin—terutama apabila bercampur dengan kontaminan lainnya di sungai—berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tidak langsung bagi manusia.
“Bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, risiko kesehatan tidak hanya berasal dari metformin semata, tetapi dari campuran limbah: limbah domestik, bakteri patogen, bahan kimia industri, pestisida, mikroplastik, dan residu obat lain,” terang Iqbal saat dihubungi Tirto pada Jumat (23/1/2026).
Paparan berulang terhadap air sungai yang tercemar berbagai kontaminan itu juga disebut Iqbal dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna, penyakit kulit, gangguan pernapasan, serta dalam jangka panjang dapat berkontribusi pada penyakit kronis akibat paparan bahan kimia dosis rendah secara terus-menerus.
Ia menambahkan, kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, hingga lansia, memiliki risiko paparan penyakit yang lebih besar. Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa sistem sanitasi dan pengolahan limbah di kawasan bantaran sungai harus benar-benar diperhatikan, guna menekan dampak penyakit yang ditimbulkan.
“Upaya pencegahan risiko kesehatan harus difokuskan pada perbaikan pengolahan air limbah, pengawasan kualitas air sungai, edukasi masyarakat agar tidak membuang obat sembarangan, serta memastikan akses air bersih yang aman bagi warga bantaran,” tutupnya.
Temuan Metformin di Sungai Berkaitan dengan Tingginya Prevalensi Diabetes
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), prevalensi diabetes melitus (DM) di Jakarta menjadi yang tertinggi se-Indonesia.
Pada penduduk Jakarta dengan usia di atas 15 tahun, tercatat sebanyak 3,9 persen di antaranya menderita DM. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase penderita DM secara nasional yang hanya sebesar 2,2 persen.
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2023, juga menunjukkan bahwa prevalensi DM di antara anak-anak meningkat sangat tajam. Sejak 2010 sampai 2023, prevalensi DM tipe-1 pada anak di bawah 18 tahun meningkat hingga 70 kali lipat, dari angka 0,028 per 100.000 jiwa menjadi 2 per 100.000 jiwa.
Hingga Januari 2023, persentase pengidap DM pada anak terbanyak adalah perempuan dengan jumlah 59,3 persen dan sisanya laki-laki. Menurut IDAI, catatan tersebut didasarkan pada kasus yang terlapor dari 13 daerah, termasuk salah satunya Jakarta.
Seperti yang sudah disebut sebelumnya, metformin adalah salah satu obat yang paling banyak dikonsumsi oleh para penderita diabetes. Pada tahun 2030, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa hampir 400 juta orang akan didiagnosis menderita diabetes, dan produksi metformin akan mengalami lonjakan.
Metformin adalah obat golongan biguanid yang paling banyak digunakan sebagai pilihan pertama untuk mengobati diabetes tipe dua. Obat ini memiliki kemampuan luar biasa dalam menurunkan kadar glukosa plasma (anti-hiperglikemik).
Selain diabetes, penelitian menunjukkan metformin bermanfaat untuk kanker (seperti kanker payudara, kolorektal, dan prostat), obesitas, penyakit hati, penyakit kardiovaskular, hingga potensi anti-penuaan.
Meskipun dianggap aman, metformin memiliki beberapa efek samping, seperti gangguan pencernaan (gastrointestinal), malabsorbsi nutrisi, hingga risiko pada janin. Metformin juga memiliki karakteristik yang unik, karena obat ini dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk yang sama sekali tidak berubah setelah dikonsumsi.
Wulan dari BRIN menyebut, karakteristik metformin yang tidak terurai meskipun sudah dikonsumsi oleh manusia membuat setiap orang yang mengonsumsi obat itu berpotensi bisa menjadi sumber pencemaran metformin di sungai.
Oleh sebab itu, menurutnya, penemuan kandungan metformin di sungai sangat berkaitan erat dengan tingginya prevalensi diabetes di Jakarta yang tergolong tinggi.
Limbah Domestik Langsung Mengalir ke Kali Angke
Wulan yang juga menjadi bagian dari tim peneliti penemuan kandungan metformin di sungai Jakarta mengatakan, pada awalnya, ia tertarik untuk menjalankan penelitian tersebut karena pada saat itu belum pernah ada laporan penemuan kontaminan dari obat diabetes itu di perairan Indonesia.
Akhirnya pada 2022 silam, ia dan tim melakukan pengambilan sampel air sungai dari enam titik di Kali Angke. Hasilnya, dari enam titik pengambilan sampel, tiga di antaranya ditemukan kandungan metformin.

Wulan menjelaskan, kadar metformin paling tinggi yang ditemukan di Kali Angke berada di Kelurahan Kedaung Kali Angke, tepatnya di Jalan Daan Mogot, dekat dengan fasilitas Rumah Pompa Green Garden. Buruknya sistem pengolahan limbah domestik diduga menjadi salah satu penyebab tingginya kadar metformin di wilayah tersebut.
"Kawasan ini memang tergolong padat penduduk, dengan beban limbah tidak semata-mata bersumber dari aktivitas domestik, tetapi juga dari berbagai sumber lainnya. Indikasinya tampak pada badan air yang menerima aliran limbah dari berbagai titik masukan," tutur Wulan.
Titik pengambilan sampel dengan temuan kadar metformin paling tinggi itu memang berada di area permukiman padat penduduk. Untuk mengonfirmasi dugaan buruknya sistem pengolahan limbah domestik yang menjadi salah satu penyebab tercemarnya Kali Angke, Tirto menjumpai Enda (41), salah seorang warga yang tinggal persis di pinggir sungai tersebut.

Kepada Tirto, Enda menuturkan bahwa seluruh limbah domestik dari rumahnya langsung mengalir menuju Kali Angke. Menurutnya, limbah itu terlebih dahulu dialirkan ke selokan, sebelum akhirnya berujung di sungai.
“Dari gorongan, ini banyak kan ini selokan-selokan air, di sini, di depan. Langsung ke kali pembuangannya,” ujar Enda saat ditemui Tirto di rumahnya yang berlokasi di Kedaung Kali Angke pada Senin (26/1/2026).
Akibatnya, Enda menyebut kerap melihat sampah-sampah yang melintas di Kali Angke. Meski begitu, sampah-sampah itu rutin diangkut setiap harinya oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), atau biasa dikenal sebagai pasukan oren.
Selain sampah, Kali Angke disebutnya juga seringkali dipenuhi oleh busa-busa putih yang menimbulkan bau tidak sedap. Enda menduga, busa-busa itu berkaitan dengan aktivitas industri sebuah pabrik yang letaknya tidak jauh dari tempat ia tinggal.
“Busa-busanya banyak, baunya minta ampun,” katanya.

Ia menambahkan, selama puluhan tahun tinggal di Kedaung Kali Angke, wilayah itu memang telah menjadi langganan banjir setiap hujan dengan intensitas tinggi datang. Buruknya sistem drainase di lingkungan tempat tinggalnya menjadi penyebab utama terjadinya banjir.
Selain itu, banjir turut diperparah dengan adanya kebocoran dari tanggul pembatas antara Kali Angke dengan kawasan permukiman warga. Saat kawasan rumahnya dilanda banjir pada 23 Januari 2026 lalu, ia juga menemukan sejumlah retakan di tanggul pembatas, yang membuat air sungai mengucur ke area permukiman.
“[Air] meluap dari kali. Bocor. Di sana, di situ [bocornya]. Tiga titik,” sebutnya sambil menunjuk lokasi bocornya tanggul.
Sementara itu, Saniatul Munawaroh (40), warga lainnya yang tinggal berdekatan dengan Enda juga mengaku bahwa selama ini limbah domestik dari rumahnya mengalir langsung menuju Kali Angke.
Bahkan, Saniatul menyebut, limbah domestiknya langsung mengalir tanpa adanya filterisasi terlebih dahulu. Ia menambahkan, hampir seluruh warga di wilayahnya menerapkan sistem pembuangan limbah yang sama.
“Nggak [ada penyaring limbahnya], kebanyakan [warga] sih gitu,” ucapnya.

DLH Jakarta Fokus Tangani Limbah Domestik di Sungai
Yogi dari DLH DKI Jakarta menerangkan, salah satu permasalahan utama yang saat ini fokus untuk ditangani oleh DLH adalah tingginya aktivitas pembuangan limbah domestik atau grey water ke sungai. Grey water itu juga yang disebutnya menjadi faktor terbesar pencemaran sungai-sungai di Jakarta.
“Sebagian besar pencemaran disebabkan oleh limbah domestik grey water, seperti air bekas mandi, cuci, dan memasak yang dibuang tanpa pengolahan,” ujarnya.
Untuk menekan tingginya pencemaran akibat grey water tersebut, saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah memiliki regulasi khusus berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik.
Sedangkan untuk penanganan limbah non-domestik, Yogi menegaskan bahwa DLH terus melakukan pembinaan dan pengawasan kepada para pelaku usaha, agar mereka menerapkan sistem pengolahan limbah sesuai dengan standar.
“DLH meningkatkan penegakan hukum kepada pelaku usaha yang melanggar aturan pengelolaan lingkungan, termasuk sanksi administratif dan tindakan lain apabila tidak memenuhi ketentuan pengolahan limbah,” tegasnya.
Untuk mengidentifikasi sumber pencemaran sungai-sungai di Jakarta, DLH DKI Jakarta telah melakukan pemetaan titik-titik potensi sumber pencemaran. DLH turut melakukan pemantauan secara berkala dan real time terhadap kualitas air tanah, air laut, dan air sungai, untuk mengetahui kondisi kualitas air serta mendapatkan parameter dominan pencemar air.

Yogi menekankan bahwa DLH juga telah mewajibkan pelaku kegiatan usaha di Jakarta untuk mengirimkan sampel limbah setiap tiga bulan sekali ke Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Jakarta.
Guna memastikan pengendalian pencemaran sungai sejalan dengan upaya mitigasi krisis iklim, Yogi menambahkan, DLH juga telah melakukan sejumlah langkah seperti mengoptimalkan revitalisasi tangki septik dan menghapus buang air besar sembarangan (BABS) sampai dengan mengoptimalkan instalasi pengolahan air limbah.
“Sedangkan untuk aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor pengelolaan sumber daya air dengan pelaksanaan sosialisasi program kesehatan masyarakat dan pengelolaan air limbah domestik,” pungkasnya.
=====
Laporan ini adalah hasil liputan Tirto dengan dukungan fellowship Lapor Iklim X Yayasan Pikul.
=====
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































