tirto.id - Banjir masih menjadi masalah langganan bagi Jakarta. Sejak era kolonial sampai kiwari, kota yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa ini kerap terendam banjir setiap hujan dengan intensitas tinggi turun ataupun “air kiriman” datang.
Baru-baru ini, pada akhir Januari 2026, Jakarta kembali terendam banjir. Setelah diguyur hujan lebat sepanjang hari di DKI Jakarta dan sekitarnya, sejak Kamis (22/1/2026), banjir tak terelakkan. Pada Jumat, keesokan harinya, BPBD DKI Jakarta mencatat terdapat 125 RT dan 14 ruas jalan yang terdampak banjir.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memilih strategi pengerukan sungai sebagai jurus utama untuk menangani permasalahan banjir di ibu kota. Ada tiga sungai di Jakarta yang menjadi fokus utama Pemprov DKI dalam melakukan pengerukan atau normalisasi, yakni Sungai Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama.
“Jadi kami sudah memutuskan untuk normalisasi tiga sungai utama. Yang pertama adalah Sungai Ciliwung, yang kedua Kali Krukut, yang ketiga adalah Cakung Lama,” kata Pramono kepada para wartawan di kawasan Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, pada Minggu (25/1/2026), seperti yang dirangkum Tirto.
Sebelumnya, Pramono menyebut bahwa salah satu faktor utama yang menyebabkan permasalahan banjir di Jakarta tidak kunjung selesai adalah karena kebiasaan buruk masyarakat yang tinggal di bantaran sungai.
Sebagian masyarakat disebutnya masih sering membuang sampah secara sembarangan, dan juga menjadikan area bantaran sungai sebagai kawasan permukiman. Padahal, menurutnya hal itu sudah dilarang.
Oleh karenanya, normalisasi sungai dinilai Pramono sebagai langkah vital untuk membenahi berbagai bottleneck yang saat ini menjadi penyebab terjadinya banjir.
“Saya akan lakukan [normalisasi sungai] dan ini pasti nggak populer, karena apa? Harus memindahkan masyarakat, harus menyiapkan rumah susun dan sebagainya, dan pasti nanti di lapangan mau tidak mau, suka tidak suka, pasti ada singgungannya. Sehingga dengan demikian, nggak apa-apa dikritik. Kami tetap akan menangani itu,” tegasnya saat ditemui awak media di Balai Kota Jakarta pada Jumat (23/1/2026).
Pengolahan Limbah Tak Optimal, Buat Sungai Jakarta Tercemar
Selain menjadi penyebab banjir, buruknya sistem pengolahan limbah juga telah membuat sungai-sungai di Jakarta menjadi tercemar. Berdasarkan hasil Pemantauan Mutu Air Semester I 2025 yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), seluruh titik pemantauan yang ditempatkan di sungai-sungai Jakarta menunjukkan terjadinya pencemaran.
KLH juga telah menerbitkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air (RPPMA) untuk memulihkan daerah aliran sungai (DAS) di Ciliwung, Citarum, dan Cipinang. Sampai dengan September 2025, sebanyak 15 dokumen tambahan lainnya juga tengah dikebut penyusunannya, untuk menangani pencemaran sungai-sungai di Jakarta tersebut.
“RPPMA menjadi pedoman teknis dalam pengelolaan sungai, pemantauan kualitas air, serta pencegahan pencemaran secara lintas sektor dan lintas wilayah,” kata Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq, dalam keterangan pers resminya pada Sabtu (27/9/2025) lalu.

Seluruh Sungai di Jakarta dalam Kondisi Tercemar
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat ada 13 ruas sungai dan empat saluran buatan (banjir kanal atau drain) yang mengalir di Jakarta. Sungai Ciliwung menjadi aliran air terpanjang yang membentang di Jakarta, dengan total panjang mencapai 42,6 kilometer.
Hulu dari sungai-sungai yang melintas di dalam wilayah Jakarta sebagian besar terletak di Jawa Barat, sehingga beban yang terbawa dari aliran hulu juga menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan kualitas air sungai di Jakarta.
Adapun pemanfaatan sungai di Jakarta selain sebagai sumber air baku untuk pengolahan air bersih oleh PDAM dan air baku kegiatan industri, juga digunakan untuk aktivitas domestik (mandi, cuci, kakus), kegiatan perikanan, hingga dijadikan sarana transportasi air (water way).
Berbagai pemanfaatan tersebut tentunya akan memberikan pengaruh terhadap penurunan kualitas air sungai terutama dari kegiatan pembuangan limbah cair rumah tangga, industri, maupun kegiatan lainnya.
Berdasarkan dokumen “Laporan Pemantauan Kualitas Lingkungan Air Sungai Provinsi DKI Jakarta Tahun 2024”, yang disusun oleh DLH DKI Jakarta, seluruh sungai di Jakarta pada 2024 lalu diketahui telah tercemar berat.
Dengan menggunakan metode STORET—metode penentuan status mutu air dengan perbandingan antara data parameter kualitas air hasil pengukuran dengan baku mutu air sesuai peruntukannya dengan menggunakan sistem nilai yang ditentukan—seluruh sungai di Jakarta menunjukkan kondisi cemar berat.
Tidak tanggung-tanggung, semua sungai di Jakarta memperoleh skor STORET lebih kecil dari -88. Padahal standar baku mutu STORET adalah skor 0. Sementara batas skor cemar berat adalah -31.
Sederhananya STORET mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas.
Kelas A : baik sekali, skor = 0 → memenuhi baku mutu
Kelas B : baik, skor = -1 s/d -10 → cemar ringan
Kelas C : sedang, skor = -11 s/d -30 → cemar sedang
Kelas D : buruk, skor ≤ -31 → cemar berat
Sementara itu, jika diukur dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP)—metode yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap baku mutu parameter kualitas air yang diizinkan sesuai dengan peruntukannya, melalui indeks rata-rata dan indeks maksimum—sungai-sungai di Jakarta juga cenderung memiliki status mutu cemar ringan hingga cemar berat, dengan kisaran nilai IP sebesar 1,93-17,47.
Ruas-ruas sungai yang tercemar paling buruk selama pemantauan pada 2024 lalu adalah Sungai Cideng, Cipinang, Sunter, Buaran, Cakung dan segmen hilir Kalibaru Timur. Di sungai-sungai tersebut, teramati aktivitas domestik atau industri yang padat dan bahkan sampai mengakuisisi area sempadan sungainya.
Nilai IP tertinggi secara rata-rata selama 2024 terpantau di titik pemantauan Sungai Cipinang (CPN-5) sebesar 12,39. Karakteristik Sungai Cipinang memiliki lebar yang relatif kecil berkisar di angka 8-20 meter dan di sepanjang alirannya dipadati oleh permukiman yang bahkan sampai mengakuisisi area sempadan sungainya.
Seberapa Parah Pencemaran Sungai di Jakarta?
Dalam pencemaran sungai-sungai di Jakarta, fecal coliform dan total coliform menjadi dua parameter yang berada pada posisi teratas sebagai pencemar utama.
Fecal coliform adalah bakteri gram negatif yang secara khusus berasal dari kotoran manusia atau hewan. Jika bakteri ini ditemukan, itu menjadi indikasi kuat bahwa air telah tercemar tinja. Kondisi ini jauh lebih berbahaya karena berkaitan langsung dengan risiko penyakit, seperti diare dan infeksi saluran pencernaan.
Sedangkan total coliform adalah kelompok bakteri yang bisa berasal dari mana saja—dari tanah, tumbuhan, hingga sisa-sisa makhluk hidup. Kehadirannya menandakan bahwa air tersebut tidak sepenuhnya bersih atau higienis. Namun, temuan total coliform belum tentu berarti air tercemar oleh kotoran manusia.
Pada 2024, DLH DKI Jakarta mengumumkan total bakteri fecal coliform tidak memenuhi baku mutu yang ditemukan di sungai Jakarta berada pada kadar yang sangat tinggi. Dengan baku mutu yang ditetapkan sebesar 1.000 MPN/100 ml, kelimpahan bakteri fecal coliform di Sungai Cipinang mencapai 50 juta MPN/100 ml, 50 ribu kali lipatnya.
Untuk kelimpahan bakteri total coliform yang ditemukan sepanjang 2021-2024, angka tertinggi tercatat di Sungai Sepak pada periode pemantauan tahun 2021, yakni mencapai 223,45 juta MPN/100 ml, atau 45 ribu kali lebih tinggi dari baku mutu sebesar 5.000 MPN/100 ml.
DLH dalam laporannya menuliskan, tingginya kelimpahan bakteri fecal coliform berkaitan erat dengan kepadatan penduduk dan kondisi sanitasi di sekitar perairan sungai. Banyaknya penduduk yang langsung menyalurkan buangan dari toilet ke badan sungai tanpa dikelola menggunakan tangki septik (septic tank), serta banyaknya industri dan perkantoran yang menghasilkan debit limbah domestik tinggi, diduga kuat menjadi penyebab masih tingginya kelimpahan bakteri fecal coliform pada air sungai di Jakarta.
Sementara itu, kontaminasi bakteri total coliform di air dapat berasal dari berbagai sumber; yaitu bahan baku yang digunakan dari air yang sudah tercemar, pendistribusian yang kurang baik, serta tempat air yang tidak higienis.
Kondisi sampah di sungai Jakarta juga berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Dari seluruh titik pemantauan DLH di sungai, 98 persen di antaranya ditemukan keberadaan sampah di aliran sungai. Sedangkan 92 persen di antaranya ditemukan sampah di area sempadan sungai.
Sepanjang 2021-2023, timbulan sampah rata-rata bulanan dari hasil penanganan sampah di perairan Jakarta mencapai 2.204-8.806 meter kubik untuk sampah organik, 31.669-33.917 kilogram untuk sampah anorganik, 4.973-7.780 kilogram untuk biokonversi maggot, dan 31.914-38.589 meter kubik untuk residu.
Aliran Limbah Domestik Langsung Masuk ke Sungai
Sebagian air limbah yang dihasilkan dari aktivitas manusia merupakan air limbah domestik. Penelitian Ghaitidak dan Yadav (2013) menyatakan bahwa hingga 90 persen konsumsi air bersih oleh manusia dibuang sebagai air limbah.
Air limbah domestik biasanya dibagi menjadi dua kategori, yaitu air hitam (black water) dan air abu-abu (grey water). Black water adalah air buangan dari toilet yang mengandung kandungan organik, nitrogen, dan fosfor yang tinggi. Sedangkan grey water adalah semua air limbah lainnya selain dari toilet, termasuk dari wastafel, pancuran, dan cucian.
Volume grey water satu hingga tujuh kali lebih tinggi daripada black water dan mengandung senyawa organik yang relatif rendah, tetapi beberapa di antaranya dianggap persisten.
Sekitar 75 persen air limbah domestik dihasilkan dari bangunan tempat tinggal atau rumah tangga, sedangkan sisanya berasal dari gedung perkantoran, area komersial, sampai fasilitas umum.
Hampir semua kota besar di negara maju memisahkan pengelolaan air hujan dengan air limbah domestik, baik grey water maupun black water. Namun, di Indonesia—termasuk Jakarta—air hujan dan limbah cair domestik umumnya disatukan dalam satu saluran drainase terbuka.
Dalam artikelnya di Jurnal "Environmental Science and Pollution Research", Widyarani dkk. menyebut air limbah domestik kemudian dapat mengalir ke air tanah dan air permukaan melalui infiltrasi, kebocoran, atau pembuangan langsung. Di daerah perkotaan, pencemaran limbah domestik di lingkungan utamanya disebabkan oleh pengolahan black water di tempat yang tidak memadai dan pembuangan langsung grey water ke badan air.
Dengan kurangnya fasilitas pengolahan air limbah, maka laju masuknya limbah domestik ke sungai-sungai akan semakin sulit diredam. Penduduk Jakarta sampai dengan 2023 tercatat berjumlah 10,89 juta jiwa. Sedangkan kapasitas pelayanan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang disediakan oleh Pemprov DKI melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) hanya mampu menampung 136 ribu jiwa saja.
Dengan angka tersebut, maka layanan pengolahan air limbah domestik milik Pemprov DKI baru hanya mampu melayani 1,25 persen warga Jakarta. Nilai tersebut adalah jumlah yang sangat minim dan tidak mengherankan apabila pencemaran di sungai Jakarta masih terjadi.

Fakta di lapangan pun menunjukkan pola yang sama. Hasil reportase lapangan yang kami lakukan di kawasan bantaran Kali Angke, tepatnya di Kelurahan Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat, terlihat bagaimana sistem pengolahan limbah domestik warga-warga yang tinggal di sana.
Enda (41), salah seorang warga yang tinggal di kawasan tersebut menuturkan bahwa seluruh limbah domestik dari rumahnya langsung mengalir menuju Kali Angke. Menurutnya, limbah itu terlebih dahulu dialirkan ke selokan, sebelum akhirnya berujung di sungai.
“Dari gorongan, ini banyak kan ini selokan-selokan air, di sini, di depan. Langsung ke kali pembuangannya,” ujar Enda saat ditemui Tirto di rumahnya yang berlokasi di Kedaung Kali Angke, Senin (26/1/2026).
Akibatnya, Enda menyebut kerap melihat sampah-sampah yang melintas di Kali Angke. Meski begitu, sampah-sampah itu rutin diangkut setiap harinya oleh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), atau biasa dikenal sebagai pasukan oren.
Selain sampah, Kali Angke disebutnya juga seringkali dipenuhi oleh busa-busa putih yang menimbulkan bau tidak sedap. Enda menduga, busa-busa itu berkaitan dengan aktivitas industri sebuah pabrik yang letaknya tidak jauh dari tempat ia tinggal.
“Busa-busanya banyak, baunya minta ampun,” katanya.

Ia menambahkan, selama puluhan tahun tinggal di Kedaung Kali Angke, wilayah itu memang telah menjadi langganan banjir setiap hujan dengan intensitas tinggi datang. Buruknya sistem drainase di lingkungan tempat tinggalnya menjadi penyebab utama terjadinya banjir.
Selain itu, banjir turut diperparah dengan adanya kebocoran dari tanggul pembatas antara Kali Angke dengan kawasan permukiman warga. Saat kawasan rumahnya dilanda banjir pada 23 Januari 2026 lalu, ia juga menemukan sejumlah retakan di tanggul pembatas, yang membuat air sungai mengucur ke area permukiman.
“[Air] meluap dari kali. Bocor. Di sana, di situ [bocornya]. Tiga titik,” ujarnya menunjuk lokasi bocornya tanggul, tak jauh dari posisi kami berbincang.
Sementara itu, Aris (47), warga lainnya yang tinggal berdekatan dengan Enda juga mengaku bahwa selama ini limbah domestik dari rumahnya mengalir langsung menuju Kali Angke.
Aris menerangkan, limbah domestik yang keluar dari rumahnya terlebih dahulu melewati sebuah penyaring, yang membuat beberapa sampah tidak langsung keluar ke sungai. Air limbah itu kemudian mengalir melalui sebuah pipa yang langsung berakhir di badan air Kali Angke.
“Langsung dibikin pipa ke dalam sana Bang. Di situ ada gutter [talang]. Pembuangan gutter ke kali,” cerita dia kepada Tirto.

Meskipun pembuangan limbah domestik yang tidak terolah dengan baik itu rentan menimbulkan risiko penyakit, beruntung selama tinggal di kawasan Kedaung Kali Angke dalam 30 tahun terakhir, Aris mengaku tidak pernah mengalami penyakit apapun.
“Kita juga kan saling jaga lingkunganlah istilahnya, kerja bakti, bersih-bersih, supaya tidak ada penyakit lah, gitu kan,” ucapnya.
Penelitian Oktavia dkk. pada 2017 menunjukkan bahwa pencemaran mutu air di Kali Angke kian meningkat di area hilir sungai. Hulu sungai yang berada di Bogor memiliki tingkat pencemaran yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan hilir sungai di Jakarta Barat.
Hal itu terjadi karena semakin ke hilir, permukiman yang berdiri di sepanjang DAS Kali Angke semakin padat. Selain itu, di area hilir, pencemar yang masuk ke Kali Angke juga semakin banyak, sampai membuat kualitas airnya sudah melebihi baku mutu air yang ditetapkan.
Ancaman Penyakit Intai Penduduk di Bantaran Sungai
Tingginya tingkat pencemaran di sungai-sungai Jakarta membuat kehidupan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dibayang-bayangi oleh risiko berbagai penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne diseases). Diare, tifoid, dan leptospirosis beberapa contoh penyakit tersebut.
Khan dkk. (2013) melalui penelitiannya menyatakan bahwa sumber utama penyakit yang ditularkan melalui air seperti gastroenteritis, disentri, diare, dan hepatitis adalah hasil dari pencemaran air oleh bakteri coliform.
Sementara itu, sebesar 88 persen penyakit diare pada anak-anak disebabkan oleh kurangnya pasokan air, sanitasi, dan kebersihan. Paparan air dan makanan yang terkontaminasi mikroba juga membuat risiko diare pada anak meningkat, dan berujung pada kekurangan gizi serta penurunan daya tahan tubuh.

Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Iqbal Mochtar, menerangkan, masyarakat yang tinggal di bantaran sungai memiliki ragam risiko penyakit yang mengancam kesehatan mereka.
Umumnya, risiko penyakit itu meningkat akibat campuran berbagai limbah yang ditemukan di sungai, seperti limbah domestik, bakteri patogen, bahan kimia industri, pestisida, mikroplastik, sampai residu obat.
“Paparan berulang terhadap air sungai yang tercemar dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna, penyakit kulit, gangguan pernapasan, serta dalam jangka panjang berpotensi berkontribusi pada penyakit kronis akibat paparan bahan kimia dosis rendah secara terus-menerus,” kata Iqbal saat Tirto hubungi pada Jumat (23/1/2026).
Iqbal menambahkan, risiko penyakit terhadap masyarakat yang tinggal di bantaran sungai meningkat lebih tinggi pada kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan juga lansia.
Ia menekankan pentingnya sistem pengelolaan limbah dan sanitasi yang baik dan bersih, guna meredam risiko penyakit yang mengintai masyarakat di bantaran sungai.
“Upaya pencegahan risiko kesehatan harus difokuskan pada perbaikan pengolahan air limbah, pengawasan kualitas air sungai, edukasi masyarakat agar tidak membuang obat sembarangan, serta memastikan akses air bersih yang aman bagi warga bantaran,” pungkasnya.
Upaya Pemda Jakarta Redam Pencemaran Sungai
DLH DKI Jakarta mengatakan bahwa salah satu permasalahan utama yang saat ini tengah fokus untuk ditangani adalah tingginya aktivitas pembuangan limbah domestik atau grey water ke sungai. Grey water itu juga yang disebut menjadi faktor terbesar pencemaran sungai-sungai di Jakarta.
“Sebagian besar pencemaran disebabkan oleh limbah domestik grey water, seperti air bekas mandi, cuci, dan memasak yang dibuang tanpa pengolahan,” ujar Pejabat Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, kepada Tirto, Selasa (20/1/2026).
Untuk menekan tingginya pencemaran akibat grey water tersebut, saat ini Pemprov DKI Jakarta telah memiliki regulasi khusus berupa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 10 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik.
Sedangkan untuk penanganan limbah non-domestik, Yogi menegaskan bahwa DLH terus melakukan pembinaan dan pengawasan kepada para pelaku usaha, agar mereka menerapkan sistem pengolahan limbah sesuai dengan standar.
“DLH meningkatkan penegakan hukum kepada pelaku usaha yang melanggar aturan pengelolaan lingkungan, termasuk sanksi administratif dan tindakan lain apabila tidak memenuhi ketentuan pengolahan limbah,” tegasnya.

Untuk mengidentifikasi sumber pencemaran sungai-sungai di Jakarta, DLH telah melakukan pemetaan titik-titik potensi sumber pencemaran. DLH turut melakukan pemantauan secara berkala dan real time terhadap kualitas air tanah, air laut, dan air sungai, untuk mengetahui kondisi kualitas air serta mendapatkan parameter dominan pencemar air.
Yogi menekankan bahwa DLH juga telah mewajibkan pelaku kegiatan usaha di Jakarta untuk mengirimkan sampel limbah setiap tiga bulan sekali ke Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Jakarta.
Guna memastikan pengendalian pencemaran sungai sejalan dengan upaya mitigasi krisis iklim, Yogi menambahkan, DLH juga telah melakukan sejumlah langkah seperti mengoptimalkan revitalisasi tangki septik dan menghapus buang air besar sembarangan (BABS) sampai dengan mengoptimalkan instalasi pengolahan air limbah.
“Sedangkan untuk aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor pengelolaan sumber daya air dengan pelaksanaan sosialisasi program kesehatan masyarakat dan pengelolaan air limbah domestik,” katanya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































