Menuju konten utama

Hidup Mati di Antara Sampah dan Asap TPA

Kisah warga yang bertahan hidup di sekitar TPA terbakar, menghadapi asap, penyakit, dan ancaman dari sistem pengelolaan sampah yang buruk.

Hidup Mati di Antara Sampah dan Asap TPA
Header Decode Api di Gunung Sampah. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menjelang petang, Darsini berjalan meninggalkan gunungan sampah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumur Batu, Kota Bekasi. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 17.09 WIB. Di tubuhnya, sebuah tas selempang menggantung melintang, sementara tas jinjing bertengger di pundak kiri. Tangan kanannya menggenggam gancu sebuah alat sederhana yang sejak subuh menjadi perpanjangan tangannya untuk mengorek tumpukan sampah dan mencari plastik yang masih bernilai jual.

Sejak fajar menyingsing, perempuan asal Indramayu itu telah menyusuri gunungan sampah bersama suaminya, Kriyana. Selama lebih dari dua dekade, keduanya menggantungkan hidup dari memulung di TPA Sumur Batu. Setiap botol plastik, kemasan bekas, hingga pecahan botol kaca yang mereka temukan akan dikumpulkan, lalu dijual kepada pengepul.

Rumah mereka tak jauh dari lokasi itu. Hanya sebuah bedeng sederhana yang berdiri di antara deretan hunian para pemulung lain. Sore itu, Darsini pulang lebih dulu, sementara Kriyana masih bertahan di gunung sampah untuk mengumpulkan botol plastik, kemasan plastik, hingga botol beling. Seluruh hasil pungutan itu kemudian dijual kepada pengepul.

"Dulu saya nyari emberan [sampah perabot rumah tangga], sekarang sudah enggak boleh sama suami. Mending nyari plastik karena lebih cepat dapat uang. Emberan cuma Rp800 sekilo, lama dapatnya. Sekarang saya cari kresek tiap pagi dan sore. Jam lima sudah disuruh pulang buat masak. Berangkatnya dari subuh," kata Darsini saat ditemui langsung reporter Tirto di TPA Sumur Batu, Senin (27/7/2026).

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Suasana di TPA Sumur Batu Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Api Membara di TPA Sumur Batu

Rutinitas itu nyaris tak berubah pada Kamis (16/7/2026). Saat malam mulai turun, aktivitas memulung masih berlangsung. Sejumlah pemulung tetap mengorek tumpukan sampah, sementara alat berat sesekali bergerak memindahkan timbunan baru.

Sekitar pukul 21.56 WIB, suasana mendadak berubah. Api muncul dari salah satu tumpukan sampah di sisi luar area TPA. Kobaran itu perlahan membesar hingga melahap area sekitar 300 meter persegi, menurut data pemadam kebakaran.

Menurut Darsini, TPA Sumur Batu dapat diakses pemulung selama 24 jam. Karena itu, saat kebakaran terjadi pada malam hari, ia, suaminya, dan sejumlah pemulung lainnya masih berada di area pembuangan sampah.

Baginya, kebakaran tersebut tidak membawa dampak berarti selain menjadi tontonan. Alih-alih menyaksikan kobaran api, Darsini memilih mengajak suaminya tetap fokus mengais sampah plastik yang dapat dijual.

"Iya tadi mah enggak ngorek-ngorek nganunin ngelihatin, ada ngelihatin bakaran 'Ah ayolah biarin apa, ngebakaran mah kita enggak dapet,'. Alhamdulillah dapet tujuh karung berdua. Ngapain ngelihatin itu sampah lah ngeber abisnya enggak dapet barang," tutur Darsini.

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Darsini, seorang pemulung yang biasa memungut sampah plastik di TPA Sumur Batu, Bekasi, menceritakan mengenai peristiwa kebakaran dan kesehariannya. tirto.id/Ayu Mumpuni

Tidak ada penutupan area saat itu, kata Darsini. Dia dan suaminya tetap mengorek sampah di dekat eskavator karena menurutnya, "harta karun" banyak ditemukan di sana.

Asap dari sisa bakaran pun diakui Darsini tidak mengepul pekat. Pemadaman juga dilakukan oleh pihak pengelola, bukan pemadam kebakaran. Sampah yang terbakar pun, kata Darsini, memang berdekatan dengan ilalang kering. Sehingga, api sempat membesar.

"Iya. Bukan numpuk sampah bukan, ini kayak anu kayak pohon kayak kering, ada yang buang rokok ya ini ada tumpukan mainan tuh udah habis. Emberan habis," ucap Darsini.

Kebakaran Berulang di TPA Sumur Batu

TPA Sumur Batu merupakan TPA sampah milik Pemerintah Kota Bekasi di Kecamatan Bantar Gebang, Jawa Barat. TPA seluas sekitar 19-23 hektare ini beroperasi sejak 2001 dan melayani sampah dari 12 kecamatan di Kota Bekasi.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa, Kota Bekasi menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah per hari. Seluruhnya ditampung di TPA Sumur Batu yang hingga kini masih menggunakan sistem open dumping, yakni menumpuk sampah di lahan terbuka sebelum diratakan dengan alat berat. Sampah yang masih bernilai ekonomi kemudian dipungut oleh para pemulung.

Akumulasi sampah selama lebih dari dua dekade membuat TPA Sumur Batu berstatus overload. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi pada awal 2026 menyatakan kapasitas TPA telah terlampaui.

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Suasana di TPA Sumur Batu Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Kondisi tersebut memicu berbagai persoalan. Dalam beberapa tahun terakhir, TPA Sumur Batu beberapa kali mengalami longsor. Pada 2025, longsor diklaim terjadi akibat volume sampah yang melebihi kapasitas. Kebakaran juga kerap terjadi. Menurut Darsini, pemulung yang telah lama bekerja di lokasi itu, salah satu kebakaran bahkan pernah menghanguskan gubuk dan sepeda motor milik seorang pemulung. Ia menduga penyebabnya adalah korsleting listrik.

Penelusuran Tirto menunjukkan kebakaran di TPA Sumur Batu telah berulang sejak 2008. Saat itu, sekitar 1,9 hektare Zona 3 TPA terbakar dan diduga dipicu gas metana yang terakumulasi akibat sistem open dumping.

Pantauan Tirto juga menunjukkan TPA Sumur Batu berdampingan langsung dengan permukiman warga. Bedeng-bedeng para pemulung dan lapak pengepul berdiri di tepi kawasan pembuangan sampah. Lokasinya pun hanya sekitar dua kilometer dari TPA Bantar Gebang yang juga masih menggunakan sistem open dumping.

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Suasana TPA Bantar Gebang dengan aktivitas eskavator yang masih melakukan pengerukan sampah hingga sore hari, Senin (27/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Api Juga Membara di TPA Cipayung dan TPA Jatiwaringin

Kebakaran juga terjadi di TPA Cipayung, Depok, pada hari yang sama sekitar pukul 19.00 WIB. Api yang menyala sekitar 30 menit itu tidak menghebohkan warga maupun pemulung.

Berbeda dengan TPA Sumur Batu, operasional di TPA Cipayung dibatasi hingga sekitar pukul 17.00 WIB sehingga saat kebakaran terjadi tidak ada lagi aktivitas pemulung. Petugas keamanan TPA menyebut api cepat diketahui karena muncul di bagian bawah timbunan sampah dan segera dipadamkan petugas pemadam kebakaran yang posnya berada tak jauh dari lokasi.

Amir Mahmud, pemulung di TPA Cipayung, mengatakan kebakaran tidak menimbulkan kepulan asap ke permukiman dan aktivitas memulung kembali normal keesokan harinya. Bagi Amir, kebakaran itu tidak mengubah apa pun. Esok paginya ia tetap datang seperti biasa, menyusuri gunungan sampah untuk mencari plastik yang bisa dijual. Selama masih diperbolehkan bekerja, selama itu pula ia akan tetap memungut sampah.

"Nggak tahu juga, tahunya denger ada orang ngomong TPA kebakaran. Ya nggak sampai gede apinya segitu doang. Kalau masalah kerja doang saya tahu," ujar Amir saat ditemui Tirto, Rabu (22/7/2026).

Aksi di gunung sampah TPA Cipayung Depok

Relawan membentangkan spanduk di area tumpukkan sampah TPA Cipayung, Depok, Jawa Barat, Rabu (31/5/2023). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/nym.

Tiga pekan sebelumnya, tepatnya Selasa (30/6/2026), kebakaran besar melanda TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, hingga Sabtu (4/7/2026), sedikitnya 102 warga terpaksa mengungsi. Penanganan medis diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Kebakaran yang melahap sekitar 15 hektare timbunan sampah itu baru berhasil dipadamkan pada 10 Juli 2026. Selama proses pemadaman, warga setiap hari harus menghadapi kepulan asap, sementara tiga helikopter water bombing terus menyiram area kebakaran.

Edi Ubaidillah, warga yang telah 38 tahun tinggal sekitar 200 meter dari TPA Jatiwaringin, mengaku heran dengan besarnya kebakaran kali ini. Menurutnya, api kecil memang kerap muncul dari timbunan sampah, tetapi tidak pernah sebesar peristiwa tersebut.

"Ya sepertinya sih ada aja ya karena pemulung ini biasanya ngambil barang-barang yang besi gitu kan, jadi kalau dibakar kan agak angus jadi itunya kan enak tuh besi pada nempel kawat gitu. Ya kan. Kalau masih belum kebakaran dia kan susah. Tapi adapun sering ada api, tapi nggak kayak gini," kata Edi saat ditemui reporter Tirto, Senin (6/7/2026).

Kondisi Kebakaran TPA Jatiwaringin

Edi Ubaidillah selaku warga Kampung Pulo Babulak, RT 002/01, Desa Rajeg Mulya, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. tirto.id/Ayu Mumpuni

Sesak Napas, Mata Perih Hingga Kepala Pusing

Pantauan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin masuk kategori berbahaya. Konsentrasi PM2,5 bahkan melampaui 1.000 μg/m³, memaksa puluhan keluarga mengungsi dan memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

"KLH/BPLH terus melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi. Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada kategori berbahaya dengan nilai melebihi 1.000 μg/m3," tulis Kementerian Lingkungan Hidup dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7/2026).

Bagi warga di sekitar TPA Jatiwaringin, asap terasa seperti kabut yang tak kunjung hilang. Data RT setempat menunjukkan mayoritas warga yang dirujuk ke puskesmas akibat ISPA merupakan lansia. Bahkan, berada di dalam rumah tidak sepenuhnya melindungi mereka dari paparan asap.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin

Asap tebal dari tumpukan sampah yang terbakar di di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Kemal Raditya Pasha/Magang Tirto.id

Edi Ubaidillah merasakan situasi itu setiap hari selama kebakaran berlangsung. Demi melindungi keluarganya, ia menutup ventilasi rumah dengan kain basah agar asap tidak langsung masuk ke dalam ruangan.

"Saya ke dapur aja udah, makanya tuh di dalam itu saya kasih kain dibasahin, ventilasi itu, biar asapnya nyangkut di kain. Soalnya itu punya yang 11 tahun tuh bungsu tuh. Entar nih hilang, habis ashar nyerang lagi, magrib turun lagi, pokoknya masyarakat komplain," tutur Edi.

Menurut Edi, berada di luar rumah lebih dari 10 menit sudah membuat mata perih dan kepala pusing. Ia juga mengaku pencemaran dari TPA telah lama memengaruhi kualitas air di lingkungannya. Air sumur tak lagi layak digunakan untuk mandi maupun memasak sehingga keluarganya harus membeli air galon, termasuk untuk memandikan anaknya yang sempat mengalami iritasi kulit.

"Kalau yang dampak lain sebelum ini sih seperti air ya, mandi karena saya punya anak kecil, sempat juga anak saya jadi merah-merah kulitnya sampai saya mandiin anak tuh pakai galon gitu. Jadi ya pengeluaran juga harus ekstra kan gitu, sedangkan pendapatan di masyarakat seperti kayak saya waduh sangat lelah gitu," ucap Edi.

Kebakaran di TPA Jatiwaringin

Petugas pemadam kebakaran sedang melakukan pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Kemal Raditya Pasha/Magang Tirto.id

Tak jauh berbeda, warga di perumahan Pondok Permata Rajeg Mulya juga merasakan dampak asap dari kebakaran TPA Jatiwaringin. Meski jarak TPA ke perumahan ini sekitar 1 km, namun angin tetap membawa asap sisa bakaran dengan pekat.

Berdasarkan pantauan langsung Tirto, terlihat pintu-pintu rumah warga yang mayoritas ditutup, meski sejumlah anak masih asik bermain di luar dengan menggunakan masker. Sigit Triyawan selaku Ketua RT 04 Perumahan Pondok Permata, Rajeg Mulya, menyebut bahwa warganya sudah mulai terbiasa dengan asap ini, meski pembatasan aktivitas masih terjadi.

Sigit yang juga pedagang mie ayam menyebut bahwa dirinya juga tetap beraktivitas menjajakan dagangannya di jarak 500 meter dari lokasi. Pembeli pun tetap banyak dan membuatnya kewalahan karena juga harus membagi waktu mengurus warganya.

Bagi warganya, dampak yang sangat terasa adalah kepada lansia. Dia beberapa kali harus membawa warga untuk mendapat penanganan medis karena sesak nafas.

Meski demikian, sebagian besar warga memilih bertahan di rumah. Ketidaknyamanan berada di pengungsian karena terlalu ramai, membuat sebagian warga lebih memilih ke rumah sanak saudara.

"Iya, sampai sekarang masih ada yang ngungsi. Tadi didata masih masih ada, cuma sudah berkurang sih dari sebelumnya, sudah mulai berkurang," tutur dia saat ditemui Tirto di rumahnya.

Kondisi Kebakaran TPA Jatiwaringin

Sigit Triyawan selaku RT 04 Perumahan Pondok Permata, Rajeg Mulya. tirto.id/Ayu Mumpuni

Gangguan kesehatan juga dialami para pemulung yang setiap hari bersentuhan langsung dengan sampah. Penyakit kulit menjadi keluhan yang paling umum.

Darsini, pemulung di TPA Sumur Batu, menunjukkan bekas luka dan koreng di pergelangan tangannya. Ia mengaku gatal-gatal sudah menjadi bagian dari pekerjaannya. Sepulang memulung, ia hanya mandi dan menggunakan losion untuk meredakan rasa gatal.

Ia mengaku sudah terbiasa dengan gatal-gatal yang dialaminya usai memungut sampah plastik di gundukan TPA Sumur Batu, Bekasi. Kata dia, mandi dan menggunakan hand body adalah cara ampuh yang selalu dilakukan untuk mengatasi gatal itu.

"Enggak minum remasil (obat pereda nyeri) kek mau minum bodrex udah lah bodo, bodo amat mau gatal-gatal kagak udah biasa mah enggak biasa gatal enggak biasa," cerita Darsini ke reporter Tirto.

Penyakit kulit ini juga diakui dirasakan oleh Amir yang kesehariannya memulung di TPA Cipayung, Depok. Sekujur badannya selalu gatal dan ingin sekali menggaruknya.

Amir menunjukkan, bagian koreng di perutnya yang paling parah. Tetap gatal meski sudah diberikan obat dan mengikuti anjuran dokter untuk menggunakan pakaian tertutup saat memulung di gundukan sampah.

"Kalau lagi begini sih enggak gatal. Tapi habis pulang kerja dan mandi, rasanya langsung gatal banget, kayak dikerubuti ulat. Digaruk terus. Di perut juga ada koreng, parah banget. Malu kalau diperlihatkan. Ini koreng banget jadi koreng begini sama kayak uler," kata Amir saat bercerita kepada Tirto.

Keluhan gatalnya itu rutin diperiksa kepada dokter yang melakukan pelayanan keliling setiap hari Rabu, kata Amir. Namun dia sadar bahwa gatal itu baru akan hilang sata dia menghindari sampah. Sayangnya, dia tetap harus menghasilkan Rp50 ribu setiap harinya dengan cara memungut sampah plastik dan dijual ke penampung.

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Suasana TPA Jatiwaringin usai peristiwa kebakaran yang terjadi selama 11 hari. (FOTO/Dokumentasi Koalisi Persampahan)

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebakaran di TPA memiliki dampak kesehatan yang lebih serius dibandingkan kondisi TPA tanpa kebakaran. Pembakaran sampah menghasilkan asap yang mengandung partikulat halus (PM 2.5), senyawa organik volatil (VOC), hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), dioksin, serta berbagai gas beracun yang dapat terhirup oleh warga sekitar.

Paparan polutan tersebut berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan, iritasi mata, sakit kepala, pusing, hingga sesak napas, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis.

Penelitian Ikbal et al. (2020) terkait kebakaran TPA Tamangapa di Makassar menemukan bahwa warga yang tinggal dalam radius hingga 500 meter mengalami keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, sakit kepala, pusing, dan iritasi mata akibat paparan asap serta bau menyengat.

Temuan serupa diperkuat studi epidemiologi Wakhisi et al. (2026) di Inggris yang menunjukkan bahwa kebakaran TPA berulang berkaitan dengan peningkatan sekitar 35 persen kunjungan layanan kesehatan pada pasien dengan penyakit pernapasan kronis.

Ficer Kebakaran TPA dan Tata Kelola Sampah

Suasana TPA Bantar Gebang dengan aktivitas eskavator yang masih melakukan pengerukan sampah hingga sore hari, Senin (27/7/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Dampak Kesehatan Jangka Panjang

Ketua Majelis Kehormatan Kesehatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa dampak kesehatan jangka panjang akibat kebakaran TPA tidak dapat langsung disimpulkan hanya dari satu kejadian paparan. Menurutnya, efek kronis harus dibuktikan melalui paparan yang terjadi berulang dan terus-menerus pada orang yang sama.

"Kalau bentuknya tidak terjadi terus-menerus seperti itu, maka sulit untuk melihat adanya dampak kronis. Dampak itu akan terjadi pada orang yang sama yang terkena paparan yang sama secara terus-menerus. Bukan sekarang kena, nanti enam bulan lagi ada—itu bukan dampak kronis namanya, tapi dampak akut sesaat," ujar Tjandra kepada reporter Tirto, Kamis (23/7/2026).

Meski demikian, paparan asap kebakaran TPA tetap berisiko bagi kelompok tertentu, terutama warga dengan riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Paparan berulang dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi penyakit tersebut.

Pada kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, misalnya, asap mengepung permukiman selama sekitar 11 hari. Peningkatan kasus ISPA pun terjadi pada periode tersebut. Menurut Tjandra, ISPA merupakan infeksi akut yang muncul ketika daya tahan tubuh menurun akibat paparan asap sehingga bakteri atau virus lebih mudah menginfeksi saluran pernapasan. Dalam kondisi akut, penyakit ini dapat sembuh atau berkembang menjadi pneumonia.

Dampak kebakaran sampah juga tidak terbatas pada saluran pernapasan. Pembakaran menghasilkan gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO₂), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), serta partikel halus PM2.5 dan PM10.

Paparan tersebut berdampak pada tiga media lingkungan. Di udara, asap dapat mengiritasi paru-paru, mata, dan kulit. Di air, partikel beracun yang mengendap dapat mencemari sumber air minum, ditambah rembesan lindi dari timbunan sampah yang berpotensi mengganggu kesehatan. Sementara di darat, pencemaran tanah dapat memengaruhi tanaman, termasuk yang dikonsumsi warga.

Hingga kini belum ada ketentuan baku mengenai jarak aman antara TPA dan permukiman. Menurut Tjandra, tingkat risikonya bergantung pada luas TPA, volume sampah, serta jenis material yang terbakar. Ia menegaskan, dari sudut pandang kesehatan masyarakat, prinsip pencegahannya sederhana: menghindari sumber paparan atau menghilangkan sumber pencemar.

"Kalau ditanya dari kacamata kesehatan, gampang: kalau ada sumber penular apa pun, kita sebagai warga harus menghindari sumber penular itu, atau sumber penularnya ditangani," kata Tjandra.

Kebakaran TPA sampah semestinya menjadi alarm bagi tata kelola persampahan di Indonesia. Dalam kurun 16 Juni hingga 16 Juli 2026, penelusuran Tirto menemukan sedikitnya lima TPA maupun eks TPA di Pulau Jawa mengalami kebakaran, yakni TPA Jatiwaringin, TPA Pakusari, eks TPA Panembong, TPA Cipayung, dan TPA Sumur Batu.

Namun, kebakaran TPA bukan persoalan baru. Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat 37 kebakaran TPA di 25 lokasi sepanjang 2004–2019. Pada 2023, Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mencatat sedikitnya 38 TPA kembali terbakar, sementara BRIN melaporkan lebih dari 30 kebakaran gunungan sampah terjadi dalam tiga bulan.

Sejumlah penelitian dan pakar menilai sistem open dumping menjadi salah satu penyebab tingginya risiko kebakaran. Pemerintah menargetkan penghentian seluruh praktik tersebut pada 2026 melalui percepatan penutupan TPA open dumping dan pengembangan pengelolaan sampah berbasis teknologi, termasuk program Waste to Energy (WTE).

"Saya telah minta profesor dan kampus-kampus sekarang harus bekerja, dan mereka sudah bekerja. Kita punya teknologi sekarang, teknologi untuk membersihkan sampah buatan kita sendiri, tidak terlalu mahal," ujar Presiden Prabowo dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka, Rabu (8/4/2026).

Baca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Decode
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Alfitra Akbar