tirto.id - Gunungan sampah di TPA Jatibarang, Kota Semarang, bak lautan api pada Rabu (30/9/2026) malam. Kobaran api membakar tumpukan sampah, sementara kepulan asap membubung dari sejumlah titik.
Pemandangan mencekam muncul ketika pusaran api beberapa kali berputar tajam menyerupai pita cahaya. Lidah api terlihat meliuk-liuk, membelah kepulan asap di atas gunungan sampah.
Di tengah kobaran yang terus menyala, petugas pemadam kebakaran berjibaku menyemprotkan air ke titik-titik api. Namun, luasnya area yang terbakar membuat upaya pemadaman tak mudah.
Petugas bekerja semalaman untuk mengendalikan kebakaran. Terdapat tujuh mobil pemadam kebakaran dengan 50 personel yang terjun. Mobil tangki air bolak-balik memasok air agar penyemprotan bisa terus dilakukan.
Meski begitu, banyaknya titik api dan luasnya area yang terbakar menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Tantri Pradono, mengatakan upaya pemadaman mulai menunjukkan perkembangan signifikan pada Kamis pagi.
"Sampai dengan pukul 04.00 WIB api sudah dapat dikendalikan, hanya masih ada beberapa titik yang masih ada api," ujarnya, Kamis pagi.
Namun, hingga Kamis siang, api masih terlihat di sejumlah bagian gunungan sampah. Petugas melanjutkan pemadaman dengan mengaduk tumpukan sampah menggunakan ekskavator sambil menyemprotkan air.
10 Hektare Terbakar
Kebakaran melanda tiga zona di TPA Jatibarang, yakni Zona 1, Zona 2, dan Zona 3. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sih Rianung, mengatakan luas area yang terbakar terus meluas.
"Hampir 10 hektare yang terbakar," kata Sih Rianung saat ditemui di lokasi kebakaran pada Rabu (30/9/2026) malam.
Menurut dia, petugas berupaya melokalisasi api agar kebakaran tidak semakin meluas. Namun, besarnya kobaran membuat upaya tersebut menghadapi kendala.
Api telah merambat dan meluas. "Apinya besar. Dua jam itu sudah merata ini," ujarnya.
Sih Rianung mengaku belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Ia menduga panas dan kemungkinan keberadaan gas metana di tumpukan sampah dapat menjadi faktor pemicu.
Kebakaran di area pembuangan sampah juga menyulitkan proses pemadaman karena api tidak hanya membakar permukaan. Bara dapat bertahan di bagian dalam tumpukan sampah.
Bara Tersembunyi dan Ancaman Gas Metana

Kebakaran di TPA Jatibarang tak cukup hanya dilihat dari api yang muncul di permukaan. Di balik gunungan sampah, bara bisa bertahan di bagian dalam dan kembali memicu kebakaran meski kobaran dari luar sudah padam.
Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah, Nur Colis, mengatakan karakter kebakaran di gunungan sampah berbeda dengan kebakaran di lahan terbuka.
“Ada kemungkinan permukaan di gunungan sampahnya sudah padam, tapi di bawahnya tumpukan sampah masih menyala,” kata Nur Colis, Kamis (1/10/2026).
Kondisi itu juga berkaitan dengan gas metana yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik. Gas tersebut dapat terperangkap di dalam tumpukan sampah dan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan kebakaran TPA.
Karena itu, persoalan kebakaran tidak hanya soal pemadaman. Pengelolaan sampah dari sumber juga perlu dibenahi, terutama untuk mengurangi jumlah sampah organik yang masuk ke TPA.
“Perlu pengurangan bahkan pembatasan sampah organik masuk TPA agar mengurangi timbulnya gas metana,” ujarnya.
Menurut Nur Colis, TPA Jatibarang sebenarnya memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah organik skala industri. Karena itu, kebakaran kali ini dinilai bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tata kelola sampah di kawasan tersebut.
Asap Merambah ke Permukiman
Kebakaran TPA Jatibarang menyisakan persoalan lain. Asap tebal mulai bergerak keluar dari kawasan TPA dan merambah ke permukiman warga sejak Kamis dini hari.
Kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah jalan di sekitar TPA. Jarak pandang sempat berkurang, sementara bau sangit dari pembakaran sampah terasa di beberapa kawasan.
Pantauan di sejumlah wilayah menunjukkan asap menyebar hingga beberapa kilometer dari TPA Jatibarang. Kawasan Krapyak, Mijen, Manyaran, Gunungpati di Kota Semarang hingga Boja di Kabupaten Kendal, turut terdampak kabut asap pada Kamis pagi.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu. Selain jarak pandang yang berkurang, sejumlah warga mengeluhkan mata terasa pedih dan muncul rasa tidak nyaman saat menghirup udara di luar rumah.
“Iya tadi pagi asap sempat sampai depan rumah. Nggak tebal asapnya, tapi agak bau sangit,” kata Herwan, warga Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan, Kamis.
Keluhan serupa dirasakan Ratna, pengendara yang melintas di kawasan Manyaran, Semarang Barat. Ia mengaku matanya terasa pedih saat berkendara melewati kawasan tersebut.
“Agak pedih di mata. Tadi sebelum berangkat sudah siap-siap pakai masker untuk antisipasi,” ujarnya.
Dampak asap juga mulai mengganggu aktivitas pendidikan di sekitar lokasi. Siswa SMAN 7 Semarang dan SDN 4 Ngaliyan dipulangkan lebih awal pada Kamis sebagai langkah antisipasi.
Asap Ancam Kesehatan

Kualitas udara imbas kebakaran TPA Jatibarang menjadi persoalan serius. Asap dan partikel halus dari pembakaran sampah dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu kesehatan warga, terutama mereka yang terpapar dalam waktu lama.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengingatkan warga yang terdampak untuk mengurangi paparan asap dan melakukan upaya pencegahan.
“Asap hasil pembakaran di TPA Jatibarang mengandung partikel berbahaya yang dapat mengganggu saluran pernapasan,” ujarnya, Kamis.
Dinas Kesehatan Kota Semarang meminta warga menggunakan masker yang dapat menyaring partikel dan memastikan terpasang rapat menutup hidung serta mulut.
Ketika asap mulai pekat, warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah serta menutup pintu dan jendela agar asap tidak masuk ke dalam ruangan.
Perhatian lebih perlu diberikan kepada bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Warga juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan dengan banyak minum air putih dan beristirahat jika mulai merasa tidak nyaman.
Warga juga diminta tidak mendekati lokasi kebakaran hanya untuk melihat atau mengambil gambar. Jika mengalami gejala sakit, segera hubungi petugas kesehatan.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































