Menuju konten utama

Profil Rocky Gerung yang Kini Jadi Anggota Wantimpres Prabowo

Rocky Gerung dilantik sebagai anggota Wantimpres Prabowo. Simak profil, pendidikan, kiprah politik, pemikiran, dan sejumlah kontroversinya.

Profil Rocky Gerung yang Kini Jadi Anggota Wantimpres Prabowo
Akademisi Rocky Gerung memberikan kesaksian dalam sidang kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (23/4/2019). ANTARA FOTO/Reno Esnir/pras.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto melantik jajaran Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta pada Jumat (2/10/2026). Nama Rocky Gerung diangkat menjadi anggota Wantimpres. Ini profil dan kontroversinya.

Rocky muncul dalam daftar anggota Wantimpres bersama sejumlah tokoh lainnya, di antaranya mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Hatta Rajasa, Ignasius Jonan, dan lainnya.

Berdasarkan penjelasan resmi Wantimpres, lembaga ini dibentuk berdasarkan Pasal 16 UUD 1945 dan diatur lebih lanjut dalam UU Nomor 19 Tahun 2006. Wantimpres berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden, dengan tugas memberikan nasihat dan pertimbangan dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara, baik diminta maupun tidak diminta oleh Presiden.

Nasihat dan pertimbangan itu dapat disampaikan secara individual maupun sebagai satu kesatuan oleh seluruh anggota. Dalam menjalankan fungsinya, anggota Wantimpres juga tidak diperbolehkan menyebarluaskan isi nasihat atau pertimbangan yang diberikan kepada Presiden.

Profil Rocky Gerung

Rocky Gerung lahir pada 20 Januari 1959 dan menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia (UI). Rocky mulai berkuliah di UI pada 1979 dan pada awalnya mengambil Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikan di jurusan tersebut dan kemudian beralih ke Jurusan Ilmu Filsafat hingga lulus sebagai Sarjana Sastra.

Pada masa kuliah, Rocky juga dikenal dekat dengan sejumlah aktivis yang berhaluan sosialisme, antara lain Marsillam Simanjuntak dan Hariman Siregar. Latar belakang pendidikan filsafat dan kedekatannya dengan lingkungan aktivisme tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektualnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Rocky kembali ke UI dan mengajar di Departemen Ilmu Filsafat yang kemudian berada di bawah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Ia tercatat menjadi dosen tidak tetap hingga awal 2015 dan selama mengajar membawakan sejumlah mata kuliah, di antaranya Seminar Teori Keadilan, Filsafat Politik, dan Metode Penelitian Filsafat.

Ia juga pernah mengajar pada program pascasarjana dan menjadi pembimbing mahasiswa, salah satunya adalah aktris Dian Sastrowardoyo. Aktivitas akademiknya tidak hanya berlangsung di lingkungan UI. Rocky pernah mengajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), memberikan materi kepada para perwira Polri dan TNI, serta pernah mengajar di Megawati Institute.

Karier mengajarnya di UI berakhir setelah penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 yang mensyaratkan dosen memiliki pendidikan minimal magister, sedangkan Rocky saat itu masih bergelar sarjana.

Di luar kegiatan akademik, Rocky Gerung juga aktif dalam organisasi dan kegiatan yang berkaitan dengan demokrasi, hak asasi manusia, serta pendidikan sosial. Ia bersama sejumlah tokoh, termasuk Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra, ikut mendirikan Setara Institute pada 2005, sebuah wadah pemikir yang bergerak dalam bidang demokrasi dan HAM.

Ia juga pernah mengetuai Sekolah Ilmu Sosial (SIS), lembaga pendidikan nonformal yang mengajarkan pemahaman terhadap realitas sosial secara interdisipliner. SIS berada di bawah Yayasan Padi dan Kapas dan melibatkan sejumlah pengajar, seperti Arief Budiman, Salim Said, dan Rahman Tolleng.

Dalam aktivitas keorganisasian lainnya, Rocky tercatat sebagai Wakil Ketua Bidang Panjat Tebing Alam dan Rekreasi di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) periode 2023–2027.

Keterlibatan Rocky dalam dunia politik juga pernah berlangsung secara langsung melalui organisasi partai. Pada 2002, ia bersama Sjahrir dan Nurmala Kartini Sjahrir ikut mendirikan Partai Indonesia Baru (PIB), meskipun tidak aktif dalam kepengurusan partai tersebut.

Rocky kemudian keluar dan bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) pada 2011 serta menjadi anggota Majelis Pertimbangan Partai SRI. Partai tersebut pada saat itu memiliki rencana mencalonkan Sri Mulyani dalam Pemilihan Presiden 2014. Namun, SRI tidak berhasil melewati proses verifikasi administrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sehingga tidak dapat mengikuti Pemilu Legislatif 2014.

Dalam bidang pemikiran, Rocky banyak menaruh perhatian pada filsafat politik, feminisme, demokrasi, HAM, serta persoalan etika publik. Ia aktif menulis di Jurnal Perempuan dan terlibat sebagai pengajar Kajian Filsafat dan Feminisme (Kaffe).

Ia juga menulis di Jurnal Prisma yang diterbitkan LP3ES dengan membahas antara lain isu HAM dan Pancasila. Sejumlah tulisan akademiknya memperlihatkan cakupan pemikirannya yang cukup luas, mulai dari pluralisme, feminisme, representasi dan kedaulatan, etika publik, komunitarianisme, HAM, hingga hubungan antara ideologi dan negara demokrasi.

Di antara karya yang tercatat ialah tulisan mengenai "Pluralisme dan Konsekwensinya: Catatan Kaki untuk Filsafat Politik’ Nurcholish Madjid”.", “Representasi, Kedaulatan, dan Etika Publik”, “Komunitarianisme versus Hak Asasi Manusia”, “Jalan Ideologi dalam Negara Demokrasi”, “Feminist Pedagogy: A Political Position”, serta “Pancasila: Ide Penuntun, Bukan Pengatur”.

Kiprah Rocky sebagai intelektual publik semakin dikenal luas ketika ia mulai tampil di televisi, terutama melalui acara “Indonesia Lawyers Club (ILC)” pada awal 2017. Dalam berbagai penampilannya, ia dikenal menggunakan pendekatan argumentatif dan retorika yang tajam ketika membahas persoalan politik dan kebijakan pemerintah.

Di luar aktivitas akademik dan politik, Rocky Gerung dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap kegiatan mendaki gunung. Ia mengaku telah menjalani hobi tersebut selama sekitar 50 tahun dan memiliki kebiasaan melakukan pendakian secara solo. Aktivitas pendakiannya juga tidak terbatas di Indonesia karena ia pernah mendaki sejumlah gunung di luar negeri, termasuk kawasan Himalaya.

Kontroversi Rocky Gerung

Nama Rocky Gerung juga tidak terlepas dari berbagai kontroversi yang muncul akibat pernyataan-pernyataan di ruang publik. Berikut daftar kontroversi Rocky Gerung yang cukup sering menjadi sorotan publik:

1. Pernyataan “kitab suci adalah fiksi”

Salah satu kontroversi paling awal dan paling dikenal adalah pernyataan Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) bertajuk Jokowi Prabowo Berbalas Pantun, pada 10 April 2018.

Dalam diskusi tersebut, Rocky mengatakan bahwa “kitab suci adalah fiksi”, yang kemudian menimbulkan polemik karena sebagian pihak memahami istilah tersebut sebagai penyamaan kitab suci dengan sesuatu yang tidak nyata atau bohong.

"Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif. Karena dua bulan ini kata fiksi itu jadi kata yang buruk. Kitab suci itu fiksi atau bukan?" ujar Rocky.

Rocky kemudian menjelaskan bahwa ia menggunakan istilah fiksi dalam pengertian filosofis dan membedakannya dari kata fiktif.

“Definisi fiksi itu baik, oleh karena itu saya mengartikan kitab suci sebagai fiksi. Artinya, di dalamnya ada imajinasi, itu poinnya. Kalau dibilang saya harus minta maaf, berarti saya minta maaf bahwa fiksi itu baik? Berarti fiksi itu buruk?” terangnya.

Pernyataan tersebut kemudian berujung pada laporan polisi. Rocky dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh pihak Cyber Indonesia atas dugaan ujaran kebencian. Kasus tersebut juga dikaitkan dengan dugaan penodaan agama dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE.

2. Sebut Presiden Joko Widodo jual IKN ke Cina yang berujung laporan polisi

Kontroversi besar berikutnya terjadi pada 29 Juli 2023, ketika Rocky Gerung menyampaikan kritik terhadap Presiden Joko Widodo dalam acara Konsolidasi Akbar Aliansi Aksi Sejuta Buruh bersama Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) di Bekasi.

Pernyataannya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta sikap Presiden yang disebut mempromosikan IKN ke China menjelang berakhirnya masa pemerintahan. Pernyataan tersebut kemudian dinilai oleh sejumlah pihak sebagai penghinaan terhadap Jokowi karena juga menggunakan kata-kata kasar seperti bajing** dan tol**.

Menanggapi hal itu, Jokowi mengaku tak ambil pusing dan mengatakan jika kritik Rocky adalah sesuatu yang kecil. Jokowi juga mengatakan jika fokusnya saat itu adalah bekerja.

3. Pernyataan soal penundaan Pemilu

Pada 2022, sejumlah partai menyebut sepakat untuk melakukan penundaan Pemilu. Rocky menanggapi pernyataan tersebut dengan mengatakan jika wacana penundaan Pemilu itu muncul karena penguasa belum menemukan penerusnya.

Ia lalu mengklaim jika wacana tersebut dihembuskan oleh Luhut Binsar Panjaitan, maka hal itu dimaklumi mengingat Luhut adalah sosok yang dekat dengan Presiden Joko Widodo.

4. Ketegangan dengan Silfester Matutina dalam acara televisi

Rocky juga pernah terlibat dalam perdebatan panas dengan Silfester Matutina dalam sebuah program televisi. Perdebatan tersebut berlangsung ketika Rocky mengajukan pertanyaan kepada Silfester dan kemudian muncul pertukaran kata-kata yang memanas.

Silfester sempat hampir memukul Rocky ketika siaran berlangsung dan situasi akhirnya harus diredam oleh pembawa acara.

Baca juga artikel terkait RESHUFFLE KABINET atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra