Menuju konten utama

Kebakaran TPA Jatiwaringin, Bukti Gagap Mitigasi Kelola Sampah

Ratusan warga kini justru harus menanggung risiko kesehatan akibat kepungan asap beracun yang terus menebal.

Kebakaran TPA Jatiwaringin, Bukti Gagap Mitigasi Kelola Sampah
Petugas pemadam kebakaran sedang melakukan pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang. Kemal Raditya Pasha/Magang Tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Memasuki hari ketujuh, kebakaran hebat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, masih gagal dipadamkan sepenuhnya meski telah melibatkan sinergi lintas instansi hingga pengerahan helikopter water bombing.

Lambatnya mitigasi awal membuat api dengan cepat menjalar dari semula dua hektare menjadi 33 hektare, sementara rencana operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga kini masih lumpuh akibat nihilnya potensi awan hujan. Proses pemadaman melibatkan Pemkot, BNPB, Kementerian Lingkuhan Hidup, dan instansi terkait lainnya.

Insiden kebakaran itu terjadi pada Selasa (30/6/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Api di lokasi pun menyebar dengan cepat hingga mencapai dua hektare karena cuaca panas dan angin yang kencang.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) dan Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang sempat merasa kesulitan saat pemadaman. Hal itu lantaran keterbatasan air dan tantangan kencangannya angin.

Di hari pertama, 45 personel dengan 10 kendaraan pemadam dikerahkan untuk penanganan. Tim medis dari puskesmas kecamatan juga langsung dikerahkan untuk memastikan penanganan warga terdampak.

"Ini kita sudah koordinasi dengan camat dan puskesmas setempat (Rajeg dan Mauk ini. Petugas medis sudah disiapkan, kami antisipasi apabila ada yang kena dampak dari asap ini," ucap Kepala DLHK Kabupaten Tangerang, ujar Sudrajat, dikutip dari Antara, Senin (6/7/2026).

Kebakaran di TPA Jatiwaringin

Proses pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin melalui penyiraman air dari udara dengan menggunakan helikopter water bombing. Kemal Raditya Pasha/Magang Tirto.id

BNPB Kabupaten Tangerang kemudian menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari guna mempercepat proses penanganan. Terlebih luas area lahan yang terbakar merambat hingga 15 hektare.

"Tumpukan sampah itu sudah bertahun-tahun mengandung gas metana. Apabila cuaca sangat panas, gas tersebut bisa memicu kebakaran," ujar Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik.

BNPB pusat pun turun langsung untuk membantu proses penanganan di lokasi. Dua Helikopter pun dikerahkan BNPB untuk melakukan pemadaman dengan teknik water bombing sejak 1 Juli 2026.

Sebanyak 10 unit tangki pemadam kebakaran dari lintas instansi juga telah dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman. Upaya pemadaman difokuskan pada area yang dapat dijangkau untuk menahan laju penyebaran api.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi pada BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan di Tangerang, Rabu, menyampaikan dua helikopter jenis MI-8AMT direposisi dari Provinsi Jambi dan Palembang dikerahkan ke lokasi dalam operasi pemadaman kebakaran TPA. Djohan menyampaikan skema operasi pemadaman api dilakukan di sisi bawah dari utara hingga selatan TPA dilakukan penyemprotan air sebagai pendinginan dengan dilakukan petugas BPBD, TNI, dan Polri setempat.

"BNPB saat ini diperbantukan dua unit heli water bombing yang saat ini sudah ada di Bandara Pondok Cabe, dan yang satu lagi sebentar lagi sampai perjalanan dari Jambi," kata dia.

Tidak hanya mengerahkan helikopter, BNPB juga berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menyiapkan armada pesawat khusus untuk operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Metode ini membutuhkan awan dengan potensi hujan dan penyiraman garam.

Dua hari setelah kejadian, kebakaran itu sudah mencapai 33 hektare. Sedangkan pemadaman dengan modifikasi cuaca masih belum bisa dilakukan karena tipisnya potensi hujan yang terjadi.

Penanganan BNPB hari ketiga pun ditambah dengan metode inject atau dengan cara menyuntikkan air secara langsung ke dalam titik api di bawah permukaan area kebakaran TPA Jatiwaringin. Djohan mengatakan bahwa penerapan metode inject ini dilakukan sebagai upaya percepatan penanganan kedaruratan kebakaran di TPA yang sudah berlangsung selama empat hari ini.

"Jadi sistem inject ini nanti, kami sudah sampaikan ke Kalaksa, kepala pemadam kebakaran, untuk dibuat pipa dan dilakukan di titik-titik api yang ada di TPA Jatiwaringin," ucap dia.

Pemkot Tangerang Kota pun akhirnya dilibatkan dalam penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin ini di hari ketiga. Mereka mengerahkan personel, mobil pemadam, mobil tangki air, dan pompa submersible.

Kementerian Kehutanan pun turun tangan dengan mengerahkan 30 personel Manggala Agni. Personel ini akan bersama Damkar melakukan penyuntikan air ke titik api.

Di hari keempat, sebanyak 30 persen lokasi yang terbakar sudah dinyatakan terkendali. Namun, 18 unit mobil pemadam kebakaran masih terus melakukan penyisiran di titik api untuk melakukan pemboman air.

Penggunaan alat berat berupa ekskavator dioperasionalkan untuk mengurangi timbunan sampah yang telah dibasahi. Sehingga, akses menjangkau titik api lainnya lebih mudah dan dapat menghindari api kembali menyala.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, kemudian meninjau langsung penanganan di hari kelima. Diaz mengungkapkan bahaya yang masih mengintai di balik tumpukan sampah yang tampak padam di permukaan.

Wamen LH tinjau kebakaran TPA Jatiwaringin

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono (kedua kanan) berbincang dengan Bupati Tangerang Maesyal Rasyid (kedua kiri) saat meninjau kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (4/7/2026). Peninjauan tersebut untuk memantau langsung upaya pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin dan penanganan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/foc.

"Hari ini kami lihat kebakaran sudah hari ke-5 dan memang pemadaman ini bukan hal yang mudah ya, ini karakteristiknya seperti kebakaran lahan gambut karena mungkin di atasnya sudah terlihat padam tapi ketika lihat di bagian bawahnya masih ada apinya, kapan saja bisa terus kebakar, ada CH4-nya, bisa ada potensi ledakan juga," jelas Diaz, Sabtu (4/7/2026).

Diaz menerangkan, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mendukung proses pemadaman, termasuk monitoring melalui drone serta pemantauan kualitas udara di sekitar TPA.

“Kami sudah minta dilakukan koordinasi dengan pihak bandara dan pihak TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala, kami juga sudah deploy 2 mobile monitoring system untuk memonitor beberapa hal seperti SO2 (sulfur dioxide), NO2 (nitrogen dioxide), PM 10, PM 2.5 yang kita lihat sudah di atas baku mutu,” tutur dia.

Hingga kemarin (5/7/2026), penanganan masih terus dilakukan dengan progres yang cukup signifikan. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, meninjau langsung penanganan di hari keenam tersebut.

Jumhur mengatakan, sudah 70 persen area yang terbakar tertangani. Penanganan itu masih akan dilakukan hingga hari ini, dan diupayakan selesai.

"Alhamdulillah, ini hari keenam dan berkat kerja keras semua pihak, mulai dari BNPB, Pemerintah Kabupaten Tangerang, Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni, Dinas Kesehatan, hingga dukungan berbagai kementerian, kondisi kebakaran terus membaik. Dari sekitar 70 persen area yang semula terbakar, kini tinggal sekitar 3,6 persen. Mudah-mudahan sore atau besok bisa benar-benar tuntas," ujar Jumhur dalam keterangan tertulis, Minggu (6/7/2026).

Dari berbagai metode yang disiapkan, hingga hari keenam, belum dilakukan modifikasi cuaca karena belum memungkinkan adanya awan. Meskipun, kerdasarkan informasi BMKG dalam sekitar enam hingga tujuh hari ke depan terdapat potensi awan sehingga akan segera kami manfaatkan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkap hingga hari ini juga belum berkemungkinan dilakukannya modifikasi. Meski, armada untuk melakukan modifikasi selalu disiagakan.

"Modifikasi cuaca unit pesawat kita sudah standby, tapi pertumbuhan awan hujan belum memadai," kata Abdul saat dikonfirmasi reporter Tirto, Senin (6/7/2026).

Penanganan Warga Terdampak

Di tengah klaim pemerintah bahwa area kebakaran TPA Jatiwaringin telah terkendali hingga 70 persen, ratusan warga kini justru harus menanggung risiko kesehatan akibat kepungan asap beracun yang terus menebal.

Abdul Muhari menyatakan, hingga Sabtu (4/7/2026), terdapat 102 warga yang harus mengungsi. Penanganan medis pun diutamakan bagi lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Sejak hari pertama, tim medis telah disiagakan 24 jam untuk menangani para warga yang terdampak.

Sebanyak 32 kepala keluarga (KK) telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman dan tim medis disiagakan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pembagian masker. Sementara itu, bantuan 100 set masker debu/asap juga diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Pantauan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan kualitas udara di sekitar lokasi telah masuk dalam kategori sangat berbahaya, dengan konsentrasi PM2,5 menembus angka ekstrem di atas 1.000 μg/m3, yang memaksa puluhan keluarga mengungsi dan memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“KLH/BPLH terus melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi. Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada kategori berbahaya dengan nilai melebihi 1.000 μg/m3,” tulis Kementerian LH dalam keterangan tertulis, Jumat (3/7/2026).

Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan kemudian memobilisasi dan mendistribusikan berbagai bantuan logistik kesehatan guna memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Bantuan logistik kesehatan yang didistribusikan meliputi 15 unit oksigen konsentrator, 6 unit oksimeter, 3 unit air purifier, 11.500 pcs masker bedah medis, serta 5.000 pcs handscoon non steril.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan dukungan sarana penanganan darurat berupa 1 unit tenda rumah sakit lapangan ukuran 4 x 6 meter, 1 unit tenda rumah sakit lapangan ukuran 6 x 8 meter, serta 10 unit veltbed untuk mendukung pelayanan kesehatan di lapangan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Agus Jamaludin, menyatakan bahwa keberadaan dua unit tenda kesehatan juga menjadi bagian dari langkah kesiapsiagaan untuk mendukung pelayanan kesehatan di lapangan.

“Kami menyiapkan dua unit tenda kesehatan. Satu tenda sudah difungsikan di lokasi terdampak untuk pelayanan masyarakat, sedangkan satu tenda lainnya masih kami standby-kan di Puskesmas Rajeg agar sewaktu-waktu dapat segera dimobilisasi apabila ada titik terdampak baru,” ucap Agus.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN TPA JATIWARINGIN atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - News Plus
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama