tirto.id - Suara gunting cukur terdengar bersahutan dari tempat pangkas sederhana milik Wahyudi (46). Tak ada interior mewah atau beragam layanan seperti yang ditawarkan barbershop modern. Hanya kursi, cermin, alat cukur, dan pelanggan yang datang dengan satu kebutuhan sederhana: membuat rambut kembali rapi.
Sejak 2008, Wahyudi menggantungkan hidup dari gunting dan sisir. Ia memulai pekerjaan itu atas dorongan keluarga. Berbekal keterampilan yang dipelajarinya hanya dalam dua hari, Wahyudi kemudian memberanikan diri terjun langsung melayani pelanggan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Sejak saat itu, hari-harinya akrab dengan suara gunting, obrolan pelanggan, dan potongan rambut yang jatuh satu per satu ke lantai.
.
“Baru belajar dua hari langsung terjun ke pangkas,” ujar Wahyudi ketika bercerita kepada Tirto, Rabu (12/08/26).
Perjalanan Wahyudi sebagai tukang cukur tak berjalan mulus. Ia masih sering berbuat salah dan gerak tangannya jauh dari kata lincah. Namun, proses tak pernah mengkhianati hasil. Dalam kurun tiga bulan, secara autodidak ia terus mengasah keahliannya. Wahyudi rajin melempar pertanyaan kepada sesama pemangkas rambut, mempelajari tiap helai karakter rambut, hingga mahir menyesuaikan potongan dengan bentuk wajah siapa pun yang duduk di kursinya.
“Harus pahami karakter rambut, wajah, sama tinggi badan,” katanya.

Dari Pasar Minggu, Wahyudi kemudian berpindah ke sejumlah tempat untuk memperdalam keterampilannya sebelum akhirnya pindah ke Depok sekitar 2014. Baginya, pengalaman mencukur tidak hanya soal bagaimana menggunakan gunting atau mesin cukur, tetapi juga memahami keinginan setiap pelanggan yang berbeda. Ada pelanggan yang sekadar ingin dirapikan, ada pula yang datang dengan model rambut tertentu yang belum tentu sesuai dengan karakter rambut dan bentuk wajahnya.
Tantangan itu makin terasa ketika jumlah tempat pangkas rambut makin banyak. Wahyudi mengakui dalam beberapa tahun terakhir sempat terjadi penurunan pelanggan karena persaingan yang makin ketat.
“Penurunan ada. Karena persaingan sekarang banyak,” ujarnya.
Wahyudi tidak menganggap persaingan sebagai alasan untuk berhenti. Menurutnya, setiap tukang cukur memiliki kemampuan yang berbeda dan hal tersebut menjadi bagian yang membuat pelanggan memilih.
“Beda tangan, beda sentuhan,” katanya.
Karena itu, Wahyudi berusaha mempertahankan pelayanan dan konsistensi waktu bekerja sebagai cara untuk menjaga pelanggan.
Harga Cukur Tradisional Lebih Terjangkau
Salah satu pelanggan yang masih memilih jasa cukur tradisional adalah Chandra (47). Chandra datang sekitar dua bulan sekali, biasanya ketika rambut mulai panjang dan sulit diatur.
“Biasanya saya mencukur di sini sekitar dua bulan sekali,” kata Chandra.
Chandra memilih tempat tersebut karena harga yang terjangkau dan pelayanan yang menurutnya tetap bagus.
“Saya pilih cukur di sini karena harganya terjangkau, tapi pelayanannya juga bagus,” ujarnya.
Bagi Chandra, harga menjadi pertimbangan karena ia merasa tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk sekadar mendapatkan potongan rambut yang rapi. Namun, bukan hanya persoalan biaya yang membuatnya kembali. Chandra sudah merasa cocok dengan hasil cukuran dan pelayanan yang diberikan.
“Yang bikin saya kembali karena sudah cocok sama hasil cukurnya,” katanya.
Chandra sebenarnya pernah mencoba barbershop. Chandra mengakui suasana barbershop lebih modern dan layanan yang ditawarkan biasanya lebih lengkap, seperti keramas atau styling. Namun, untuk sekadar potong rambut, Chandra justru lebih menyukai tempat pangkas tradisional yang sederhana.
“Kalau di barbershop memang tempatnya lebih modern dan biasanya lebih lengkap,” ujarnya.
Baginya, tidak banyaknya layanan tambahan justru membuat proses mencukur lebih praktis.
“Yang penting rambut rapi dan hasilnya sesuai,” katanya.
Sementara itu, Wahyudi mewajibkan generasinya untuk bisa melakukan segalanya, tidak hanya bisa mencukur rambut, tetapi bisa otomotif dan keahlian lainnya.

"Kalau generasi darah saya langsung, saya wajibkan segala. Untuk keahlian itu wajib bisa. Kayak pangkas rambut, otomotif, wajib. Jangan ngejar mahirnya," ujar Wahyudi.
Kini, mayoritas pelanggan Wahyudi adalah anak muda, sementara pelanggan yang lebih tua biasanya datang pada pagi hari. Persaingan yang makin banyak membuat pelanggan memiliki lebih banyak pilihan, tetapi Wahyudi tetap memilih mempertahankan usahanya secara bertahap. Wahyudi tidak ingin langsung mengubah tempat pangkasnya menjadi usaha besar dengan modal besar.
“Kalau saya lebih baik bertahap,” katanya.
Fenomena bertahannya tukang cukur konvensional tidak semata-mata dapat dilihat dari sisi harga. Sosiolog, Nia Elvina, menilai keberadaan tukang cukur konvensional juga berkaitan dengan cara masyarakat memandang profesi tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Saya kira fenomena tukang cukur konvensional ini, masyarakat menilai peran mereka seperti tukang rumahan, walaupun banyak tukang profesional,” ujar Nia.
Kedekatan antara tukang cukur dan pelanggan menjadi salah satu alasan jasa tersebut tetap digunakan. Tempat pangkas sederhana tidak hanya menjadi ruang untuk merapikan rambut, tetapi juga ruang interaksi sosial.
“Hubungan yang lebih personal dan akrab biasanya menjadi acuan masyarakat untuk tetap menggunakan jasa mereka ini,” katanya.
Menurut Nia, percakapan yang muncul selama proses mencukur turut membentuk kedekatan tersebut. Pelanggan tidak hanya duduk menunggu rambut selesai dipotong, tetapi dapat berbagi cerita tentang pengalaman dan kebiasaan sehari-hari.
“Sambil bercukur, pelanggan atau masyarakat masih bisa berbagi pengalaman atau kebiasaan sehari-hari,” ujar Nia.
Bagi Wahyudi, bertahan sebagai tukang cukur bukan hanya persoalan mendapatkan pelanggan. Ada pelayanan, keterampilan, dan hubungan yang harus terus dijaga. Di tengah banyaknya pilihan tempat pangkas, ia berharap sesama tukang cukur tetap dapat membangun hubungan yang saling membantu.
“Seperti yang dulu, saling mengisi. Bukan saling menjatuhi,” katanya.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































