Menuju konten utama

Menghadapi Panas Ekstrem, Kota Tak Cukup Hanya Punya Taman

Menghadapi panas ekstrem di Jakarta Utara tak cukup dengan taman. Hunian, ruang publik, kebijakan, dan suara warga juga menentukan.

Menghadapi Panas Ekstrem, Kota Tak Cukup Hanya Punya Taman
Header Wansus Rujak Center for Urban Studies. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Panas ekstrem perlahan mengubah cara anak-anak di Jakarta Utara menggunakan ruang kota. Ketika suhu meningkat, ruang bermain di luar rumah menyempit. Namun, persoalan panas di kawasan pesisir tidak semata-mata dapat diselesaikan dengan menambah ruang terbuka hijau atau memasang pendingin di dalam rumah.

Peneliti Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Benaya Valentino Ginting, melihat panas ekstrem sebagai persoalan yang memperbesar kerentanan yang sudah ada. Kepadatan permukiman, kualitas bangunan, keterbatasan ruang, status hunian, hingga pembangunan infrastruktur ikut menentukan seberapa mampu warga menghadapi panas.

Dalam penelitian yang dilakukan Rujak bersama sejumlah organisasi, perbedaan tipologi hunian menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap panas tidak hanya ditentukan temperatur, tetapi juga kondisi bangunan dan kapasitas individu maupun keluarga.

Lantas, seperti apa kota yang benar-benar ramah anak di tengah panas ekstrem? Apakah cukup dengan memperbanyak taman? Dan bagaimana pemerintah seharusnya memasukkan persoalan panas ke dalam perencanaan hunian dan tata kota?

Untuk membahasnya, Tirto berbincang dengan Benaya Valentino Ginting dan Raissa Almira Febriani dari Rujak Center for Urban Studies pada Rabu 5 Agustus 2026.

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO ID: 96741. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Rujak sedang melakukan riset terkait Urban Heat Island. Sebenarnya, riset tersebut berkaitan dengan apa dan apa saja temuan sejauh ini?

Benaya:

Saat ini Rujak bekerja sama dengan beberapa organisasi lain, yaitu Kotakita, Arkom Jatim, dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Itu tergabung dalam satu konsorsium yang disebut Be-Housing, atau Beyond Housing.

Fokus kita adalah bagaimana dampak Urban Heat Island ini memengaruhi adaptasi masyarakat di berbagai tipologi permukiman di Indonesia. Kalau di Jakarta ada empat tipologi: ada rusunami, ada rusunawa, ada rusunawa modern yang 20 lantai, ada juga kampung susun, dan ada juga kampung biasa. Sedangkan di ketiga tempat lainnya, fokusnya ke kampung dan rumah susun.

Jadi, perbandingannya, hipotesis awal kami adalah bentuk permukiman memengaruhi adaptasi masyarakat yang tinggal di dalamnya dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya extreme heat.

Untuk penelitiannya sejauh ini, setelah dilakukan pengumpulan data, pengumpulan data ini dilakukan dalam tiga tahap: tahap iklim mikro, iklim individu, dan fisik bangunan. Kita mentriangulasi data. Memang terbukti bahwa perbedaan tipologi permukiman memengaruhi bagaimana masyarakat beradaptasi dan terpengaruh oleh dampak extreme heat tersebut.

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Apa perbedaan kemampuan adaptasi dari masing-masing tipologi permukiman tersebut?

Raissa:

Sebenarnya, waktu kami pertama menentukan tipologi hunian, kalau di Jakarta sendiri tipologinya cukup banyak. Bukan cuma rumah susun, ternyata di Jakarta juga sudah ada inovasi seperti kampung susun.

Kami kira awalnya rumah susun 20 lantai juga punya nilai yang berbeda dan sudah punya hipotesis sendiri. Namun, ketika mulai melakukan pengukuran dan mengumpulkan data, kami juga melakukan desk study terlebih dahulu untuk melihat prinsip-prinsip yang memengaruhi kenyamanan termal. Ternyata, temuannya berlapis.

Maksudnya, bukan cuma soal tinggal di lantai berapa yang menjadi pengaruh, tetapi juga material yang digunakan. Lapisannya juga berbeda antara warga yang tinggal di kampung dengan warga yang tinggal di rumah susun, karena intervensinya juga terbatas kalau di rusun.

Jadi, dampak dan kemampuan beradaptasi terhadap urban heat juga beragam. Faktor yang berpengaruh mulai dari kondisi sosial ekonomi, intervensi bangunan, sampai kerentanan yang sudah dimiliki seseorang, misalnya penyakit bawaan. Main findings kami, kalau melihat perbedaan antartipologi, memang ada pengaruh dari fisik bangunan. Namun, kondisi individu juga berpengaruh. Kapasitas mereka secara individu dan keluarga juga sangat menentukan.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Elemen desain seperti apa yang bisa diterapkan untuk menurunkan suhu mikro di lingkungan permukiman padat?

Raissa:

Selain penelitian ini, Rujak juga sedang melakukan pendampingan untuk perbaikan rumah di kampung bantaran rel. Kami mengangkat isu Urban Heat Island juga di sana. Sebetulnya, prinsip yang ingin kami tuju adalah bagaimana akhirnya warga bisa lebih nyaman. Karena konteksnya kampung padat, mereka bahkan tidak punya jarak antar-rumah. Kampung-kampung yang kami lihat juga mayoritas masih menggunakan atap asbes.

Jadi, dari segi penerapan prinsip material dan keterbatasan bangunan, itu yang menjadi hal utama yang coba kami eksplorasi. Sebenarnya, sebelum masuk ke intervensi terkait urban heat, permasalahan di kampung sendiri berlapis. Bukan cuma soal urban heat, tetapi struktur bangunannya juga menjadi poin utama.

Kalau kita langsung mau fokus pada intervensi terkait urban heat, misalnya memperbaiki ventilasi agar sirkulasi udara lebih memadai, itu tidak bisa langsung dilakukan. Kita juga harus melihat struktur bangunannya yang menjadi permasalahan utama.

Jadi, kalau mau melakukan intervensi desain yang tahan terhadap iklim di kampung padat, harus dilihat dari dasarnya dulu. Apakah memang sudah bisa lanjut ke tahap untuk mengatasi urban heat atau belum. Tapi kalau bicara tentang prinsip kenyamanan termal dan desain pasif, guidelines-nya sebenarnya sudah banyak, termasuk dari kementerian.

Grafik Suhu Udara Maksimum Tahunan

Grafik Suhu Udara Maksimum Tahunan (TXx) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok Periode 1981-2025. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Benaya:

Ketika kita bicara tentang Urban Heat Island atau peningkatan panas ekstrem di kota, kita tidak bisa melihatnya hanya dalam skala individu. Memang ada kemampuan adaptif individu yang bisa sedikit mengurangi dampak Urban Heat Island. Tetapi penelitian kami juga menunjukkan pentingnya adaptasi dalam skala komunitas dan bagaimana relasi bangunan di sekitar memengaruhi bangunan tersebut.

Ada salah satu studi kasus, misalnya, ketika sebenarnya bangunannya cukup bagus, tetapi dia tinggal di rusun dan orang yang tinggal di bawahnya memasang seng. Itu memengaruhi panas di atasnya.

Jadi, ketika kita membahas desain, itu tidak bisa hanya melihat satu bangunan secara individual. Memang bisa, tetapi ada pengaruh lainnya. Contoh lain yang kami lihat adalah warung. Sesimpel warung sering menjadi tempat nongkrong, tetapi ketika sudah memakai terpal, dia juga menyediakan tempat untuk pendinginan.

Ketika memberikan shading, kemungkinan besar shading ini akan banyak dipakai oleh orang lain. Untuk skala desainnya sendiri, itu tidak terbatas hanya pada individu, tetapi juga bisa dalam skala komunitas.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Apa tantangan menghadapi Urban Heat Island di kawasan pesisir seperti Jakarta Utara?

Benaya:

Ada dua faktor utama dari penelitian kami. Dari empat lokasi, tiga di Jakarta Utara, satu di Jakarta Timur. Di Jakarta Utara, karakteristik yang pasti sangat berpengaruh ada dua: pertama, kelembapan; kedua, kecepatan angin.

Kelembapan ini berpengaruh karena berbeda dengan iklim di Eropa. Kita tahu kasus-kasus heatwave di Paris, suhunya sampai 40 derajat. Tapi ketika kita melihat faktor lain terhadap kenyamanan termal, suhu itu bukan satu-satunya faktor. Ada kelembapan, kecepatan angin, radiasi, dan suhu permukaan.

Di daerah pesisir, kelembapannya cenderung sangat tinggi. Bahkan salah satu unit pengukuran kami bisa mengukur sampai 99 persen, atau hampir 100 persen untuk kelembapan relatifnya.

Ketika digabung dengan suhunya, ini menyebabkan manusia, yang biasanya cara adaptasi terhadap panas kan berkeringat untuk menguapkan supaya panasnya hilang, tetapi karena udaranya sudah lembap, keringat tadi tidak bisa hilang. Jadi, malah makin panas.

Kedua adalah kecepatan angin. Ini bisa memengaruhi karena ketika kecepatan angin tinggi, masyarakat cenderung menutup jendelanya. Padahal, butuh angin untuk sirkulasi. Karena kecepatan anginnya tinggi, mereka terpaksa menutup jendela supaya anginnya tidak terlalu banyak masuk ke dalam. Padahal, angin tadi penting untuk menurunkan suhu di dalam rumah.

Yang ketiga, di pesisir ini salinitas di udara juga cukup tinggi. Banyak alat kami yang berkarat ketika diukur. Jadi, salinitas angin ini memengaruhi usia bangunan, karena bangunannya harus sering diremajakan. Dan di studi kami, usia bangunan cenderung punya korelasi yang cukup tinggi terhadap panas, meski ini masih belum dianalisis lebih lanjut. Tapi berdasarkan tipologi, semakin tua bangunannya, cenderung kemampuan adaptasi terhadap panasnya juga semakin rendah.

Raissa:

Soal wilayah pesisir yang multi-hazard, bukan cuma urban heat saja, tapi juga rob dan penurunan muka tanah yang dihadapi masyarakatnya. Kenapa isu urban heat, mungkin dari hasil penelitian kami, sudah cukup banyak awareness warga terkait perubahan iklim terhadap cuaca panas, karena sekarang sudah cukup dimainstreamkan isu seperti El Nino.

Tapi masih ada juga warga yang menganggap ini bukan sebuah bencana, masih dilihat sebagai faktor perubahan cuaca biasa. Waktu kita coba gali, yang dianggap bencana itu seperti apa, mereka masih melihat apa yang benar-benar terjadi di depan mata. Padahal, waktu diulik lagi, ternyata dampak dari peningkatan panas itu juga sangat banyak, yang akhirnya disadari juga oleh warganya.

Benaya:

Uniknya dari bencana peningkatan panas ini adalah dia tidak akan berdiri sendiri. Dia akan memperbesar masalah yang sudah terjadi di lingkungannya. Itu salah satu karakteristik dari extreme heat. Kalau kami menyebutnya sebagai amplifier.

Dari riset kami yang sudah dilakukan sejak 2024, peningkatan panas ini menjadi amplifier, atau dalam istilah disaster, namanya slow-onset disaster, yang sampai sekarang di Indonesia juga masih belum diklasifikasikan sebagai bencana.

Apakah faktor lingkungan sekitar, seperti minimnya ruang terbuka hijau, ikut membuat Urban Heat Island semakin terasa?

Benaya:

Sebenarnya cukup unik ketika kita membahas peningkatan panas di skala mikro. Ada beberapa penelitian terbaru tentang urban climate yang menunjukkan klasifikasi wilayah itu menentukan iklim mikronya, atau namanya local climate zone. Kasus menarik itu di salah satu area rusun yang kami temukan. Tahun ini mereka lebih hijau, tapi mereka merasakan lebih panas.

Ketika ditanya kira-kira faktor apa yang memengaruhi, ternyata halaman depan rumah mereka sudah dibangun flyover. Jadi, walaupun areanya lebih hijau, ketika ada dampak pembangunan perkotaan di depannya, ternyata dampak pembangunan perkotaan ini bisa lebih besar dibandingkan efek pendinginan area hijau tersebut.

Ini kasus yang menarik, karena kita banyak melihat asumsi “makin hijau makin dingin”, tapi ternyata tidak juga. Ada juga penelitian salah satu ahli yang bekerja sama dengan kami, yang meneliti di Ragunan. Ragunan kan terkenal hijau, sangat rindang, tapi kok pas kita ke sana terasa panas sekali?

Ternyata ada faktor lainnya, namanya Sky View Factor, atau faktor seberapa besar udara bisa masuk. Karena kalau terlalu hijau, udaranya juga tidak bisa mengalir dengan baik. Jadi, bicara soal hijau saja, dalam beberapa hal berpengaruh, tapi tidak menjadi penentu utama.

Karena dari penelitian kami, efek hijau ini dampaknya paling hanya 10–30 meter saja. Tidak sebesar itu. Jadi, kalau misalnya mau ada solusi tanaman hijau, harusnya lebih banyak taman-taman kecil dalam jarak-jarak kecil, bukan satu area besar.

Raissa:

Pembangunan infrastruktur di sekeliling permukiman itu juga sebenarnya jadi faktor utama, karena bicara juga tentang efek Urban Heat Island. Maksudnya, bagaimana di Jakarta sendiri, dari segi pembangunan infrastruktur dan perkerasannya, itu sudah memberi nilai tinggi bagaimana akhirnya udara panas terperangkap dalam grey infrastructure-nya. Jadi, memang menarik sekali, dari beberapa tahun ke belakang kita coba membahas tentang Urban Heat Island karena memang dirasakan dan sudah ada dampaknya di warga.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal

Dari sisi kebijakan pemerintah, apa hambatan struktural dalam perancangan tata kota untuk menyikapi Urban Heat Island?

Benaya:

Kalau kebijakan, salah satu studi kasus, salah satu proyek yang kami lakukan, misalnya kami mencoba mengintervensi suatu grey infrastructure dengan kombinasi green infrastructure, atau nature-based solution. Tapi salah satu tantangan yang kami hadapi adalah masih banyaknya silo, atau kepentingan sektoral masing-masing instansi.

Ketika kita bicara misalnya grey infrastructure-nya adalah waduk, ketika kita mau intervensi, ternyata banyak sekali sektor yang harus kita koordinasikan untuk melakukan intervensi hijau tersebut. Kalau waduknya harus koordinasi dengan DSDA, lalu mau pasang lampunya harus koordinasi dengan PJU atau PUPR, lalu untuk tanaman hijaunya di Distamhut.

Tapi ketika kita mau tanya, “Ini izinnya ke mana?”, dilempar ke sini. “Ini izinnya ke mana?”, dilempar ke sini lagi. Jadi, memang agak sulitnya, masih terlalu sektoral, sehingga untuk melakukan suatu intervensi secara keseluruhan di satu area itu agak sulit.

Kelas Jurnalis Cilik

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Yang kedua adalah permasalahan tentang Urban Heat Island itu sendiri. Kalau dicek, beberapa negara sudah punya Heat Action Plan. Indonesia belum ada. Ada dua faktor kalau melihatnya. Mungkin Mas sudah pernah wawancara dengan BMKG, atau sudah pernah lihat di Indonesia, ada satu notion atau pemikiran bahwa orang hidup di tropis itu sudah terbiasa hidup di panas.

Ini agak sulit ketika kita bicara tentang perubahan iklim. Kami juga pernah waktu itu wawancara dengan salah satu petinggi. Misalnya, “Bapak, apakah merasakan perubahan iklim, panas?” “Oh, tidak,” tapi di rumahnya AC-nya ada 10. Agak susah ketika kita bicara tentang perubahan iklim, khususnya untuk panas.

Atau ketika kita melihat dari berita-berita, panas atau temperatur. Sedangkan di Indonesia atau di daerah tropis, panasnya tidak akan sampai 40 derajat. Kalau sampai 40 derajat, kita sudah mati terkukus semua. Panasnya paling tinggi juga 37 atau 36. Ini yang agak susah ketika kita masih mengikuti paradigma Eropa, belum kita lokalizasi.

Karena ketika kita bicara tentang extreme heat atau heatwave, dari klasifikasinya itu di atas 35 derajat dalam lima sampai tujuh hari berturut-turut. Kalau misalnya ini terjadi di Indonesia, ada penelitian yang menunjukkan bahwa hari kedua, 70 persen populasi sudah meninggal kalau ini memang terjadi. Jadi, ini yang agak sulit kalau misalnya kita masih memakai klasifikasi dari Barat.

Yang kedua adalah belum ada framework yang memang membahas Urban Heat Island ini secara tersendiri. Masih lebih ke arah kebakaran. Kalau misalnya kebakaran hutan sering terjadi karena panas, kebakaran hutan itu dianggap bencana. Tapi kalau tentang Urban Heat Island sendiri, ini masih susah.

Yang ketiga, klasifikasi penyakit yang dihasilkan oleh Urban Heat Island ini juga masih sangat jarang atau masih sangat sulit dibuktikan. Padahal, kalau kita bicara ke nakes, dalam beberapa tahun terakhir memang ada makin banyak peningkatan kasus, misalnya gatal-gatal atau pusing. Ini agak sulit ketika kita bilang penyakit ini ada korelasi langsung, karena balik lagi tadi, Urban Heat Island atau extreme heat ini cenderung bukan berdiri sendiri, tapi amplifying.

Kalau misalnya punya penyakit jantung, makin gampang sakit jantung. Atau misalnya kalau sudah tua, akan lebih rentan lagi, karena kalau sudah tua, kelenjar keringatnya tidak bisa menghasilkan keringat lebih banyak.

Limbang cangkang karang di Cilincing

Warga mengumpulkan limbah cangkang kerang di Kalibaru, Cilincing, Jakarta, Senin (22/9/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/hma/YU

Lalu, apa yang perlu dilakukan pemerintah agar persoalan panas mulai masuk ke dalam perencanaan hunian?

Raissa:

Penelitian kita itu memang mau melihat dua tipologi tadi. Dan harapannya, luaran dari penelitian ini juga bisa menghasilkan rekomendasi kebijakan. Sekarang ini program pemerintah tentang BSPS atau program tiga juta rumah itu harusnya sudah bisa mulai addressing, bagaimana kalau mendesain suatu hunian juga mulai memperhatikan hal yang berkaitan dengan urban heat.

Karena kalau misalnya melihat tren rumah susun saja, rumah susun di Jakarta itu cenderung di beberapa periodenya punya tipologi yang sama. Jadi, sekarang beberapa tahun ini sudah punya tipologinya, ada yang mid-rise tujuh lantai. Tapi dari apa yang mungkin kita juga observasi, kita lakukan penelitian, dari segi bentuk desainnya juga, kalau fokusnya pada bukaan, itu juga masih banyak yang bisa dikaji.

Dan mungkin pelibatan bersama warganya juga jadi poin penting. Bagaimana assessment, tahu dulu warganya itu sebenarnya punya pola adaptasi yang seperti apa, dan itu yang bisa diangkat juga dalam proses nanti perencanaan, dalam membuat guidelines-nya dalam mendesain. Itu yang kayaknya mau kita dorong dari adanya penelitian ini.

Fenomena cuaca panas 2025

Warga melintasi pelican crossing di Jakarta, Kamis (9/10/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Jakarta pada 8–9 Oktober 2025 mengalami fenomena kulminasi, yaitu saat matahari berada di titik tertinggi di langit suatu wilayah sehingga bayangan akan tegak, pendek, atau menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. ANTARA FOTO/Ika Maryani/hma/nym. (ANTARA FOTO/IKA MARYANI)

Apakah ada contoh praktik yang bisa menjadi rujukan untuk menghadapi panas ekstrem sekaligus menciptakan ruang kota yang ramah anak?

Raissa:

Sebenarnya kalau bicara tentang best practice, justru yang mau coba dikenalkan itu yang ada di Indonesia sendiri, yang ada di Jakarta sendiri. Contohnya, Kampung Susun Akuarium. Itu sudah jadi salah satu, kalau menurut aku pribadi, dari bentuk proses perencanaan hingga akhirnya warga sudah berapa tahun tinggal kembali di Kampung Susun Akuarium, itu pun cukup menarik.

Bagaimana sebenarnya dalam proses hingga akhirnya terbentuk desainnya, itu memang dari awal sudah ada pelibatan dari warga. Warga juga punya andil dalam proses menentukan perencanaan desain huniannya seperti apa.

Dan hingga saat ini mungkin memang masih berproses melakukan penataan infrastruktur ruangnya, tapi bagaimana warga juga akhirnya punya skema desain yang secara tidak langsung itu addressing juga terhadap peningkatan kenyamanan termal mereka di lingkungan.

Kampung Susun Akuarium mendapatkan penghargaan Internasional

Warga melintas di depan Kampung Susun Akuarium di Jakarta, Selasa (31/10/2023). ANTARA FOTO/Hana Dewi Kinarina/Ak/tom.

Misalnya sesederhana desain koridor mereka, yang sampai saat ini pun warga memanfaatkan desain koridornya itu untuk istirahat, sekadar misalnya tidur siang. Jadi, pola adaptasi yang dilakukan di Kampung Susun Akuarium juga cukup menarik, dan elemen ruang yang bisa digunakan juga cukup banyak. Bukan cuma di dalam rumahnya saja, tapi di koridor, di lantai satu, hallway-nya, kemudian di warung-warung. Itu sebenarnya praktik-praktik yang mau aku tekankan.

Praktik-praktik yang dilakukan warga dalam proses mengatasi cuaca panas itu ternyata cukup menarik, dan tumbuhnya juga secara tidak disengaja. Sekadar mau beli sesuatu ke warung, tapi jadinya sekalian ngadem, karena seperti yang Mas Iben sampaikan, ternyata warungnya ada shading yang lebih memudahkan, atau juga ada ruang kumpul.

Jadi, sebenarnya bicara tentang best practice, menurut saya, kalau memang bisa didorong dari awal, itu dengan keterlibatan semua elemen yang ada, mulai dari penggunanya hingga yang membantu memfasilitasi teknisnya. Itu jadi satu hal utama dalam proses merencanakan.

Benaya:

Mungkin ada dua hal yang harus memang dikedepankan. Yang pertama adalah partisipatoris, dan yang kedua adalah masalah struktural. Kalau partisipatoris, ketika kami melakukan tahapan Focus Group Discussion bersama warga dan co-design, hal menarik adalah warga sendiri sudah tahu area panas di lingkungan mereka. Tidak usah kita tunjukkan peta, mereka sudah tahu area-area yang mereka hindari ketika siang hari atau ketika sedang panas.

Ketika dicocokkan dengan peta, malah terlihat lebih jelas lagi. Hal ini menarik karena sampai sekarang penginderaan jauh atau menggunakan satelit untuk mengukur suhu itu maksimal resolusi spasialnya cuma 1 kilometer yang benar-benar pakai suhu. Tapi kalau pakai Landsat, itu bisa sampai 70 meter, dan kalau pakai Sentinel, bisa 10 meter. Tapi itu masih Land Surface Temperature.

Land Surface Temperature atau suhu permukaan ini tidak menggambarkan suhu udara yang ada di sana. Sedangkan Jakarta, khususnya Jakarta Utara, kawasannya sangat padat. Satelit mungkin tidak bisa menembus apa yang ada di bawah atap tersebut. Jadi, memang yang paling benar, kalau memang tidak bisa mengukur langsung ke lokal, ya tanya ke warga.

Pembangunan Kampung Susun Akuarium

Pekerja memasang tiang pancang untuk pembangunan Kampung Susun Akuarium, Jakarta, Senin(28/12/2020). tirto.id/Andrey Gromico

Sesimpel mengajak warga untuk mendesain bersama, untuk berpikir bersama tentang solusi yang terbaik, karena warga sendiri yang merasakan. Cukup menarik juga ketika kita melihat salah satu rusun modern. Dari arsiteknya niatnya baik, dia pasang kaca besar di kamar, mungkin supaya warganya tidak lompat. Tapi kaca besar ini jadi seperti perangkap panas kalau terkena panas. Warganya tidak bisa mengintervensi, karena kalau kacanya dibuka, dianggap merusak bangunan. Ini agak menyedihkan.

Yang kedua tadi, masalah struktural. Dari penelitian kami, area permukiman yang memiliki adaptasi baik itu cenderung area permukiman yang memang dimiliki atau kepemilikannya jelas. Karena kalau misalnya masih sewa, atau statusnya juga masih belum jelas, mereka cenderung masih tidak mau mengubah tatanan rumahnya atau mengubah cara beradaptasi dalam rumah.

Jadi, hak memiliki, atau kejelasan menghuni, ini penting. Karena dengan adanya keamanan bermukim, cenderung memiliki adaptasi yang tinggi. Ini yang perlu di-address atau dihadapi, karena balik lagi tadi, sifat Urban Heat Island ini memperparah kerentanan yang mereka punya.Jadi, kalau misalnya hanya menghadapi isu Urban Heat Island atau panas ekstrem, harus mengatasi masalah strukturalnya atau masalah dasarnya terlebih dahulu.

Tidak akan bisa mengatasi Urban Heat Island kalau misalnya cuma membangun taman. Pertanyaannya, siapa yang bisa akses tamannya? Bangun saja taman seribu, tapi tamannya dipagari, ya tidak berguna juga. Cuma orang-orang tertentu saja yang merasakan.

Jadi, memang harus bisa dijangkau, dan kalau bisa, bukan harus memiliki, tapi bisa diolah. Karena banyak taman yang ternyata kalau bekerja sama dengan warganya bisa lebih bagus, bisa lebih bermanfaat. Karena balik lagi tadi, dampak penghijauan taman cuma paling 10 sampai 30 meter.

Jadi, seperti apa prinsip utama tata kota yang benar-benar ramah anak di tengah ancaman panas ekstrem?

Benaya:

Pertama adalah keterjangkauan. Anak-anak harus bisa mengakses ruang yang nyaman tanpa harus menempuh jarak yang jauh. Kedua, kita tidak bisa hanya melihat bangunan secara individual. Kita harus melihat relasi antarbangunan, lingkungan, dan komunitas.

Ketiga, warga harus dilibatkan dalam proses perencanaan. Karena mereka yang paling mengetahui bagaimana lingkungan mereka digunakan dan di mana titik-titik panas yang mereka hadapi sehari-hari. Dan yang terakhir, masalah strukturalnya juga harus diselesaikan.

Karena urban heat ini adalah amplifier. Dia memperbesar kerentanan yang sudah ada. Kalau status hunian tidak aman, bangunan tidak layak, ruang publik sulit diakses, kemudian kita hanya membangun taman, masalahnya tidak selesai. Jadi, kalau kita bicara tentang child-friendly urban planning, menurut saya, jangan hanya bertanya apakah anak punya taman.

Tapi tanyakan juga: apakah anak bisa mencapai taman itu? Apakah taman itu nyaman ketika siang hari? Apakah keluarganya bisa mengaksesnya? Apakah ruang tersebut bisa digunakan masyarakat? Dan apakah lingkungan tempat anak tinggal memang sudah memungkinkan mereka beradaptasi terhadap panas?

Karena pada akhirnya, kota yang ramah anak bukan hanya kota yang menyediakan ruang untuk anak. Kota yang ramah anak adalah kota yang membuat anak bisa mengakses ruang yang aman, nyaman, dan layak huni ketika mereka tumbuh di dalamnya.

Baca juga artikel terkait CUACA PANAS atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfitra Akbar