Menuju konten utama

Anak-Anak Jakarta Utara Tumbuh dalam Kepungan Panas

Panas ekstrem perlahan mengubah masa kecil anak di Jakarta Utara, dari ruang bermain yang menyempit hingga gangguan kesehatan, belajar, dan keseharian.

Anak-Anak Jakarta Utara Tumbuh dalam Kepungan Panas
Header Decode Anak anak Tumbuh di Bawah Cuaca Panas Ekstrem Jakarta. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagi Kharisa (15), perubahan iklim bukan lagi sekadar materi yang ia pelajari di ruang kelas. Remaja yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, itu telah merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari: banjir rob yang datang tiba-tiba hingga udara siang yang semakin menyengat. Namun, perubahan yang paling mudah ia lihat justru terjadi pada anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.

Dulu, kata Kharisa, anak-anak di kampungnya masih biasa bermain di luar rumah meski matahari sedang terik. Mereka memanjat pohon, bersepeda, atau sekadar duduk memandangi laut. Ruang di sekitar kampung menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Kiwari, kebiasaan itu perlahan berubah. Anak-anak lebih sering memilih berada di dalam rumah. Sebagian menghabiskan waktu dengan bermain gim daring daripada keluar untuk bermain bersama teman-temannya.

“Anak-anak sekarang tuh pada [malas] keluar-keluar rumah, nggak pada keluar rumah. Jadi kayak main game online dan lain-lain,” kata Kharisa saat ditemui Tirto pada Sabtu (25/7/2026).

Bagi Kharisa, cuaca panas ekstrem juga mengganggu aktivitas belajarnya di sekolah. Selain ruang kelas yang terasa lebih panas, ia juga terganggu dengan teriknya matahari saat hendak pulang ke rumah. Sehari-hari, siswi SMP itu memang pulang sekolah pada saat terik matahari masih sangat membara. Bahkan setelah seharian lelah belajar, ia masih harus menunggu angkutan umum untuk menuju rumah sambil bermandikan panasnya sinar matahari.

“Jadi itu juga yang [buat] secara kualitas hidup juga emang nggak terlalu baik,” tuturnya.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Kharisa (15), anak yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, saat diwawancarai oleh Tirto pada Sabtu (25/7/2026).tirto.id/Naufal Majid

Pengalaman serupa dirasakan Hafiz (11), yang tinggal tidak jauh dari rumah Kharisa. Panas yang berulang membuatnya pernah mengalami pusing hingga mual. Orang tua Hafiz kemudian melarangnya bermain di luar rumah pada siang hari. Ketika matahari sedang terik, ia diminta tetap berada di dalam rumah untuk menghindari gangguan kesehatan.

“Saya tetap di rumah menuruti kata orang tua, jangan main, soalnya panas. Jadi saya di rumah main saja sama adik saya,” ujar Hafiz saat ditemui Tirto tak jauh dari tempat Kharisa.

Ketika Tirto menemui Kharisa dan Hafiz pada 25 Juli 2026, suhu di kawasan Cilincing memang mencapai lebih dari 32 derajat Celsius. Berdasarkan catatan Stasiun Pemantauan Tanjung Priok yang dihimpun Meteostat, suhu tertinggi pada hari itu mencapai 32,1 derajat Celsius.

Lalu, saat artikel ini ditulis pada Rabu, 5 Agustus 2026, AccuWeather mencatat suhu di Cilincing mencapai 32 derajat Celsius, dengan suhu sebenarnya yang dirasakan oleh tubuh manusia diproyeksikan mencapai 37 derajat Celsius.

Bukan hanya suhu yang panas, kualitas udara di Cilincing pada 5 Agustus 2026 juga masuk dalam kategori tidak sehat. AccuWeather mengumumkan bahwa konsentrasi partikel polutan PM2.5 di Cilincing berada pada level 123 atau sekitar 44 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Jika mengacu pada informasi Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta yang berada di SD Negeri 5 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, kualitas udara di sana juga tergolong tidak sehat. Konsentrasi partikel polutan PM2.5 di Cilincing berada pada level 144 dengan tingkat konsentrasi mencapai 40,66 µg/m³.

Sebagai catatan, PM2.5 merupakan partikel polutan yang berukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga dapat terhirup hingga masuk ke paru-paru bahkan aliran darah. Paparan partikel ini disebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada paru-paru dan jantung.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Hafiz (11), anak yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara, saat diwawancarai oleh Tirto pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Mengapa Jakarta Utara Bisa Mengalami Panas Ekstrem?

Pengalaman Kharisa dan Hafiz bukan semata-mata soal satu hari ketika matahari terasa lebih terik. Data pengamatan cuaca menunjukkan bahwa kondisi termal di pesisir Jakarta Utara memang mengalami perubahan dalam jangka panjang.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu minimum tahunan yang tercatat di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok pada periode 1981–2025 menunjukkan tren peningkatan. Kenaikan suhu minimum tersebut bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan kenaikan suhu maksimum. Suhu minimum meningkat sekitar 0,026 derajat Celsius per tahun, sementara suhu maksimum meningkat sekitar 0,014 derajat Celsius per tahun.

Grafik Suhu Udara Maksimum Tahunan

Grafik Suhu Udara Maksimum Tahunan (TXx) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok Periode 1981-2025. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan, peningkatan suhu minimum yang lebih dominan itu mengindikasikan adanya efek pemanasan suhu di malam hari atau nighttime warming yang signifikan. Umumnya, fenomena itu diperkuat oleh dampak urbanisasi atau Urban Heat Island (UHI) serta efek perubahan iklim global di wilayah pesisir Jakarta Utara.

Artinya, persoalan panas di Jakarta Utara bukan hanya tentang seberapa terik matahari pada siang hari. Malam hari pun cenderung tidak lagi sedingin sebelumnya. Ardhasena juga menjelaskan, kondisi wilayah Indonesia yang secara umum memiliki kelembapan tinggi atau dikenal sebagai wilayah hot-humid, membuat suhu udara kadang terasa lebih panas oleh tubuh manusia.

Analisis BMKG terhadap kondisi termal di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok selama 1981–2024 juga menunjukkan adanya tren peningkatan stres panas dalam jangka panjang. Indeks Universal Thermal Climate Index (UTCI), yang digunakan untuk menggambarkan tekanan panas yang dirasakan tubuh manusia, meningkat rata-rata sekitar 0,0211 derajat Celsius per tahun. Dalam kurun 44 tahun, kenaikannya mencapai sekitar 0,93 derajat Celsius.

Grafik Suhu Udara Minimum Tahunan

Grafik Suhu Udara Minimum Tahunan (TNn) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok Periode 1981-2025. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Indikator lain, Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT), juga menunjukkan tren peningkatan sekitar 0,0187 derajat Celsius per tahun atau sekitar 0,82 derajat Celsius selama periode yang sama.

Menurut Ardhasena, ada sejumlah faktor yang membuat Jakarta Utara mengalami suhu tinggi dan panas ekstrem jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di Jakarta. Adapun faktor-faktor itu berkaitan dengan kondisi geografis dan meteorologis, pemanfaatan lahan (land use), hingga intensitas aktivitas manusia (antropogenik).

“Secara geografis dan meteorologis, wilayah Jakarta Utara adalah wilayah pesisir yang memiliki tingkat kelembapan lebih tinggi akibat posisinya dekat laut. Faktor Topografi ketinggian lokasi Jakarta Utara yang lebih rendah dari wilayah lain juga memungkinkan terjadi akumulasi penumpukan panas dan polusi,” terang Ardhasena kepada Tirto, Rabu (5/8/2026).

Pada saat yang sama, permukaan kota terus berubah. Proporsi lahan terbangun atau impervious surface—permukaan yang didominasi material seperti beton dan aspal—terus meluas, sementara ruang terbuka hijau (RTH) dan vegetasi masih terbatas. Aktivitas industri, pelabuhan, serta lalu lintas kendaraan berat turut menambah tekanan lingkungan di kawasan Jakarta Utara.

Ardhasena mengatakan periode paling kritis untuk paparan panas di Jakarta Utara umumnya berlangsung pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Puncak paparan biasanya terjadi sekitar pukul 13.00–14.00, ketika suhu udara mencapai titik tertingginya dalam sehari. Rentang waktu itu beririsan dengan kehidupan sehari-hari anak.

Ia menambahkan, menambahkan, risiko heat stress tertinggi terjadi pada bulan-bulan tertentu di mana posisi matahari berada tepat di atas wilayah Indonesia, atau berada pada titik kulminasi.

“Puncak Utama (September–Oktober): Matahari bergerak ke arah selatan ekuator dan berada tegak lurus di atas langit Pulau Jawa. Periode ini juga bertepatan dengan puncak musim kemarau menuju masa pancaroba. Puncak Kedua (April – Mei): Terjadi saat masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau, ketika matahari melintasi garis khatulistiwa menuju belahan bumi utara,” jelasnya.

Urban Heat Island: Fenomena yang Membuat Suhu di Kota Lebih Panas

Ardhasena menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena Urban Heat Island (UHI), ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya. Fenomena UHI adalah kondisi ketika suhu di wilayah perkotaan jauh lebih panas daripada daerah pedesaan atau alam di sekitarnya. Menurut Ardhasena, efek UHI memberikan kontribusi langsung yang jauh lebih dominan terhadap kenaikan suhu harian di tingkat permukaan dibandingkan angka kenaikan rata-rata akibat pemanasan global.

Analisis BMKG menunjukkan UHI terjadi secara konsisten di Jakarta sepanjang tahun. Intensitasnya dapat mencapai sekitar 2 derajat Celsius dan terutama terkonsentrasi di kawasan perkotaan yang didominasi permukaan terbangun, aspal, beton, serta tutupan vegetasi yang terbatas.

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta

Analisis Fenomena Urban Heat Island Jakarta. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Menurut Ardhasena, efek UHI pada siang hari lebih kuat dibandingkan malam hari, yang menunjukkan tingginya penyerapan radiasi matahari oleh permukaan kedap air di kawasan perkotaan. Meski begitu, efek UHI cenderung tetap bertahan hingga malam hari.

“Fenomena UHI tetap bertahan pada malam hari, mengindikasikan adanya penyimpanan panas (heat storage) pada bangunan dan permukaan jalan yang kemudian dilepaskan secara perlahan sehingga suhu malam hari tetap lebih tinggi,” ucapnya.

Di Jakarta Utara, kondisi tersebut dapat terasa lebih kompleks karena karakter wilayahnya sebagai kawasan pesisir. Peneliti Rujak Center for Urban Studies (RCUS), Benaya Valentino Ginting, mengatakan dampak UHI di wilayah pesisir seperti Jakarta Utara dapat terasa lebih nyata. Kelembapan yang tinggi membuat proses pendinginan tubuh melalui penguapan keringat menjadi kurang efektif.

Benaya juga menyoroti dampak dari masifnya pembangunan dan aktivitas industri terhadap fenomena UHI. Menurutnya, pembangunan gray infrastructure atau pembangunan infrastruktur yang menggunakan material beton, baja, serta bahan keras lainnya, turut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu panas dalam skala mikro.

Ia mencontohkan, ada temuan RCUS di salah satu rumah susun (rusun) di Jakarta yang sebenarnya sudah melakukan penghijauan, tetapi penghuninya masih mengalami suhu panas. Setelah ditelaah, suhu panas itu ternyata timbul akibat pembangunan flyover yang berada tepat di seberang rusun.

“Jadi walaupun areanya lebih hijau, tapi ketika ada dampak pembangunan manusia atau dampak pembangunan perkotaan di depannya, ternyata dampak pembangunan perkotaan ini bisa lebih besar dibandingkan efek pendinginan area hijau tersebut,” tutur Benaya saat dihubungi Tirto, Rabu (5/8/2026).

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Ketika Panas Masuk ke Tubuh Anak

Saat berbicara mengenai cuaca panas ekstrem, kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, hingga lansia menjadi kelompok yang paling parah terdampak. Terkhusus untuk anak-anak, UNICEF mencatat sampai dengan 2022, ada sekitar 559 juta anak-anak di dunia yang sudah terpapar oleh gelombang panas (heatwave) tinggi.

UNICEF menjelaskan, anak-anak memiliki kerentanan yang lebih saat menghadapi cuaca panas ekstrem, karena tubuh mereka memproduksi panas yang lebih tinggi. Anak-anak disebut menghasilkan lebih banyak panas per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa.

Anak-anak yang lebih muda juga memiliki rasio luas permukaan terhadap massa tubuh yang lebih tinggi. Hal ini dapat menyebabkan mereka menyerap lebih banyak panas dari lingkungan, tergantung pada kondisi tubuh dan tingkat kebugaran mereka.

UNICEF juga memproyeksikan bahwa sampai 2050, hampir setiap anak di bumi—lebih dari 2 miliar anak—diperkirakan akan menghadapi gelombang panas yang lebih sering terjadi, terlepas dari apakah dunia mampu mencapai skenario emisi gas rumah kaca rendah dengan perkiraan pemanasan 1,7 derajat pada 2050 atau skenario emisi gas rumah kaca sangat tinggi dengan perkiraan pemanasan 2,4 derajat pada 2050.

Bukan hanya cuaca panas ekstrem, jutaan anak di dunia juga harus menghadapi berbagai peristiwa krisis iklim yang saling tumpang tindih, kompleks, dan berbahaya. Akumulasi ancaman ini melampaui kapasitas layanan sosial yang tidak siap serta melemahkan ketahanan keluarga dan masyarakat.

Laporan UNICEF pada 2026 menunjukkan bahwa bahaya krisis iklim telah mengancam sebagian besar anak-anak di dunia. Hampir semua anak di dunia kini terpapar setidaknya satu dari bahaya krisis iklim seperti banjir dari sungai, banjir pesisir, kekeringan, badai tropis, gelombang panas, panas ekstrem, kebakaran, sampai badai pasir dan debu.

Cuaca Panas Ekstrem Jakarta

Anak-anak peserta Kelas Jurnalis Cilik melakukan kegiatan di Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/7/2026). tirto.id/Naufal Majid

Risiko kesehatan pun mengintai anak-anak yang terpapar berbagai bahaya krisis iklim, terkhusus cuaca panas ekstrem. Penelitian Schapiro dkk. (2024) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara suhu panas ekstrem dan luaran kelahiran yang buruk, seperti kelahiran prematur, lahir mati, dan berat badan lahir rendah.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa selama periode panas ekstrem, anak-anak lebih sering mengunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) dan sangat rentan terhadap penyakit akibat suhu panas, seperti eksaserbasi asma, peningkatan kejadian penyakit menular tertentu, serta penurunan konsentrasi saat belajar.

Adapun anak-anak dari kelompok minoritas ras dan anak-anak yang hidup dalam kemiskinan terbukti mengalami dampak kesehatan yang lebih buruk selama gelombang panas dan peristiwa panas ekstrem.

Dokter sekaligus Ketua Bidang Dokter Diaspora Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Iqbal Mochtar, menjelaskan, pada lingkungan pesisir yang panas dan lembap, anak-anak yang terpapar cuaca panas ekstrem biasanya memiliki sejumlah gejala kelelahan akibat panas (heat exhaustion) seperti lemas, pusing, keringat berlebihan, kulit tampak pucat dan terasa dingin, mual, hingga kram otot.

Ia mengatakan, jika paparan panas berlanjut tanpa penanganan, kondisi ini akan berkembang menjadi heatstroke yang ditandai dengan lonjakan suhu tubuh hingga melebihi 40°C, kulit merah dan panas, kebingungan, kejang, serta penurunan kesadaran yang membutuhkan pertolongan medis darurat.

“Paparan suhu tinggi secara terus-menerus mengganggu pertumbuhan fisik anak melalui dehidrasi kronis, penurunan nafsu makan yang berisiko memperburuk gangguan gizi serta peningkatan kerentanan terhadap penyakit kulit dan saluran pernapasan,” ucap Iqbal kepada Tirto, Rabu (5/8/2026).

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO

Analisis Tren Stres Panas Harian Stasiun WMO ID: 96741. Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

Dari sisi kognitif, stres kronis akibat panas pada anak juga dapat berdampak pada menurunnya kapasitas memori kerja, merusak fungsi eksekutif otak, dan mengurangi rentang perhatian yang pada akhirnya menghambat perkembangan kemampuan belajar anak.

Selain itu, dari sisi fisiologis, anak-anak yang terpapar panas ekstrem menjadi lebih rentan karena termoregulasi tubuh mereka belum matang penuh. Laju berkeringat anak lebih rendah untuk proses pendinginan evaporatif, ditambah keterbatasan mereka dalam menyadari rasa haus dan mencari perlindungan secara mandiri.

Bukan hanya pada siang hari, cuaca panas yang terus bertahan hingga malam hari juga dapat membuat siklus tidur gelombang lambat (deep sleep) anak terganggu. Padahal, siklus itu sangat dibutuhkan oleh tubuh anak untuk pemulihan.

“Gangguan tidur ini menekan respons imun tubuh dengan menurunkan produksi sitokin, sehingga anak menjadi mudah sakit. Di sisi lain, kualitas tidur yang buruk secara langsung merusak proses konsolidasi memori di otak, membuat anak mengantuk, rewel, dan mengalami penurunan daya tangkap materi pelajaran di sekolah,” terangnya.

Cuaca Panas Ekstrem Juga Buat Psikologi Anak Terganggu

Bukan hanya mengancam kesehatan fisik, paparan cuaca panas ekstrem juga bisa membuat psikologi anak terdampak. Penelitian Wright dkk. (2025) menjelaskan bahwa paparan suhu panas terhadap bayi dan anak-anak menimbulkan sejumlah dampak psikologis, seperti kecemasan, gangguan reaksi, gangguan bipolar, dan psikosis.

Dalam beberapa kasus, suhu tinggi telah mengganggu pola tidur dan menempatkan anak-anak pada risiko melukai diri sendiri, sementara angka bunuh diri juga tercatat meningkat setelah periode suhu panas tingkat sedang maupun ekstrem.

Psikolog anak, Retno Lelyani, menyebut perkembangan emosional anak akan sangat terpengaruh oleh keterbatasan ruang bermain akibat cuaca panas ekstrem. Sebab, saat cuaca panas ekstrem terjadi, anak akan mengalami stres dan tidak lagi bermain di luar ruangan.

Suhu panas juga disebutnya telah meningkatkan beban termal tubuh anak yang dapat memengaruhi sistem saraf dan hormon stres, seperti kortisol, sehingga anak lebih mudah rewel, frustrasi, dan sulit menenangkan diri.

“Jika anak terpapar suhu tinggi pada tahun-tahun awal kehidupannya, hal ini dapat memperluas dampaknya ke area perkembangan lain (sosial, kognitif, fisik). Sedangkan, untuk ruang bermain yang terbatas, hal tersebut akan menyebabkan eksplorasi anak untuk bebas bermain dan interaksi sosial dengan teman sebaya menjadi terhambat,” ujar Retno saat dihubungi Tirto, Selasa (3/8/2026).

“Dampak lain, anak memiliki kesulitan meregulasi emosi, empati, anak mudah frustrasi, dan inisiatif anak akan menjadi rendah,” sambungya.

Akibat stres yang dialami anak, Retno memandang bukan tidak mungkin anak akan mengekspresikan rasa tersebut melalui sejumlah perubahan perilaku dan emosi. Ia mencontohkan, anak akan menjadi lebih mudah marah, rewel, hingga sering meledak secara emosional karena merasa kewalahan oleh sensasi fisik yang timbul akibat panas.

Oleh karenanya, ia mendorong orang tua, pengasuh, maupun guru di sekolah untuk membangun kehangatan dan respons emosional yang baik terhadap anak yang terdampak cuaca panas ekstrem.

Selain itu, orang tua juga perlu menyediakan “zona aman” secara fisik dan emosional, sehingga ketika anak merasa stres akibat cuaca panas, mereka dapat mencari ruang aman untuk mengekspresikan perasaannya.

“Ajarkan keterampilan regulasi emosi dan coping. Teknik relaksasi sederhana, seperti bernapas dalam, relaksasi otot progresif, atau guided imagery, bisa diajarkan dalam bentuk permainan,” pungkasnya.

Tanggul Laut Cilincing

Tanggul Laut Cilincing. foto/Yohanes Hasibuan

Upaya Melindungi Anak dari Paparan Cuaca Panas Ekstrem

Ketika panas semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, kemampuan untuk melindungi diri seharusnya tidak sepenuhnya dibebankan kepada anak dan keluarganya.

UNICEF melalui Protecting Children from Heat Stress: A Technical Note (2023) memperkenalkan kerangka “B.E.A.T. the Heat” untuk membantu melindungi anak dari risiko paparan panas. Kerangka tersebut mencakup kewaspadaan terhadap stres panas, kemampuan mengenali gejala gangguan akibat panas, pengetahuan mengenai pertolongan pertama, serta tindakan cepat ketika anak menunjukkan gejala heatstroke.

Namun, perlindungan anak dari panas tidak berhenti pada kemampuan keluarga mengenali gejala.

UNICEF juga menempatkan pemerintah daerah sebagai bagian penting dalam upaya adaptasi. Pemerintah dapat memperkuat kapasitas petugas, membangun komunikasi risiko, menyediakan akses air, serta menyiapkan ruang atau fasilitas yang dapat digunakan masyarakat untuk berlindung selama periode panas ekstrem.

Dalam jangka panjang, adaptasi juga membutuhkan perubahan pada lingkungan tempat anak tumbuh: lebih banyak tutupan pohon dan ruang hijau, akses air yang memadai, serta ruang publik yang dapat digunakan dengan aman ketika suhu meningkat. Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting di Jakarta Utara, tempat ruang hijau belum tersebar secara merata.

KAMPUNG NELAYAN CILINCING SAAT PSBB JAKARTA

Seorang nelayan memeriksa jaring ikan di Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta, Selasa (15/9/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Senada, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta, Muhammad Aminullah, juga mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk membangun ruang terbuka hijau (RTH) yang lebih masif di berbagai daerah di Jakarta, khususnya Jakarta Utara.

Bagi Aminullah, pembangunan RTH yang masif dapat menjadi bentuk perhatian Pemprov DKI Jakarta dalam menyediakan ruang bermain yang sejuk bagi anak-anak. Sebab, menurutnya saat ini peta persebaran RTH di Jakarta masih belum merata.

“Distribusi RTH belum merata, gitu kan. RTH ini kan dia jauh, masih terpusat [di wilayah] sentral ya. Orang di Jakarta Utara, Jakarta Timur gitu, misal mau ke RTH yang bagus, dia akan pergi ke Menteng atau misalnya ke Tebet Ecopark dan lain-lain. Kita [merasakan] panas, terus kemudian mau mengakses ruang publik, [tapi lokasinya] jauh,” kata Aminullah kepada Tirto, Rabu.

KURANGNYA RTH DI JAKARTA

Suasana kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta, Rabu (29/3/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp.

Padahal, menurut Aminullah, kehadiran RTH di wilayah pesisir seperti Jakarta Utara sangat membantu untuk menyerap suhu panas ekstrem yang dirasakan di sana.

Ia juga menyayangkan timpangnya jumlah RTH yang minim dengan masifnya pembangunan dan aktivitas industri di Jakarta Utara. Dengan mayoritas wilayah yang sudah berbentuk beton, hal itu membuat suhu panas menjadi semakin terperangkap.

Berdasarkan data RTH publik yang dikelola oleh Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta pada 2024 lalu, jumlah RTH di Jakarta mencapai 2.545 titik. Meski begitu, di antara lima kota administrasi, Jakarta Utara memang memiliki jumlah RTH yang paling sedikit.

Hanya ada 353 RTH yang terdapat di Jakarta Utara. Jumlah itu cukup jauh dari Jakarta Selatan yang memiliki 866 RTH, Jakarta Barat 493 RTH, Jakarta Timur 461 RTH, hingga Jakarta Pusat 372 RTH.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfitra Akbar