tirto.id - Tren hidup sehat semakin terlihat dalam keseharian masyarakat. Gym, lari, pilates, yoga, bersepeda, hingga padel tidak lagi sekadar menjadi aktivitas rekreasi, tetapi mulai menjadi bagian dari rutinitas dan gaya hidup, terutama di kawasan perkotaan.
Sejumlah data menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap aktivitas fisik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 37,16 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas melakukan olahraga dalam seminggu terakhir pada 2024. Angka tersebut meningkat dari 27,14 persen pada 2021.
Survei Populix pada 2026 juga menunjukkan 81 persen pekerja kantoran rutin berolahraga di tengah kesibukan mereka. Perkembangan olahraga tertentu bahkan berlangsung lebih cepat. Jumlah lapangan padel di Indonesia, misalnya, meningkat dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, berdasarkan Indonesia Padel Report 2025 dari Growell.
Meningkatnya aktivitas fisik tersebut menjadi menarik jika dilihat bukan hanya sebagai tren gaya hidup, tetapi juga dari perspektif kesehatan masyarakat. Sebab, di saat masyarakat mulai mengalokasikan waktu dan biaya untuk menjaga kebugaran, Indonesia masih menghadapi tingginya faktor risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, obesitas, diabetes, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.

Persoalan tersebut juga berkaitan dengan besarnya beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat biaya pelayanan kesehatan mencapai Rp191,33 triliun, lebih tinggi dibandingkan pendapatan iuran yang terkumpul sebesar Rp176,72 triliun. Penyakit katastropik menyerap 26,28 persen dari total biaya pelayanan tersebut, dengan penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke menjadi sejumlah penyumbang biaya terbesar.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan: ketika semakin banyak masyarakat mulai berinvestasi untuk menjaga kesehatan, seberapa jauh perubahan perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit dan mengurangi beban pembiayaan kesehatan di masa mendatang?
Namun, pencegahan tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat berolahraga. Pola makan, kebiasaan merokok, tidur, skrining, akses terhadap layanan kesehatan preventif, serta lingkungan tempat masyarakat tinggal dan bekerja juga turut menentukan.
Untuk membahas efektivitas pendekatan promotif dan preventif, pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia muda, serta peran berbagai sektor di luar kesehatan dalam mendorong perubahan perilaku, Tirto berbincang dengan Associate Professor Public Health Monash University Indonesia, Grace Wangge.Di tengah besarnya beban pembiayaan JKN untuk penyakit kronis, seberapa penting pergeseran dari pendekatan kuratif ke promotif dan preventif?
Sangat penting. Pendekatan kesehatan seharusnya lebih diarahkan pada upaya promotif dan preventif. Investasi pada pencegahan mungkin tidak selalu lebih murah, tetapi dapat lebih cost-effective.Ketika kita bicara soal murah, ukurannya tidak bisa hanya berdasarkan jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga seberapa efisien biaya tersebut dalam menurunkan angka kesakitan. Pada tahap awal, biaya untuk skrining dan berbagai intervensi preventif mungkin terlihat besar. Namun, dalam jangka panjang, biaya per pasien dapat menurun karena jumlah orang yang sehat lebih banyak daripada yang sakit.
Sejauh mana program promotif dan preventif dalam JKN saat ini sudah efektif mendorong masyarakat melakukan skrining dan mencegah penyakit sejak awal?
Efektivitas program promotif dan preventif memang digawangi oleh Kementerian Kesehatan, tetapi sebenarnya tidak cukup jika hanya berfokus pada program dalam lingkup kesehatan yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas. Pendekatannya perlu menyeluruh dan melibatkan lintas sektor.
Misalnya, untuk pengendalian diabetes dan penyakit kardiovaskular, perlu ada pembatasan garam, gula, dan lemak. Hal tersebut tidak bisa hanya mengandalkan upaya promotif dengan mengharapkan masyarakat melakukan skrining dan mengurangi konsumsi.Kebijakan perpajakan perlu diatur, perdagangan garam, gula, dan lemak perlu diperhatikan, serta kandungannya dalam makanan perlu dibatasi. Hal-hal tersebut berada di luar kewenangan Kementerian Kesehatan saja.
Mendorong skrining juga demikian. Jika hanya dikerjakan oleh Kementerian Kesehatan, tidak akan cukup. Kementerian Ketenagakerjaan, misalnya, sudah membantu melalui skrining kesehatan di tempat kerja. Skrining di tempat kerja akan lebih tertata dibandingkan jika hanya dilakukan di tingkat komunitas.
Skrining di sekolah juga membutuhkan dukungan Kementerian Pendidikan, sementara skrining kesehatan dalam penyelenggaraan ibadah haji membutuhkan dukungan Kementerian Agama. Jadi, upaya promotif dan preventif memang membutuhkan kerja lintas sektor.
Seberapa efektif kebiasaan hidup sehat yang dimulai sejak usia muda dalam menurunkan risiko penyakit kronis ketika seseorang memasuki usia lanjut?
Studi di Asia yang memiliki periode pengamatan panjang belum ada. Namun, ada studi kohort di Amerika Serikat, CARDIA (Coronary Artery Risk Development in Young Adults), yang mengamati sekitar 5.100 orang dewasa muda berusia 18–30 tahun selama 35 tahun.Pada mereka yang konsisten menjalankan kebiasaan hidup sehat—menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik, tidak merokok, dan cukup tidur—serta menjaga IMT normal, kadar kolesterol non-HDL, kadar glukosa darah, dan tekanan darah tetap stabil, peluangnya 20 kali lebih besar untuk mencapai usia paruh baya dengan penyakit kardiovaskular yang lebih sedikit.
Pembuluh darah mereka kebanyakan bersih dari plak dibandingkan dengan mereka yang kurang atau tidak sama sekali menjalankan kebiasaan hidup sehat dan menjaga kestabilan parameter kesehatan tersebut.
Dari sisi medis, apakah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin rutin melakukan gym, lari, pilates, atau olahraga lain sudah bisa dianggap sebagai tren positif bagi kesehatan masyarakat?
Gym, lari, dan pilates sudah bisa dianggap sebagai tren kesadaran positif karena menunjukkan bahwa masyarakat mau melakukan aktivitas fisik. Itu sudah bagus, tetapi perlu dibarengi dengan kebiasaan hidup sehat lainnya, seperti menjaga pola makan, terutama mengurangi gula, garam, dan lemak; tidak merokok; tidur cukup; serta rutin memeriksa kolesterol, gula darah, tekanan darah, dan memastikan IMT tetap normal.Kalau nge-gym hanya untuk mengikuti tren sosial, tetapi setelah itu tetap merokok, banyak mengonsumsi minuman berpemanis, dan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan, belum bisa dikatakan sebagai tren positif bagi kesehatan.
Mengapa masyarakat cenderung baru mengakses layanan kesehatan ketika sudah sakit? Apa yang perlu diubah dari sistem kesehatan agar perilaku preventif menjadi kebiasaan?
Hal ini sebenarnya perlu dijawab oleh para antropolog medis untuk memahami mengapa perilaku tersebut terbentuk. Salah satunya tentu karena kebiasaan. Selama ini masyarakat memang terbiasa datang ke rumah sakit ketika sakit.Namun, masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena akses layanan kesehatan selama ini lebih banyak disediakan dan dipermudah bagi mereka yang sudah sakit.
Untuk mengubahnya menjadi perilaku preventif, akses terhadap layanan preventif harus diperbanyak dan dipermudah. Persepsi bahwa pergi ke dokter pasti menyakitkan atau pasti akan disuntik juga perlu diubah.
Salah satunya melalui pendidikan. Di sekolah, misalnya, pentingnya menjaga kesehatan bisa diajarkan, dan sebenarnya hal tersebut sudah dilakukan. Namun, ketika masyarakat berada di luar lingkungan sekolah dan kampus, sarana preventif sering kali sulit ditemui. Beruntung jika tempat kerja menyediakan fasilitas tersebut.
Artinya, penyediaan layanan kesehatan preventif memang harus dilakukan sepanjang daur hidup. Tidak bisa dilakukan secara sepotong-sepotong agar masyarakat dapat konsisten menjalankan perilaku hidup sehat.

Jika masyarakat lebih aktif berolahraga dan menjaga pola hidup sejak sekarang, seberapa besar potensi dampaknya terhadap kebutuhan pengobatan penyakit kronis di masa mendatang?
Kebutuhan pengobatan untuk penyakit kronis yang berat dan katastropik—yang menyebabkan kematian dan kesakitan parah—akan turun. Artinya, bukan berarti menjadi nol, tetapi beban kesehatan untuk menangani pasien dengan kondisi berat dan banyak komplikasi akan menurun.Namun, tidak bisa sesederhana itu. Ada faktor lingkungan yang juga berpengaruh. Saat ini, misalnya, ada krisis iklim yang juga berdampak terhadap kesehatan kardiovaskular. Polusi udara sangat berpengaruh, begitu pula panas dan kebisingan.
Intinya, kita tidak bisa hanya mengharapkan masyarakat mengubah pola hidup secara individu. Secara ekosistem, lingkungan juga harus mendukung.
Dalam jangka panjang, apakah perubahan perilaku masyarakat menuju hidup sehat realistis untuk menjadi salah satu strategi mengurangi beban pembiayaan JKN? Apa syaratnya agar dampaknya bisa terlihat?
Realistis, asalkan terarah dan terukur. Pengukurannya harus menggunakan variabel dan ukuran yang jelas, termasuk membedakan target jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian, anggaran JKN seharusnya dipastikan. Kita sudah kehilangan mandatory spending. Kalau anggarannya tidak pasti, pelaksanaan rencananya juga akan menghadapi banyak tantangan.Ibu juga menyinggung faktor lingkungan yang memengaruhi kesehatan seseorang. Seberapa penting intervensi di luar sektor kesehatan—seperti lingkungan tempat tinggal, transportasi, ruang publik, dan kebijakan pangan—dalam mendorong masyarakat lebih aktif secara fisik dan mencegah penyakit?
Sangat relevan. Ada, misalnya, kebijakan pembatasan garam dari pemerintah China di beberapa provinsi, yaitu Hebei, Liaoning, Ningxia, Shanxi, dan Shaanxi.Dalam lima tahun saja, kebijakan tersebut dapat menurunkan angka total kematian akibat stroke dan serangan jantung sebesar 13 persen serta kematian dini sebesar 12 persen.
Jadi, intervensi di luar sektor kesehatan sangat penting. Tidak bisa hanya mengharapkan individu mengubah perilakunya. Lingkungan dan kebijakan juga harus mendukung.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id


































