tirto.id - Kebutuhan masker saat gunung meletus semakin meningkat menyusul kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik menyebar ke berbagai wilayah sehingga masyarakat diimbau mengenakan masker untuk abu vulkanik demi melindungi kesehatan.
Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak Jumat (4/9) malam lalu dan terus mengalami erupsi hingga Minggu (6/9).Erupsi ini juga memicu penyebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah.
Dikutip dari BMKG, abu vulkanik Anak Krakatau menyebar ke wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Hujan abu vulkanik ini bahkan mengganggu aktivitas penerbangan dan menyebabkan sejumlah bandara ditutup sementara.
Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Surat edaran ini berisi langkah kesiapsiagaan dan perlindungan kesehatan, termasuk pemantauan kondisi kesehatan masyarakat, peningkatan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta surveilans dan pelaporan kasus yang diduga berkaitan dengan erupsi.
Kemenkes pun mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah, terutama ketika terjadi hujan abu.
Jika terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker untuk abu vulkanik atau masker partikulat seperti N95, KN95, KF94, FFP2 maupun yang setara.
Ini Bahaya Abu Vulkanik

Kemenkes mengimbau agar masyarakat mempersiapkan masker abu vulkanik sebagai salah satu alat perlindungan pernapasan saat erupsi terjadi. Namun, seperti apa bahaya abu vulkanik hingga harus benar-benar diwaspadai?
Melalui SE Nomor KL.01.02/A/17765/2026, Kemenkes menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri atas partikel dengan ukuran mulai dari kasar hingga sangat halus. Pada kondisi tertentu, abu juga dapat disertai gas vulkanik yang bersifat iritan.
Komposisi serta tingkat bahayanya dapat berbeda pada setiap erupsi. Paparan abu vulkanik dapat menurunkan kualitas udara dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Untuk lebih jelasnya, berikut bahaya abu vulkanik:
1. Mengganggu Saluran Pernapasan
Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan sehingga bisa menimbulkan batuk, meningkatkan produksi dahak, timbul mengi, rasa berat di dada, hingga sesak napas.Paparan abu vulkanik juga dapat memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki kondisi kesehatan tertentu, misalnya asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), bronkitis kronik, penyakit paru lain, hingga penyakit jantung.
2. Menyebabkan Gangguan pada Mata
Abu vulkanik dapat masuk dan mengiritasi mata sehingga menyebabkan mata merah, perih, berair, gatal, atau menimbulkan sensasi seperti ada benda asing di dalam mata. Partikel abu yang cukup kasar bahkan dapat menggores permukaan kornea ketika mata digosok.3. Mengiritasi Kulit
Kontak langsung dengan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi kulit yang ditandai dengan kemerahan dan rasa gatal. Paparan tersebut juga dapat memperburuk penyakit kulit yang sudah dimiliki sebelumnya.4. Mencemari Air dan Makanan
Abu vulkanik dapat mengontaminasi sumber air terbuka, tempat penampungan air, serta bahan makanan yang tidak ditutup atau terlindungi dengan baik. Oleh karena itu, ketika terjadi hujan abu, masyarakat wajib menutup sumber air dan menyimpan makanan dalam wadah tertutup.5. Meningkatkan Risiko Kecelakaan Lalu Lintas
Abu vulkanik yang menyebar di udara juga dapat mengurangi jarak pandang, apalagi jika konsentrasinya tinggi. Endapan abu di permukaan jalan juga dapat membuat jalan menjadi licin sehingga meningkatkan risiko kendaraan tergelincir.Tidak Semua Masker Punya Perlindungan yang Sama

Kebutuhan masker saat erupsi meningkat seiring dengan munculnya imbauan dari pemerintah untuk melindungi diri dan keluarga dari bahaya abu vulkanik. Namun, jangan asal pilih masker karena tidak semua jenis masker itu sama atau memiliki tingkat perlindungan yang serupa.
Tidak semua masker memberikan tingkat perlindungan yang sama terhadap partikel abu vulkanik. Menurut situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), saat memilih masker untuk melindungi saluran pernapasan, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu filtrasi dan fit.
Kemampuan filtrasi menentukan seberapa banyak partikel yang dapat ditangkap oleh material penyaring pada masker, sedangkan fit berkaitan dengan kerapatan masker pada wajah.
Masker yang terpasang rapat pada wajah membantu mengarahkan udara melalui filter, sedangkan masker yang longgar dapat menyisakan celah sehingga sebagian partikel masuk melalui sisi masker tanpa melewati filter.
Masker yang memiliki kemampuan filtrasi tinggi tetap dapat memberikan perlindungan yang kurang optimal jika tidak terpasang rapat sehingga udara masuk dari sisi masker. Jadi, meminimalkan celah antara masker dan wajah sangatlah penting.
Untuk paparan partikel seperti abu vulkanik, contoh respirator partikulat yang memiliki standar filtrasi dan dapat membentuk seal dengan wajah adalah masker N95 yang juga direkomendasikan oleh Kemenkes.
Jadi, meskipun produk masker banyak beredar di pasaran, masyarakat diharapkan tidak sembarangan dalam menggunakannya karena tidak semua masker dapat memberikan perlindungan dari abu vulkanik.
Masker yang sekadar menutupi hidung dan mulut belum tentu memberikan perlindungan yang sama dengan respirator yang memang dirancang untuk menyaring partikel dan membentuk kerapatan pada wajah.
Jenis Masker untuk Abu Vulkanik

Salah satu cara melindungi diri dari abu vulkanik adalah dengan menggunakan masker. Dalam Surat Edaran Kemenkes, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan untuk menggunakan masker partikulat seperti respirator N95, KN95, KF94, FFP2, atau masker yang setara.
Jika masker yang direkomendasikan tersebut belum tersedia, Kemenkes menganjurkan memakai masker medis yang sebagai perlindungan sementara.
Yang paling penting, pastikan masker terpasang dengan benar hingga menutupi hidung, mulut, dan dagu secara menyeluruh. Masker sebaiknya juga segera diganti jika sudah basah, kotor, rusak, atau mulai membuat penggunanya kesulitan bernapas.
Sementara itu, CDC juga merekomendasikan masker serupa sebagai alat pelindung saat erupsi. CDC secara khusus menganjurkan penggunaan masker yang disetujui NIOSH untuk melindungi paru-paru dari abu vulkanik, contohnya N95.
N95 memiliki tingkat filtrasi tinggi serta telah melalui persyaratan pengujian dan jaminan mutu yang ketat. Sebagai informasi, respirator yang disetujui NIOSH maupun respirator standar internasional biasanya akan mencantumkan tingkat filtrasi, misalnya minimal 95% atau 80%.
Meski demikian, produk yang memenuhi standar internasional (seperti masker KN95) belum tentu belum memiliki persyaratan jaminan mutu seketat produk yang sudah disetujui NIOSH.
Masker Habis Saat Erupsi? Ini yang Perlu Dilakukan

Kemenkes menganjurkan menggunakan masker KN95, KF94, FFP2, maupun masker N95 untuk abu vulkanik. Lalu, bagaimana jika persediaan masker sudah habis? Bolehkah memakai sembarang masker untuk melindungi diri dari hujan abu?
Jika masker partikulat yang direkomendasikan Kemenkes tidak tersedia atau sudah habis, masyarakat bisa memakai masker medis sebagai alternatif masker saat erupsi.
Namun, penggunaan masker medis ini hanya sebagai perlindungan sementara. Masyarakat diimbau untuk tetap memprioritaskan pemakaian masker yang memadai atau menyimpan masker yang direkomendasikan Kemenkes sebagai persiapan menghadapi erupsi.
Dalam kondisi darurat, masker medis memang boleh digunakan, tapi tetap harus dipakai sebaik mungkin. Masker tersebut perlu dipakai sampai menutupi hidung, mulut, dan dagu, serta diganti apabila sudah basah, kotor, rusak, atau membuat penggunanya kesulitan bernapas.
Jangan Asal Pakai Masker Biasa
Kita bisa menemukan berbagai macam masker dari beragam merek di pasaran, bahkan ada juga yag menjual masker kain. Sayangnya masker biasa kemungkinan tidak bisa dijadikan pilihan masker untuk erupsi gunung karena tidak mampu memberikan perlindungan yang optimal terhadap bahaya abu vulkanik.Perlu diingat bahwa kemampuan menyaring partikel dan kerapatan masker pada wajah adalah faktor penting dalam menentukan tingkat perlindungan masker. Masker yang disetujui NIOSH, seperti N95, adalah standar masker untuk abu vulkanik.
Masker medis tetap dianggap belum memiliki standar filtration dan fit yang setara dengan N95 atau respirator partikulat yang memang dirancang dan diuji untuk menyaring partikel. Jadi, penggunaan masker medis hanya untuk keperluan darurat yang dapat memberikan perlindungan sementara.
Sementara itu, masker non-medis seperti masker kain maupun masker scuba juga sebaiknya dihindari karena filtrasi atau perlindungannya juga tidak optimal.
Kurangi Paparan Abu Vulkanik
Jika pilihan masker terbatas, langkah penting lain yang wajib dilakukan adalah mengurangi paparan abu sebanyak mungkin. Caranya adalah dengan tetap berada di dalam ruangan dan pastikan melakukan hal-hal berikut:- Menutup pintu dan jendela dengan rapat, termasuk celah-celah yang bisa jadi jalan masuknya abu.
- Membersihkan abu dengan cara dibasahi secukupnya terlebih dahulu agar abu tidak beterbangan. Hindari menyapu abu yang masih kering, jangan meniup abu dengan udara bertekanan, serta tidak menggunakan alat yang menyebabkan abu tersuspensi.
- Pastikan filter pendingin udara selalu bersih.
- Tutup penampungan air bersih dan sumur. Lindungi pula wadah makanan dan minuman agar tidak terkena abu.
- Hanya gunakan air yang benar-benar bersih dan aman. Jangan lupa cuci bahan makanan segar dengan air bersih yang mengalir sebelum dikonsumsi.
- Pastikan memiliki persediaan obat yang cukup, terutama untuk anggota keluarga yang memiliki penyakit kronis.
Perlengkapan Pendukung untuk Melindungi Diri dari Abu Vulkanik

Masyarakat perlu memiliki masker yang memadai sebagai perlengkapan saat gunung meletus. Namun, masker untuk abu vulkanik bukanlah satu-satunya alat atau perlindungan yang perlu disiapkan.
Perlu dipahami bahwa bahaya abu vulkanik tidak hanya sebatas di saluran pernapasan, tapi juga bisa berbahaya bagi kulit dan mata. Kemenkes juga memberikan sejumlah anjuran untuk melindungi bagian tubuh lainnya serta mengurangi risiko selama berada di luar ruangan.
Selain soal masker, berikut tips menghadapi hujan abu vulkanik serta peralatan yang dibutuhkan:
1. Perlindungan Mata
- Gunakan kacamata pelindung abu vulkanik atau goggles.
- Jika mata terkena abu, jangan langsung mengucek atau menggosoknya. Bilas mata menggunakan air bersih yang mengalir, bisa juga memakai cairan pembilas steril.
- Hindari memakai lensa kontak selama terjadi hujan abu.
- Pastikan untuk selalu mengenakan pakaian yang tertutup, seperti baju berlengan panjang, celana panjang, serta alas kaki yang tertutup.
- Setelah beraktivitas di luar ruangan, segera mandi atau basuh bagian tubuh yang terpajan (tidak tertutup) atau terpapar abu vulkanik, lalu ganti pakaian dengan yang lebih bersih.
- Sebisa mungkin hindari memakai kendaraan roda dua atau kendaraan terbuka lain untuk meminimalkan paparan abu.
- Jika terpaksa berkendara, tingkatkan kewaspadaan, upayakan untuk mengurangi kecepatan, selalu nyalakan lampu, dan jaga jarak aman demi menghindari kecelakaan.
Sebagai pengingat, ini dia daftar kesiapsiagaan menghadapi hujan abu:
- Siapkan respirator yang sesuai seperti masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau yang setara.
- Sediakan kacamata pelindung tertutup atau goggles untuk melindungi mata dari abu.
- Siapkan pakaian berlengan panjang, celana panjang, dan alas kaki tertutup untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
- Pantau informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dan sebaran abu dari PVMBG/Badan Geologi serta instansi terkait.
- Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika terjadi hujan abu.
- Ikuti instruksi evakuasi apabila pemerintah atau pihak berwenang menetapkan wilayah tempat tinggal masuk dalam zona bahaya.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































