Menuju konten utama

Erupsi Anak Krakatau Semburkan Lava Fountain, Ini Penjelasannya

Lava fountain yang disemburkan Anak Krakatau merupakan fenomena umum dalam setiap erupsi gunung berapi. Simak penjelasan, bahaya dan dampak yang timbul.

Erupsi Anak Krakatau Semburkan Lava Fountain, Ini Penjelasannya
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi pada Sabtu (5/9/2026), malam dan berlanjut hingga Minggu (6/9/2026). Erupsi yang berlangsung dengan kondisi lava fountain menimbulkan dentuman besar, lemparan batu di sekitar gunung hingga debu vulkanik.

Dampak debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tersebar ke area Lampung, Banten, Jakarta hingga Bandung. Bahkan, aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta juga terganggu, dengan beberapa penerbangan internasional dan domestik dibatalkan.

Sementara itu, lava fountain yang ditimbulkan disebut berbahaya untuk makhluk hidup. Oleh sebab itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari Gunung Anak Krakatau.

Apa Itu Lava Fountain?

Salah satu fenomena yang terjadi dalam erupsi Gunung Anak Krakatau adalah munculnya lava fountain. Material tersebut mirip dengan lava pada umumnya, tetapi memiliki bentuk yang menyerupai air mancur.

Mengutip Jurnal Geophysical Research Letters Volume 41 (2014), lava fountain merupakan fenomena vulkanik yang dihasilkan dari aktivitas gunung berapi. Material yang dikeluarkan pun sama dengan lava pada umumnya, tetapi terjadi secara menerus hingga menimbulkan fenomena seperti air mancur (fountain).

Lava fountain terjadi ketika pelepasan magma dari dalam gunung berapi dikeluarkan dengan kuat, tetapi tidak eksplosif. Hal ini membuat lava yang disemburkan keluar membentuk air terjun. Fenomena ini pun identik dengan fenomena gunung berapi di Hawaii, Amerika Serikat dan Gunung Etna di Italia.

Dalam penelitian yang dilakukan Alessandro Bonnacorso dan Sonia Calvari yang menggunakan subjek Gunung Etna di Italia, fenomena lava fountain bisa berlangsung dalam rentang waktu yang lama. Kendati begitu, intensitas material yang dikeluarkan dapat menurun seiring waktu, atau justrus sebaliknya.

Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak identik dengan lava fountain. Namun, fenomena serupa pernah terjadi di tahun 2018 ketika Gunung Anak Krakatau erupsi disertai tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten.

Ilustrasi Lava Fountain

Ilustrasi Lava Fountain. FOTO/iStockphoto

Proses Terjadinya Lava Fountain

Secara umum proses terjadinya lava fontain sama dengan proses semburan lava pada umumnya. Hanya saja, intensitas, volume dan eksplosivitasnya yang membuat lava dari gunung berapi disebut fontain atau tidak.

Mengutip penelitian yang dilakukan Stephen A. Nelson dari Tulane University, New Orleans, Amerika Serikat, sebutan lava fontain identik dengan aktivitas letusan gunung berapi Hawai. Prosesnya terjadi melalui kombinasi kimia dan fisika hidrostatik ketika magma naik ke permukaan.

Semburan lava fontain bekerja seperti minuman bersoda yang dikocok kemudian dibuka secara mendadak. Hasilnya, air di dalam botol keluar dengan tekanan tinggi hingga keluar dari botol.

Contoh umum dalam letusan gunung berapi adalah letusan Hawaii. Proses semburan lava muncul dari letusan magma basaltik dengan viskositas rendah. Pelepasan gas menghasilkan semburan api yang mengeluarkan lava pijar hingga 1 km di atas kawah.

Lava yang masih cair ketika kembali ke permukaan, mengalir menuruni lereng sebagai aliran lava. Letusan Hawaii dianggap sebagai letusan non-eksplosif, sehingga sangat sedikit material piroklastik yang dihasilkan.

Bahaya dan Dampak Lava Fountain

Selayaknya material yang dikeluarkan gunung berapi, lava fontain berbahaya untuk kelangsungan mahluk hidup. Pasalnya, lava memiliki suhu panas yang berkisar antara 800-1200 derajat celcius.

Tumbuhan yang terkena lava dapat mengering dan mati dalam seketika, begitu pula dengan hewan yang dapat terpanggang panas. Oleh sebab itu, saat terjadi erupsi gunung berapi dihimbau tidak melakukan aktivitas dalam radius berbahaya yang telah ditetapkan.

Mengutip dari laman Antara, PVMBG telah telah menghimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari Gunung Anak Krakatau. PVMBG pun telah menetapkan status Level II (Waspada), sejak Juli 2026, dan kini meningkat ke Level III (Siaga).

Ilustrasi Lava Fountain

Ilustrasi Lava Fountain. FOTO/iStockphoto

Kendati demikian, PVMBG menegaskan Ggunung Anak Krakatau masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan penerapan langkah mitigasi. Oleh karena itu, masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik.

Selain itu, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi cuaca sebelum melaut.

Sementara itu, dampak erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sejumlah penerbangan di sekitar terdampak debu vulkanik. Sejauh ini Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten dan Bandara Raden Inten, Bandar Lampung ditutup sampai dengan waktu yang belum ditentukan.

Baca juga artikel terkait ERUPSI ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Permadi Suntama

tirto.id - Edusains
Penulis: Permadi Suntama
Editor: Iswara N Raditya