Menuju konten utama

Gunung Semeru Erupsi, Kolom Letusan Capai 1.000 Meter Pagi Ini

Gunung Semeru erupsi pada Minggu pagi dengan kolom letusan 1.000 meter. Status Siaga, warga diminta menjauhi kawasan rawan.

Gunung Semeru Erupsi, Kolom Letusan Capai 1.000 Meter Pagi Ini
Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (16/6/2026). Berdasarkan data laman magma.esdm.go.id, Gunung Semeru menjadi gunung api paling aktif di Indonesia dengan 1.263 letusan sepanjang periode 1 Januari hingga 16 Juni 2026, disusul Gunung Ibu dengan 930 letusan dan Gunung Lewotobi Laki-laki sebanyak 215 letusan. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gunung Semeru kembali erupsi pada Minggu pagi (6/9/2026). Gunung api yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, itu memuntahkan kolom letusan setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak Mahameru atau mencapai 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 07.51 WIB. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan kolom abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur.

"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl)," kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, Jawa Timur, Minggu (6/9/2026) seperti dikutip Antara.

Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi selama 102 detik.

Saat ini, Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas di wilayah yang berpotensi terdampak erupsi.

Sigit mengatakan masyarakat tidak disarankan beraktivitas di sektor tenggara Gunung Semeru, terutama di sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak yang menjadi pusat erupsi.

"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," kata Sigit.

Selain itu, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Kawasan tersebut dinilai rawan terhadap lontaran batu pijar.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," kata Sigit.

Erupsi Gunung Semeru terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan di kawasan gunung tersebut masih berlangsung. Hingga Minggu pagi, kebakaran belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan titik api dilaporkan semakin meluas.

Berdasarkan data Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS), luas kawasan hutan yang terbakar telah mencapai lebih dari 3.000 hektare.

Kebakaran tersebut juga berdampak terhadap aktivitas pendakian. Balai Besar TNBTS telah menutup jalur pendakian Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, akibat kebakaran hutan dan lahan di lereng gunung tersebut.

Baca juga artikel terkait ERUPSI

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana