tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau menyusul aktivitas erupsi yang masih berlangsung. Masyarakat diminta mensterilkan area dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Gunung Anak Krakatau saat ini berstatus Level III atau Siaga. Berdasarkan laporan BNPB, gunung api tersebut masih mengalami erupsi dengan munculnya lontaran lava pijar. Dalam salah satu kejadian erupsi, tercatat amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi mencapai 21.600 detik.
Aktivitas erupsi juga menyebabkan material vulkanik merusak kamera pemantauan atau CCTV di sekitar gunung.
BNPB meminta masyarakat di wilayah Banten dan Lampung tetap tenang serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan petugas terkait. Warga, nelayan, maupun wisatawan diminta tidak memasuki zona bahaya dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
"Oleh sebab itu, masyarakat di Banten dan Lampung diharapkan tidak panik," katanya dikutip Antara, Sabtu (5/9/2026).
Imbauan tersebut juga berlaku bagi wisatawan yang ingin melihat aktivitas Gunung Anak Krakatau. BNPB meminta masyarakat tidak mendekati kawasan gunung hanya untuk mengambil foto atau merekam aktivitas erupsi.
Selain menjauhi zona bahaya, masyarakat dan wisatawan diminta mengetahui jalur evakuasi serta lokasi titik kumpul yang telah ditetapkan. Pemerintah daerah dan BPBD juga didorong meningkatkan patroli untuk memastikan kawasan yang berbahaya tetap steril.
BNPB menyebut hasil asesmen Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau setelah erupsi besar pada 2018 relatif kecil. Berdasarkan kondisi tersebut, tidak terdapat indikasi potensi runtuhan besar yang dapat memicu tsunami seperti yang terjadi pada 2018.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak melakukan aktivitas di sekitar kawah aktif.
BNPB mengingatkan keselamatan harus menjadi prioritas selama aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Masyarakat di Banten dan Lampung, termasuk nelayan dan wisatawan, diminta terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api tersebut.
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































