Menuju konten utama

Dari Alkohol ke Olahraga: Gaya Hidup Anak Muda Bergeser

Anak muda mulai mengalihkan waktu dan uang dari hiburan malam ke olahraga. Benarkah tren gym, lari, dan padel menggeser dunia nightlife?

Dari Alkohol ke Olahraga: Gaya Hidup Anak Muda Bergeser
Header Decode Dari Lantai Dansa ke Arena Olahraga. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dulu, akhir pekan Nando (29) kerap berakhir menjelang pagi. Mengunjungi kelab malam dan diskotek telah menjadi bagian dari rutinitas sekaligus gaya hidup pekerja swasta yang tinggal di Jakarta Pusat itu. Layaknya sebuah kebiasaan yang sulit ditinggalkan, ia mendatangi tempat-tempat hiburan malam tersebut hampir tanpa mengenal hari, mulai dari sepulang kerja pada hari biasa hingga saat hari libur.

Jika masuk sekitar pukul 23.00 atau 24.00 WIB, ia baru meninggalkan tempat hiburan itu sekitar pukul 04.00-04.30 WIB. Minuman beralkohol, rokok, makanan ringan, dan sewa ruang karaoke menjadi bagian dari pengeluaran yang sudah biasa ia keluarkan.

“Ke tempat kayak gitu sebenarnya sering, tapi ya enggak pernah bosan. Misalnya masuk jam 23.00 WIB atau jam 24.00 WIB, baru balik [dari klub atau karaoke] itu sekitar jam 04.00 WIB atau 04.30 WIB,” ujar Nando kepada Tirto, Rabu (2/9/2026).

Sekali datang ke kelab, Nando bisa menghabiskan Rp1 juta-Rp2 juta untuk dirinya sendiri. Jika karaoke, pengeluarannya bisa melonjak hingga Rp3 juta-Rp5 juta. Dana tersebut digunakan untuk menyewa ruang karaoke, membeli minuman beralkohol, rokok, makanan ringan, soda atau tonic water, serta memberikan tip kepada pelayan.

Meski demikian, Nando mengaku hampir tidak pernah datang seorang diri. Ia biasanya pergi bersama teman-temannya dan terkadang terlebih dahulu membayarkan pengeluaran untuk rombongan. Biaya tersebut kemudian dibayarkan kembali oleh teman-temannya.

“Itu [uang dikeluarkan] kan sendiri ya, misal saya Rp1 juta, ya yang lain juga Rp1 juta. Misal Rp5 juta, yang lain juga segitu. Jadi, total pengeluarannya berapa, misal Rp2 juta, itu bagi dua orang, bagi tiga orang. Tapi, kalau karaoke kan enggak sering, paling 2-3 bulan sekali, jadi yang besar [pengeluarannya] itu keitungnya jarang,” jelasnya.

tempat hiburan malam di Jakarta

Suasana sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Pengalaman serupa juga dialami Ferdi, warga Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia mengatakan kelab malam mulai menjamur di Malang sejak sekitar 2010-an. Sejak duduk di bangku kuliah, Ferdi kerap mengunjungi kelab bersama teman-teman SMA maupun teman kuliahnya.

“Dari dulu saya seringnya ke club. Di sini [Malang], kayaknya jarang ada karaoke. Sama teman kuliah juga seringnya club. Sekarang kan sama teman kerja, jadi berangkat sama pulangnya enggak se-pagi itu, jam 01.00 WIB [kembali ke kediaman masing-masing],” ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu.

Menurut Ferdi, sekali mengunjungi kelab, ia dapat menghabiskan sekitar Rp500 ribu-Rp1 juta untuk dirinya sendiri. Uang tersebut digunakan untuk membeli minuman beralkohol dalam kemasan botol, rokok, makanan ringan, serta soda atau tonic water.

Pada kesempatan tertentu, Ferdi juga diajak atasannya untuk mengunjungi kelab. Meski tidak terlalu sering, ia justru mengaku lebih menikmati kesempatan tersebut karena tidak perlu mengeluarkan uang sendiri.

“Pas sendirian berangkatnya kan ya pakai uang sendiri, pas sama atasan kan dibayarin, jadi lebih enak. Mereka [atasan Ferdi] juga sudah paham kita sukanya apa, jadi justru mereka yang mengikuti [minuman kesukaan] kita-kita,” tuturnya.

Ia bahkan memilih tidak mengetahui berapa total pengeluaran atasannya ketika mereka mengajaknya ke kelab.

“Pas lagi sendiri, itu [mengeluarkan uang] enggak banyak. Paling banyak Rp1 juta, nambah-nambahnya paling Rp200 ribu, lebihan buat beli rokok segala macam itu, jadi ya Rp1,2 juta paling,” imbuh Ferdi.

iustrasi disko klub malam

iustrasi disko menghabiskan waktu di klub malam

Dari Dunia Malam ke Olahraga

Tahun 2026 menjadi momentum bagi Nando dan Ferdi. Alih-alih menghabiskan malam di kelab, Nando kini lebih sering menghabiskan waktu dengan berlari dan bermain padel. Uangnya pun berpindah: dari botol minuman dan ruang karaoke ke raket, sepatu, sewa lapangan, dan biaya bermain bersama orang-orang yang ditemuinya melalui aplikasi.

“Kalau udah ketagihan dikit, kan memang rasa-rasanya sudah kayak jadi yang paling jago, padahal ya enggak juga. Jadi, mulai sama teman itu beli-beli, beli raket awalnya, terus lanjut beli sepatu, beli overgrip [raket] juga,” kata Nando melalui pesan singkat, Rabu (2/9/2026).

Bagi Nando, perubahan tersebut bermula dari kebiasaan jogging. Awalnya, ia sekadar mengikuti tren berlari di sekitar Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Pusat, selepas bekerja. Lama-kelamaan, olahraga menjadi bagian dari rutinitasnya bersama sejumlah teman yang sebelumnya juga kerap mengunjungi kelab atau karaoke.

Selain jogging, Nando mulai menekuni padel dalam beberapa bulan terakhir. Ia awalnya mengikuti pelatihan bersama pelatih padel sebelum kemudian bermain bersama rekan-rekan kerjanya.

“Kalau udah ketagihan dikit, kan memang rasa-rasanya sudah kayak jadi yang paling jago, padahal ya enggak juga. Jadi, mulai sama teman itu beli-beli, beli raket awalnya, terus lanjut beli sepatu, beli overgrip [raket] juga,” katanya.

lapangan padel di Jakarta

Suasana salah satu lapangan padel di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Berkurangnya intensitas mengunjungi kelab dan karaoke secara otomatis membuat sebagian pengeluaran Nando beralih ke kebutuhan olahraga. Untuk jogging, misalnya, pengeluarannya relatif kecil dan lebih banyak dikeluarkan pada awal mulai berolahraga. Ia memperkirakan total biaya untuk aktivitas tersebut tidak sampai Rp1 juta.

Sementara itu, pengeluaran untuk padel jauh lebih besar. Nando membeli raket seharga Rp1,8 juta dan sepatu padel seharga Rp1 juta. Selain itu, ia masih mengeluarkan biaya setiap kali bermain, baik bersama orang yang ditemuinya melalui aplikasi maupun ketika menyewa lapangan bersama rekan-rekannya.

“Kalau [padel] sama orang asing itu biasanya Rp50 ribu-Rp125 ribu setiap main. [Saat] sewa lapangan itu bisa lebih mahal lagi, misal yang main [bersama rekan] itu 4-6 orang total bisa Rp500 ribu-Rp600 ribu, itu belum harus beli bolanya dulu, tapi paling banyak Rp200 ribu tiap orang. Sekarang-sekarang sih lebih sering main sama orang asing, jadi ya paling dua kali main tiap minggu itu Rp100 ribu sampai sekitar Rp200 ribuan,” urainya.

Perubahan serupa terjadi pada Ferdi. Memasuki 2026, ia mulai meninggalkan rutinitas kehidupan malam dan beralih ke olahraga, kali ini melalui tren bersepeda.

Ferdi mulai bersepeda bersama teman-teman sekolahnya yang lebih dulu bergabung dalam komunitas sepeda. Biasanya, ia bersepeda pada akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu.

Tiga bulan setelah mulai rutin bersepeda, Ferdi mengaku masih menikmati aktivitas tersebut. Baginya, bersepeda tidak hanya membuat tubuh berkeringat, tetapi juga memberikan kesenangan tersendiri.

Ferdi tidak menutup kemungkinan suatu saat kembali mengunjungi tempat hiburan malam. Namun, setelah rutin berolahraga, ia mengaku semakin jarang terpikir untuk melakukannya.

“Karena mungkin sudah capek duluan pas olahraga, jadinya enggak kepikiran mau jalan [ke tempat hiburan], ya tapi enggak tahu nanti. Sementara ini sih enggak kepikiran buat ke situ [tempat hiburan],” tuturnya.

Peringatan Hari Sepeda Internasional 2026

Sejumlah pesepeda berkumpul di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Aksi bersepeda bersama Komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia tersebut bertujuan untuk memperingati Hari Sepeda Sedunia (World Bicycle Day) 2026 sekaligus mengampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi alternatif untuk mengatasi krisis energi dunia. ANTARA FOTO/Salma Talita/nz

Bukan Sekadar Pengalaman Personal

Perubahan gaya hidup yang dialami Nando dan Ferdi bukanlah fenomena tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, tren gaya hidup sehat di kalangan masyarakat, termasuk anak muda, semakin menguat. Pergeseran minat dari hiburan malam menuju aktivitas seperti gym, lari, pilates, yoga, hingga padel menunjukkan bahwa olahraga dan kebugaran mulai menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus identitas sosial baru.

Sejumlah indikator menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktivitas olahraga. Berdasarkan Laporan Indeks Pembangunan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, indeks partisipasi masyarakat dalam berolahraga meningkat dari 0,254 pada 2023 menjadi 0,263 pada 2024, atau bertambah 0,009 poin.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan tren serupa. Pada 2024, sebanyak 37,16 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas tercatat melakukan olahraga dalam seminggu terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan 27,14 persen pada 2021, atau bertambah sekitar 10,02 poin persentase dalam tiga tahun.

Tren tersebut turut tercermin dalam survei platform olahraga dan kebugaran. Survei Populix bertajuk “Understanding Indonesia's Sports Trends” pada 2025 terhadap 1.030 responden menemukan bahwa mayoritas responden memiliki ketertarikan terhadap olahraga. Setahun kemudian, data Populix 2026 menunjukkan 81 persen pekerja kantoran rutin berolahraga di tengah kesibukan mereka.

CFD perdana di Jalan Rasuna Said Jakarta

Sejumlah warga berolahraga saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) perdana di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Minggu (10/5/2026). RIbuan warga meramaikan pemberlakukan HBKB atau Car Free Day (CFD) perdana di Jalan Rasuna Said dengan melakukan beragam aktivitas seperti jalan santai, lari, bersepeda, senam, hingga menghadiri pencanangan gerakan Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/kye

Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas olahraga yang tercatat di sejumlah platform. Garmin, misalnya, mencatat aktivitas lari luar ruangan meningkat 65 persen pada 2024. Sementara Strava mencatat partisipasi dalam komunitas lari di Indonesia meningkat 83 persen.

Olahraga yang relatif baru populer di Indonesia, padel, bahkan menunjukkan perkembangan infrastruktur yang lebih agresif. Menurut data Growell dalam Indonesia Padel Report 2025, jumlah lapangan padel di Indonesia melonjak dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, atau tumbuh sekitar 295 persen dalam setahun.

Pertumbuhan tersebut diproyeksikan terus berlanjut. Jumlah lapangan diperkirakan mencapai 2.527 unit pada 2026, 4.693 unit pada 2027, dan 5.573 unit pada 2028. Jika proyeksi itu terealisasi, jumlah lapangan padel dalam empat tahun akan meningkat lebih dari 20 kali lipat dibandingkan 2024.

Jakarta Selatan menjadi salah satu pusat pertumbuhan padel terbesar di Indonesia. Nilai transaksi kotor atau gross monetary value (GMV) lapangan padel yang beroperasi di wilayah tersebut mencapai Rp287 miliar. Angka ini menempatkan Jakarta Selatan di posisi teratas, disusul Banten sebesar Rp246 miliar dan Jakarta Barat Rp176 miliar.

lapangan padel di Jakarta

Suasana salah satu lapangan padel di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Pertumbuhan juga terjadi pada industri gym. Data Asosiasi Industri Olahraga Indonesia (ASIO) menunjukkan jumlah gym komersial di Jakarta tumbuh lebih dari 27 persen sejak 2022.

Di tingkat operator, ekspansi jaringan gym juga terlihat. Anytime Fitness Indonesia, misalnya, berkembang dari 18 klub pada awal 2024 menjadi 50 klub pada September 2025. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap fasilitas olahraga tidak lagi terbatas pada kebutuhan berolahraga secara konvensional. Ada industri yang tumbuh untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Menurut Global Wellness Institute dalam Global Wellness Economy Monitor 2025, ekonomi wellness global mencapai 6,8 triliun dolar AS pada 2024. Nilai tersebut tumbuh 7,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mencatat pertumbuhan rata-rata 6,2 persen per tahun sepanjang 2019-2024.

Indonesia ikut masuk dalam pertumbuhan tersebut. Data Global Wellness Institute menunjukkan ekonomi wellness Indonesia mencapai sekitar US$56 miliar pada 2024. Nilai tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-20 dari 145 negara. Kementerian Pariwisata, dengan mengutip data yang sama, menyebut Indonesia memiliki ekonomi wellness terbesar di Asia Tenggara.

Ramainya Lapangan Padel dan Gym Sepulang Kerja

Indikasi pergeseran minat dari tempat hiburan malam ke olahraga juga terlihat dalam penelusuran Google Trends. Tirto membandingkan popularitas pencarian dua kata kunci, yakni “gym” dan “bar”, dalam setahun terakhir di Indonesia. Hasilnya, “gym” mencatat minat penelusuran sebesar 78, lebih tinggi dibandingkan “bar” yang berada di angka 53.

Jika ditarik dalam periode lima tahun terakhir, “bar” sempat lebih populer dibandingkan “gym”, terutama pada 2022. Namun, setelah itu minat pencarian “gym” terus meningkat dan secara konsisten berada di atas “bar”.

Kecenderungan tersebut juga terlihat dari jenis informasi yang dicari masyarakat. Dalam lima tahun terakhir, sejumlah kueri populer terkait gym antara lain “gym terdekat”, “tempat gym”, “harga gym”, dan “alat alat gym”. Artinya, pencarian tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tempat kebugaran, tetapi juga kebutuhan untuk menemukan lokasi dan mengetahui biaya berolahraga.

Sementara itu, kueri yang mengalami lonjakan pencarian dalam periode yang sama berkaitan dengan FTL Gym, seperti “harga FTL Gym”, “FTL Gym harga”, dan “FTL Gym”. FTL Gym merupakan salah satu jaringan pusat kebugaran modern di Indonesia yang beroperasi selama 24 jam dan memiliki puluhan lokasi di sejumlah kota besar.

Aksi penolakan lapangan padel di permukiman Pulomas

Pesepeda melintas di samping banner penolakan lapangan padel di Pulomas, Jakarta, Selasa (24/2/2026). Menurut warga aksi penolakan menggunakan banner karena tidak pernah dimintai persetujuan pembangunan lapangan dari pihak pengelola dan Pemkot Jakarta Timur akan membahas terkait izin bangunan bersama organisasi perangkat daerah (OPD). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nz

Senada dengan tren pencarian “gym”, minat terhadap padel juga meningkat pesat. Berdasarkan Google Trends, pencarian dengan kata kunci “padel” di Indonesia menembus skor 100 pada Agustus 2026, yang merupakan titik tertinggi dalam skala Google Trends.

Lonjakan minat tersebut tidak hanya terlihat dari pencarian kata “padel”, tetapi juga dari kebutuhan yang berkaitan dengan olahraga tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kueri yang mengalami lonjakan pencarian antara lain “lapangan padel”, “main padel”, “padel Surabaya”, “harga raket padel”, dan “raket padel harga”.

Untuk melihat langsung geliat masyarakat berolahraga, Tirto mengunjungi salah satu lapangan padel di Jakarta Selatan pada Kamis sekitar pukul 18.00 WIB.

Lapangan yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan itu memiliki enam lapangan. Saat Tirto tiba, area parkir mobil yang menampung sekitar delapan kendaraan sudah penuh, sementara parkiran motor di seberang lokasi juga dipadati kendaraan milik pengunjung.

Tirto berkesempatan bermain selama dua jam. Dari pantauan sekitar pukul 18.00 hingga 22.00 WIB, seluruh lapangan terisi secara bergantian. Begitu satu rombongan selesai bermain, rombongan lain langsung masuk. Para pemain yang mayoritas berusia sekitar 20-40 tahun datang berkelompok dan menggunakan raket dari berbagai jenama, seperti Bullpadel, Babolat, Nox, Siux, dan Starvie.

lapangan padel di Jakarta

Suasana salah satu lapangan padel di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Geliat olahraga juga terlihat di salah satu gym di Depok, Jawa Barat, yang dikunjungi Tirto pada Jumat (4/9/2026) siang. Pengunjung didominasi perempuan berusia 30-40 tahun. Mereka menggunakan berbagai fasilitas, mulai dari sepeda statis hingga alat latihan beban.

Seorang petugas gym mengatakan, pengunjung muda biasanya mulai ramai setelah jam kerja dan sebagian masih berolahraga hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

“Pulang kerja sih itu yang muda-muda ramai mereka,” ujarnya, Jumat.

“Banyak juga yang masih olahraga malam-malam gitu,” lanjutnya.

Menurut dia, anak muda kini tampak lebih memilih aktivitas olahraga seperti tenis dan padel dibandingkan tempat hiburan malam.

“Saya ngerasa juga gitu ya, kayaknya sudah lebih suka main tenis, padel, olahraga ya dibandingkan dulu, biar makin sehat,” tuturnya.

lapangan padel di Jakarta

Suasana salah satu lapangan padel di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Lantas, apakah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga membuat tempat hiburan malam di Ibu Kota kian sepi?

Menelusuri Tempat Hiburan Malam di Jakarta

Untuk melihat perbandingannya, Tirto mengunjungi sejumlah klub malam di Jakarta Selatan pada Kamis (3/9/2026) malam hingga Jumat (4/9/2026) dini hari.

Klub pertama yang dikunjungi berada di kawasan Kemang. Sekitar pukul 23.00 WIB, belasan hingga puluhan kendaraan terlihat terparkir di sekitar lokasi. Namun, petugas parkir mengatakan tidak semua kendaraan yang terparkir di trotoar seberang klub merupakan milik pengunjung klub tersebut.

Tirto kemudian mengunjungi klub lain di kawasan yang sama. Tempat hiburan dua lantai itu memiliki lantai dansa, bar, meja DJ, serta sofa dan meja untuk pengunjung. Sofa dikenai pembelian minimum Rp1,5 juta-Rp2,5 juta, tergantung lokasi dan kapasitas meja.

Saat dikunjungi, DJ belum tampil karena baru dijadwalkan bermain mulai pukul 24.00 WIB. Meski bukan akhir pekan, puluhan pengunjung telah mengisi meja dan sofa di lantai satu maupun dua. Usianya beragam, mulai sekitar 20-30 tahun hingga 40-50 tahun.

tempat hiburan malam di Jakarta

Suasana sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta, Kamis (3/9/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

Dari Kemang, Tirto bergeser ke klub lain di Jakarta Selatan. Klub dua lantai tersebut memiliki konsep serupa, dengan lantai dansa di depan DJ dan sofa di kedua sisi ruangan. Harga satu botol minuman beralkohol di tempat itu mulai sekitar Rp500 ribu-Rp800 ribu.

Namun, ketika dikunjungi pada Jumat dini hari, suasananya lebih lengang. Hanya belasan pengunjung berusia sekitar 30-40 tahun yang menempati setidaknya empat sofa. Sejumlah botol minuman, makanan ringan, dan buah-buahan terlihat di meja mereka.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa klub malam di Jakarta belum sepenuhnya kehilangan pengunjung. Namun, tingkat keramaiannya tampak sangat bergantung pada momentum tertentu.

Hal itu diakui sejumlah pekerja tempat hiburan malam yang ditemui Tirto. U, seorang waitress di salah satu klub Jakarta, mengatakan tempatnya bekerja cenderung tidak ramai ketika tidak ada acara khusus. Sebaliknya, jumlah pengunjung dapat melonjak ketika klub menggelar event, terutama dengan menghadirkan DJ yang memiliki nama besar.

“Padet semalam, parah [karena ada event],” ujarnya, Kamis.

“Ya kalau enggak ada event enggak terlalu ramai banget,” lanjutnya.

Menurut U, salah satu faktor yang membuat anak muda kini lebih jarang datang ke klub adalah munculnya tren olahraga, termasuk padel.

“Lagi pada FOMO [fear of missing out] padel ya [anak-anak muda],” tuturnya.

R, waitress di klub lain, juga mengakui tempatnya bekerja cenderung tidak terlalu ramai. Menurut dia, pengunjung biasanya meningkat ketika ada promo atau DJ papan atas.

“Enggak ramai kok,” ujarnya.

“Iya [ramai saat ada promo/bintang tamu], kalau enggak ada event, enggak [ramai],” sambung R.

Kondisi serupa terjadi di sebuah KTV dan lounge. I, seorang marketing, mengatakan tempatnya bekerja relatif sepi pada hari-hari tanpa acara khusus.

“Setiap hari juga sepi,” kata I, Kamis.

Menurut dia, pengunjung baru meningkat ketika ada event. Salah satunya, acara yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu.

“Masih [ada event], Sabtu ada event. Kalau enggak ada event enggak ramai,” tuturnya.

Dengan demikian, kondisi tempat hiburan malam di Jakarta tidak bisa semata-mata disimpulkan sebagai akibat pergeseran minat masyarakat ke olahraga. Dari pantauan di lapangan, sejumlah klub masih memiliki pengunjung, terutama ketika menghadirkan event atau DJ tertentu.

Namun, keterangan para pekerja hiburan menunjukkan adanya pola baru: keramaian tidak lagi selalu datang dengan sendirinya. Klub perlu menawarkan promo, event, atau nama besar untuk menarik pengunjung.

Meski belum tentu berkaitan langsung dengan meningkatnya minat terhadap olahraga, data pemerintah menunjukkan adanya perubahan pada konsumsi alkohol. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret, konsumsi alkohol penduduk berusia 15 tahun ke atas secara konsisten menurun sepanjang 2023-2025.

Tren tersebut memang dapat berfluktuasi jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang. Namun, penurunan konsumsi alkohol juga terjadi di sejumlah negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya, lembaga survei Gallup mencatat hanya 54 persen penduduk dewasa yang mengonsumsi alkohol pada 2025. Angka tersebut turun dari 67 persen pada 2022.

Ilustrasi Alkohol

Ilustrasi Alkohol. FOTO/iStockphoto

Pergeseran Pusat Gravitasi Ekonomi Leisure

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurrahman melihat adanya indikasi perubahan preferensi leisure, terutama di kalangan anak muda perkotaan, dari aktivitas hiburan malam menuju olahraga dan wellness.

Menurut Rizal, olahraga dan hiburan malam pada dasarnya dapat menjadi substitusi karena sama-sama memperebutkan dua sumber daya konsumen yang terbatas: waktu luang dan pengeluaran.

“Ada indikasi perubahan preferensi leisure, terutama anak muda perkotaan, dari aktivitas nightlife menuju olahraga dan wellness. Partisipasi olahraga penduduk meningkat, sementara tren lari, gym, padel, dan badminton semakin kuat,” ujarnya melalui pesan singkat, Senin (7/9/2026).

Pergeseran tersebut, kata Rizal, berpotensi mengubah alokasi pengeluaran masyarakat. Ketika uang digunakan untuk gym, sewa lapangan, perlengkapan, komunitas, atau event olahraga, porsi yang tersedia untuk bar dan hiburan malam dapat ikut berkurang.

Selain uang, waktu juga menjadi faktor. Aktivitas olahraga umumnya mendorong gaya hidup yang lebih aktif pada pagi hingga sore hari sekaligus membuat seseorang menjaga kondisi fisik, sehingga secara natural dapat mengurangi frekuensi aktivitas hingga larut malam.

Namun, Rizal mengingatkan bahwa belum tersedia data yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pelemahan bisnis nightlife secara langsung disebabkan oleh tren olahraga. Tekanan daya beli dan perubahan preferensi konsumsi juga turut berpengaruh.

“Namun, belum ada data yang cukup untuk menyimpulkan bahwa pelemahan nightlife disebabkan langsung oleh tren olahraga. Tekanan daya beli dan perubahan preferensi konsumsi juga berpengaruh,” katanya.

Menurut Rizal, fenomena tersebut pada akhirnya bukan sekadar pergantian aktivitas, melainkan berpotensi menunjukkan pergeseran pusat gravitasi ekonomi leisure anak muda.

“Yang paling penting, ini bukan sekadar perubahan tren, tetapi pergeseran pusat gravitasi ekonomi leisure anak muda. Jika dulu pengeluaran banyak terserap ke nightlife, kini sebagian bergeser ke sport and wellness economy yang memiliki rantai ekonomi lebih panjang,” tuturnya.

Rantai ekonomi tersebut mencakup venue, apparel, makanan dan minuman, event, hingga pariwisata. Artinya, meningkatnya minat terhadap olahraga tidak hanya menguntungkan penyedia fasilitas olahraga, tetapi juga membuka aktivitas ekonomi di berbagai sektor pendukung.

Di tengah tekanan biaya hidup, faktor harga juga dapat memperkuat perubahan tersebut. Anak muda yang semakin selektif menggunakan pendapatan untuk kebutuhan nonpokok akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dari setiap pengeluaran.

Lapangan Padel Taman Villa Meruya

Lapangan Padel Taman Villa Meruya. tirto.id/Naufal

Rizal menilai olahraga memiliki keunggulan dalam hal tersebut karena dapat memenuhi kebutuhan hiburan, sosialisasi, dan kesehatan sekaligus.

“Dalam kondisi budget constraint, olahraga memberikan value for money lebih tinggi karena sekaligus memenuhi kebutuhan hiburan, sosialisasi, dan kesehatan,” ujarnya.

Media sosial dan meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan turut menjadi akselerator. Olahraga kini tidak hanya dipandang sebagai aktivitas fisik, tetapi juga menjadi sarana membangun relasi, bergabung dengan komunitas, dan membentuk identitas.

“Jadi, ini bukan sekadar perpindahan dari klub malam ke lapangan olahraga, tetapi perubahan preferensi konsumsi anak muda. Dari entertainment semata menuju aktivitas yang memberikan tiga utilitas sekaligus, yakni kesehatan, interaksi sosial, dan hiburan,” kata Rizal.

Jika tren tersebut berlanjut, Rizal memperkirakan sport and wellness economy akan semakin kuat dalam memperebutkan waktu dan pengeluaran konsumen muda. Kondisi ini sekaligus dapat memberikan tekanan kepada pelaku bisnis hiburan malam yang tidak beradaptasi.

Karena itu, ia menyarankan pelaku usaha nightlife mengubah tempat hiburan menjadi ruang leisure yang lebih fleksibel. Venue yang selama ini aktif pada malam hari dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pada pagi hingga sore, seperti Zumba, aerobik, dance class, yoga, maupun acara komunitas.

“Pemilik hiburan malam perlu beradaptasi dari sekadar nightlife menjadi multipurpose leisure venue. Ruang, sound system, lighting, dan fasilitas yang menganggur pada pagi hingga sore dapat dimonetisasi untuk Zumba, aerobik, dance class, yoga, hingga community event,” tuturnya.

Dengan model tersebut, tempat hiburan tetap dapat beroperasi sebagai venue entertainment pada malam hari, tetapi memiliki sumber pendapatan lain pada siang hari. Menurut Rizal, strategi ini dapat meningkatkan utilisasi aset sekaligus mendiversifikasi pendapatan tanpa membutuhkan investasi tambahan yang terlalu besar.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Decode
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Alfitra Akbar