Menuju konten utama
Horizon

Dalam Keterbatasan, Warga Kota Bisa Menyulap Ruang Jadi Apa pun

Suatu infrastruktur bisa jadi dirancang hanya untuk tujuan teknis. Tapi, keterbatasan warga setempat dapat menyulapnya jadi fungsi sosial. BKT salah satunya

Dalam Keterbatasan, Warga Kota Bisa Menyulap Ruang Jadi Apa pun
Sejumlah peserta memacu kecepatan perahu saat mengikuti lomba Perahu Naga Jakarta Open, di Kanal Banjir Timur, kawasan Marunda, Jakarta, Minggu (29/4/2018). ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Suasana di sepanjang bantaran Kanal Banjir Timur (disebut juga BKT alias Banjir Kanal Timur), Jakarta Timur, selalu tampak ramai pada hari libur maupun akhir pekan. Ratusan warga memanfaatkan area terbuka ini untuk melakukan beragam aktivitas rekreasi yang terjangkau.

Sebagian pengunjung berolahraga joging di sepanjang koridor kanal. Ada pula yang duduk santai sekadar menikmati pemandangan tepi perairan bersama keluarga. Anak-anak menikmati sejumlah wahana permainan lokal; pedagang kaki lima sibuk menjajakan aneka kuliner; beberapa pengunjung memanfaatkan sudut-sudut kanal sebagai latar untuk konten media sosial.

Pemandangan riuh tersebut menegaskan bahwa fungsi BKT telah berkembang lebih jauh melampaui rencana awal para perencana kota. Kanal yang semula dirancang murni dari sudut pandang rekayasa sipil kini menjelma jadi ruang publik bagi warga perkotaan. Batas ketat antara infrastruktur teknis pencegah bencana dan fasilitas rekreasi publik telah melebur dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Awalnya Cuma Beton Saluran Air

Pada rancangan dasarnya, Kanal Banjir Timur dibangun murni sebagai infrastruktur makro penanggulangan banjir. Pemerintah pusat bersama pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta merancang saluran buatan sepanjang 23,5 kilometer itu untuk menampung serta memotong lima aliran sungai yakni Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat, dan Cakung.

Berdasarkan studi yang dilakukan Zahranum Ramadhayanti dan kolega, pembangunan BKT, yang mengacu pada rencana induk pengendalian banjir sejak 1973, bertujuan melindungi kawasan seluas 160 kilometer persegi di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara dari luapan lima sungai tersebut, sekaligus melayani sistem drainase seluas 20.700 hektare. Membeludaknya debit air di kelima sungai itu dikumpulkan menjadi satu dalam saluran BKT, lalu dialirkan langsung ke hilir: laut.

Sementara itu, keberadaan jalan inspeksi di sisi kanan dan kiri kanal berperan sebagai akses teknis pemeliharaan aliran air dan pemantauan kondisi fisik saluran.

Meskipun dirancang kaku untuk fungsi teknis, praktik sosial warga secara bertahap menggeser peruntukan tunggal tersebut. Kebutuhan masyarakat Jakarta akan ruang terbuka yang murah dan mudah dijangkau telah memicu proses pengambilalihan ruang secara spontan. Saluran beton dan jalan inspeksi yang tadinya sepi mulai diramaikan oleh berbagai aktivitas sosial serta kegiatan ekonomi informal warga.

Dari Pasar Malam Cipinang sampai Spot Foto Akhir Pekan

Rekam jejak pergeseran fungsi BKT terlihat sangat jelas jika kita membandingkan kondisi lapangan dalam rentang waktu satu dekade terakhir.

Pada 2014, Jalan Inspeksi BKT di kawasan Cipinang telah disesaki ratusan pedagang kaki lima yang menggelar pasar malam. Jalan alternatif yang semula sepi berubah menjadi titik kemacetan karena tumpukan lapak pedagang dan deretan sepeda motor milik pengunjung yang nongkrong hingga larut malam. Petugas Satpol PP saat itu tidak mampu membatasi lonjakan jumlah pedagang.

Itu adalah manifestasi dari kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka dan taman hiburan yang terjangkau dan mudah diakses.

Pola serupa masih terekam enam tahun kemudian. Penelitian berjudul “Penggunaan Kawasan Tepi Sungai oleh Pedagang Pasar Informal pada Banjir Kanal Timur (BKT) di Jakarta” (2020) menunjukkan, tepian BKT telah dimanfaatkan sebagai ruang perdagangan informal oleh masyarakat. Pedagang mendirikan lapak, warung makan, serta menggunakan tepian sungai sebagai area makan dengan pemandangan kanal. Aktivitas tersebut bahkan membentuk wisata lokal, khususnya wisata kuliner (hlm. 176).

WAHANA PASAR MALAM BERHENTI BEROPERASI

Penjaga wahana berdiri di lokasi Pasar Malam yang tutup di Kanal Banjir Timur, Jakarta Timur, Minggu (10/5/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Setelah bertahun-tahun dimanfaatkan warga secara konsisten, BKT, pada 2026, makin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi rekreasi favorit (murah meriah) bagi warga Jakarta. Aktivitasnya makin beragam, mulai dari pusat kuliner UMKM, wahana bermain anak, hingga area olahraga terbuka yang terintegrasi secara alami dalam ritme harian warga.

Pola serupa juga terekam di titik lain infrastruktur pengendali banjir Jakarta, seperti Jalan Inspeksi Kali Ciliwung. Selepas proyek normalisasi sungai di kawasan Kampung Pulo dan Bukit Duri dibangun, pemerintah menyediakan jalan inspeksi untuk pemeliharaan alur sungai. Namun, warga setempat menyulap satu lajur tersebut menjadi area parkir mobil liar dan garasi terbuka. Kondisi permukiman padat di dalam gang yang tidak memiliki akses mobil memaksa warga memanfaatkan jalan teknis sungai demi kebutuhan parkir kendaraan harian mereka.

Fenomena di BKT dan Kali Ciliwung membuktikan adanya titik pertemuan antara peran teknis infrastruktur dan fungsi sosial yang terbentuk secara "naluriah". Karakteristik infrastruktur berupa jalan datar, akses yang mudah, serta pemandangan terbuka ke arah perairan, menyediakan potensi spasial yang kuat bagi warga. Demikian sebagaimana dicatat oleh Jeni Messakh dalam Produksi Ruang Publik Informal pada Infrastruktur Pesisir Pantai Nunhila di Kota Kupang (2026:67).

Setelah fungsi proteksi banjir bekerja secara teknis, permukaan atas infrastruktur langsung dimanfaatkan warga sebagai ruang interaksi sosial, kegiatan ekonomi, dan hiburan.

Saat Rencana Kota Kalah oleh Kebutuhan Sehari-hari

Pergeseran fungsi semacam itu bukanlah hal baru dalam kehidupan kota. Konsep Everyday Urbanism melihat bahwa ruang kota tidak hanya digunakan sesuai dengan tujuan yang dirancang sejak awal.

Menurut Temitope Muyiwa Adebara, akademisi dari Onabanjo University, dalam studinya tentang alihfungsi lahan di perkotaan oleh warga setempat:

Kehidupan sehari-hari warga justru dapat membentuk fungsi baru pada sebuah ruang, terutama ketika kebutuhan mereka tidak sepenuhnya terakomodasi oleh perencana kota.

Gagasan Henri Lefebvre mengenai produksi ruang memperkuat pandangan tersebut. Baginya, sebagaimana dicatat ulang oleh Jeni Messakh, ruang publik tidak hanya lahir dari rancangan arsitek atau pemerintah, tetapi juga terbentuk melalui praktik sehari-hari masyarakat.

Dalam konteks perkotaan, keterbatasan pendapatan, tingginya angka kemiskinan, serta minimnya lahan terbuka di kawasan permukiman, membuat warga memutar otak guna mencari ruang untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun sosial mereka. Proses tersebut kemudian melahirkan bentuk adaptasi ruang yang oleh Asef Bayat, profesor sosiologi asal Iran, disebut sebagai quiet encroachment.

Melihat kondisi Kanal Banjir Timur hari ini, kita sulit menganggap infrastruktur kota hanya sebagai struktur beton yang berdiri untuk menjalankan satu fungsi. BKT memang dibangun untuk mengendalikan banjir. Namun dalam perjalanannya, kawasan tersebut juga menjadi tempat warga berolahraga, mencari hiburan, berjualan, atau sekadar menghabiskan waktu, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ruang kota tidak selalu berhenti pada fungsi yang dirancang sejak awal. Ketika kebutuhan warga (yang tidak kunjung terpenuhi) bertemu dengan suatu ruang (apapun peruntukan awalnya), fungsi baru dapat tumbuh dengan sendirinya dan menjadikan infrastruktur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Baca juga artikel terkait KANAL BANJIR TIMUR atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin