tirto.id - Ruang perpustakaan itu biasanya sepi senyap, hanya diisi derit kursi atau gemerisik halaman buku yang dibalik. Namun, Selasa (29/9/2026) siang, keheningan di SDN Tanjung Sekong, Cilegon, Banten itu mendadak pecah.
Sorak-sorai 50 anak berseragam putih-merah membuncah, menyapu sunyi ruang berpendingin udara yang siang itu mendadak terasa hangat oleh antusiasme, kala mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar PT Pertamina International Shipping (PIS).
Tidak cuma murid SDN Tanjung Sekong, murid SDN Widiyatama turut meramaikan ruang perpustakaan siang tersebut. Puluhan anak-anak ini secara antusias mendengarkan materi terkait kemaritiman yang disampaikan Inovasi Muda, organisasi yang bekerja sama dengan PT PIS dalam penyelenggaraan acara Ocean LiteraSEA 2.0 "Ocean Capacity, Young Generation for the SEA: Our Ocean, Our Future, Education for Sustainable Action".
Ketika sesi tersebut, para pemateri menyampaikan materi ihwal "Mengenal Maritim Indonesia dan Destinasi Menjadi Generasi Penjaga Laut".
Laut menjadi topik yang disampaikan mengingat lokasi SDN Tanjung Sekong hanya sekitar 850 meter dari garis pantai terdekat.
Sesi pertama disampaikan Ajeng dan Desiana. Keduanya, tidak hanya menyampaikan soal kemaritiman, tetapi juga melibatkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Pertanyaan menyasar pengetahuan dasar mengenai Indonesia sebagai negara maritim. Para siswa juga diajak menyebutkan berbagai ekosistem dan makhluk hidup yang terdapat di laut.
"Ikan, ikan," kata seorang siswa.
"Kerang ya, kerang. Ubur-ubur," tutur siswa lain.
"Bintang laut juga," siswa lain menyahut.

Kondisi ruangan yang dilengkapi satu AC dan satu kipas itu tak membuat animo anak-anak surut. Sambil mengelap keringat, anak-anak ini tetap mendengarkan materi dengan serius.
Dari situ, materi kemudian diarahkan pada persoalan menjaga ekosistem laut. Para siswa diminta menyebutkan hal yang tidak boleh dilakukan terhadap laut. Mereka serempak menjawab, "Buang sampah!"
Ajeng kemudian menyampaikan, sampah plastik yang masuk ke laut dapat berdampak terhadap ekosistem. Kepada para siswa, ia juga memperkenalkan fitoplankton sebagai salah satu bagian dari kehidupan laut yang berkaitan dengan oksigen.
Materi tak berhenti pada persoalan sampah. Anak-anak juga dikenalkan dengan sejumlah ancaman lain terhadap laut, termasuk pembuangan limbah dan penggunaan bom untuk menangkap ikan.
Anak-anak di sana lantas diajak agar kepedulian terhadap laut tidak harus menunggu mereka dewasa. Tindakan menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dalam keseharian.
Pembahasan kemudian bergeser ke profesi di sektor kelautan. Ketika ditanya mengenai pekerjaan yang berkaitan dengan laut, para siswa langsung menyebutkan beberapa profesi. Nakhoda dan nelayan, misalnya.
Desiana kemudian memperkenalkan profesi pelaut sekaligus gambaran tantangan yang dihadapi mereka. Kata dia, pekerjaan tersebut memungkinkan seseorang berlayar ke berbagai negara, tetapi juga membuat pelaut harus berjauhan dengan keluarga dan menghadapi kondisi cuaca yang beragam.
Di sisi lain, profesi tersebut disebut memiliki jenjang karier dan memungkinkan seseorang berkontribusi di bidang kemaritiman.
Rangkaian kegiatan itu kemudian bergeser ke acara lain, yakni lomba cerdas cermat dan menggambar. Diadakan di ruang kelas I, lomba cerdas cermat diikuti oleh empat tim dengan masing-masing tim terdiri dari empat orang.
Sementara itu, murid lain mengikuti lomba menggambar dengan tema kemaritiman yang sebagian diadakan di ruang perpustakaan dan sebagian di ruang kelas I.
Lomba cerdas cermat dibagi dalam sejumlah ronde. Pertanyaan yang diajukan masih seputar kelautan.
Setiap tim berlomba untuk menjawab semua pertanyaan dengan benar sekaligus cepat. Ronde pertama, lima pertanyaan dilontarkan ke setiap tim. Ronde belum memasuki cepat-cepatan.
Sebagian pertanyaan tidak dapat dijawab oleh anak-anak ini. Raut kecewa terkadang tampak saat mereka tidak dapat menjawab. Air muka mereka kemudian kembali senang saat dapat menjawab pertanyaan.
Saling menyalip poin terjadi saat ronde ketiga. Ronde yang juga ditunggu anak-anak, ronde cepat-cepatan menjawab.
Belum selesai pertanyaan disampaikan, para murid yang semangat menjawab mengacungkan tangan terlebih dahulu. Beberapa kali pertanyaan harus diulang karena itu.
Saat satu tim tidak dapat menjawab, tim lain kemudian buru-buru angkat tangan untuk menjawab. Ingin cepat-cepat dapat banyak poin, tak jarang para murid justru grogi ketika ditunjuk untuk menjawab.
Berjalan sekitar 15 menit, lomba cerdas cermat kemudian dimenangkan tim dari SDN Widiyatama. Berbeda dengan riuh lomba cerdas cermat, suasana lomba menggambar justru jauh lebih diam.
Krayon, pensil warna, maupun spidol bergantian dipakai untuk mewarnai biota laut yang digambar pada murid. Sebagian besar murid menggambar kondisi bawah laut.
Ada yang menggambar kondisi laut dengan kapal besar, laut dengan terumbu karang berbagai warna, serta laut dengan berbagai macam ikan.
Lama memegang alat tulis pewarna, tangan para murid juga ikutan berwarna-warni. Mereka tak menghiraukan hal tersebut. Anak-anak ini tetap menggambar dan mewarnai secara serius hingga waktu yang ditetapkan selesai.
Tak berselang lama setelah lomba cerdas cermat usai, lomba mewarnai pun rampung. Juara 1, 2, dan 3 disabet siswa SDN Widiyatama. Teman-teman mereka lantas mereka ikut merayakan kemenangan tersebut.
Daffa, murid kelas 6 SDN Tanjung Sekong, mengaku senang setelah berhasil menyabet juara 3 lomba cerdas cermat. Ia pun mengaku senang telah mengikuti proses pembelajaran yang diadakan PT PIS.
Melalui pembelajaran itu, Daffa mengaku mendapatkan banyak hal baru. Beberapa di antaranya, yakni soal ekosistem laut serta pekerjaan di laut.
"Banyak tadi [yang didapatkan]. Yang paling diingat tentang profesi-profesi di laut. Selama ini [yang diketahui] cuma nelayan," sebutnya.
Daffa mengaku memang menyukai pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA). Karena itu, ia merasa bersemangat saat mengikuti proses pembelajaran hingga lomba cerdas cermat.
Meskipun, Daffa mengaku akhir-akhir ini menyukai pelajaran lain, yaitu bahasa Inggris. Sambil bercanda, ia mengaku ingin makin lancar berbicara bahasa Inggris.

"Yang dipelajari itu ya banyak sih ya. Mulai dari kita harus enggak boleh buang sampah ke laut atau memelihara lingkungan. Sebenarnya banyaklah, seru, seru. Seru deh, gitu pokoknya seru," urainya.
"Emang suka IPA sih. Tetapi ya sekarang sudah lebih condong ke Bahasa Inggris, soalnya disuruh sama orang tua. Buat ya biar bisa speak english," sambung Daffa.
Antusias Siswa Mengenal Bahari Sejak Dini
Sementara itu, murid kelas 6 SDN Widiyatama bernama Humairah, juga mengaku senang telah mengikuti proses pembelajaran terkait kemaritiman. Ia berharap PT PIS dapat sesegera mungkin kembali menyelenggarakan proses pembelajaran serupa.
Menurut Humairah, banyak hal yang belum ia ketahui terkait maritim sebelum mengikuti proses pembelajaran itu."Seru pokoknya, seru banget, pengin lagi," kata dia.
"Pengalaman, biasanya enggak pernah diajarin laut-laut kayak gini, [banyak menerima informasi] tentang laut," sambungnya.
Humairah mengaku tidak tahu banyak soal profesi di laut. Usai mengikuti acara yang diadakan PT PIS, ia jadi mengetahui sejumlah profesi lain.

"Iya, soal profesi. Ada nelayan, koki, pelaut, penyelam, perwira mesin, sama engineer," sebut dia.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Tanjung Sekong Muawanah mengatakan, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi siswa, terutama dalam mendorong kegiatan literasi yang menjadi salah satu fokus sekolah.
Menurut dia, kegiatan literasi sejalan dengan visi dan misi sekolah yang saat ini turut menitikberatkan pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Ia berharap kegiatan Ocean LiteraSEA dapat semakin mendorong semangat siswa untuk membaca dan belajar.
"Untuk kegiatan hari ini, saya ucapkan terima kasih kepada Pertamina Shipping yang telah memberikan kegiatan untuk anak-anak," sebut Muawanah ditemui di SDN Tanjung Sekong, Selasa.
Ia mengatakan, manfaat kegiatan literasi juga dirasakan dari buku-buku yang sebelumnya diberikan Pertamina International Shipping kepada sekolah. Buku bertema kelautan tersebut kemudian dimanfaatkan dalam program pembiasaan membaca melalui program Serasi atau Selasa Numerasi dan Literasi.
"Buku-buku tentang kelautan. Di mana memang itu anak-anak, kalau sebagai sumber kelautan saja mungkin sudah mencukupi," ujarnya.
Menurut Muawanah, keberadaan materi dan buku mengenai kelautan juga membantu siswa mengenal lingkungan yang berada di sekitar mereka.
Meski SDN Tanjung Sekong tidak berada tepat di kawasan pesisir, lokasi sekolah yang relatif dekat dengan laut membuat pengetahuan mengenai kemaritiman tetap relevan bagi siswa.
Ia menilai pengenalan mengenai laut, ekosistem, dan biota laut penting diberikan sejak sekolah dasar. Pengetahuan tersebut dinilai dapat menjadi bekal bagi siswa untuk memahami lingkungan sekaligus mengenal berbagai kemungkinan profesi di sektor kelautan pada masa mendatang.
"Sehingga anak-anak memahami apa sih yang sesungguhnya kemaritiman itu yang harus kita pahami. Ya tentang menjaga kelautan, menjaga ekosistem, dan biota laut, itu memang penting harus diajarkan kepada siswa," sebutnya.
Muawanah juga melihat respons siswa terhadap kegiatan tersebut cukup baik. Menurut dia, antusiasme itu terlihat dari keterlibatan siswa selama kegiatan hingga dukungan orang tua dalam menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan.
"Respons dari anak-anak sangat baik, sangat merespons kegiatan ini, sehingga orang tua juga mendukung," ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan literasi sebenarnya telah menjadi bagian dari rutinitas sekolah sebelum adanya program tersebut. Setiap Selasa, siswa diwajibkan mengikuti kegiatan literasi sedikitnya 10 menit sebelum pembelajaran dimulai.
"Setiap hari Selasa sebelum kegiatan pembelajaran wajib literasi terlebih dahulu, minimal 10 menit sebelum belajar untuk meningkatkan anak juga suka membaca dan cinta terhadap buku," ucap Muawanah.
Komitmen PIS untuk Masyarakat Pesisir ke Depan

Pejabat Sementara Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengatakan Ocean LiteraSEA merupakan komitmen berkelanjutan PIS dalam membangun masyarakat pesisir melalui pendidikan.
"Laut bukan hanya ruang hidup hari ini, tetapi juga ruang masa depan bagi generasi muda kita. Melalui Ocean Capacity, PIS ingin membuka wawasan dan imajinasi anak-anak pesisir bahwa laut menyimpan begitu banyak peluang, baik untuk belajar, berkarya, dan suatu hari kelak menjadi bagian dari industri maritim Indonesia," ujar Vega.
Ia menyatakan salama kegiatan tersebut, PIS bersama relawan SEAnergi mengajak para siswa mengenal lebih dekat industri maritim Indonesia, berbagai profesi di sektor kelautan, serta jalur pendidikan yang dapat ditempuh untuk berkarier di bidang tersebut.
Edukasi dikemas secara interaktif melalui berbagai kegiatan, mulai dari permainan tentang ekosistem laut atau Ocean Challenge, lomba menggambar bertema laut, cerdas cermat kelautan, hingga sesi mendongeng menggunakan buku bertema kemaritiman di perpustakaan sekolah.
Tak hanya menghadirkan kegiatan edukasi, PIS juga mendukung penguatan fasilitas literasi sekolah melalui revitalisasi perpustakaan SDN Tanjung Sekong serta donasi buku-buku bertema laut.
Menurut Vega, pengembangan industri maritim yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan penguatan armada, teknologi, dan investasi, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman serta kepedulian terhadap laut.
"Bagi PIS, membangun masa depan maritim tidak cukup hanya dengan kapal, teknologi, dan investasi. Kita juga harus menyiapkan manusianya sejak dini, agar tumbuh generasi yang mencintai laut, memahami potensinya, dan memiliki keberanian untuk mengambil peran di dalamnya," tutup Vega.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































