Menuju konten utama

Air Minum Terkena Abu Vulkanik, Apakah Masih Aman Dikonsumsi?

Hujan abu vulkanik bisa mencemari sumber air. Lalu, apakah masih layak minum? Ketahui risiko kesehatan dari air terkontaminasi abu vulkanik dan cara ceknya.

Air Minum Terkena Abu Vulkanik, Apakah Masih Aman Dikonsumsi?
Ilustrasi Air Minum. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hujan abu vulkanik melanda sejumlah wilayah di Indonesia setelah Gunung Anak Krakatau erupsi. Debu abu vulkanik pun bisa mencemari lingkungan, termasuk sumber air minum yang dibutuhkan banyak orang. Lalu, apakah air terkontaminasi abu vulkanik masih layak untuk diminum?

Setelah terjadinya hujan abu vulkanik, masyarakat mulai khawatir dengan kualitas air minum di rumah. Pasalnya, abu vulkanik yang sangat halus bisa saja masuk ke berbagai sumber air, mulai dari sumur, tangki penampungan air atau toren, bahkan mungkin mengontaminasi air PDAM.

Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan. Abu vulkanik sendiri diketahui sangat berbeda dari debu biasa. Menurut situs United States Geological Survey (USGS), abu yang baru jatuh dapat memiliki lapisan permukaan yang mengandung garam dan senyawa asam.

Partikel abu vulkanik sendiri berasal dari material vulkanik yang mengandung silika serta berbagai mineral. Ketika bersentuhan dengan air, bukan tidak mungkin sebagian unsur yang mudah larut pada partikel abu akan terlepas dan mengontaminasi air minum.

Masalahnya, perubahan kualitas air tersebut tidak selalu dapat diketahui secara langsung. Lantas, apakah air yang terkena hujan abu vulkanik masih layak diminum? Apa saja dampaknya dan bagaimana cara mengecek apakah air sudah terkontaminasi abu?

Bagaimana Abu Vulkanik Mencemari Air Minum?

 ilustrasi air terkontaminasi abu vulkanik

ilustrasi air terkontaminasi abu vulkanik. foto/istockphoto

Abu vulkanik yang masuk ke sumber air dapat memengaruhi kualitas air, baik secara fisik maupun kimia. Dampaknya bergantung pada jumlah dan karakteristik abu, serta kondisi sumber air itu sendiri. Berikut beberapa perubahan yang terjadi ketika air minum kena abu vulkanik:

1. Meningkatkan Kekeruhan Air

Partikel abu vulkanik yang masuk ke sungai, reservoir, atau sumber air lainnya bisa tersuspensi sehingga membuat air menjadi keruh. Kekeruhan merupakan salah satu dampak utama hujan abu vulkanik terhadap kualitas air.

Air keruh butuh beberapa tahapan seperti pengendapan, koagulasi/flokulasi, hingga penyaringan agar lebih layak dijadikan air minum. Namun, proses pengolahan air bisa lebih sulit karena abu yang berukuran sangat kecil membutuhkan waktu lebih lama untuk mengendap.

2. Mengubah Tingkat Keasaman atau pH Air

Tak hanya perubahan fisik, air yang terkena hujan abu vulkanik juga dapat mengalami perubahan kimia, apalagi abu vulkanik segar diketahui memiliki lapisan permukaan yang bersifat asam.

Ketika abu tersebut mengontaminasi air, kandungan abu vulkanik yang mudah larut dapat menyebabkan perubahan pada tingkat keasaman air. USGS menjelaskan bahwa air permukaan dengan alkalinitas rendah dapat mengalami penurunan pH setelah terkena abu.

Perubahan pH umumnya tidak terlalu besar dan tidak turun hingga di bawah 6,5. Namun, pada beberapa kasus, contohnya pada erupsi Gunung Spurr di 1953, Department of Environmental Conservation (DEC) Alaska mencatat bahwa pH air di wilayah tersebut turun drastis hingga 4,5.

Jadi, perubahan pH bisa berbeda-beda dan hal ini sangat dipengaruhi oleh jumlah abu dan kemampuan sumber air untuk mengencerkan material yang terlarut.

3. Melepaskan Unsur Kimia ke Dalam Air

Abu vulkanik segar memiliki lapisan garam yang mudah larut dan dapat terlepas dengan cepat ketika bersentuhan dengan air. Unsur yang umum ditemukan antara lain kalsium, natrium, kalium, magnesium, aluminium, klorida, sulfur, dan fluorida.

Seberapa besar konsentrasi unsur tersebut di dalam air juga tidak selalu sama. Hal ini dipengaruhi oleh ketebalan abu, jumlah material yang larut, luas daerah tangkapan air, volume air yang tersedia untuk mengencerkan material, hingga kondisi kimia air sebelum terkena abu.

Sementara itu, DEC Alaska menjelaskan bahwa fluorida termasuk salah satu unsur yang perlu diwaspadai ketika abu vulkanik mencemari sumber air. Namun, kasus keracunan fluorida pada manusia akibat erupsi tercatat sangat jarang.

4. Meningkatkan Kadar Beberapa Unsur Logam

Masuknya abu vulkanik ke sumber air juga dapat menyebabkan peningkatan kadar logam seperti besi (Fe), aluminium (Al), dan mangan (Mn). Menurut USGS, peningkatan unsur-unsur tersebut dapat terjadi pada air alami setelah hujan abu.

Dampaknya adalah terjadi perubahan kualitas air seperti perubahan warna atau munculnya rasa yang tidak biasa. Air juga dapat memiliki rasa seperti logam sehingga secara umum menjadi tidak layak minum.

Risiko Abu Vulkanik Mencemari Air Minum

 ilustrasi air terkontaminasi abu vulkanik

ilustrasi air terkontaminasi abu vulkanik. foto/istockphoto

Dilansir dari laman Pan American Health Organization (PAHO), hujan abu vulkanik dapat mencemari sumber air dan menurunkan kualitas air yang digunakan untuk minum. Salah satu risikonya berasal dari unsur yang dapat larut dari abu, termasuk fluorida dan kemungkinan logam berat.

Meminum air yang terkontaminasi tersebut bisa menyebabkan gangguan saluran pencernaan, bahkan berisiko menyebabkan kondisi yang lebih serius hingga berdampak kematian pada kelompok rentan, seperti anak kecil, lansia, atau mereka yang memang memiliki masalah kesehatan sebelumnya.

Sementara menurut tugas akhir bertajuk Pengaruh Abu Vulkanik terhadap Kualitas Air Sumur Akibat Dampak Erupsi Gunung Kelud 2014 karya Listya Candra Nugraha, salah satu unsur yang bisa mencemari air minum akibat hujan abu vulkanik adalah mangan (Mn).

Mangan dalam kadar berlebihan pada air minum dapat memengaruhi kualitas air, salah satunya dengan menimbulkan rasa pahit. Dari sisi kesehatan, paparan mangan yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada kerongkongan.

Tak hanya itu, risiko kesehatan lain yang berkaitan dengan mangan berlebih antara lain manganisme (gangguan saraf yang mirip penyakit Parkinson), gangguan tulang belakang osteoporosis, hepatitis, hingga epilepsi.

Akan tetapi, perlu dipahami bahwa air yang terkena abu tidak otomatis beracun atau berakibat fatal bagi manusia, apalagi jika kontaminan terlalu sedikit.

DEC Alaska menjelaskan bahwa perubahan kimia air yang berbahaya akibat abu tergolong jarang. Kasus kontaminasi serius pada sumber air minum hanya sedikit ditemukan dalam catatan erupsi yang pernah terjadi.

Fluorida memang disebut sebagai leachate (air lindi) paling berbahaya yang dapat berasal dari abu, tapi DEC Alaska juga mencatat bahwa hanya sedikit erupsi yang diketahui menyebabkan keracunan fluorida pada manusia.

Jadi, poin pentingnya adalah risiko kesehatan dari air yang terkontaminasi abu vulkanik bergantung pada jenis dan jumlah abu, unsur yang dapat larut, serta konsentrasinya di dalam air.

Cara Cek Air Terkontaminasi Abu Vulkanik

Ilustrasi laboratorium

Ilustrasi cek laboratorium. FOTO/iStockphoto

Untuk mengetahui apakah air telah terkontaminasi abu vulkanik, International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) merekomendasikan pemeriksaan kualitas air secara langsung.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengambil sampel air dan mengujinya di laboratorium, terutama setelah sumber air terkena abu. Parameter yang perlu diperhatikan antara lain pH, kekeruhan (turbidity), sisa klorin bebas, fluorida, aluminium, tembaga, besi, mangan, sulfat, dan seng.

Jika sumber daya memungkinkan, pemeriksaan juga dapat mencakup arsenik, barium, boron, kadmium, kromium, merkuri, hingga nikel.

Pemeriksaan air bisa dilakukan secara sederhana, yaitu dengan melihat sifat fisik air. Jika air terlihat keruh setelah terjadi hujan abu vulkanik, maka kemungkinan besar air tersebut sudah terkontaminasi.

Sementara untuk mengetahui adanya perubahan kimiawi, maka diperlukan pemeriksaan laboratorium. IVHHN merekomendasikan agar sampel air dikirim ke laboratorium yang terakreditasi untuk pengujian air minum, khususnya untuk parameter selain pH, kekeruhan, dan sisa klorin.

Sementara untuk parameter pH, kekeruhan, dan sisa klorin disarankan untuk diuji secara langsung di lokasi sumber air minum.

Alat tes portabel juga dapat digunakan, tapi tingkat keakuratannya bervariasi sehingga hasilnya sebaiknya dibandingkan dengan metode pengujian yang tersertifikasi.

Demikian penjelasan terkait air yang terkontaminasi hujan abu vulkanik. Air yang terkena abu memang patut diwaspadai dan jangan langsung diminum.

Untuk kehati-hatian, apabila mendapati air berubah warna, menjadi keruh, berbau, atau terasa berbeda, sebaiknya hindari untuk mengonsumsinya dan beralih pada air kemasan yang lebih bersih untuk sementara waktu.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani