Menuju konten utama

Seberapa Bahaya Abu Vulkanik Terhadap Mobilmu? Ketahui Faktanya

Ketahui bahaya abu vulkanik terhadap mobil, risiko berkendara saat hujan abu, serta cara melindungi dan membersihkan kendaraan dari paparan abu vulkanik.

Seberapa Bahaya Abu Vulkanik Terhadap Mobilmu? Ketahui Faktanya
Ilustrasi mobil terkena abu vulkanik. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jangan anggap sepele bahaya abu vulkanik terhadap mobil. Hujan abu vulkanik dari gunung meletus patut diwaspadai oleh para pemilik kendaraan. Lalu, seberapa bahaya abu vulkanik bagi mobil? Apakah hanya soal kotor atau bisa menyebabkan kerusakan yang lebih serius?

Akhir-akhir ini hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau telah melanda beberapa daerah di Indonesia, termasuk wilayah Jabodetabek. Tak hanya membahayakan kesehatan, abu vulkanik ini juga bisa jadi masalah tersendiri bagi pemilik mobil.

Mobil bisa tertutup abu tebal layaknya salju dan membuat tampilan luarnya terlihat sangat kotor. Namun, jangan keburu membersihkan mobil secara sembarangan seperti membersihkan debu biasa.

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang unik sehingga cara pembersihannya pun harus hati-hati. Jika tidak dibersihkan dengan benar, atau bahkan dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin abu vulkanik akan merusak mobil yang kita miliki.

Apa Itu Abu Vulkanik dan Bedanya dengan Debu Biasa?

LETUSAN GUNUNG AGUNG

Ilustrasi Abu Vulkanik. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Abu vulkanik mungkin tampak seperti debu biasa, tapi sebenarnya memiliki perbedaan besar jika dilihat dari proses pembentukan dan karakter partikelnya.

Abu vulkanik adalah material berukuran sangat halus yang terbentuk dari aktivitas gunung api, terutama saat terjadi erupsi. Menurut situs U.S. Geological Survey (USGS), abu vulkanik terdiri atas pecahan kecil batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan diameter kurang dari 2 milimeter.

Partikelnya dapat berukuran sangat kecil hingga sekitar 0,001 milimeter sehingga mudah terbawa angin dan menyebar jauh dari sumber erupsi. Meski disebut abu, material ini sebenarnya bukan hasil pembakaran seperti abu dari kayu, kertas, atau daun.

Abu vulkanik terbentuk ketika gas dalam magma mengembang dan keluar secara eksplosif sehingga memecah batuan dan magma menjadi partikel-partikel kecil. Setelah terlontar ke udara, material tersebut dapat mendingin dan membentuk pecahan batuan serta kaca vulkanik.

Jika dilihat dari sifat fisik partikelnya, abu vulkanik juga sangat berbeda dari debu biasa. Abu vulkanik bersifat keras, sangat abrasif, sedikit korosif, tidak larut dalam air, dan dapat menghantarkan listrik jika basah.

Sifat tersebut membuat abu vulkanik berbeda dari debu biasa dan dapat menimbulkan dampak pada kesehatan, kendaraan, mesin, peralatan elektronik, hingga bangunan. Selain itu, partikel abu yang lebih halus dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ribuan kilometer dari sumber erupsi.

Bahaya Abu Vulkanik terhadap Mobil

Hujan abu Gunung Marapi

Ilustrasi Mobil Terkena Abu Vulkanik. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/nym.

Abu vulkanik yang muncul setelah gunung meletus dapat terbawa angin, lalu menempel atau menutupi berbagai benda, termasuk kendaraan. Partikelnya sangat kecil sehingga bisa masuk melalui berbagai celah kendaraan layaknya debu biasa.

Namun, karena bersifat keras dan abrasif, abu vulkanik dapat menyebabkan kerusakan tersendiri pada kendaraan. Berikut bahaya abu vulkanik terhadap mobil menurut USGS dan tak boleh dianggap sepele:

1. Menyumbat Filter Udara

Partikel abu vulkanik dapat dengan mudah menyusup dan menyumbat sistem penyaringan udara pada mobil. Jika aliran udara ke mesin terganggu, mesin dapat mengalami panas berlebih (overheating) dan bahkan berisiko mengalami kerusakan atau mogok.

2. Mempercepat Keausan Mesin

Abu yang berhasil masuk ke dalam mesin dapat bersifat abrasif dan mempercepat keausan komponen. Bahkan dalam konsentrasi kecil, partikel abu yang masuk ke mesin maupun transmisi dapat meningkatkan gesekan dan keausan pada bagian-bagian di dalamnya.

3. Mengganggu Sistem Pengereman

Sistem rem juga termasuk bagian mobil yang rentan terhadap abu vulkanik. Partikel abu dapat menyebabkan abrasi dan menyumbat komponen rem, terutama ketika kendaraan digunakan terus-menerus di lingkungan dengan paparan abu vulkanik yang berat dan sistem remnya tidak segera dibersihkan.

4. Menggores Kaca Depan

Abu yang menempel pada kaca depan dapat menjadi masalah ketika wiper dinyalakan. Partikel abu yang terjebak di antara karet wiper dan kaca dapat menggores permukaan kaca dan meninggalkan bekas permanen. Oleh karena itu, jangan sembarangan menyalakan wiper ketika kaca tertutup abu.

5. Menggores Cat dan Permukaan Eksterior

Membersihkan abu dengan cara menggosok atau menyapu permukaan mobil dalam kondisi kering bisa menimbulkan goresan. USGS juga menyebut abu yang menempel pada bagian luar kendaraan dalam waktu lama dapat menyebabkan korosi pada cat dan komponen eksterior.

6. Mengganggu Komponen Kelistrikan dan Radiator

Abu vulkanik dapat menumpuk pada komponen penting seperti alternator, motor wiper, radiator, dan bagian mesin lainnya. Penumpukan abu pada komponen mesin tersebut bisa mengganggu kinerja dan mempercepat keausan.

Cara Melindungi Mobil dari Abu Vulkanik

Header Caterpillar 5

Ilustrasi Mobil. foto/istimewa

Bahaya abu vulkanik terhadap mobil memang tidak bisa dianggap remeh. Ketika hujan abu vulkanik terjadi, cara terbaik melindungi mobil adalah mengurangi paparan abu sejak awal, bukan menunggu sampai abu menumpuk lalu membersihkannya. Berikut beberapa cara yang dianjurkan oleh USGS:

1. Parkir Mobil di Tempat yang Terlindung

Jika memungkinkan, tempatkan mobil di garasi atau area tertutup. Langkah ini membantu mengurangi jumlah abu yang langsung mengenai bodi, kaca, ventilasi, dan bagian kendaraan lainnya. Prinsip utamanya adalah membatasi paparan abu sebanyak mungkin sejak awal.

2. Hindari Menggunakan Mobil Saat Hujan Abu

Menunda perjalanan merupakan salah satu cara paling efektif untuk melindungi mobil. Sebisa mungkin hindari berkendara ketika kondisi abu cukup berat karena abu dapat masuk ke berbagai bagian kendaraan, sementara kendaraan yang melaju juga dapat membuat abu beterbangan.

3. Gunakan Mode Sirkulasi Dalam

Jika harus berkendara dalam kondisi berabu, gunakan fitur sirkulasi udara internal jika tersedia (umumnya sudah ada pada mobil-mobil modern). USGS menyebut fitur ini dapat membantu mengurangi masuknya udara yang mengandung abu dari luar ke dalam kabin.

4. Batasi Masuknya Abu melalui Ventilasi

Pada kendaraan yang digunakan dalam kondisi berabu, USGS menyarankan membatasi masuknya abu melalui saluran ventilasi luar. Saluran udara kabin yang berada di bagian bawah kaca depan dapat ditutup dengan penyaring yang cukup tebal untuk membantu menahan abu.

Selain itu, jangan menyalakan AC mobil untuk mencegah udara dari luar (yang mengandung abu) masuk ke dalam kabin.

5. Jika Terpaksa Berkendara, Kurangi Kecepatan

Apabila perjalanan benar-benar diperlukan, berkendaralah dengan kecepatan rendah dan beri jarak lebih jauh dari kendaraan di depan. Jaga kecepatan di bawah 55 km/jam dalam kondisi jalan penuh abu. Hal ini juga membantu mengurangi abu yang beterbangan kembali akibat kendaraan.

6. Hindari Menyalakan Wiper pada Kaca yang Kering dan Berabu

Jika mobil terpaksa digunakan, jangan langsung mengoperasikan wiper ketika kaca depan kotor dan dipenuhi abu kering. Partikel abu yang terjepit di antara wiper dan kaca dapat menggores permukaan kaca.

Lakukan pembersihan terlebih dahulu. Siram dengan air, bersihkan dengan cairan pembersih kaca yang cukup, lalu bilas sampai bersih.

Cara Membersihkan Mobil dari Abu Vulkanik

Ilustrasi Mobil Terkena Abu Vulkanik

Ilustrasi mobil terkena abu vulkanik. FOTO/iStockphoto

Abu vulkanik yang menempel pada mobil sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama karena partikelnya bersifat abrasif. Abu juga dapat menggores permukaan kendaraan jika dibersihkan dengan cara yang kurang tepat.

Agar tidak menimbulkan kerusakan pada mobil, berikut cara membersihkan mobil yang benar dari abu vulkanik menurut laman Daihatsu:

  • Siram seluruh permukaan mobil dengan air, mulai dari bagian paling atas menuju ke bawah agar abu terlepas tanpa perlu digosok.
  • Pakai sampo khusus mobil dengan pH netral untuk membersihkan sisa abu tanpa berisiko merusak lapisan pelindung pada cat. Hindari memakai detergen untuk cuci baju maupun sabun cuci piring.
  • Cuci dengan metode dua ember, yakni satu ember untuk larutan sabun dan satu lagi untuk air pembilas spons atau kain (sebelum dicelupkan ke ember larutan sabun). Jadi, partikel abu yang menempel pada spon tidak kembali menempel pada permukaan mobil.
  • Gunakan spons lembut atau kain microfiber, lalu bersihkan secara perlahan dengan gerakan satu arah. Hindari tekanan berlebihan atau gerakan menggosok memutar.
  • Jangan lupa membersihkan bagian-bagian yang sulit dijangkau, termasuk celah di sekitar kaca, karet wiper, kisi-kisi ventilasi, spion, hingga sela-sela pintu.
  • Setelah selesai dibersihkan dengan sabun, bilas mobil sampai bersih untuk memastikan tidak ada sisa sabun maupun partikel abu yang masih melekat pada permukaan kendaraan.
  • Keringkan menggunakan microfiber atau chamois yang bersih.
  • Berikan perlindungan tambahan pada permukaan cat dengan wax, sealant, atau coating setelah mobil benar-benar kering agar permukaan lebih terlindungi dan abu lebih mudah dibersihkan jika kembali terpapar.

Hal yang Harus Dihindari Saat Membersihkan Mobil dari Abu Vulkanik

  • Jangan menggosok abu yang masih kering karena partikelnya bersifat abrasif dan bisa menggores permukaan cat.
  • Jangan menyalakan wiper ketika kaca depan mobil masih dipenuhi abu kering.
  • Jangan mencuci mobil saat hujan abu masih berlangsung. Abu yang terus berjatuhan dapat kembali mengotori kendaraan yang baru saja dibersihkan.

Bahaya Saat Berkendara di Tengah Hujan Abu

KOTA MAGELANG DIGUYUR HUJAN ABU MERAPI

Ilustrasi Kondisi Jalan Saat Hujan Abu. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.

Berkendara saat hujan abu vulkanik tidak hanya berisiko bagi kondisi kendaraan, tapi juga dapat membahayakan keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lainnya. Hujan abu bisa menimbulkan beberapa risiko berikut:

1. Jarak Pandang Menurun Drastis

Hujan abu dapat membuat jarak pandang di jalan menjadi sangat buruk. Dalam kondisi hujan abu yang lebat, visibilitas akan menurun drastis hingga pengemudi kesulitan melihat kendaraan lain.

Kondisi ini bisa semakin berbahaya karena kendaraan yang melintas dapat mengangkat kembali abu dari permukaan jalan, membuat abu berterbangan di udara, atau membentuk “awan abu” yang menghalangi pandangan.

2. Jalan Menjadi Licin

Lapisan abu vulkanik dapat mengurangi traksi ban, baik ketika kondisi jalan kering maupun basah. Saat bercampur dengan air, abu dapat membentuk campuran menyerupai lumpur sehingga ban kendaraan lebih mudah kehilangan daya cengkeramnya.

Akibatnya, pengemudi akan lebih sulit mengendalikan kendaraan. Kemampuan pengereman juga dapat ikut menurun sehingga sangat berbahaya.

3. Marka Jalan Bisa Tertutup Abu

Abu yang menumpuk di permukaan jalan dapat menutupi marka yang berfungsi menunjukkan jalur, bahu jalan, arah perjalanan, hingga instruksi seperti harus memperlambat kendaraan. Hal ini bisa membuat pengemudi berisiko kehilangan orientasi dan menyebabkan kebingungan.

4. Risiko Kecelakaan Meningkat

Ketika jarak pandang menurun, permukaan jalan licin, hingga marka jalan tertutup, semuanya dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan. Menurut USGS, hal ini pernah terjadi setelah terjadi erupsi Gunung St. Helens pada 1980.

Saat itu, abu vulkanik yang terangkat kembali dan berterbangan di udara akibat lalu lintas di jalan diduga kuat berkontribusi terhadap ratusan kecelakaan.

5. Komponen Kendaraan Dapat Terganggu

Selain membahayakan keselamatan, abu vulkanik juga dapat merusak kendaraan. Bukan hanya menempel di bagian luar bodi dan berpotensi menggores permukaannya, tapi abu juga dapat masuk ke berbagai bagian kendaraan.

Partikel abu dapat menyumbat saluran masuk udara dan filter, mempercepat keausan komponen mesin, serta mengganggu sistem pengereman. Abu yang terjebak di antara kaca depan dan bilah wiper juga berisiko menggores permukaan kaca.

6. Berkendara Sebaiknya Hanya jika Benar-Benar Diperlukan

Pemilik kendaraan dianjurkan untuk tidak berkendara ketika hujan abu terjadi, kecuali perjalanan tersebut benar-benar diperlukan atau sedang dalam keadaan darurat.

Jika harus berkendara, pengemudi dianjurkan melaju dengan kecepatan rendah, menjaga jarak dengan kendaraan di depan, dan menyalakan lampu utama.

Itulah bahaya abu vulkanik terhadap mobil yang wajib diwaspadai. Sebisa mungkin hindari berkendara saat hujan abu berlangsung dan lakukan langkah perlindungan serta pembersihan yang tepat untuk meminimalkan dampaknya pada kendaraan.

Temukan berbagai tips, rekomendasi, info spesifikasi, hingga berita terkini seputar dunia otomotif melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Otomotif

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani