Menuju konten utama

Di Balik Bahaya Erupsi, Apa Manfaat Gunung Api bagi Manusia?

Aktivitas gunung api tidak hanya membawa bahaya, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan kehidupan manusia, apa sajakah itu?

Di Balik Bahaya Erupsi, Apa Manfaat Gunung Api bagi Manusia?
Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, wilayah Provinsi Lampung. foto/ANTARA
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejumlah gunung api di Indonesia kembali mengalami erupsi dalam beberapa pekan terakhir. Aktivitas vulkanik terjadi di Gunung Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur, pada akhir Agustus, kemudian Gunung Sinabung di Sumatra Utara pada 31 Agustus.

Memasuki awal September, erupsi juga terjadi di Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, dan Gunung Ibu. Pada Senin (7/9/2026), Gunung Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur bahkan mengalami dua kali erupsi.

Rangkaian aktivitas tersebut kembali menunjukkan risiko yang melekat pada keberadaan gunung api di Indonesia. Erupsi dapat memicu hujan abu, lontaran material vulkanik, awan panas, guguran lava, hingga banjir lahar. Namun, di balik ancaman tersebut, aktivitas vulkanik juga memiliki sejumlah fungsi bagi ekosistem dan kehidupan manusia.

Pakar Geologi sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengatakan aktivitas vulkanik tidak hanya membawa risiko bencana, tetapi juga memiliki fungsi konstruktif bagi ekosistem dan kehidupan manusia.

“Ya, sebenarnya aktivitas vulkanik memang tidak hanya membawa risiko bencana, tetapi juga membawa fungsi konstruktif bagi ekosistem dan kehidupan manusia. Ini pula yang menjadikan banyak kebudayaan muncul di sekitar kawasan gunung api,” kata Eko kepada Tirto, Senin (7/9/2026).

Sebaran Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Sebaran Debu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau. foto/DOk. BMKG

Menurut Eko, salah satu manfaat aktivitas vulkanik yang dapat dirasakan dalam jangka panjang adalah terbentuknya tanah yang subur. Material vulkanik seperti abu, pasir, dan lapili mengandung sejumlah unsur yang dapat membantu memperbaiki kondisi tanah.

“Dari sisi manfaat, aktivitas vulkanik pertama memunculkan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Jadi, material vulkanik seperti abu, pasir, dan lapili itu menyegarkan tanaman, dalam konteks kandungannya seperti kalium, fosfor, kalsium, dan magnesium. Itu menjadi pupuk, penyegar, atau penguat kembali struktur tanah,” ujarnya.

Material vulkanik tersebut pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap pembentukan tanah vulkanik, termasuk andosol yang mendukung kesuburan lahan.

Selain menyuburkan tanah, kawasan gunung api juga menjadi sumber berbagai mineral dan energi. Eko mengatakan material seperti pasir dan batu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Gunung api juga berkaitan dengan potensi panas bumi yang dapat dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan.

“Yang kedua, penyediaan sumber daya mineral dan energi. Ini pasir, batu, mineral. Juga adanya panas bumi. Gunung api menjadi salah satu sumber panas bumi sebagai energi baru terbarukan,” kata Eko.

Menurut Eko, material hasil aktivitas vulkanik juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi. Selain itu, kawasan gunung api berperan dalam menyediakan sumber daya air karena memiliki wilayah tangkapan air di bagian hulu.

“Juga penyedia sumber daya material konstruksi, seperti pasir, batu, kerikil, dan kerakal. Dan juga penyedia sumber daya air. Jasa ekosistem lainnya, gunung api jelas merupakan punggungan yang paling bermakna dalam penyediaan air. Dia memiliki tangkapan air di hulu dan pendistribusian air di hilir. Itu fungsi gunung api dalam penguatan ekosistem,” ujarnya.

Eko menjelaskan manfaat aktivitas vulkanik dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung antara lain pemanfaatan material vulkanik, kawasan wisata, hingga panas bumi. Sementara manfaat tidak langsung berupa pembentukan tanah vulkanik dan penyediaan sumber energi.

“Manfaat vulkanik itu bisa langsung dan tidak langsung. Langsung, setelah erupsi, abu dan pasir itu bisa digunakan. Sebagai tempat wisata juga, sebagai panas bumi, sebagai ruang kegiatan. Itu manfaat langsungnya. Yang tidak langsung adalah pembentukan tanah vulkanik, andosol, lahan subur, dan juga penyedia panas bumi,” tutur Eko.

Ia menilai panas bumi dari kawasan gunung api juga memiliki keunggulan sebagai sumber energi terbarukan dibandingkan sumber energi yang masih banyak digunakan saat ini.

“Untuk kebutuhan energi, yang jelas lebih baik dibanding yang kita pakai sekarang, yang masih didominasi batu bara. Jadi sebenarnya banyak positifnya,” kata Eko.

Bisakah Aktivitas Vulkanik Pengaruhi Iklim?

Selain manfaat bagi ekosistem dan manusia, aktivitas gunung api juga kerap dikaitkan dengan perubahan suhu dan iklim. Eko mengatakan anggapan bahwa erupsi gunung api dapat menurunkan suhu bumi perlu diluruskan.

Menurut dia, erupsi gunung api tidak secara langsung membuat suhu bumi turun. Namun, erupsi berskala besar dapat memengaruhi atmosfer dan iklim untuk sementara waktu, apabila material vulkanik mencapai lapisan stratosfer.

“Kalau pertanyaannya, apakah erupsi gunung api bisa memberikan efek penurunan suhu bumi? Untuk pertanyaan itu, tidak. Jadi suhu bumi tetap. Gunung meletus, suhu bumi tetap,” kata Eko.

Meski demikian, Eko menjelaskan material vulkanik dalam jumlah besar yang masuk ke atmosfer dapat memengaruhi iklim. Salah satu material yang berperan adalah sulfur dioksida (SO2) yang dilepaskan dalam erupsi eksplosif.

“Material vulkanik itu mengeluarkan emisi sulfur dioksida atau SO2. Semua gunung api yang eksplosif mengeluarkan itu. Selain abu, pasir, dan kerikil, ada sulfur dioksidanya. Di atmosfer, sulfur dioksida membentuk SO4. Dia bereaksi dengan uap air membentuk aerosol sulfat,” lanjut Eko.

Aktivitas vulkanik Gunung Semeru

Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru terlihat dari Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2026). Berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas Gunung Semeru masih didominasi proses permukaan dan berstatus Level III (Siaga), sehingga masyarakat diimbau tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana serta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar terutama saat hujan. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/kye

Eko menjelaskan, aerosol sulfat tersebut dapat memantulkan radiasi matahari. Namun, efek tersebut baru dapat memberikan pengaruh terhadap suhu secara luas apabila material vulkanik mencapai stratosfer dan bertahan dalam waktu cukup lama.

“Aerosol ini juga memantulkan sinar matahari, semacam bumper. Tapi itu harus mencapai stratosfer biasanya, lantas mengelilingi bumi dalam waktu yang lama,” kata Eko.

Eko mencontohkan erupsi Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang pernah memengaruhi kondisi atmosfer. Ia juga menyebut erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 sebagai contoh yang lebih baru.

“Di masa lalu itu ada erupsi Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang menghalangi matahari. Sehingga ada musim dingin, karena suhunya menjadi turun. Dan yang paling baru itu Gunung Pinatubo yang meletus pada 1991, aerosolnya lebih dari setahun membuat suhu turun 0,5 derajat, berdasarkan data historis. Kalau Tambora itu bahkan sampai 2 derajat” ujarnya.

Namun, Eko menegaskan penurunan tersebut berkaitan dengan suhu atmosfer dan bukan berarti suhu permukaan bumi berubah secara permanen. Dampaknya juga sangat bergantung pada skala erupsi dan seberapa banyak material vulkanik yang mencapai atmosfer.

“Tapi kalau erupsi kecil-kecil, tidak terlalu berpengaruh. Jadi, memang ada efeknya,” pungkasnya.

Bagaimana Erupsi Gunung Api Bisa Buat Dingin Suhu Global?

Senada dengan Eko, peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan erupsi gunung api yang sangat besar dan eksplosif memang dapat menyebabkan pendinginan sementara pada suhu global.

Menurut Dini, penyebab utama fenomena tersebut bukan abu vulkanik, melainkan gas sulfur dioksida (SO₂) yang mencapai lapisan stratosfer.

“Dengan mengacu pada beberapa penelitian terdahulu, erupsi gunung api yang sangat besar dan eksplosif dapat menyebabkan pendinginan sementara pada suhu global. Penyebab utamanya bukan pada abu vulkanik, tetapi gas sulfur dioksida (SO₂) yang mencapai lapisan stratosfer,” kata Dini kepada Tirto, Senin (7/9/2026).

Dini menjelaskan, setelah mencapai stratosfer, sulfur dioksida bereaksi dengan uap air dan membentuk aerosol sulfat. Partikel tersebut dapat memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke luar angkasa sehingga mengurangi energi matahari yang mencapai permukaan bumi.

“Di stratosfer, gas sulfur ini bereaksi dengan uap air dan membentuk aerosol sulfat, yaitu partikel sangat halus yang dapat memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke luar angkasa. Akibatnya, energi matahari yang mencapai permukaan bumi berkurang dan suhu global dapat turun untuk sementara,” ujarnya.

Menurut Dini, efek pendinginan akibat satu erupsi besar umumnya bersifat sementara. Aerosol sulfat di stratosfer secara bertahap menghilang sehingga pengaruhnya terhadap suhu global juga berkurang.

“Secara umum, efek pendinginan dari satu erupsi besar biasanya berlangsung sekitar 2–3 tahun, karena aerosol sulfat di stratosfer secara bertahap menghilang dalam waktu sekitar 1–1,5 tahun,” ujarnya.

Butuh Waktu Lama Abu Vulkanik Suburkan Tanah

Di sisi lain, Dini mengatakan aktivitas gunung api tidak hanya membawa bahaya, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan kehidupan manusia.

“Banyak masyarakat tinggal di lereng gunung api karena wilayah tersebut mendukung pertanian, ketersediaan air, sumber bahan bangunan, energi panas bumi, dan pariwisata,” katanya.

Namun, manfaat tersebut tidak selalu dapat dirasakan secara langsung setelah erupsi. Abu vulkanik, misalnya, membutuhkan proses alami sebelum memberikan manfaat bagi tanah.

“Sebagian besar manfaat memang pada umumnya baru terasa setelah material vulkanik mengalami proses alami tertentu. Abu vulkanik tidak langsung menyuburkan tanah saat baru jatuh. Setelah mengalami pelapukan dan bercampur dengan tanah, material ini dapat menambah unsur hara dan dalam jangka panjang mendukung produktivitas pertanian,” ujarnya.

Selain abu, material seperti pasir, batuan vulkanik, dan batu apung juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk sebagai bahan bangunan. Endapan vulkanik yang berpori juga berperan dalam menyimpan dan mengalirkan air tanah.

Meski demikian, Dini mengingatkan manfaat langsung dari aktivitas erupsi sangat terbatas karena keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.

“Jadi, secara umum, manfaat terbesar aktivitas vulkanik lebih banyak dirasakan setelah erupsi atau ketika gunung berada dalam kondisi relatif stabil,” tutup Dini.

Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG atau tulisan lainnya dari Hanang Septioyudho

tirto.id - News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Bayu Septianto